Call Me Queen

Call Me Queen
Keluarga Anggara 2


__ADS_3

Dua hari sudah Chacha membantu Pandu mengumpulkan semua apa yang dibutuhkan untuk melamar seorang Fany. Dan dua hari pula sikap Levy berubah menjadi dingin padanya. Chacha enggan menanyakan. Bukan tak peduli, namun dirinya enggan berdebat dikala pusing yang menderanya.


Seperti malam ini contohnya, dimana Levy berlalu begitu saja meninggalkan dirinya, bahkan baju yang siapkan oleh Chacha tak dipakai.


"Mas? "


Levy tetap bungkam dan meneruskan langkahnya. Tak ambil pusing Chacha langsung menarik tangan Levy.


"Kamu kenapa? " Levy hanya menaikkan sebelah alisnya.


"Kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba bersikap dingin? "


"Tanyakan pada dirimu sendiri. Jangan lupa besok malam ulang tahun perusahaan"


Setelah mengatakan itu Levy berlalu begitu saja dari kamarnya. Chacha menyusulnya dengan sedikit tergesa di belakang, bahkan dirinya hampir terjatuh di anak tangga terakhir.


"Mas kamu mau kemana? "


Levy tetap mengabaikan nya dan masuk ke dalam mobil. Chacha menghela napas pelan. Dirinya akui dua hari ini, dia memang sibuk dengan masalah Pandu dan keluarganya. Tapi bukankah dia tetap melayani Levy sebagaimana mestinya. Salahnya dimana? Apa karena dirinya selalu tidur duluan? Bukan sengaja namun tubuhnya menuntut hak untuk istirahat dikala lelah menghampiri.


"Sampai kapan kamu akan mendiamkan ku seperti ini Mas? "


Chacha masuk kembali ke dalam rumah, dan mulai membersihkan diri. Karena malam ini dirinya akan mendampingi Pandu secara langsung dengan sang kakek untuk melamar Fany. Bahkan Nena dan Karin juga ikut. Ini adalah rencana kejutan untuk Fany, karena bertepatan dengan malam ini juga keluarga Anggara akan melamar Fany. Jadi Chacha sengaja menyerobot acara ini, sudah cukup bermainnya untuk keluarga Anggara, pikirnya.


Malamnya Chacha menunggu didepan teras rumahnya untuk dijemput Pandu, dirinya bersandar pada kursi santai di depan rumahnya. Memejamkan matanya, memikirkan bagaimana cara membujuk suaminya yang sedang merajuk. Hingga suara klakson menyadarkan lamunannya. Chacha segera bergegas dan masuk ke dalam mobil Pandu, tanpa banyak bicara keduanya langsung melesat menyusul rombongan yang sudah berangkat terlebih dahulu.


Sesampainya di kediaman Fany, mereka langsung masuk begitu saja saat mendapat kode dari Zeze, karena dirinya juga ikut andil dalam acara ini. Zeze bertugas sebagai informan di rumah itu, itulah kenapa Chacha bisa tau jika keluarga Anggara akan melamar Fany malam ini juga.


"Selamat malam" sapa Tuan Ibra memasuki ruangan. Padahal dirinya sudah tau semua keadaan yang akan dihadapi saat ini, karena Chacha sudah menceritakan secara detail apa yang terjadi. Karena itulah Tuan Ibra siap menjadi wakil untuk mengutarakan niat baik Pandu malam ini.


"Tuan Ibra? " kaget semua yang ada di dalam ruangan.


"Loh lagi rame, saya kira gak ada acara makanya saya main ke sini" Tuan Ibra berbasa basi.


Papa dari si kembar kaget mendengar ucapan Tuan Ibra, bagaimana bisa orang penting sekelas pemimpin Izhaka ini bermain kerumahnya.


"Mari silahkan duduk, Tuan" Papa si kembar mempersilahkan Tuan Ibra untuk duduk. Dirinya malah terlihat bingung saat melihat rombongan dibelakangnya. Ada apa ini? Batinnya bertanya. Terlebih lagi saat sahabat Fany juga turut hadir.


"Ah, iya terimakasih. Monggo dilanjut acaranya"


Kedua kepala keluarga ini saling berpandangan, memberi kode, lalu mengangguk.


"Hanya acara keluarga saja, Tuan" ujar Tuan Anggara.


"Berarti Pak Anggara ini kerabat keluarga ini? " tanya Tuan Ibra lagi. Kepala keluarga Anggara mengangguk secara pelan.


Saat akan mengucapkan beberapa kata lagi, Chacha maju dan membisikkan sesuatu pada Tuan Ibra yang dijawab anggukan saja.


