
Pekan ini mereka berkumpul kembali di FF resto, harusnya mereka berangkat ke Maldives malam tadi. Namun, Chacha menggagalkan itu. Chacha malah mengirim Audy dan Kevin ke Maldives, untuk berbulan madu katanya.
Sekarang disinilah mereka menyusun kembali rencana liburan mereka.
"Jadi kemana kita ini? " tanya Kinos.
"Dalam negeri juga punya surga yang tak kalah eksotis kok sama luar negeri"
"Nah bener tuh kata Nena, kita liburan didalam negeri aja"
"Mau ke pulau pribadi gue? " tawar Chacha.
"Gue sih terserah lo, kan kita cuma nebeng"
"Kalo gue pengen nya sih ke Jawa Timur"
"Ada apa di Jawa Timur, Cha? " tanya Karin.
"Banyak lah. Kita bisa keliling Jawa Timur nanti kalau mau"
"Seriusan? "
"Kapan gue bohong? "
"Iya sih"
"Kawah Ijen" satu kata yang Chacha ucapkan membuat lainnya mengernyit bingung. "Gunung Bromo"
"Kita bakalan daki gunung? " tanya Fany.
"Emmm. Nos, katanya lo pengen lihat bluefire. Nah di Kawah Ijen ada"
"Seriusan lu, Cha? "
"Iya Kinos iya. Kalian jangan salah, menurut gue Indonesia punya surga destinasi yang mampu bersaing dengan luar negeri. Cuma ya kadang pemeliharaan dan kesadaran masyarakat Indonesia aja yang kalah sama luar negeri"
"Bener kata lo, Cha. Kadang nih ya gue sering lihat. Ada beberapa orang yang memang benar-benar gak perduli gitu. Contoh gampangnya aja, buang sampah sembarangan" ucap Nena.
"Jika diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa, gue yakin Indonesia akan jadi serbuan para turis untuk berlibur. Gak cuma Bali aja yang menjadi surganya para turis, gue harap tempat lain juga. Kalo perlu nih ya, turisnya bingung saking banyaknya surga destinasi memukau di Indonesia" tambah Karin dengan kekehannya.
"Kesadaran masyarakat Indonesia itu gue akui memang kurang. Kesadaran dalam hal apapun. Kadang nih ya, jika masyarakat memiliki kesadaran untuk mengembangkan wilayah tersebut misalnya, ada aja halangannya. Contoh gampang, dana. Kadang dana gak ada buat pengembangan kan"
"Kenapa kalian malah asik berdiskusi, jadi ini bakal liburan kemana? Jadi ke Jawa Timur? " Tanya Putra.
"Jawa Timur, Put. Fix ini" jawab Karin.
"Nanti kita bakal liat padang savananya Indonesia di Jawa Timur" Ucap Chacha.
"Emang ada? "
"Ada dong, nanti kita kesana"
"Oke, tiga tempat bakal kita kunjungi, ada lagi, Cha? "
"Lihat berapa lama kalian bisa libur dari pekerjaan kalian"
"Kita usahakan seminggu libur, Cha"
"Oke, paling nggak kita bisa kunjungi lima tempat selama seminggu"
"Akomodasi kesana kita pakai apa? "
"Kita pakai pesawat nanti langsung flight ke Banyuwangi. Udah kalian terima beres aja, gue yang atur semuanya"
"Udah ditentuin mau kemana aja? " Tanya Levy yang sejak tadi hanya diam memperhatikan mereka yang berdiskusi.
"Udah kok, Mas"
"Kita berangkat minggu depan kalo gak ada halangan ya"
"Oke, semoga gak ada halangan aja"
Mereka melanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan. Saling melempar candaan bahkan umpatan juga tak luput jika mereka sedang berkumpul seperti ini.
__ADS_1
"Kenapa? "
"Gak papa"
"Kenapa, Sayang? "
"Gak papa, Mas"
"Sekali lagi aku tanya, kenapa? " Chacha hanya menggeleng. Masuk kedalam pelukan Levy dan membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
Yang lain hanya bingung melihat Chacha yang tiba-tiba memeluk Levy. Mereka bertanya melalui kode pada Levy, tapi malah dibalas gelengan kepala olehnya.
"Kangen Chiara" Bisiknya pada Levy.
"Ya udah suruh gabung aja, apa susahnya? "
"Masalahnya Chiara aku lempar ke Manhattan buat ngurus sesuatu disana"
"Kenapa gak ditelfon? "
"Mulai semalem udah nelfon terus sampai pagi tadi, tapi gak diangkat" Chacha melepaskan pelukannya dan memilih bersandar pada bahu Levy kali ini.
"Tumben? Biasanya kalian kalau udah telfonan, udah kayak orang pacaran aja" Mendengar protesan Levy, Chacha hanya nyengir kuda.
"Makanya aku cemas, takut terjadi apa-apa sama dia"
"Gak tanya sama babah? " Levy mengelus pelan rambut istrinya itu.
"Chiara gak aku suruh ke babah, Mas"
"Anak buah kamu banyak, kenapa gak tanya aja? "
"Masalahnya Chiara bawa misi rahasia, kalau aku tanya sama mereka kan ketahuan"
"Pandu? "
"Pandu ke Jepang, usaha aku disana di sleding sama yakuza, jadi Pandu aku kirim ke sana" Jawabnya lesu.
