Call Me Queen

Call Me Queen
Aku Kembali 2


__ADS_3

"Aku kembali" dengan senyum manisnya.


Semua orang masih dalam mode terkejut. Bahkan mereka enggan berkedip untuk memastikan siapa yang mereka lihat saat ini.


"Kok pada bengong sih"


"Nenek? "


"Kakek? "


"Abang, yuhuu" Chacha mengerucut sebal saat melihat lainnya menyambut kedatangannya dengan wajah cengo.


"Nisha? " panggil Tuan Ibra dengan sangat pelan.


"Ah, akhirnya ada yang sadar juga kalau ada orang disini" Chacha langsung berlari kecil memeluk sang kakek.


Giliran lainnya kini bergantian memeluk gadis yang satu ini. Kecuali tiga orang yang masih terdiam di tempatnya. Enggan bergerak. Siapa lagi kalau bukan Ayah Gun, Bu Ratu dan Audy. Chacha tak ambil pusing langsung duduk begitu saja.


"Lah kalo lo disini, Fany buru-buru ngapain? " tanya Nena.


"Entah? " jawabnya sambil menahan tawa.


"Jujur sama gue, lo gak lagi ngerjain kita kan? "


"Hahaha. Karin udah tau"


"Maksud lo? "


"Gue mendarat di landasan pribadi gue. Mereka malah jemput gue ke bandara nasional. Ya gak ketemu lah" jelasnya.


"Terus, tuh satpam bisa ikut sama lo gimana ceritanya? "


"Siapa? "


"Noh yang lagi nyelonong seenak jidat ke dapur"


"Ketemu tadi diluar, terus sekalian gue ajakin panjat ke kamar gue" Chacha cekikikan sendiri saat menjelaskan ini.


"Gila lo, kalo jatuh gimana? "


"Lo ngeremehin gue" Levy yang baru keluar dari dapur dengan membawa segelas air.


"Cha, sini mendekat pada Mami dulu" pinta Ratih. Chacha langsung mendekat tanpa perlawanan.


"Kenapa Mi? " bukannya menjawab Ratih malah membolak-balikan tubuhnya.


"Kamu gak ada yang luka kan? "


"Luka itu pasti ada, Mi. Tapi udah sembuh kok"

__ADS_1


"Mana ada luka yang bisa sembuh dengan waktu se singkat ini"


"Ada, luka Chacha buktinya"


"Jangan membual, Cha. Kamu tahu kita disini hampir terlena serangan jantung melihat pertandingan kamu" jelasnya.


"Kita? " Chacha menaikkan sebelah alisnya saat menanyakan kata 'kita'. Sekilas ekor matanya melirik ke arah kedua orang tuanya.


"Ya kita. Kakek nenek, papi mami, ayah bunda kamu sahabat kamu bahkan nonton dari tempat kerjanya" jelasnya dengan semangat.


"Chacha malah gak tau kalau kalian bisa lihat Chacha"


"Tapi kamu beneran baik-baik aja kan? Atau kita ke rumah sakit sekarang ya"


"Mami tenang aja, Chacha gak papa kok. Tolong percaya"


"Tapi, Cha? "


"Percayalah, Mi. Kenapa Chacha susah sekali mendapat kepercayaan kalian? " setelah menanyakan ini, Chacha mulai mengambil jarak dari tempatnya tadi.


Mereka semua terdiam. Mereka sadar jangan pernah ungkit soal percaya atau tidak pada anak ini, karena itu adalah hal yang sangat sensitif untuk dibahas.


"Na, tarik semua anak buah dan lainnya untuk kembali. Kirimkan kode khusus saja" Chacha langsung meninggalkan ruangan tersebut. Dirinya butuh ketenangan saat ini.


"Baik"


"Bagus sekali Gun, Ratu, dia gadis ceria dan hangat saat bersama kami dulu. Papa tak menyangka jika keputusanmu untuk merawatnya kembali dulu akan mengubah sikapnya seperti ini" ucap Tuan Besar Effendy. Gunadya Effendy.


Kedua pasutri itu hanya bisa menunduk melihat amarah yang ditahan oleh kedua orang tua ini. Mereka mulai merenungi kesalahan mereka, kesalahan mereka adalah, tak memahami seperti apa sikap dan perilaku anak bungsunya itu.


