
"Jadi ke rumah sakit sayang? " Tanya Levy pagi itu.
"Jadi Mas. Setelah ini aku siap-siap" Jawab Chacha.
Semalaman dirinya tak bisa tidur dan lebih memilih menyusun rencana kedepannya. Setidaknya setelah melahirkan nanti Chacha akan disibukkan dengan mengurus bayi dan rencana balas dendamnya. Chacha bisa saja melupakan segalanya, namun jika tak dibasmi hingga akar, takutnya masih ada yang tersisa untuk menyerang balik. Chacha tak ingin itu terjadi. Dia ingin hidup dengan normal layaknya orang lain. Mungkin tak akan meninggalkan dunia bawah, namun dia hanya akan bergerak di belakang layar untuk sementara. Sampai anak-anaknya kelak mampu memimpin u lagi pada keinginan anak-anaknya kelak, Chacha tak ingin anak-anaknya terpaksa meneruskan semua miliknya.
"Kamu mandi dulu, Mas mandi di kamar tamu aja biar cepet" Chacha hanya mengangguk lalu meninggalkan Levy yang juga berjalan ke arah kamar tamu.
Setelah menyelesaikan ritual mandinya, Levy langsung menaiki tangga menuju kamarnya. Karena dirinya hanya mandi di kamar tamu.
"Sayang baju Mas dimana? " Taya Levy saat masuk ke dalam kamar mendapati istrinya yang sudah duduk di depan cermin rias nya.
"Di kasur" Levy hanya mengangguk lalu mengambil pakaiannya untuk dipakai. Chacha juga melanjutkan kegiatannya.
Setelah selesai berpakaian Levy langsung menghampiri istrinya di meja rias. Bukan untuk berrias juga, namun hanya untuk bercermin. Jika sedang weekend seperti ini, Levy enggan merapikan rambutnya. Agar terlihat lebih muda, guna mengimbangi istrinya yang memiliki fitur wajah baby face itu. Padahal umur mereka sama, hanya terpaut beberapa bulan saja. Namun, karena Levy sering berpakaian rapi dengan setelan jas membuatnya terlihat lebih dewasa. Berbeda dengan Chacha yang masih terlihat seperti remaja, Chacha akan terlihat dewasa jika mengaplikasikan make-up dewasa ke wajahnya.
"Sayang, nanti mampir ke rumah dulu ya"
"Rumah yang mana? " Efek kebanyakan rumah, beginilah jadinya.
"Rumah mama sama papa, sayang"
"Ada acara apa, Mas? "
"Gak tau juga, cuma tadi mama telfon katanya suruh ke sana. Mau ada tamu gitu katanya"
"Ya udah deh. Ke rumah sakit setelah itu aja. Tolong kabari Abang dulu kalau kita mampir ke rumah mama"
"Biar nanti Mas telfon Bang Nial"
"Mama mau dibawain apa Mas? "
"Kita mau balik ke rumah sendiri loh, sayang"
"Ya kan buat buah tangan"
"Kamu main ke rumah aja mama udah seneng"
"Si gembul? "
"Jangan manjain dia terus sayang. Mas takut dia malah gak bisa mandiri"
"Kan aku cuma manjain dia sesekali. Saat kita ketemu aja, jangan terlalu keras sama Leon. Jangan buat dia seperti kita, kita berdua kehilangan masa bermain karena sibuk dengan tanggung jawab. Setidaknya biarkan Leon bermain dengan anak sebayanya. Biarkan dia menjadi anak se usianya"
"Iya sayang. Itu kenapa Mas minta kamu maklum kalau Mas pulang malam. Karena Mas kadang harus mampir ke perusahaan papa dulu"
"Kamu gak ada niat buat gantiin papa gitu Mas? "
"Itu punya Leon, Mas kan sudah ada sendiri"
"Maksud aku, kamu mimpin itu sementara aja. Setelah Leon dewasa baru kamu serahkan"
"Takut oleng sayang. Yuk ah berangkat, udah siap kan? " Levy mengulurkan tangannya pada Chacha.
Chacha menyambutnya dengan senyum manisnya. Mereka meninggalkan kamar, namun sebelumnya mampir ke dapur guna mengambil stok salad buah di lemari es. Seperti biasa bumil tak bisa jika tidak mengunyah dalam mobil. Setelahnya mereka langsung meninggalkan halaman rumah.
