Call Me Queen

Call Me Queen
Ulang Tahun II


__ADS_3

Acara inti hendak dimulai tapi Chacha masih clingak-clinguk seperti menanti seseorang. Lalu menggembungkan pipinya. Gemas sekali.


"Ayo acara mau dimulai" seru Fany. Chacha hanya mengangguk mulai berjalan ke tengah-tengah ruangan.


Acara dimulai begitu meriah dengan peniupan lilin hingga pemotongan kue pun dilaksanakan begitu lancar. Namun tiba-tiba lampu mati seketika beberapa tamu wanita berteriak histeris. Chacha masih dalam ketenangannya.


Tiba-tiba muncul sebuah layar yang menampilkan beberapa foto tak pantas setelah selesai lampu hidup kembali dan semua orang menatap satu orang dengan pandangan berbeda-beda.


Chacha masih diam dengan ekspresi datar miliknya. Iya acungi jempol untuk keberanian sang pelaku yang mengusik kedamaian hidupnya.


Plak...


Bu Ratu menatap tangan kanannya yang gemetar sesudah menampar putrinya itu. Ia bahkan syok setelah menampar putrinya.


"Apa ini kelakuanmu selama ini dibelakang Ayah, Cha? " Ayah Gun bertanya dengan suara dingin, bahkan beberapa tamu merinding mendengar nada suaranya.


"Jawab Ayah Cha" bentak Ayah Gun.


"Mau bela diri gimanapun gak bakal ada yang percaya kan" Chacha menaikkan sebelah alisnya.


Plak...


"Double jackpot" batin Chacha.


"Apa itu didikan keluarga yang kami ajarkan hah" emosi sang ayah membuncah melihat Chacha masih dalam ketenangannya.


"No, kakek dan nenek ku yang terbaik"


"Bisa kau jelaskan gambar-gambar tadi" Chacha hanya mengedikkan bahunya acuh.


"Menjelaskan pun tak akan membuat percaya dan akan menuduh ku menyalahkan orang lain nantinya"


Yang lain menyimak. Para sahabatnya terdiam, mereka syok bukan main. Tapi mereka memiliki keyakinan bahwa Chacha dijebak. Ingin membela tapi melihat sikap Chacha yang tenang sepertinya dia sudah mengantisipasi ini akan terjadi.


"Bunda tak menyangka kamu seperti ini, Cha" lirih Bu Ratu dengan air mata yang terus mengalir.


"Jika Chacha berkata itu bukan Chacha apa Bunda percaya? " tanya Chacha dengan tatapan sendu ke arah bundanya.


"Itu jelas wajahmu nak"


"Chacha dijebak" Chacha langsung menukik pada intinya kepalanya mulai berdenyut efek dirinya kurang istirahat akhir-akhir ini.


"Jangan berdalih lo dijebak deh, akuin aja" Audy memanaskan suasana.

__ADS_1


"Kalo gue bilang ini ulah lo gimana? " Chacha menatap Audy tajam sontak saja Audy gelagapan dibuatnya.


"Jangan melempar kesalahanmu pada orang lain" Ayah Gun geram dengan tingkah Chacha yang menunjukkan seolah-olah dirinya tak bersalah.


"Apa yang harus aku akui Ayah jika aku tak merasa melakukan hal senista itu"


"Lalu bagaimana mungkin wajahmu bersanding dengan lelaki itu hah"


"Bisa aja itu editan kan" celetuk Chacha menambah kadar emosi sang ayah menjadi tinggi.


"Bagaimana orang bisa mengedit sedetail itu"


"Mungkin ahli"


"Inikah kenapa kau suka keluar malam, Cha" Chacha menaikkan sebelah alisnya. Dirinya memang sering keluar malam tapi selalu izin saat tinggal dikediaman Keluarga Effendy.


"Inikah alasan kau sering keluar masuk club? "


"Jadi ini jawaban kau memiliki semua barang mewah mu"


"Ayah tak pernah memberikan uang dalam jumlah besar, Ayah akui itu. Tapi kamu bisa membeli semua barang mewah itu membuat tanda tanya. Inikah jawabannya, Jawab Ayah" Ayah gun membentak Chacha kali ini sukses membuat air matanya lolos, hatinya perih orang yang ia sayangi membentak nya.


"Tidak Ayah" lirihnya.


Satu kali lagi tamparan mendarat di pipi mulusnya. Chacha memejamkan matanya saat tangan sang ayah menyentuh pipinya.


