
Mendengar kata-kata sang adik membuat King langsung menatap sang istri yang tertunduk sambil menangis. Tampak wanita yang berstatus Nyonya Muda Effendy itu berusaha menenangkan dirinya.
King merangkak ke arah istrinya. Dia langsung bersujud didepan sang istri membuat wanita itu kaget. Secara spontan wanita itu langsung duduk dan membuat King meletakkan kepalanya di pangkuannya.
"Jangan bersujud pada ku, Tuan. Kau suami ku, tak pantas kau bersujud padaku, cukup meminta maaf padaku. Bukankah kau sudah meminta maaf padaku" Ucapnya dengan tenang meskipun air mata masih terus mengalir.
"Maaf, maaf" King terus menggumamkan kata maaf pada istrinya.
Sedangkan sang istri hanya bisa mengelus lembut punggung King yang terisak di pangkuannya. Dia berusaha menenangkan sang suami, karena seluruh keluarganya pasti menunggu penjelasan nya.
"Duduklah di atas" Perintah Tuan Ibra.
Mereka berdua dengan patuh duduk kembali di sofa. King masih memeluk sang istri, menyembunyikan wajahnya dipunggung sang istri. Dia masih terisak dibalik punggung rapuh wanita cantik itu.
"King Danial Effendy, bisa kau jelaskan apa maksud yang adik mu katakan tadi? " Tanya Bu Ratu datar, namun tak menampik jika hati Bu Ratu nyeri saat melihat sisi rapuh putranya.
King masih terdiam, dia mulai mengatur nafasnya. Menenangkan dirinya secepat mungkin untuk menjelaskan kejadian yang terjadi beberapa bulan yang lalu.
Hingga sang istri menepuk pelan lengannya membuat King mengangkat pandangannya, menatap sang istri yang mengangguk disertai senyum lembut nya.
King menggenggam lembut tangan sang istri sebelum menatap seluruh keluarga dengan tatapan tegas.
"Ini murni kesalahan ku. Malam itu setelah melihat bagaimana Queen di ruangannya setelah memeriksa Levy, disitu aku merasakan kecewa karena tak bisa melakukan apapun. Aku kecewa pada diriku sendiri karena tak bisa membantu adikku, bahkan untuk menghiburnya saja aku tak mampu. Dia selalu memberikan senyum palsu agar semua orang tau jika dia baik-baik saja"
"Aku melampiaskan kekecewaan ku pada minuman, aku minum di ruangan ku di rumah sakit. Karena aku pikir tidak akan ada orang yang masuk tengah malam ke ruangan itu. Namun tidak dengan istri ku. Dia masuk tanpa sadar jika aku sedang di ruangan itu dalam keadaan mabuk"
__ADS_1
"Entah bagaimana ceritanya aku meniduri nya, paginya aku sadar jika terbaring bersama wanita dalam keadaan tanpa busana. Dia dengan wajah tenangnya mulai memungut pakaiannya. Tapi aku tahu jika ada bulir air mata yang dia sembunyikan"
"Setelah kepergiannya aku sadar jika dia masih seorang gadis, aku menikahinya dengan dasar tanggung jawab. Ini bukan salahnya, ini salah ku. Ketidakberdayaan ku mengontrol rasa kecewa pada diriku sendiri, membuatnya harus terluka berulang kali. Karena sikap ku, karena perkataan buruk ku"jelas King.
"Kau memperkosanya, lalu kau menikahinya dan kau juga menyakitinya. Teori brengsek siapa yang kau pelajari King? " Tanya Tuan Ibra dengan tatapan menusuk, King langsung menundukkan kepalanya saat melihat tatapan sang kakek.
King tak berani menatap sang kakek yang tengah menatapnya dengan murka. Tidak hanya Tuan Ibra, Bu Ratu bahkan langsung memalingkan wajahnya saat mendengarkan penjelasan King.
"Kemari lah, nak" Panggil Bu Ratu pada menantunya itu setelah berhasil memenangkan emosinya.
King mengangguk pelan saat sang istri menatapnya. King yakin Bu Ratu tidak akan bertindak di luar batas pada sang istri.
"Duduk di samping Bunda. Kamu menantu Bunda bukan? Jangan duduk dibawah, kamu bukan pembantu nak" Bu Ratu dengan lembut menarik tangan menantunya itu.
"Sekarang bisa kau jelaskan dokter Nisa, apa yang kamu lakukan di ruangan King tengah malam? " Tuan Ibra kini bertanya pada cucu menantunya itu. Nada suaranya tidak semenakutkan saat bertanya pada King tadi.
