Call Me Queen

Call Me Queen
Akhir


__ADS_3

Deru helikopter membuat pertempuran itu terhenti sejenak. Mereka serempak menatap ke udara. Tampak Chacha dengan wajah dinginnya bergelantungan dibawah helikopter. Keluarga besarnya tampak menampilkan senyum penuh harap saat melihat Chacha datang.


Bukan tidak mempercayai Levy, namun dalam pertempuran skala besar seperti ini Chacha adalah ahlinya. Dia yang kerap kali menyapa malaikat maut itu sudah terbiasa dengan pertempuran seperti ini.


Brugh...


Chacha melompat tepat di samping Levy yang berhenti bergerak saat melihat istrinya. Levy menatap mata Chacha yang berbeda, mata birunya sedikit menggelap sekarang.


Chacha menatap Levy dengan tatapan yang sulit diartikan, dia memindai tubuh suaminya itu. Meskipun Levy mampu menyembunyikan lukanya dibalik jas hitam, namun Chacha lebih jeli dari siapapun jika menyangkut soal Levy. Dengan cepat Chacha merobek jas yang Levy kenakan, Levy sedikit meringis melihat kebrutalan istrinya.


Melihat luka tembak di lengan sang suami, Chacha langsung mengeluarkan gunting kecil di sakit hotpants yang dia kenakan. Dia langsung mengeluarkan peluru yang bersarang dibalik otot kekar suaminya itu. Chacha memang selalu membawa gunting kecil, dia teman medis yang selalu Chacha bawa.


Srak...


Chacha merobek bagian bawah kaos yang dikenakannya, lalu dililitkan ke luka suaminya dengan cepat. Setelahnya dia mengangkat pandangannya.


Pandangannya lurus menatap salah satu pemimpin yang belum dia musnahkan itu. Mata birunya kini sepenuhnya menggelap. Wajahnya masih tetap datar.


"Mas, selamatkan mereka" Chacha memerintah suaminya tanpa melepaskan tatapannya dari putrinya yang sedang ditodong pistol itu.


Levy langsung mengangguk dan menerjang apapun yang ada didepannya. Levy tahu, jika Chacha memprioritaskan anak-anak yang sedang musuh sandera.


"Karin pastikan jalanku masuk ke kediaman penuh dengan darah segar" Perintah kedua Chacha membuat Karin sedikit membeku sebelum akhirnya dirinya memanggil seluruh anak buahnya dan helikopter yang biasa dia gunakan.


"Caesar, blokir jalan untuk keluar dari tempat ini" Perintah ketiga Chacha adalah hal mutlak yang berarti kematian.


"Nena, pastikan mereka jadi jembatan untukku meniti ke dalam rumahku" Perintah keempat Chacha berikan pada Nena.


Chacha seperti orang lain saat ini, dia hanya memiringkan kepalanya. Dia belum bergerak dari tempatnya. Membiarkan anak buahnya melakukan tugasnya.


"Menyentuh putri ku, berarti kau siap kehilangan putri mu juga" Ucap Chacha dengan santainya.


Tanpa mereka ketahui jika Chacha menampilkan tayangan yang membuat musuh terkejut. Dimana anak buah Chacha sedang menyandera keluarga sang pemimpin.


"Melukai putri ku sama saja dengan satu nyawa melayang"


Kini mereka mengerti kenapa banyak yang tidak berani menyinggung wanita cantik ini. Dia benar-benar menjadi iblis sejati jika amarah menguasai nya.

__ADS_1


"Kau kira bisa menggertak ku, hah? " Teriak pemimpin musuh.


Dorr..


Chacha memiringkan sedikit tubuhnya hingga peluru itu meleset. Levy yang berlari berhenti saat mengingat istrinya tidak menggunakan rompi anti peluru. Mata tajamnya dengan cepat menyadari jika beberapa peluru siap melaju ke arah istrinya. Secepat peluru melesat, secepat itu juga Levy berlari dan memeluk istrinya.


Dorr...


Dorr...


Dorr..


Chacha kaget saat Levy menabrakkan tubuhnya dengan keras. Matanya melotot saat mendengar suara tembakan yang bertubi-tubi. Tanpa aba-aba dirinya merasa sesak nafas, air matanya lolos begitu saja.


Sedangkan keluarga besar yang menyaksikan itu langsung berteriak histeris melihat Levy menjadi tameng hidup untuk Chacha. Bahkan si bontot langsung menjerit.


"Ma-mas" Chacha menahan bobot tubuh Levy yang mulai melemah dalam pelukannya.