"Baiklah karena waktu saya tidak banyak, saya hanya ingin mengutarakan maksud saya datang ke rumah ini"


Dua kepala keluarga itu dibuat bingung sekaligus sedikit khawatir dihatinya.


"Pak Gavin, benar jika anak anda kembar? " Papa Fany hanya mengangguk. "Ah rupanya benar. Bisa tolong dipanggil kan, saya ada perlu"


Papa Si kembar memberi kode pada istrinya untuk memanggil kedua putrinya di dalam kamar. Setelah keduanya turun dari tangga, tampak Zeze yang menahan senyumnya. Berbeda dengan Fany yang menunduk dengan raut wajah mengeras.


Pandu yang melihat pujaan hatinya membuat senyumnya terbit di bibirnya, bahkan dirinya harus menahan tawa karena geli dengan ekspresi wajah Fany. Jika bukan karena disikut sang adik, mungkin saat ini dirinya akan menarik Fany kedalam pelukannya.


Setelah sampai Fany duduk begitu saja, tanpa melihat siapa yang menjadi tamunya. Memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Kecewa, muak dan marah menjadi satu saat ini. Dirinya ingin acara ini segera berakhir, tak peduli dengan apapun keputusannya. Fany hanya butuh pelampiasan emosinya.


"Yang mana calon mu? " tanya Tuan Ibra.


"Yang kanan, Kek. Namanya Fany Adhlino Gavin, jangan salah, soalnya mereka kembar" Seloroh Pandu.


Fany terdiam mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, suara yang setiap malam menemani tidurnya. Fany menggeleng pelan, tak mungkin jika itu Pandu. Bukankah Pandu tak memperjuangkan dirinya?


Sadar Fany sadar. Batinnya bermonolog.


"Jadi Pak Gavin, maksud dan tujuan saya kesini adalah mewakili cucu saya ini untuk melamar salah satu dari putri kembar anda. Katanya yang kanan, namanya Fany Adhlino Gavin untuk Pandu Narendra"


Fany langsung mengangkat kepalanya saat Tuan Ibra menyebut nama Pandu secara lengkap. Dirinya menatap lurus wajah Pandu. Senyum lebar terbit di sana, bagai magnet yang kian juga menarik sudut bibirnya untuk tersenyum.


"Ta-tapi? "


"Apa sudah ada yang melamar anak mu? "


"Fany dijodohkan dengan putra saya, Tuan" jawab Pak Anggara.


"Dijodohkan karena bisnis atau apa? " Pandu mulai bersuara membuat Papa si kembar bingung.


"Maksud kamu apa? Anak saya ini cinta sama Fany, dia bilang sudah lama berpacaran dengan Fany"


Fany langsung melotot tak percaya dengan apa yang keluar dari mulut laki-laki tua ini.

__ADS_1


"Omong kosong apa ini? " tanya Fany dengan nada dingin.


"Fany? " tekan Papanya.


"Sejak kapan kita kenal? Saya tak merasa mengenal anda Tuan Anggara yang terhormat, dan anda Tuan Muda Anggara jangan membuat rumor seenak jidat anda"


"Fany"


"Apa pa? "


Bak mendapat angin segar, Fany yang sejak awal hanya berlaku pasrah karena berpikir Pandu menyerah akan dirinya. Namun, kali ini dirinya berani speak up saat mengetahui Pandu duduk di hadapannya untuk melamar dirinya.


"Halo Tuan Muda Anggara" sapa Chacha tiba-tiba membuat anak dari keluarga Anggara itu melotot kaget.


"Wohohohoho, santuy dong mukanya. Saking ngebetnya lo sama Fany sampai gak lihat kita disini" bentak Karin.


Karim dan Nena maju ke depan. Di samping Si kembar yang udah berdiri. Disusul Chacha yang berdiri ditengahnya.


"Berlutut lo sekarang" kali ini gantian Nena yang membentaknya.


Semua orang yang hadir kaget melihat apa yang terjadi. Karena terlalu kaget mereka bahkan tak berbuat apa-apa. Hanya menonton.


"Kenny Anggara, pilihan lo dua. Masuk bui atau tanggung jawab"


"Maksud kamu apa hah? " tanya Tuan Anggara.


"Kenny, jangan kira gue gak tau apa yang lo lakuin diluar sana. Jangan kira mau masuk di lingkungan gue semudah itu. Bilang pada atasan lo, caranya terlalu basi, jangan pernah ganggu sahabat gue lagi. Lo belum lupa kan salam perkenalan kita minggu lalu? "


"Gu-gue"


"Kenny, masuk bui atau tanggung jawab? "


"Tapi kesalahan anak saya apa, Nona? " kini giliran Nyonya Anggara yang bertanya.


"Hebat sekali lo nutup aib lo" Nena mulai kehilangan kendali atas dirinya.