Jalanan cukup lancar, mereka tidak terjebak macet karena berjalan tepat di jam kantor. Hari ini Levy memilih tidak masuk kerja. Selain ingin menemani istrinya untuk menjenguk Bu Ratu, dia juga ingin rehat sebentar. Mengurusi dua perusahaan dengan anak cabang dimana-mana membuat dirinya benar-benar lelah. Ditambah seluruhnya dia yang mengurus. Berbeda dengan Chacha, meskipun memiliki banyak usaha. Dia memiliki banyak anak buah yang bisa dipercaya. Jadi dia hanya mengecek dan memantau seperlunya saja.
"Kakak cantik" Teriak Leon saat melihat Chacha turun dari mobil.
"Eh eh, jangan lari nanti jatuh loh" Chacha berjalan sedikit cepat untuk menangkap tubuh gembul Leon yang sedang berlari ke arahnya.
"Sini gendong Abang aja. Kasian adik bayi kalau gendong kakak ya" Leon langsung berpindah ke dalam gendongan Levy.
Chacha selalu merasa moodnya kembali dalam suasana yang bagus ketika bertemu Leon. Celotehan khas anak kecil selalu membuat Chacha tersenyum sendiri. Chacha jadi tak sabar bagaimana nanti ramainya rumah mereka jika tiga buah hatinya mulai tumbuh.
"Mama dimana, Le? " Tanya Levy pada adik semata wayangnya itu.
Leon hanya menunjuk ke arah ruang tamu. Levy mengambil inisiatif untuk masuk melalui pintu samping. Kemungkinan kedua orang tuanya sedang menerima tamu, karena Levy melihat mobil asing yang terparkir di halaman rumah mewahnya.
"Sayang lewat pintu samping aja ya. Kayaknya mama ada tamu" Chacha hanya mengangguk mengikuti langkah Levy dari belakang.
Chacha bersenandung kecil sambil mengikuti langkah Levy. Levy sellau suka saat istrinya ini bernyanyi atau bersenandung. Levy selalu sembunyi-sembunyi saat ingin mendengar suara merdu istrinya, karena Chacha merasa malu ketika diminta Levy untuk bernyanyi. Kecuali jika dia dalam mood yang kurang baik atau ingin menyindir. Dengan senang hati dia akan bernyanyi.
Levy langsung menuntun istrinya menuju kamarnya, masih dengan Leon dalam gendongannya.
"Mas turun dulu, kamu istirahat aja disini ya" Ucap Levy pada Chacha. Karena Levy tahu semakin bertambahnya usia kehamilan Chacha, membuat istrinya itu tak bisa bergerak atau berjalan terlalu lama. Karena pasti akan kelelahan.
"Kalau Mas lama dibawa, bisa minta bibi anterin jus jeruk ya, Mas" Pintar Chacha pada Levy.
__ADS_1
Levy hanya mengangguk menanggapi permintaan istrinya.
"Ada lagi? Mau ngemil apa sayang? "
"Itu aja sih, nanti kalau lagi pengen apa-apa aku telfon deh"
"Ya sudah Mas ke bawah dulu. Kamu istirahat aja dulu, kalau perlu tidur lagi"
"Nanti setelah bibi ke sini baru mau tidur. Kasian nanti kalau kesini gak dibukain pintu" Levy mengangguk saja.
"Mas kebawah, ingat ada apa-apa atau butuh sesuatu langsung telfon" Setelah melihat Chacha mengangguk patuh, barulah Levy melangkah meninggalkan kamar setelah mengecup ringan dahi istrinya itu.
Levy menuruni anak tangga dengan perlahan. Levy masih fokus melihat anak tangga dengan telinga yang mendengarkan celotehan adiknya itu. Jika Levy tergolong dengan pribadi yang dingin dan pendiam. Maka, berbeda dengan Leon yang terkenal ceria dan hangat kepada siapapun. Padahal wajah mereka mirip. Bisa dibilang Leon adalah duplikat Levy masa kecil.
Suara Leon yang cukup nyaring membuat empat orang yang ada di ruang tamu menoleh serempak.
"Abang tulun" Pinta Leon pada Levy. Namun dengan usilnya Levy mengerjai adiknya.
"Turun" Leon mengangguk.
"Tulun" Ucap Leon lagi masih dengan nada cadel nya.
"Turun Leon, bukan tulun"
"Tulun abang tulun"
"R"
"L"
"R"
"L"
"Sudah Levy, kamu seneng banget kalau disuruh usilin Leon. Turunkan Leon, sini duduk sama mama dan papa" Lerai Lena, karena jika tidak di lerai Levy tak akan berhenti menggoda adiknya. Berakhir dengan Leon yang akan menangis sambil menjerit.
