
Drrt... Drrt... Drrt..
Tangan Levy meraba benda pipih yang sejak tadi tak berhenti bergetar. Dengan mata setengah terpejam Levy menjawab panggilan itu.
"Ya? "
"Lev, Chacha baik-baik aja kan? "
"Hah? "
"Lo ngapain sih, kok lelet gini? "
Levy menjauhkan ponselnya guna melihat siapa yang menelfon dirinya. Matanya melebar saat tulisan Ipar Macan yang tertera di layar ponselnya.
"Iya Bang, kenapa tadi? "
"Chacha mana. Ke tanya tadi mau nyusul ke rumah sakit, ini sampai sekarang kenapa belum sampai. Ga k terjadi apa-aoa jan sama dia? " Tanya King di seberang sana.
Levy melirik sekilas ke arah istrinya yang tidur dengan tubuh polosnya.
"Chacha tidur Bang, kayaknya kecapekan banget dia" Levy tak berbohong, memang benar istrinya itu kelelahan karena ia gempur berkali-kali tadi.
"Oh, ya sudah. Biarkan dia istirahat dulu, nanti kalau bangun langsung ke sini ya"
"Iya, tadi emang rencananya mau ke sana. Tapi dia tidur"
"Ya sudah gak papa" King langsung memutus panggilannya.
Levy langsung bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi. Dia sengaja tak membangunkan Chacha agar istrinya itu mendapat istirahat yang cukup.
Lima belas menit cukup untuk Levy membersihkan dirinya. Kini setelah berganti pakaian dia langsung membangunkan sang istri.
"Yang" Levy mengguncang pelan bahu istrinya.
"Sayang bangun yuk"
"Enghh,,, adoh remuk badan ku Mas" Levy terkekeh melihat respon pertama istrinya saat bangun tidur.
"Ayo mandi biar seger"
"Aih, males jalan" Chacha masih setengah terpejam mengatakan itu.
"Ya udah lanjut aja tidurnya, kita ke rumah sakit besok aja ya" Tawar Levy. Seketika itu juga mata Chacha terbuka lebar.
"Bentar aku mandi dulu" Chacha langsung bangkit dan turun dibantu oleh Levy.
Chacha benar-benar lupa jika akan ke rumah sakit. Bisa-bisanya dia malah menggoda Levy tadinya. Alhasil badannya terasa remuk karena perbuatan usilnya. Chacha tak ingat berapa kali dirinya mengalami pelepasan dan penyatuan. Yang pasti Chacha mengakui jika suaminya itu memang pemimpin sejati. Levy seperti tak pernah kehilangan tenaganya jika sedang menggempur Chacha di atas ranjang.
Chacha menyelesaikan semuanya dalam waktu tiga puluh menit. Benar-benar kilat. Setelahnya mereka langsung berangkat menuju rumah sakit tempat Bu Ratu dirawat.
Seperti biasa ketika di mobil mereka memiliki kesibukan masing-masing. Levy sibuk dengan kemudinya, sedangkan Chacha sibuk dengan kunyahannya.
"Sudah ketemu dalang penculikan Bunda? " Tanya Levy. Levy tau, secepat apa istrinya dalam menyelesaikan masalah. Tapi sejauh ini Levy melihat Chacha tak mengeluarkan tim khusus yang dia sembunyikan. Namun Levy dapat merasakan jika mereka diam-diam mengikuti Chacha dalam jarak aman.
"Sebentar lagi"
"Tumben? "
__ADS_1
"Kalau aku gak salah tebak. Dia masih orang yang sama dengan pelaku yang menyuruh Audy" Chacha menyuapkan lagi satu sendok salad buah ke dalam mulutnya.
"Kenapa bisa seyakin itu? Bisa saja musuh bisnis Ayah? "
"Kemungkinan itu ada. Tapi ayah kan di pindah pegang perusahaan cabang. Jadi aku rasa itu gak masuk akal. Jika untuk melemahkan abang, aku rasa mereka tak akan berani. Melihat sepak terjang abang saat memimpin perusahaan Izhaka"
"Jadi kasus ini belum terpecahkan? "
"Sedikit lagi, salah satu bawahan aku menemukan bukti chat rencana penculikan bunda. Lebih parahnya lagi, mereka juga menargetkan Audy"
"Mereka? "
"Ya mereka. Karena aku yakin ini bukan perlakuan perorangan"
"Bekerjasama? "
"Ya. Karena saat menyerang tempat bunda di sekap, abang bilang ada pengawal bayangannya. Bisa dibilang antara mafia dan pebisnis kelas atas yang memiliki pengawal bayangan"
"Butuh bantuan? "
"Ndak dulu deh, Mas. Anak buah aku bisa nganggep anak buah kamu lawan nantinya"
"Ya udah, kalau butuh apa-apa kasih tau, Mas"
"Siap komandan"
"Asal jangan kamu yang turun tangan langsung loh sayang. Kamu cuma boleh bergerak dibalik layar"
"Belum saatnya aku keluar Mas"
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit tempat Bu Ratu dirawat. Levy langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus pemilik rumah sakit.