Plak...


"Lo tau nggak, akibat perbuatan lo, sepupu gue harus dirawat di RSJ karena gangguan mentalnya. Bahkan keluarganya harus nanggung malu karena dia hamil, ditambah dengan kejiwaannya yang terganggu"


Bugh...


"Hey Nona hentikan"


Kenny hanya diam tak membalas. Sudah dua bulan dirinya diincar oleh salah satu anak buah Chacha, hingga minggu lalu dirinya mendapatkan salam perkenalan dari sniper milik Chacha, siapa lagi jika bukan bumil petakilan.


"Larasati Fabio, bukankah calon menantu yang selalu anda hina sebagai orang miskin, bukankah calon menantu yang selalu kalian rendahkan" emosi Fany semakin memuncak. Chacha memberi kode Karin untuk membawa Fany menjauh.


Sedangkan keluarga Anggara mematung tak percaya mendengar perkataan Nena. Chacha melihat wajah cengo mereka hanya bisa terkekeh.


"Laras memang tak pantas menjadi bagian keluarga anda. Hingga berujung dirinya diperkosa oleh anak anda, namun anda menutup mata meskipun sudah mengetahuinya"


"Jadi kalian meminta keadilan akan ja*ang yang satu itu? " nada bicara Tuan Anggara mulai berubah sinis.


Klak...


Entah dari mana kini Fany menodongkan pistolnya ke arah Kenny.


"Jadi lo yang buat partner gue menderita, jadi lo yang selama ini dibalik rapuhnya partner gue. Lo denger tadi, dia masuk RSJ boy dengan keadaan hamil pula"


"Bisa jadi itu bukan anak Kenny" celetuk Nyonya Anggara.


Dor...


Prang...


Fany sengaja membuat tembakannya meleset tepat di atas telinga Nyonya Anggara hingga pelurunya menabrak guci di belakang sana.


Kaget pasti. Bahkan kedua orang tuanya baru kali ini melihat Fany memegang senjata api, Fany yang mereka kenal pendiam dan mudah mengontrol emosi, kini mulai menunjukkan emosinya.


Melihat Fany mulai lepas kendali, Pandu segera menghampiri dan memeluknya erat. Membisikkan kata-kata yang membuat emosi Fany turun. Bahaya jika Fany mengamuk saat ini.


Kini giliran Chiara yang maju. Keberadaannya yang sejak tadi dihiraukan kini mulai ambil bagian. Chiara melempar sebuah dokumen ke meja membuat minuman yang gelasnya tersenggol harus rela tumpah.


"Gue rasa bukti itu cukup membuat lo tidur nyaman di bui"


Papa si kembar langsung mengambil dokumen itu lalu membacanya. Matanya melotot tak percaya dengan apa yang dibacanya. Sepak terjang Kenny ternyata sangat buruk, bahkan sang Ayah juga tak jauh berbeda. Yang membuat dirinya tak percaya lagi, tujuan perjodohan ini hanyalah untuk mengakuisisi perusahaan yang saat ini dirinya pimpin.


"Menyerah lah, Ken. Gue bantu lo di persidangan nanti. Itupun kalo lo mau, dengan syarat setelah bebas lo harus tanggung jawab. Jika lo memilih kabur, lo pasti tau gimana cara kerja anak buah gue"


"Kalian lanjutkan acaranya, saya pamit undur diri" Chacha berlalu begitu saja.


Bukan tanpa alasan dirinya buru-buru pulang. Kepalanya semakin berdenyut, sejak tadi dirinya menahan. Namun, sakitnya semakin menjadi. Untung saja dirinya sudah menelfon supirnya saat sampai tadi, jadilah sekarang dirinya langsung bergegas pulang.

__ADS_1


"Karena lo masih diam, gue anggap lo nyerah" Zeze mengambil alih keadaan kali ini. Dirinya memberi kode bawahan yang memang bertugas dirumahnya untuk segera membekuk Kenny.


"Mau dibawa anak saya? "


"Tenanglah Nyonya, nanti anda akan tahu. Bawa berkas ini dan serahkan dia ke polisi. Pastikan tidak kabur"


"Siap nona"


"Dan untuk anda Tuan Anggara, jangan pernah mengusik perusahaan orang tua saya, satu hal yang harus anda tahu. Perusahaan orang tua saya milik cucu Tuan Ibra. Bukankah anda terlibat bangkrut nya perusahaan papa saya beberapa tahun silam? "


Ditembak begitu membuat Tuan Anggara gelagapan. Bahkan dirinya bingung bagaimana cara menjawab saat ditatap dengan tatapan marah dan menuntut pertanyaan.