"Bibi dimana ma? " Tanya Levy.
"Di dapur, kalau gak ada ada di taman belakang. Sudah kamu ngapain nanyain bibi, sini duduk sama mama sama papa"
"Sebentar, ngamuk ntar kalau pesanannya gak cepat sampai"
Levy menaikkan sebelah alisnya saat tahu siapa yang sedang bertamu ke rumahnya. Karena sejak tadi dirinya tidak memperhatikan tamu yang ada dirumahnya.
"Levy? " Panggil Lenardi dengan nada serius. Levy paham jika sudah begini pasti ada hal serius yang dibahas.
"Iya Pa? "
"Hampir satu bulan Angel tak pulang, dan tak memberi kabar" Jelas Lenardi.
"Hubungannya sama Levy apa, pa? " Tanya Levy.
"Kamu masih berhubungan dengan Angel? " Tanya Lenardi langsung masuk ke inti.
Yang bertamu ke rumah keluarga Levy adalah Narendra dan istrinya. Papi Chiara dan Angel. Entah apa yang mereka inginkan kali ini.
"Tidak pa" Jawab Levy singkat.
"Tapi, kalian kan bertunangan" Sela Maya selaku ibunya Angel.
"Sudah tidak"
"Maksudnya apa ini? Bukannya kamu masih tunangan anak saya? " Narendra sedikit tersulut emosi saat Levy mengatakan tidak memiliki hubungan dengan putrinya.
"Saya sudah memutuskan pertunangan yang terjadi hampir satu tahun yang lalu"
Kedua orang tua Angel terbelalak tak percaya dengan penuturan Levy yang mengatakan sudah membatalkan pertunangan.
"Jangan bercanda kamu Lev" Narendra masih menahan nada suaranya agar amarahnya terkontrol.
"Aku tidak sedang bercanda. Aku memang membatalkan pertunangan ini secara sepihak pada awalnya. Namun Angel masih bersikukuh ingin mempertahankan. Sebagai gantinya Angel meminta 1 milyar pada ku"
Maya semakin melotot tak percaya, begitu juga dengan Narendra.
"Kenapa kamu tak memberitahu kami, Lev? " Tanya Maya.
"Awalnya aku ingin menemui kalian berdua, namun Angel melarang. Dia sendiri yang akan memberitahu kalian. Rupanya belum ya, atau dia lupa. Aku juga sudah ingin mengundang pers untuk memberitahukannya bahwa kita sudah tak memiliki hubungan lagi. Tapi Angel mengatakan jika semua akan dia atasi jika aku memberi cek senilai 1M itu. Dia malah memanjat popularitas nya untuk menaikkan tangga kejam seorang publik figur"
"Kenapa kalian batal bertunangan, apa kalian ada masalah. Harusnya kalian diskusikan "
__ADS_1
"Kita berdua tak terlibat masalah apapun. Kita hanya merasakan tak memiliki kecocokan. Daripada sakit mending mundur dengan teratur"
"Nggak, nggak mungkin. Angel itu cinta mati sama kamu, Levy. Gak mungkin jika dia bisa tergoda dengan uang segitu"
"Iya, dia cinta mati dengan harta keluarga saya saja"
"Maksud kamu apa, anak saya tak kekurangan apapun. Dia juga memiliki gaji dengan pekerjaannya. Apa kamu lupa jika anak saya aktris terkenal" Ucap Narendra dengan emosi.
"Kamu sama saja dengan menghina Angel, Levy" Tambah Maya.
"Apa anda tak pernah bertanya bagaimana cara dia bisa naik daun hanya dalam satu tahun? "
"Maksud kamu apa? "
"Tante, mustahil seorang pendatang baru bisa langsung tenar dengan mudah" Jelas Levy.
"Itu bisa saja, bukankah kamu ada dibalik suksesnya Angel? " Tanya Narendra.
Bukan tanpa sebab mereka bingung. Karena saat ditanya Angel selalu berkata dengan bangga bahwa dirinya adalah tunangan dari seorang Levy Rahardian jadi tak heran jika dia banyak mendapatkan kontrak dengan mudah.
"Maaf, tapi bukan saya. Saya tak pernah membantu Angel untuk mendapatkan kontrak apapun. Karena pantang bagi saya untuk melakukan KKN" Jelas Levy
Kedua orang tua Angel mematung di tempat. Pikiran negatif mulai muncul dipikiran mereka berdua. Tapi melihat sikap dan perilaku Angel saat di rumah rasanya tidak mungkin jika hal dipikiran mereka terjadi, pasalnya Angel selalu bersikap baik dan penurut.