Sesampainya di ruangan milik Bu Ratu Chacha dibuat tercengang dengan ramainya ruangan pribadi itu. Bagaimana tidak, keluarga besar Effendy dan Izhaka berkumpul di sana. Jangan lupakan keluarga besar Rahardian yang terdiri oma, opa, Lenardi, Lena, si gembul Leon, Fitri, Frans beserta anaknya, yang absen hanya Tony dan Tina. Chacha dan Levy hanya melongo dibuatnya. Ini rumah sakit apa acara pertemuan keluarga. Lihat sudut lain di ruangan itu, tampak para sahabat Chacha bercanda ria tanpa memperhatikan tempat.
"Mas ini rumah sakit apa pertemuan keluarga? " Chacha bertanya dengan sedikit berbisik.
"Gak tau juga, kenapa rame begini"
"Woy, kalian ngapain bengong di situ" Teriak bumil petakilan alias Karin.
Semua yang ada di ruangan itu seketika diam dan menoleh ke arah mereka berdua. Chacha hanya tersenyum canggung, sedangkan Levy menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalian ngapain berdiri di situ, ayo sini masuk" Tegur Ayah Gun.
Akhirnya Chacha dan Levy melangkahkan kakinya masuk ke ruangan Bu Ratu. Jika Levy langsung menuju kumpulan orang tua, berbeda dengan Chacha, dia langsung melangkahkan kakinya menuju bangsal tempat sang bunda terbaring.
"Gimana hasil observasi Kak Shiro, Bang? " Tanya Chacha pada King yang duduk di samping Bu Ratu.
"Shiro menunggu mu" Chacha mengangguk paham.
Chacha memeriksa jalannya infus pada Bu Ratu sebentar, mengecek denyut nadinya juga. Setelah selesai barulah Chacha menghubungi Shiro untuk menemuinya di ruangan Bu Ratu.
"Abang akan kirim orang untuk melihat kembali tempat bunda di sekap"
"Sudah hancur" Balas Chacha tenang.
"Maksudnya? "
__ADS_1
"Udah Chacha hancurkan Bang"
"Kamu kebiasaan, kita harus cek lagi. Siapa tau ada petunjuk" Gerutu King.
"Udah kok, kalau gak dapet gak mungkin Chacha hancurkan kan"
"Jadi? "
"Masih dalam pantauan"
"Belum ketemu siapa dalangnya"
"Sebentar lagi. Chacha harap Abang tak usah turun tangan. Biarkan ini jadi urusan Chacha. Abang jaga keluarga kita aja"
"Gak bisa gitu dong"
"Chacha mohon" Chacha menatap dengan puppy eyes-nya. King hanya diam tak ingin membalas perkataan adiknya.
Bukannya tak ingin King ikut campur. Namun, Chacha akan bergerak sendiri dengan anak buahnya. Dia rindu bermain seperti beberapa tahun silam. Jika King ikut andil dalam penyelesaian masalah ini, bisa dipastikan Chacha akan kehilangan ruang bermainnya. Karena bagaimanapun sang abang ini susah mengontrol emosinya jika bersangkutan dengan kedua orang tuanya.
"Permisi. Maaf mengganggu waktunya" Ucap Shiro pelan saat memasuki ruangan Bu Ratu. Dia hanya datang seorang diri tanpa di dampingi oleh suster.
Melihat siapa yang datang para orang tua hanya mengangguk menanggapi. Levy sendiri langsung bangkit dan menuju ke tempat istrinya. Berbeda dengan para sahabat Chacha yang mulai merecoki Shiro.
"Perjaka tua rupanya, aku kira siapa" Usil Karin saat melihat Shiro.
"Dasar bumil petakilan" Balas Shiro.
"Kak Shiro, cari pacar dong jangan pacaran sama jarum suntik melulu" Tambah Nena.
"Kamu buru tunangan. Yang lain udah pada sold out tuh. Jangan mau digantungin mulu" Ejek Shiro pada Nena.
"Mampus gak tuh, Na? " Tambah Zeze.
"Sabar ya Nena" Imbuh Fany.
"Kalian sekongkol ya"
"Kak Shiro" Panggil Chacha.
"Ya Queen"
"Bagaimana? "
"Kandungan racun dalam tubuh nyonya sudah bersih. Kita hanya menunggu nyonya sadar saja"
"Syukurlah kalau begitu"
"Tapi Queen, kita tetap harus menunggu nyonya sadar untuk memastikan jika syaraf-syaraf nyonya tak bermasalah. Hilangnya kandungan racun bukan berarti dapat memulihkan begitu saja, terlebih bisa dibilang nyonya terlambat penanganan" Jelas Shiro.
"Aku sudah membereskan semuanya dengan teknik akupuntur. Jadi Kak Shiro jangan khawatir"
"Ah, lega kalau sudah begitu"
"Hmm, siapkan bawahan kakak. Besok aku adakan rapat dengan tim obat dan racun"
"Baik Queen. Ada lagi? " Chacha hanya menggeleng. "Baiklah kalau begitu saya permisi semuanya" Shiro langsung berjalan meninggalkan kamar Bu Ratu.
__ADS_1