
Makan siang yang tertunda akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Saat putrinya mengeluh lapar Bu Ratu langsung bergerak cepat di dapur, dibantu dengan asisten rumah tangganya ia membuat makan siang dengan cepat.
"Ayah mana mangga Chacha? " teriak Chacha dari arah dapur setelah selesai membantu membereskan meja makan. Chacha berjalan ke arah ruang tengah, tempat semuanya berkumpul. Sesampainya di sana Chacha hanya nyengir saat suaminya menatapnya intens.
Peringatan dari Levy adalah dengan menatap intens sang istri di depan keluarganya. Sejak kehamilannya Chacha sering kali melupakan sikap lembutnya. Dirinya acap kali berteriak saat memanggil siapapun.
"Maaf ayah" Chacha langsung meminta maaf saat menyadari suaminya belum menurunkan pandangannya dari dirinya. Ditambah dengan wajah datarnya, Chacha paham itu kode agar istrinya bersikap selayaknya.
"Kenapa minta maaf? " tanya Ayah Gun bingung.
"Karena Chacha teriak-teriak"
"Hah? " semuanya masih mengontrol kesadarannya saat mengatakan Chacha meminta maaf karena berteriak. Sungguh perubahan yang nyata.
"Mangganya ada di kulkas nak" ucap Bu Ratu setelah sadar dari rasa terkejut nya.
"Mas" cicit Chacha takut saat melihat suaminya dalam mode datar. Levy hanya menghela napas pelan, lalu berdiri dari duduknya.
"Ayo Mas temenin" Levy menarik tangannya pelan, Chacha masih setia menundukkan kepalanya.
Levy melepas tautan tangannya saat sampai di meja makan, meninggalkan Chacha di sana, lalu berjalan ke arah kulkas guna mengambil apa yang diinginkan oleh istrinya.
"Kenapa sayang? " tanya Levy saat melihat istrinya masih menunduk takut.
Chacha hanya menggeleng pelan. Levy segera menarik tubuh berisi istrinya ke dalam pelukannya.
"Jangan diulangi lagi ya, Mas gak marah. Mereka orang tua kamu, Mas tau kamu kecewa, tapi bukan berarti kamu bisa berteriak seenaknya. Sudah mau jadi orang tua kan? " Chacha mengangguk dalam pelukan sang suami.
"Sudah? " Chacha mengangguk lagi. Levy langsung melepaskan pelukannya.
"Bumbu buat rujaknya mana? " tanya Levy.
"Emang di kulkas gak ada? "
"Gak ada kayaknya"
"Biasanya bunda selalu disiapin, tunggu aku liat lagi"
Chacha berjalan ke arah kulkas mengecek apakah ada bumbu rujak atau tidak. Bibirnya mencebik saat apa yang dicarinya tak ada. Levy yang melihat itu sudah bisa menebak.
"Gak ada ya? Mas minta bunda buatkan ya? "
"Gak usah deh, udah gak mood" jawabnya cemberut.
"Kok gitu? " Chacha hanya menggeleng pelan. "Beneran gak mau ini? " Chacha mengangguk lagi.
Levy meletakkan mangganya ke dalam kulkas lagi. Lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk kesal di meja makan.
"Ya udah sekarang maunya apa? " Chacha hanya menggeleng. "Sayang? "
"Pulang yuk Mas? "
"Kok pulang. Kita baru beberapa jam disini loh, yakin udah selesai kangen-kangenannya sama bunda? "
Chacha terdiam.
"Kenapa adik abang yang seksi ini? " King datang langsung mengelus pelan rambut adiknya itu.
"Gak papa, Bang. Cuma pengen ngerujak bunda lupa buat bumbunya" jawab Levy.
"Kan bisa minta buat kan, sayang" King mencoba merayu adiknya juga.
"Gak mau udah gak mood" jawabnya ketus, King melotot saat mendengar nada ketus adiknya. Sedangkan Levy hanya nyengir tanpa dosa.
"Jadi udah gak mau ngerujak lagi? " Chacha mengangguk dengan bibir mengerucutnya. King gemas sendiri dengan kelakuan adiknya.