"Kau masih mengelak dengan semua bukti yang ada hah"


"Sudah puas kau mempermalukan Ayah sebagai Ayahmu dan Bunda sebagai Bundamu"


"Tapi itu bukan Chacha, Ayah" lirihnya lagi sambil menunduk. Ayahnya marah besar kali ini, bahkan bundanya hanya menangis tanpa sepatah kata pun.


"Kau lagi-lagi mengelak"


"Apa kurang yang ayah berikan selama ini, hingga kau menjual tubuhmu"


"Cukup Ayah, itu bukan Chacha, Chacha difitnah" ucapnya dengan suara tinggi. Cukup kesabarannya sudah tak ada lagi, emosinya tak terbendung.


Plak...


"Kau membentak Ayah" Chacha menggelengkan kepalanya.


"Setelah semua yang kau lakukan, kau membentak Ayah" Chacha menggeleng lagi.

__ADS_1


"Queen Shalsabila Putri Effendy mulai hari ini kau bukan lagi bagian dari Keluarga Effendy" Chacha memejamkan matanya Ayahnya mencabut marganya harusnya dia senang tapi kali ini tidak.


"Ayah" Bu Ratu tercekat. Ayah Gun menoleh kepada Bu Ratu menatap istrinya yang menatapnya dengan tatapan kecewa. Sepersekian detik kemudian dia tersadar akan ucapannya.


Chacha memejamkan matanya, air matanya terus mengalir dirinya masih mengontrol kesadarannya agar tak tumbang, kepalanya semakin berdenyut hebat.


Suara langkah kaki memenuhi ruangan itu. Suasana hening membuat seseorang yang baru datang menaikkan sebelah alisnya.


"Queen" suara itu membuat Chacha membuka matanya perlahan. Ditatapnya orang itu lalu menghambur kepelukannya.


"Katakan jika semuanya baik-baik saja"


"Maaf tuan, Adik saya.. "


"Aku tak bertanya padamu" King memotong ucapan Audy dengan tatapan tajamnya.


"Dek" King memanggilnya Chacha sedikit berbisik. Dia melonggarkan pelukannya agar melihat dengan jelas wajah Chacha. Detik berikutnya wajahnya menggelap melihat bekas merah di pipi kesayangannya. Bahkan sedikit bengkak.


Chacha mendongak menampilkan senyum dengan tatapan sendunya hingga akhirnya hanya gelap yang ia lihat. Tubuhnya lemas, untung saja King masih memeluknya jika tidak dipastikan tubuhnya akan membentur lantai.


Tanpa aba-aba King langsung menggendong chacha ala bridal style. Chacha pingsan. Bundanya menangis, hal apa yang ia lewatkan.


"Zero"


"Ya Tuan"


"Hubungi dokter keluarga"


"Baik Tuan"


King langsung meninggalkan ruangan itu dengan sejuta tanda tanya dibenak para tamu. Dia dengan tergesa membawa Chacha ke lantai atas. Para sahabatnya juga mengekor dibelakangnya dengan sedikit berlari. Tapi di pertengahan tangga King menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Lanjutkan pestanya" dingin dan mengintimidasi membuat suasana di ruangan itu tak nyaman.


Sesampainya di kamar Chacha King langsung meletakkan tubuh Chacha di atas kasurnya. Menatap Chacha dengan pandangan rumit. Gadis ini terlalu banyak menanggung beban. Itu pikirnya.


"Kalian bisa jelaskan apa yang terjadi" King bertanya pada para sahabat Chacha yang baru masuk ke kamarnya.


Fany mulai menjelaskan apa yang terjadi sebelum kedatangan King ke ruangan itu. King hanya menyimak sedetik kemudian menampilkan smirk miliknya.


"Ingin bermain dengan kucing liar ini rupanya" ucap King sambil terkekeh akan ucapannya sendiri.


Sedangkan di ruangan bawah tepatnya tempat kejadian perkara berlangsung, suasana di ruangan itu tetap tak nyaman apalagi setelah dikejutkan dengan kedatangan seorang King sekarang ditambah lagi kedatangan seorang pebisnis yang dikenal kejam dan menutup diri beberapa tahun belakangan ini. Aura mengintimidasi yang dikeluarkannya sangat pekat. Tapi timbul beberapa pertanyaan dibenak mereka. Jika King datang dengan wajah tenangnya lain dengan yang satu ini, ia datang dengan wajah diliputi amarah. Wajahnya yang sedikit keriput dengan sorot mata tajam membuat siapa saja yang melihatnya akan menunduk takut. Tak terkecuali orang tua Chacha.

__ADS_1


"Papa"


__ADS_2