
Chacha menarik nafas dan menghembuskan dengan kasar, matanya terpejam.
"Gue Queen Izhaka leader Death Rose dan Queen of Black Rose, pemilik QI Comp dan calon pemimpin Izhaka Corp" Chacha menunduk setelah mengatakan itu.
"Semua bidang yang bernama QI didepannya itu milik gue. Gue tau ini semua gak masuk akal tapi itulah kenyataannya gue"
"Gue gak sebaik yang kalian kira, gue juga bisa jadi kejam dan sadis disaat tertentu maka dari itu jangan heran dengan sikap gue yang berubah-ubah"
"Gue cuma berharap setelah kalian tau semua ini, kalian gak jauhin gue" Chacha berhenti mendongakkan kepalanya melihat reaksi sahabatnya yang tak bersuara.
"Jadi lo pemimpin dua mafia sekaligus?" Fany memastikan.
"Death Rose gue dirikan sendiri. Black Rose mafia pimpinan nenek gue dulu. Black Rose sebenernya dipimpin King sebagai leadernya tapi King mau gue jadi Queen buat Black Rose karena bagaimanapun gue cucu nenek"
"King?" beo mereka semua.
"Belum saatnya kalian tau jati diri dia sebenernya. Karena itu gue butuh bantuan kalian untuk meyakinkan bokap kalian semua mimpin perusahaan gue. Gue harus fokus sama tugas gue berikutnya"
"Tugas apa, Cha? Kita bantu kalo lo emang ada masalah" ucap Zeze yang diangguki semuanya.
Chacha hanya tersenyum manis pada mereka semua. "Ini privasi keluarga gue, ini juga cukup berbahaya gue gak mau kalian dalam bahaya"
"Kita gak bakalan ikut campur kalo itu masalah privasi keluarga lo. Tapi, lo harus janji kalo ada apa-apa segera hubungi kita. Kita bakal bantu sebisa kita" putus Nena.
"Thank you" balas Chacha dengan senyum lebarnya.
"Gak nyangka gue temenan sama sultan ternyata" polos Karin.
"Kampret emang si Karin, ngerusak suasan mulu kerjaannya" keluh Nena sedangkan Karin hanya menatapnya polos.
"Setelah ini gue mau kalian semua latihan bela diri, bawahan gue bakal ajarin kalian. Karena gak setiap saat gue ada disamping kalian. Setidaknya kalian bisa jaga diri kalian masing-masing"
"Gue gabung sama lo aja deh Cha" ucap Fany dengan santai membuat semuanya menoleh kearahnya.
"Kenapa pada liatin gue gitu sih. Gini nih ya, kalo kita gabung sama mafia Chacha meskipun kita jauh dari Chacha setidaknya kita tau dia baik-baik saja atau nggak karena setau gue semua anggota Chacha itu jenius tingkat tinggi"
"Tau dari mana lo?" Chacha mencebik.
"Hehehe gue udah cukup lama penasaran sama yang namanya Death Rose terhitung sejak kita mimpin FF sendiri nama itu ada dalam daftar yang tak boleh disinggung di dunia bawah gue penasaran gue coba cari informasi eh taunya malah gue yang diserang" jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Langsung keintinya aja kita ya ntaran para jantan diluar bisa begadoh" potong Nena.
"Fany ikut di Death Rose, kalian? Gue gak maksa kalian buat gabung tanpa kalian gabung kalian bakal tetep latihan"
Mereka saling pandang lalu mengangguk bersamaan tanda menyetujui bahwa mereka akan bergabung juga.
Chacha menghembuskan napas pelan. "Setelah ini kehidupan kalian akan berubah karena memasuki mafia. Kalian siap?"
"Kami siap" jawab mereka kompak. Chacha hanya mengagguk sebagai jawabannya.
Chacha menelfon seseorang untuk memulai latihan para sahabatnya besok. Setelah menentukan waktu untuk latihan Chacha menyudahi sambungannya.
"Berkas itu simpan di tas kalian gue harap kalian bisa bujuk bokap kalian buat mimpin perusahaan itu. Yok keluar" Chacha mendahului mereka keluar dari kamar tamu.
__ADS_1
Keempatnya masih memandang tak percaya berkas yang ada ditangannya. Mereka masih tak menyangka dengan mudahnya Chacha memberikan tanggung jawab besar itu pada mereka secara mereka hanya terikat hubungan sahabat. Kejadian itu membuat keempatnya berjanji dalam hati untuk mendukung Chacha sepenuhnya dan menjadi tamengnya jika bisa.
"Ciwi kalo dah ngegosip pasti lama" cibir Kinos setelah melihat Chacha berjalan menghampiri ruang tamu.
"Gue gak ngegosip Kinos, gue ada penting sama mereka berempat dan ini privasi" jawab Chacha sambil mendelik.
"Kita main apaan nih bosen gue" tambah Putra setelah semuanya bergabung dengan lengkap.
"Mall aja yok. Chacha bandar" ucap Karin semangat.
