
"Cha, lo sebenernya niat ada resepsi gak sih buat pernikahan kalian? "
"Niat, ini lagi atur jadwal kok"
"Ya, gue terserah kalian sih. Tapi inget, ada beban berat buat bahagiakan orang tua kalau kita nikah di Indonesia, tuh. Resepsi itu biasanya salah satu bentuk kebahagiaan yang kita bagi untuk mereka. Itu pendapat gue sih, lo pikir aja lagi" Kata Karin sambil menyenggol pelan bahu Chacha dengan bahunya.
Chacha mengangguk. Sahabatnya yang biasanya petakilan kalau sedang bijak, Chacha kalah deh.
"Thanks, Rin" Chacha mengumbar senyumnya pada Karin.
"Lagian daripada mikirin resepsi, pikirin dulu deh malam pertama lo" Ucap Karin. Ia tertawa lagi, apalagi saat melihat wajah cemberut Chacha.
Baru saja Chacha merasa Karin menjadi sosok yang bijak dan pantas menjadi panutan, tahu-tahu sudah kembali lagi anak itu dengan pikiran joroknya. Tampaknya Karin sekarang tak akan lepas dengan pikiran itu.
"Eh, Rin... " Tiba-tiba satu hal terlintas dipikiran Chacha.
"Apaan? " Tanya Karin sambil menyambar satu lingerie lagi. Chacha mengernyit. Dirinya ingat Karin sudah mengambil empat buah lingerie. Sebenarnya Karin ingin membeli berapa banyak sih?
Chacha ingin mencetuskan pertanyaan itu, tapi dirinya takut tidak siap dengan jawabannya jika "ya tujuh lah, satu untuk tiap harinya? "
Itu berarti Karin setiap hari akan melakukan itu. Tiba-tiba Chacha merasa ngilu.
"Sakit nggak sih? " Tanya Chacha dengan suara pelan.
"Sakit... Apaan? " Karin berhenti melakukan aktivitasnya.
"Ya malam pertama" Ucap Chacha malu. Akhirnya dia kalah dan harus membuka dirinya pada topik ini. Karin tertawa terbahak-bahak melihat Chacha yang mulai memerah.
"Ya tergantung... " Kata Karin setelah tawanya reda. Ia menjawab sambil sedikit berpikir. Karin sambil mengingat-ingat malam pertamanya yang belum lama berlalu.
"Tergantung? " Chacha malah makin tidak mengerti mendengar reaksi Karin.
Apanya yang digantung?
"Gue sama Elang kan sama-sama pertama kali tuh, jadi rasanya ampun deh. Gak tembus dalam sekali percobaan" Karin menceritakan kisah pertamanya. Mata Chacha terbuka lebar.
"Hah? " Ujar Chacha. Ia merasa semakin ngilu.
__ADS_1
"Iya, sakit banget nggak kuat gue. Jadi ya dicicil deh"
"WHAT" Dari ngilu, Chacha pun langsung memblack-list ide untuk melakukan hubungan itu selama-lamanya.
"Eh, salah nih kayaknya gue ngomong gini" Ujar Karin setelah melihat wajah takut dan kesakitan ala Chacha.
"Ya, menurut lo aja deh Rin" Ujar Chacha kesal. Setelah akal sehatnya kembali berjalan, ia pun mulai sadar. Jika melakukan hubungan itu begitu menyakitkan dan traumatis, kenapa wanita petakilan ini begitu semangat membahasnya?
"Lo jangan keburu parno dulu, Cha. Dalam cinta gak ada kata menyerah, Cha. Apalagi dalam bercinta" Ucap Karin yang mengundang geli di perut Chacha. Bahasa Karin jika menyangkut hal yang satu ini asal cocok aja pokoknya.
"Jadi lo memperjuangkan dengan cara, Rin? " Tanya Chacha penasaran. Tak apalah sesekali dirinya bertanya seperti ini, anggap saja menambah pengetahuan dirinya.
"Jadi, setelah gak nembus sekali, kita langsung cari ilmu" Kata Karin.
"Nyari ilmu? " Chacha benar-benar sukar memahami bahas Karin yang terlampau kreatif jika tentang ini.
"Dari film biru, hehehe... " Ujar Karin sambil terkekeh. Mata Chacha terbelalak, tapi bibirnya menahan tawa yang siap menyembur.
"Emang gila kalian berdua tuh, gak nyangka gue sepupu gue yang polos itu, ah" Ucap Chacha sambil tertawa kecil. Ia bahkan sampai menepuk bahu Karin karena merasa geli.
"Such as? "
"Such as.. Kenyatannya kalau ceweknya rileks dan kerangsang, rasanya bisa gak sesakit itu. Setelah itu kita coba dan akhirnya enjoyable banget. Nagih malah, hihihi... " Karin masih terlena dengan penjelasannya sendiri. Hingga tak menyadari jika Chacha masih berwajah kecut.