"Pintu keluarnya di sana. Keluarlah dan jangan pernah mengusik lagi, kembalilah sebelum saudara saya kembali emosi"


Mendapat kesempatan melepaskan diri, Tuan Anggara langsung menarik istrinya untuk keluar dari rumah yang menurutnya seperti kandang macan. Siapa yang akan menyangka jika dua gadis kembar itu memiliki backing orang hebat. Bahkan keduanya bisa menjadi iblis berwajah malaikat.


"Jelaskan apa maksudnya ini, Ze? " tanya Papa nya membuat Zeze nyengir.


"Nanti dulu, Pa. Ini gimana acaranya? "


"Eh, iya. Ayo duduk kembali dulu kalian"


Pandu masih membisikkan sesuatu di telinga Fany. Hingga Fany mengangguk dan melepaskan pelukannya barulah Pandu bernafas lega.


"Jadi? " tanya Tuan Ibra.


"Saya serahkan keputusan pada anak saya, Tuan. Karena yang akan menjalani mereka bukan saya, sebagai orang tua saya hanya bisa mengingatkan jika mereka salah jalan"


"Fany, bisa tolong dijawab. Kakek harus pulang"


Semua orang melongo tak percaya, kenapa acaranya jadi sedikit kacau begini.


"Jawab apa? " tanya Fany bingung, karena memang dirinya tak tau. Dia hanya dengan percaya dirinya tadi jika Pandu datang untuk melamarnya.


Pandu dengan senyum manisnya berdiri menghampiri Fany yang duduk di samping Zeze. Lalu berjongkok dengan membuka kotak cincin yang dibawanya.


"Fany Adhlino Gavin malam ini aku Pandu Narendra melamar mu untuk menjadi pendamping hidupku, menjadi teman berbagi ku, menjadi ibu dari anak-anak ku kelak. Mau kah kamu? "


Fany langsung mengangguk tanpa banyak berpikir. Membuat mereka semakin melongo tak percaya. Lamaran macam apa ini?


Namun saat Pandu akan memasangkan cincin di jari manisnya, Fany malah menarik kembali tangannya.


Kenapa lagi ini. Batin mereka


Perasaan Fany tuh hampir kayak es deh, ini kenapa jadi konyolnya gini sih? Kesambet apa coba kembaran gue ini?. Batin Zeze heran.


"Kenapa hmm? "


"Jelasin dulu, kamu ada hubungan apa sama Chiara? " tanya Fany sambil memandang Chiara dengan tajam.


Chiara yang menjadi bahan pembahasan celingak celinguk layaknya orang bodoh. Namun, sedetik kemudian dirinya tertawa membuat Fany semakin kesalahan. Ditambah dengan Pandu yang terkekeh geli.


"Kalian berdua ada hubungan apa? "


"Kamu cemburu? "


"Aku nanya itu dijawab, bukan balik nanya" ketua Fany.


Yang lain hanya melongo dengan perubahan sikap Fany. Inikah yang disebut bucin yang sesungguhnya?


"Dengar, Chia itu adik kandung aku, kita kembar. Kamu gak lihat wajah kita mirip? "


Fany dan lainnya baru tersadar. Melihat Pandu dan Chiara bergantian, benar mereka mirip.


"Kamu juga belum sadar kalau nama belakang kita sama-sama Narendra? "


Satu poin lagi yang lolos dari otak pintar Fany.


"Jadi kakak ipar, tolong itu abang gue capek loh jongkok gitu. Kalo iya cepet pasang cincinnya, kalo nggak tak balik aja. Gue masih mau jemput mami di bandara" cerocos Chiara.


Fany hanya bisa tersenyum kikuk saat mengetahui fakta ini, karena cemburu dirinya melewatkan hal begitu penting. Bagaimana dirinya bisa tak menyadari jika dua orang ini kembar.


Pandu menarik pelan tangan kiri Fany dan menyematkan cincin di jari manisnya.


"Aku gak macem-macem sama kamu. Aku seriusnya sama kamu doang, kalo aku macem-macem sebelum kamu hukum pasti udah bonyok dihajar Chia"


"Kok Chia? "


"Dia paling gak suka kalo lihat pria gak bisa menghargai wanita, jadi jangan heran kalo dia ngamuk"


"Dih malah bercerita, jadi ini udah selesai tunangannya kan? Maaf sebelum om tante, mami kami gak bisa hadir. Harusnya hadir tapi mami terpaksa ganti jam penerbangan karena ada sedikit masalah. Tapi Chia janji besok ajak mami kesini biar tau sama besannya"


"Gak papa nak. Gak usah buru-buru biarkan mami kamu istirahat dulu. Om sama tante masih shock ini dengan kejadian ini"

__ADS_1


"Ini tunangan macam apa sih? " celetuk Karin.


__ADS_2