Chacha hanya mendelik ke arah Karin lalu berdiri. "Gue ganti baju dulu"
"Eh seriusan ini?" tanya Kinos tak percaya.
"Eh gue cuma bercanda loh tadi" ucap Karin.
"Sweety emang gitu. Dia kalo mau nolak pasti udah nolak tapi kalo langsung gerak berarti dia setuju" jelas Levy membuat yang lain mengangguk paham.
Tak lama setelahnya Chacha turun setelah mengganti bajunya.
"Ayok berangkat" seru Kinos.
"Bentar. Kalian ganti baju dulu lah" jawab Chacha.
"Kagak bawa baju ganti Cha"
"Ntar lagi dateng udah gue pesenin, ntar ganti di kamar tamu tempat mereka tadi. Gue ke belakang dulu" setelah mengucapkan itu Chacha langsung meninggalkan mereka.
"Gila ya tuh anak berasa dunia punya dia gitu" heran Putra.
Sedangkan Chacha yang berpamitan ke belakang nyatanya pergi ke ruang pribadi dimana hanya dia yang bisa memasukinya.
"Selamat datang My Queen" sapa blue.
"Tunjukkan keadaan mansion para mafioso dan keluarga Effendy"
"Baik Queen"
Blue melakukan proses sejenak sebelum menampilkan tayangan keadaan mansion yang dihuni para mafioso dan keadaan yang terjadi di keluarga Effendy.
Chacha hanya berekspresi datar saat melihat tayangan demi tayangan itu kemudian dirinya menghela nafas berat. Ketenangan sebelum badai. Batinnya.
"Tingkatkan keamanan pengawal bayangan untuk keluarga Effendy dan sampaikan perintahku pada para mafioso untuk meningkatkan pelatihan mereka dan skill mereka di berbagai bidang"
"Dimengerti"
"Keluarkan blacky dari garasi blue"
"Baik Queen"
Chacha berlalu dari ruangan tersebut lalu menuju kamarnya membuka nakas mengambil sebuah kotak lalu memakai isinya.
Sebuah jam tangan dengan ukiran setangkai mawar berwarna hitam yang dililit akar terlihat melingkar apik dipergelangan tangan Chacha.
__ADS_1
Setelahnya Chacha kembali menemui para sahabatnya diruang tamu.
"Belum selesai mereka?" tanya Chacha setelah menghempaskan dirinya kesofa.
Keempatnya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Lama pula para jantan besiap ya" Chacha mendelik setelah melihat para pria berjalan ke arahnya.
"Ceila bentar itu mah" kilah Kinos.
"Heleh alasan" timpal Karin.
"Sweety" panggil Levy pada Chacha yang memasang muka cemberut.
"Hmm" jawabnya.
Levy menghela nafas ringan melihat tingkah Chacha.
"Ganti pakai sepatu jangan kebiasaan keluar pakai sendal jepit" ucapnya sambil mengelus rambut Chacha.
"Males ihh enakan gini" rajuknya.
"Gak ganti gak jalan" tambah Levy lalu menghempaskan dirinya di samping Chacha.
"Kan lele ganteng princess pake ini aja ya" rengek Chacha pada Levy.
Sedangkan Levy hanya diam tak menjawab pertanyaan Chacha membuat Chacha menunduk lalu beranjak dari tempatnya.
"Lev lo keterlaluan banget sih" seru Elang yang sejak tadi tak bersuara.
"Lo lupa siapa dia. Berita dia masih belum bagus diluar sana kalo dia gak jaga penampilan bisa banyak yang ngehujat, gue gak mau dia dihujat netizen julid, apalagi setelah insiden kemarin lo liat sendiri gimana pro kontranya kan"
"Tapi dia enjoy tuh" tambah Karin.
"Kelihatannya dia enjoy. Dia lagi mikir gimana pulihin itu biar reputasi keluarganya gak diujung tanduk meskipun orang tuanya tak menuntut ini itu" jelas Levy mereka hanya diam tak lagi bertanya.
Setelah cukup lama menunggu Chacha tak kunjung keluar mereka dibuat heran kemana perginya Chacha. Levy langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Mau kemana lo" tanya Elang.
"Nyusul sweety" lalu berlalu meninggalkan mereka.
Levy bingung mau cari Chacha kemana. Pasalnya mansion ini luasnya minta ampun hingga dirinya berpapasan dengan kepala pelayan di mansion tersebut.
"Mbak"
"Iya den. Butuh sesuatu"
"Queen dimana?"
"Nona dilantai dua den masih ngobatin kakinya yang luka katanya mau pakai sepatu jadi lukanya harus diperban dulu"
"Luka?"
__ADS_1
"Iya kemarin gak sengaja nona nginjak pecahan gelas sampai luka cukup dalam den"
Tanpa banyak bicara lagi Levy segera bergegas menyusul Chacha. Levy akhirnya tau kenapa Chacha membantah ucapannya tadi.