"Ya sudah ayo kalau mau pulang" ucap Levy tiba-tiba.
"Kalian mau pulang? "
"Dia minta pulang, Bang"
"Kenapa, dek. Abang rela ambil libur loh tau kamu main kesini"
"Jadi terpaksa nemenin aku? " tanya Chacha sambil menatap King dengan mata berkaca-kaca.
Mampus salah ngomong gue. Batin King.
Levy melipat bibirnya menahan tawa melihat ekspresi terkejut di wajah King.
"Sayang udah yuk, pamitan dulu ke ayah sama bunda. Audy mau ditinggal disini atau gimana? " Chacha seketika menoleh ke arah suaminya.
Chacha hanya mengangguk dan menarik suaminya ke tempat dimana semua anggota keluarga nya berkumpul.
"Adek gue bukan sih tuh anak? " gumam King.
Di ruang tengah mereka kaget dengan kedatangan Chacha yang memasang ekspresi kesal di wajahnya. Namun, saat melihat kode dari Levy mereka hanya mengangguk tipis.
"Kak Ardan, kakak balik lagi aja ke kantor. Urusin perusahaan kakak, kawal Audy ketika dia akan keluar saja"
"Audy, lo tinggal disini aja dulu. Sampai lo melahirkan. Kandungan lo udah masuk berapa bulan? "
"Gue belum cek"
"Ada ya emak modelan ke lo ini. Besok ke rumah sakit, gue buatin janji sama Diva"
"Ayah, Bunda, Kakek, Nenek, Chacha pulang"
"Loh kok udah mau pulang sih, nak? " tanya Bu Ratu.
"Nginep sini aja ya, jarang kan kakek sama nenek ada disini" bujuk sang nenek.
Chacha masih setia dengan kebungkamannya. Wajahnya masih ditekuk kesal. Levy menghela napas pelan melihat istrinya yang enggan merespon.
__ADS_1
"Ayah, Bunda, Levy pamit ya. Kakek sama nenek besok gantian nginep di rumah kita aja, gimana? " tawar Levy.
"Boleh deh. Kita gak pernah tau rumah kalian juga"
"Ya udah sekalian besok aku juga pulang deh buat ambil baju. Baju disini gak ada yang muat juga"
"Ya udah, ini Levy sama Chacha pulang ya? "
"Ya sudah sana pulang, hati-hati dijalan"
Setelah selesai berpamitan mereka langsung keluar dari rumah dan meluncur membelah jalanan menuju rumah mereka.
"Masih kesel gara-gara rujak, sayang? " tanya Levy dengan mata sesekali melirik ke arah istrinya. Karena siang ini jalanan cukup ramai.
"Mas mau bakso"
"Hah? "
"Mau bakso, itu tuh" Chacha menunjuk gerobak bakso yang ada diseberang jalan.
Levy hanya diam memandang gerobak bakso yang ditunjuk oleh istrinya.
"Mas" Chacha merengek sambil menarik-narik lengan suaminya.
"Iya sayang iya, ini Mas lagi cari tempat buat parkir"
Chacha langsung diam dengan patuh bak anak kecil. Membuat Levy gemas sendiri, andai dia berada di dalam kamar mungkin Levy akan menerkam istri cantiknya ini.
Setelah mendapat tempat parkir. Mereka berdua langsung turun dari mobil dan menyebrang jalan. Chacha tampak semangat sekali. Levy bernafas lega saat keinginan istrinya teralihkan. Levy seringkali dibuat pusing dengan sikap istrinya itu sejak kehamilannya.
"Pak, bakso jumbo nya satu porsi ya" kata Chacha pada bapak-bapak penjual bakso nya.
"Ngidam ya neng? " kata ibu yang berdiri di samping sang bapak penjual. Mungkin istrinya pikir Chacha.
"Hehehe iya, bu. Menggugah selera liat asapnya doang"
"Owalah, ayo pak, neng ini aja dulu dilayani"
"Eh gak papa, bu. Saya ikutan antri aja"
"Gak papa neng, kalo disini emang gitu. Kalau ada orang hamil ngidam, apalagi datang sendiri pasti dilayani terlebih dahulu" ucap salah satu pelanggan yang antri. Chacha hanya tersenyum tak nyaman.