"jangan salahin ayah sama bunda doang dong, nek. Chacha juga salah disini"


"Salah apa? "


"Salah siapa dia melakukan hal yang mencoreng nama baik keluarga"


"Kau yakin itu adikmu? "


"Siapa lagi, nek. Aku juga yakin, kalau gak mungkin mereka berbuat macam-macam dengan keluarga Effendy"


"Kamu terlalu meninggikan keluarga Effendy Audy, kamu belum tau kejamnya dunia bisnis"


"Tapi tahun ini aku udah mulai masuk perusahaan"


"Kamu bahkan baru masuk, belum tau rasanya jatuh bangun di dunia bisnis"


"Sudah jangan bahas lebih lanjut. Kamu Audy, jangan terlalu mendongakkan kepala, kamu masih pemula di dunia bisnis. Banyak diluaran sana yang lebih hebat dari kamu, bahkan dalam usia yang masih belia" Rey melerai perdebatan antara cucu dan nenek itu.


"Aku harus mendongak, Bang. Aku penerus penerus perusahaan Effendy kelak" sungut Audy.

__ADS_1


"Terus lo anggap gue sebagai apa? " tiba-tiba saja Danial berdiri dengan santainya dirinya melontarkan pertanyaan itu.


"Ma.. maksud aku" Audy tergagap saat melihat tatapan dingin yang King berikan.


"Sebenarnya gue juga gak tertarik sama perusahaan Effendy sih. Tapi, berhubung gue anak sulung yang terlahir di keluarga Effendy. Jadi gue berhak mendisiplinkan adik gue. My princess udah balik, semuanya terserah kalian. Aku tak memaksa untuk memasukkan aku dalam keluarga Effendy"


"Penerus keluarga Effendy juga tak sembarangan ditentukan" Gunadya Effendy menginterupsi.


"Maksud Papa? "


"Kamu pikir kenapa Papa, tak menyerahkan semua aset keluarga Effendy padamu? "


"Mungkin Papa ingin memberi pada cucu yang lain"


"Cucu yang lain apa maksudmu. Kamu kira Papa tukang selingkuh, huh? " dengus Gunadya Effendy, membuat Ayah Gun terdiam. "Karena kakek kamu berpesan, hanya dia yang memiliki tanda khusus yang bisa menuruni semua aset keluarga kita, hanya dia yang bisa mengendalikan aset kita untuk kebaikan kedepannya" tambahnya.


"Jadi? "


"Diantaranya tinggal kamu cek, siapa yang memiliki tanda itu"


"Tapi tanda seperti apa pa? "


"Ah, Papa lupa biarkan papa sendiri saja yang melihatnya. Karena kamu juga tak memiliki tanda ini"


"Baiklah"


"Nenek, princess lapar" teriak Chacha entah dari mana. Yang pasti dirinya datang berdua dengan Levy.


"Tunggu makanannya belum selesai, masih dimasakkan sayang" jawab Nyonya Besar Izhaka lembut.


"Tapi, ini lapar banget"


"Makan cemilan ini dulu aja"


"Ini bukannya tunangan model yang lagi naik daun itu ya? " tanya Audy. Levy hanya melirik ke arah Chacha yang serius memakan cemilan sambil menganggukkan kepalanya.


"Hmmm" Chacha menahan tawanya saat Levy hanya menjawab Audy dengan dehaman.


"Wah lo parah, Cha. Dia udah punya tunangan masa lo gaet juga" sarkas Audy. Chacha hanya saling tatap dengan Levy, lalu mengangkat bahunya acuh.


"Setidaknya lo kalau mau cari mangsa, cari yang single lah"


"Ngomong sekali lagi, jangan harap lo bisa setor muka di perusahaan Effendy lagi. Percaya atau nggak gue bisa buat lo gak dapet kerjaan dimanapun lo masukin lamaran kerja Audy"


"Ngapain gue kerja, sebentar lagi gue bakalan nikah sama penerus perusahaan Pandey"


"Silahkan lo sombong sekarang, tapi satu hal yang harus lo inget. Jangan ganggu gue lagi kedepannya, atau lo dan suami mu lo kelak akan merasakan apa yang namanya hidup susah"


"Ayah" Audy merengek ke arah ayahnya.

__ADS_1


"Cih, sekalipun lo minta bantuan keluarga Effendy itu gak ngefek apapun ke gue, gue bisa buat perusahaan sekelas Rahardian gulung tikar dalam sehari"


Mereka hanya bisa melotot saat mendengar perkataan Chacha, sebagian percaya dan memandangnya ngeri. Sebagian lagi melotot tak percaya dengan perkataan yang Chacha lontarkan.


__ADS_2