"Aduh, gue dengernya malah tambah ngilu ini"
"Ya kalo waktunya dateng, lo tuh rileks, tenang, coba nikmatin suasana. Apalagi kalo lo ngelakuinnya bareng cowok yang lo cinta, pasrahin aja diri lo sama dia"
"Tau ah. Gue mau ke toilet aja" Chacha tak bisa membayangkan bagaimana dia dapat menikmati malam pertama dengan sakit yang mendera-dera. Karena semakin dibicarakan semakin membuat Chacha takut, jadi dia memilih kabur saja.
Bukan gaya Chacha sekali takut, tapi jika soal malam pertama. Jujur saja Chacha masih tabu akan halal berbau intim tersebut.
"Basah ya, Cha? "
"KEBELET, GILA"
Karin tertawa terbahak-bahak. Ia begitu puas menjahili Chacha kali ini. Baru berbicara seperti ini saja, wajah Chacha sudah merah padam. Bagaimana jika melakukannya.
__ADS_1
"Kasian juga pak bos.. " Seru Karin dalam hati.
Tiba-tiba tercetus ide hantu di otak mesumnya. Ia pun semangat memilih-milih lingerie yang terlihat nakal dan memprovokasi. Pilihannya jatuh pada lingerie berwarna merah maroon yang panjangnya hanya dibawah pinggul.
Jika Chacha memang tak bisa memberanikan dirinya sendiri, mungkin dia perlu sedikit 'dorongan' dari sahabat yang memahaminya.
...****************...
...****************...
Chacha dan Karin pulang setelah puas mengelilingi nyaris seluruh pertokoan yang ada di dalam mall tempat mereka menghabiskan waktu seharian. Chacha tak bermain-main ketika sedang berbelanja. Jiwa seorang wanitanya akan bangkit begitu saja, jika sudah berhasrat untuk menghabiskan uang.
Karin yang membawa mobil langsung menawarkan untuk mengantar Chacha pulang. Karena kebetulan rumah yang Levy beli untuk mereka tinggali serah dengan rumah miliknya dan Elang. Karin berdecak kagum saat melihat rumah yang Levy bbeli. Tapi decakannya berhenti kala dirinya mengingat sesuatu.
Alasan sebenarnya dirinya mengantar Chacha pulang karena memang Chacha tak membawa mobil. Saat bertemu di kafe tadi, kebetulan Chacha diantar oleh Levy. Lagipun Karin tak tega melihat Chacha harus kesulitan membawa belanjaan yang menggunung di jok belakang.
"Ini lo bisa angkat sendiri atau gue bantuin? " Tanya Karin sambil berharap dirinya tak perlu turun dari mobil. Kakinya sudah sangat pegal. Chacha tersenyum pada Karin.
"Tenang, gue udah panggil bala bantuan" Ucap Chacha. Tak lama kemudian, keluarlah seorang pria tampan dan gagah seiring terbukanya pagar rumah secara otomatis. Pria itu menggunakan polo shirt dan celana selutut. Tapi yang membuat penampilan pria itu segar adalah senyumnya yang menyambut kedatangan sang istri bahkan sejak dari kejauhan.
Levy benar-benar menjadi seorang bucin untuk istrinya. Bahkan sahabat yang mengenalnya cukup lama juga bingung akan sikap Levy pada Chacha. Meskipun mereka juga senang dengan sikap hangat Levy yang sekarang.
Karin memperhatikan Chacha yang sedang memandang suaminya mendekat. Karin tak hanya melihat ada cinta dalam tatapan itu, tapi juga rasa percaya. Satu hal sulit Chacha berikan, kepercayaan.
Karin mengulum senyum, dirinya berharap 'sedikit sentuhan' darinya dapat memberi warna baru dalam pernikahan Chacha. Tapi, sebagai sahabat dirinya perlu memberikan satu dorongan lagi.
"Lo gak seharusnya takut, Cha" Kata Karin pada Chacha. Chacha langsung menoleh ke arah sahabat sekaligus iparnya itu, ia mendapati Karin sedang tersenyum. Senyum yang begitu berusaha membuat Chacha tenang dengan segala pikirannya.
"Lo lihat pak bos, dengan kepercayaan yang lo punya ke dia. Apa mungkin lo bisa mikir dia bakal nyakitin lo. Secara dia bucin akut ke lo"
Chacha termangu mendengar pernyataan itu. Senyum dan tatapan Karin begitu meneduhkan, membuat Chacha tahu apa yang sedang dibicarakan Karin tanpa harus bertanya apa maksudnya.
"Lagi pula, pertama gak sesakit ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. So, what are you worrying for? " Kata Karin langsung merasuk ke dalam pikiran Chacha.
...****************...
...aku tunggu komen kalian guys. lanjut gak nih? ...
__ADS_1