"Jadi mau dibungkus atau makan sini, neng"
"Dibungkus aja ya pak. Jadi saya pesen empat bungkus deh pak"
"Owh, Siap-siap neng. Ditunggu ya" Chacha mengangguk. Matanya sibuk mencari-cari suaminya yang berpisah di depan gerobak bakso ini tadi. Dengan berpamitan membeli air, tapi sampai sekarang belum juga kembali.
Namun tak sengaja netranya menangkap sosok suaminya ditengah jalan. Chacha sedikit memicingkan matanya. Suaminya di sana tampak membantu seorang anak kecil dalam gendongannya. Entah apa yang terjadi, Chacha berusaha cuek saat seorang wanita memegang ujung baju Levy saat hendak menyebrang.
"Ini neng pesanan nya"
"Eh, iya bu. Ini uangnya" Chacha menyerahkan selembar uang merah pada ibu itu.
"Eh, gak usah bu. Buat ibu sama bapak aja. Makasih, saya sudah dilayani terlebih dahulu" Chacha bangkit dari duduknya.
"Makasih neng, makasih" Chacha hanya tersenyum menanggapi itu semua.
"Mari bapak ibu, saya duluan. Makasih sudah membiarkan saya dilayani terlebih dahulu"
Para pembeli yang lain terpengarah saat Chacha mengucapkan terimakasih karena mereka mengalah padanya. Apalagi ditambah senyum manis seorang Chacha, membuat para laki-laki di sana terpesona. Aura kecantikan dari ibu hamil memang susah ditolak.
Chacha menghampiri Levy yang tampak duduk berjongkok di depan anak kecil yang digendong nya tadi.
"Kenapa, Mas? "
"Eh, sudah sayang? " Chacha hanya mengangguk, menatap anak kecil yang sesegukan di depan Levy.
Sedangkan wanita yang mengikuti Levy tadi tampak terkejut saat melihat Levy memanggil Chacha dengan sebutan 'sayang'.
"Ini tadi keserempet motor"
"Ya ampun, ada yang luka? " Chacha langsung meletakkan bungkusan baksonya.
Sekarang dirinya malah ikut-ikutan berjongkok di depan anak kecil itu. Levy tersenyum melihat raut khawatir di wajah istrinya. Dibalik kerasnya sikap Chacha ada hati selembut sutera di dalamnya.
"Ini lecet" Levy menunjukkan beberapa luka lecet yang di alami anak kecil itu.
"Tolong ambilkan kotak obat di mobil, Mas. Biar aku obati dulu. Air yang kamu beli tadi mana? "
"Ini" Levy menyerahkan sebotol air pada istrinya. "Mas nyebrang sekalian ambil mobil ya? "
"Hati-hati"
"Hai ganteng, siapa namanya? " tanya Chacha sambil menyiramkan air guna membersihkan luka yang ada.
Ternyata bocah yang ditolong oleh Levy berjenis kelamin laki-laki. Dengan pipi chubby dan mata bulatnya membuat rasa gemas tersendiri bagi Chacha.
"Ini siapanya? " tanya Chacha pada wanita yang sejak tadi menatapnya.
"Ah, saya ibu dari Doni" jawabnya gelagapan karena kepergok menatap Chacha.
"Oh si ganteng namanya Doni" anak kecil bernama Doni itu mengangguk sembari sesekali meringis.
"Ini sayang" Levy datang dengan kotak obat ditangannya.
"Ayah" ucap bocah itu polos.
"Hah? " Chacha dan Levy melongo bersamaan.
"Eh maaf Mbak, Mas, anak saya lancang. Doni itu bukan ayah, nak"
"Emmm, maaf kalau boleh tau memang ayahnya Doni kemana? " tanya Chacha sambil membersihkan setiap luka Doni dengan tangannya yang cekatan.
__ADS_1
"Emmm, saya korban pemerkosaan Mbak"
Chacha dan Levy terkejut mendengar penuturan ibu Doni. Dirinya tak menyangka jika Doni hasil dari kejadian yang tak diinginkan.