Dokter Nisa, istri dari putra sulung keluarga Effendy. Wanita yang tanpa sengaja ternoda karena kebodohan King. Wanita cantik dan ramah ini sangat Bu Ratu sayangkan mengalami kejadian itu.
"Ceritakan bagaimana kalian bisa menikah? " Pinta Ratih.
"Nisa sudah menolaknya di awal. Karena prinsip Nisa adalah menikah satu kali seumur hidup, namun Tuhan berkata lain. Nisa hamil, tapi Nisa tidak memberi tahunya. Hingga Tuan King datang lagi dan menawarkan pernikahan, di situ Nisa berpikir jika ini jalan yang benar" Jelas dokter Nisa.
"Kamu memberitahu dia soal kehamilan mu? " Nisa menggeleng saat Bu Ratu bertanya.
"Nisa keguguran saat usia kandungan Nisa memasuki usia tiga minggu" Jawabnya pelan.
__ADS_1
King terhenyak saat mendengar pernyataan istrinya. Jadi benar jika sang istri sedang hamil. Berarti benar perkataan anak buahnya jika istrinya sering mengalaminya morning sickness. Dan bodohnya lagi King mengabarkan itu dan terus menyakiti hati malaikat istrinya itu.
"Kakek tahu, jika kamu menikah dengan King karena dipaksa oleh keadaan. Sekarang kamu boleh mengajukan gugatan cerai kamu ke pengadilan. Mulai saat ini kamu bebas, Kakek sendiri yang akan menjamin jika cucu bebal Kakek ini tidak akan berulah" Ucapan Tuan Ibra mampu membuat King dan Nisa serempak menatap ke arahnya.
"Kakek jangan bercanda, Nial gak mungkin lepasin Nisa. Sampai kapan pun Nial gak bakal cerai sama Nisa" Putus King.
"Lalu apa kamu akan menyakitinya terus karena sikap kamu itu, hah? Kamu sudah dewasa Nial, tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu. Malu sama adik kamu, malu sama Chacha Nial" Teriak Tuan Ibra.
"Tapi aku gak mau pisah, Kek" Lirih King, air matanya kembali menetes.
"Biarkan Nisa yang memutuskan, dia berhak memilih kebahagiaan nya sendiri" Ucap Bu Ratu dengan wajahnya datarnya.
Nisa menatap King dengan tatapan yang sulit diartikan. Apalagi saat melihat tatapan suaminya yang begitu sendu. Bohong jika Nisa tidak nyeri melihat suaminya rapuh seperti itu. Terlepas bagaimana pun sikap King padanya, dia tetap suaminya.
"Keputusan ada ditangan mu, nak. Bunda menyesal baru mengetahuinya sekarang. Bunda juga minta maaf atas kelakuan anak Bunda pada kamu" Bu Ratu menyentuh lembut punggung Nisa.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan Bunda. Nisa yakin, suami Nisa juga menyesal melakukan itu pada Nisa. Apapun keputusan Nisa, Nisa harap itu yang terbaik untuk kita semua" King langsung membelalakkan matanya saat mendengar perkataan istrinya itu.
Yang lain hanya mengangguk saja, mereka pasrah jika pernikahan King tidak bisa diselamatkan. Siapa yang tak sakit hati jika suami sendiri selalu mencaci dan menghina setiap hari. Apalagi wanita sekelas dokter Nisa yang notabennya dari keluarga terhormat itu.
"Ku mohon bu dokter, beri satu kesempatan terakhir untuk ku. Izinkan aku menebus semua kesalahan yang pernah ku perbuat. Ku mohon" King kembali duduk di depan sang istri. Memohon pengampunan dan kesempatan pada sang istri.
"Apa aku mengatakan jika bu dokter ini akan meninggalkan mu, Tuan? " King mendongak menatap sang istri dengan tatapan penuh tanya. Nisa tersenyum lembut.
"Aku mencintaimu jauh sebelum kita kenal. Aku mengenal mu sebagai atasan ku di rumah sakit, namun hatiku menolak menginginkan hal yang lebih dari sekedar seorang atasan dan bawahan. Karena tak mungkin menggapai mu, aku menyelipkan nama mu di setiap doaku. Tuhan mengabulkan meskipun dengan cara yang luar biasa" Jelas Nisa, King masih menatao gamang ke arah Nisa.
__ADS_1
"Aku memafkan mu, Tuan. Bukankah itu sudah kau ketahui, dan ini kesempatan terakhir untuk mu. Buktikan jika aku memang ingin kau pertahankan. Buktikan jika kau adalah suami yang baik dan bertanggung jawab. Mari kita mulai dari awal" Nisa menampilkan senyum manisnya di akhir kalimat.
King tak bisa berkata-kata lagi, dia bangkit dan langsung merengkuh tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.