"Ya sudah, jangan berpikiran negatif. Mungkin Chiara belum memegang ponselnya, atau mungkin dia sedang menjalankan misi kamu"
"Oh iya Lev, Angel apa kabar? " Tanya Kinos dengan senyum usilnya.
"Mana gue tahu, dia bukan siapa-siapa gue"
"Ya kan biasanya dia jadi buntut lo dimana ada lo pasti ada dia" Yang lain terkekeh mendengar penuturan Kinos.
"Berterimakasihlah kalian sama bu bos yang satu ini" ucapnya sambil merengkuh tubuh mungil Chacha dari samping.
"Kenapa? "
"Gue bikin jadwal dia super sibuk" Kali Chacha yang menjawab dengan nada sinis.
"Ciamik lo emang, Cha"
"Cha? "
"Apa? "
"Tanya boleh? "
"Boleh, satu pertanyaan sepuluh juta"
"Gak jadi"
"Gue bercanda. Mau tanya apa lo, Put? "
"Kok lo bisa stay terus sama pak bos. Padahal lo tinggal di luar negeri. Lo bisa aja kan cari yang lain setelah mendengar berita pertunangan pak bos"
"Berapa lama lo penasaran akan hal ini, Put? "
"Setelah lo balik, Cha. Setelah lo tahu kalau Levy tunangan tapi lo masih menatap dia dengan tatapan penuh cinta. Itu yang gue gak ngerti dari lo"
"Gini ya Put, dengerin gue. Tanda sayang itu adalah sabar dan sadar. Sabar untuk menjaga hati dan perasaan untuk tetap komitmen dengan dia yang sudah setia kepadamu. Sadar bahwa dirimu sudah punya pasangan, sehingga tak menerima orang lain lagi dalam hubungan. Sesederhana itu jika kamu sayang"
__ADS_1
"Tapi lo kan ditinggal tunangan"
"Gue yang paling tahu siapa dia, Put. Gue tahu di hati dan pikirannya cuma terukir nama gue. Jadi gue gak khawatir saat dia bertunangan dengan Angel. Justru gue kasihan sama Angel"
"Kenapa? "
"Dia cuma dijadikan pelampiasan amarah"
Mereka melirik serempak ke arah Levy saat jawaban terakhir Chacha.
"Bener gitu, Lev? " Levy hanya menaikkan kedua alisnya sebagai jawaban.
"Parah banget sih lo, Lev"
"Bodoamat, dia sendiri yang mau bukan gue"
"Udah gak usah bahas Angel lebih lanjut deh. Gak ada gunanya juga" Putus Karin.
"Kita jarang nih kumpul gini. Enaknya kemana nih setelah ini? " Tanya Nena.
"Ke mall aja yuk, gue ada yang mau dibeli"
"Hayuk lah, kalo bu bos yang minta mah kita manut aja. Kalian gimana? " Tanya Zeze pada para lelaki yang ada disana.
"Aku sih yes" Jawab Putra sambil menirukan cara bicara salah satu juri di ajang pencarian bakat yang tayang di televisi.
"Yes" Jawab Kinos.
"Kalo Elang gak usah ditanya, kemana Karin melangkah pasti Elang ikut, ya gak? " Kinos gencar sekali menggoda Elang akhir-akhir ini. Elang hanya memasang wajah datar andalannya. Dirinya sudah kenyang dengan godaan dan candaan Kinos sejak duduk di bangku SMA.
"Kamu kalau ada kerjaan lain gak papa loh, Ay"
"Bosnya aja ada disini, Ay. Lagian ini weekend jadi kita libur"
"Ya udah yuk berangkat"
Mereka keluar dari ruangan VVIP, Chacha dan Levy merupakan orang yang terakhir keluar. Entah mereka sadar apa tidak, jika sikap Levy sejak tadi menunjukkan keposesifannya pada Chacha. Lihatnya bahkan sekarang dirinya berjalan sambil memeluk pinggang istrinya itu.
"Mau beli apa sih, Yang? "
"Kenapa? Kamu capek? Atau pusing lagi? "
"Nggak cuma gak biasanya kamu mau belanja sendiri ke mall, biasanya juga pesen online"
"Kan mau beli hadiah, jadi mumpung diluar ya sekalian aja"
"Hadiah buat apa? "
"Katanya kolega bisnis kamu ulang tahun. Gimana sih, Mas"
"Ya ampun aku lupa, Yang" Levy menepuk dahinya sendiri.
"Ck, kamu ini"
Cup...
"Mas malu ih"
"Gak papa kita ketutupan mereka didepan. Makasih udah diingatkan loh"
"Aku istri kamu, udah sewajarnya gak sih"
"Iya iya, Sayang"
"Tapi gak ada cium-cium sembarangan lagi ya. Ini tempat umum"
"Berarti kalo berdua boleh dong"
"Bisa ku pertimbangkan" Levy hanya mengacak rambut istrinya itu dengan gemas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aku kembali sayang
__ADS_1
jangan lupa mampir di karya author yang baru ya
jangan lupa ramein juga. kalo disana rame ntar disini aku kasih double up terus