"Hmmm" Levy menjawab dengan suara begitu pelan. Kesadarannya secara perlahan menghilang.


Nena dengan sigap langsung berlari ke arah Chacha, bahkan Karin menghentikan serangannya dari udara melihat kejadian di bawahnya.


Hingga mereka dikagetkan dengan auman keras dua kucing besar milik Chacha itu. Cici dan koko tampak berdiri di samping Chacha, mereka menggesekkan kepala mereka pada paha Chacha.


"Koko bawa Levy ke ruang pribadi ku, kau tau bukan? " Koko tampak menggesekkan kepalanya lagi, Chacha mengelus pelan kepala singa jantan itu.


"Cici, cari Charles di arah yang berlawanan dengan ruang pribadi ku" Cici tampak langsung berlari meninggalkan arena saat mendapat perintah dari Chacha.


Chacha dibantu oleh Nena langsung meletakkan Levy di atas tubuh besar koko. Koko langsung berlari secepat kilat membawa Levy yang membutuhkan pertolongan secepatnya.


"Kau terlalu menguji kesabaran ku"


"Chila? "


"Siap eksekusi"


Tampak dilayar menampilkan anak buah Chacha yang mempersiapkan pistolnya untuk menembak.

__ADS_1


"Berani menyentuh keluarga ku maka putri mu akan bernasib sana dengan keluarga ku" Teriak pemimpin musuh.


Brugh...


Satu anak buahnya terjatuh disusul dengan yang lain. Mereka serempak mendapatkan luka tembak di kepala mereka. Namun, pelakunya bukan Karin. Karena Karin masih sibuk memberi perintah untuk menghujani tempat itu dengan peluru.


Chacha memberi kode pada Nena untuk mendekat ke arah mereka, dengan perlahan Nena mendekat tanpa diketahui musuh.


Chacha kembali mengambil katana yang sejak tadi bertengger manis di punggungnya. Tanpa perasaan Chacha bergerak brutal namun anggun menebas setiap musuh di dekatnya. Chacha seolah menari di tengah hujan peluru yang anak buahnya buat.


Keluarga nya menatap ngeri cara Chacha mengeksekusi musuhnya. Bahkan ekspresi Chacha seolah-olah dia begitu menikmati kegiatan itu. Hingga mata birunya menyipit, menampilkan senyum manis namun mengerikan bagi musuhnya itu.


Secepat kilat Chacha melempar katana dan menancap di dada salah satu musuhnya. Dengan cepat pula dirinya menarik pistol di pinggangnya. Menembak ke arah pemimpin musuh yang bersiap menembak si montok kesayangannya.


Dorr...


Dorr...


Brugh...


"Hap. Anak cantik gak boleh nangis ya"


Tepat saat peluru Chacha melesat ke kepala pemimpin musuh, Nena langsung melompat untuk menangkap Baby Al agar tidak terjatuh membentur lantai.


Setelah memastikan keadaan aman, hanya tersisa anak buahnya saja. Chacha langsung memberi kode pada bawahannya untuk bersenang-senang. Seketika itu juga seluruh jiwa mafia mereka bangkit. Chacha sendiri sudah melesat menuju tempat suaminya.


Nena langsung melesat ke tengah pertarungan setelah mendapatkan kode dari Chacha. Baby Al sudah dia oper pada Bu Ratu.


Tidak hanya Nena, Caesar pun ikut dalam pertempuran ini. Mereka hanya bermain dengan memukul mereka. Bagi seorang mafia menyiksa musuhnya adalah kegiatan yang begitu menyenangkan.


Karin juga sudah melompat dari atas helikopter yang ia naiki. Dia langsung meminta satu musuh yang cukup bugar untuk menjadi samsak hidupnya. Dia butuh melampiaskan emosinya.


Si kembar yang baru datang juga langsung ambil bagian. Teriakan demi teriakan bergema di kediaman Chacha. Malam itu menjadi malam sejarah hilangnya lima mafia besar, begitupun dengan dendam menahun yang menjadi beban Chacha selama ini.


Sedangkan Chiara dan Pandu langsung bergegas menyusul Chacha dengan membopong Bastian. Saat Pandu melewati mobil Levy dirinya melihat Bastian yang tengah memejamkan matanya menahan sakit. Segera dia membawanya ke ruangan pribadi milik Chacha.


Kediaman itu bisa dibilang komplit. Chacha sengaja mendesain dengan begitu komplit, sedangkan Levy menyetujui apa saja yang ratunya inginkan. Definisi bucin hingga ke tulangnya.

__ADS_1


__ADS_2