"Maaf saya membuka luka lama"
"Gak papa Mbak itu sudah berlalu"
"Nah, selesai. Apa sakit? "
"Tidak, makasih tante cantik"
"Sama-sama ganteng"
"Rumah kalian dimana, biar kami antar"
"Gak usah, Mbak. Saya merepotkan"
"Eh tidak, tidak repot kok. Namanya siapa dulu? "
"Nama saya Adel, Mbak"
"Saya Queen, ini suami saya Levy"
Adel hanya tersenyum dengan sesekali melirik ke arah Levy yang berdiri menatap istrinya lembut.
"Ayo ganteng kita pulang"
"Tante mau main kerumah aku? "
"Boleh? "
Tampak bocah itu mengangguk antusias. Levy menggendong Dion ke arah mobilnya. Chacha dan Adel berjalan di belakangnya. Setelah sampai di mobilnya. Levy menurunkan Dion di kursi belakang. Lalu membukakan pintu depan untuk sang ratu, Chacha.
Levy menjalankan mobil mengikuti instruksi dari Adel. Tak lama, sekitar lima belas menit mereka sudah sampai di sebuah gang. Levy memarkirkan mobilnya di sisi jalan, lalu kembali turun dengan menggendong Dion.
Mereka berjalan memasuki gang tersebut, hingga sampai di rumah yang bisa dikatakan layak untuk mereka berdua. Dion tampak asik berceloteh dengan Chacha.
"Mari Mbak, Mas mampir dulu"
"Makasih Adel, tapi kita harus kembali" ucap Chacha, karena dirinya yakin Levy tak akan membuka mulutnya untuk berbicara.
Chacha dapat melihat kilat sendu di wajah Adel saat permintaannya di tolak. Chacha hanya menaikkan sebelah alisnya, dirinya tak mau berpikiran buruk pada orang yang dikenalnya.
"Ayo sayang"
"Ayah" panggil Doni.
"Doni dia bukan ayah kamu" ucap Adel sedikit membentak. Chacha kaget mendengarnya.
"Kemari" panggil Levy. Dengan tertatih Doni menghampiri Levy dan memeluknya erat.
"Kau merindukan ayah mu? " Dion mengangguk masih dalam dekapan Levy.
"Kau boleh memanggilku ayah"
"Boleh? " tanya Doni dengan antusias.
Levy menoleh ke arah istrinya, Chacha tersenyum sambil mengangguk. Chacha mengelus pelan kepala Dion yang ada dalam dekapan sang suami.
"Karena Doni panggil ayah sama kamu, jadi Doni harus memanggil ki bunda, setuju? "
"Jadi sekarang Doni juga punya bunda? " Chacha mengangguk dengan senyum hangatnya.
"Gak papa kan, Del? "
"Gak papa kok, Mbak"
"Lain kali kita ke sini lagi. Sekarang biarkan ayah dan bunda pulang dulu ya"
"Janji? "
"Janji" Chacha menautkan kelingking nya dengan kelingking kecil milik Doni.
Levy dan Chacha beranjak dari rumah mereka.
"Kami pulang dulu, Del"
"Sekali lagi makasih, Mas, Mbak"
Levy hanya mengangguk dan menggandeng istrinya untuk pergi dari tempat itu. Entahlah hanya perasaannya atau apa, tapi dirinya tak nyaman dengan cara Adel menatap dirinya.
"Kenapa, Mas? "
"Kamu ngerasa gak sih, tatapan Adel ke Mas? "
"Siapa yang bisa menolak pesona suami aku ini, hmm? "
"Aku risih sayang"
"Itu alasan kamu narik aku tadi? " Levy mengangguk mantap.
"Kita bahas nanti lagi di rumah, sekarang balik. Nanti mampir di supermarket dulu ya, Mas"
"Mau beli apa sayang? "
"Mangga"
"Masih pengen? "
"Iyalah"
"Ya udah, Mas minta mama buatkan bumbunya ya. Kebetulan nanti mama mau ke rumah" Chacha mengangguk menjawab perkataan suaminya.
__ADS_1