"Tapi tak mungkin jika Angel kami berbuat hal tak senonoh untuk mendongkrak popularitas nya" Bela Maya.
"Yang kalian tau kan hanya di rumah dan didepan layar. Sekali-kali coba ikut Angel ke lokasi syuting. Biar kalian tau sebenar-benarnya tentang anak kalian"
"Lev? " Seru Lena ingin menghentikan Levy yang mulai berdebat dengan mantan calon mertuanya itu.
"Maaf sebelumnya Pak Narendra, saya selaku papanya Levy, juga tidak tahu menahu. Tiba-tiba saya dikejutkan dengan laporan bahwa Levy sudah membatalkan pertunangannya dengan Angel. Saat saya tanya apakah sudah memberitahu kalian berdua, dia bilang anda sudah mengetahuinya" Jelas Lenardi.
"Tidak, kita tak mengetahui apapun. Yang saya tahu kalau Angel dan Levy masih baik-baik saja dan masih berstatus tunangan" Jawab Narendra.
"Jadi Angel tak memberitahu kalian berdua? " Tanya Levy, keduanya serempak menggeleng. "Pantas saja pemberitaan masih mengabarkan jika saya tunangan Angel. Saya sudah memutuskan pertunangan dengan Angel hampir satu tahun. Ketika saya ingin bertamu ke rumah anda untuk mengatakan soal pembatalan pertunangan ini Angel melarang, dia berkata akan menyampaikan sendiri berita ini. Dia tak ingin saya mempermalukan kalian. Itu katanya" Jelas Levy panjang lebar.
"Tapi Angel tak mengatakan apapun. Berarti kamu cuma memutuskan hubungan ini sebelah pihak. Itu tidak sah"
"Maaf tante, hubungan ini berakhir dengan kesepakatan dua belah pihak, jangan memperkeruh keadaan. Karena saya memiliki saksi dan bukti jika Angel meminta 1 milyar sebagai kompensasi putusnya tali pertunangan ini" Ucap Levy dengan tegas.
"Kamu pasti mengancam Angel, saya tau seperti apa Angel. Bahkan dia sudah merancang masa depannya ketika menjadi istri kamu nanti"
"Itu hanya akan jadi khayalan saja. Dan maaf, saya tak bisa menikah dengan anak anda"
"Kenapa? Kamu mencampakkan Angel, bagaimana kedepannya nanti? "
"Tante lelucon macam apa ini? Kita hanya bertunangan bukan menikah, saya tak pernah menyentuh anak anda. Jangan membuat rumor baru"
"Sekalipun kalian hanya bertunangan, nama Angel bisa buruk karena batalnya pertunangan dengan kamu, Levy"
"Lalu mau tante apa? " Tantang Levy. Wanita modelan macam Maya ini sudah banyak Levy temui. Mendatangi nya dengan dalih anaknya ini itu meminta pertanggungjawaban, jika diikuti permainan nya hilang tanpa jejak.
"Nikahi Angel, Levy"
"Maaf, itu tidak bisa"
"Kenapa tidak bisa. Kalian pernah bersama bukan, jadi tidak sulit untuk membangun hubungan lagi"
"Tante anda sudah berumahtangga bukan, anda pasti tau jika sebuah rumah tangga bukan hanya sebuah hubungan dua orang, tapi komitmen dua orang. Menyatukan dua sikap berbeda. Meleburkan dua kekurangan dan kelebihan menjadi satu. Rumah tangga tak semudah itu"
"Tak usah menceramahi tante Levy, paling kamu sengaja memutuskan pertunangan kamu dengan Angel kan"
"Mungkin ini terdengar egois, namun itu yang sebenarnya"
"Maksud kamu apa Levy? "
"Maaf om, saya memang sengaja membatalkan pertunangan ini, saya harus menikahi kekasih saya"
"Bren*sek kamu Levy" Kedua orang tua Levy kaget saat Narendra mengumpat anaknya.
"Terserah om menyebut saya apa" Jawab Levy santai.
"Tidak tante yakin kamu hanya tergoda sesaat dengan ja*ang itu. Katakan ja*ang mana yang menggoda kamu"
"Stop Bu Maya anda keterlaluan" Sela Lena.
"Benar bukan, nyonya Lena. Jika Levy hanya tergoda sesaat oleh ja*ang muraham itu. Saya yakin jika anak saya lebih segalanya dari ja*ang itu"
"Beginikah bentuk terimakasih mu pada Tuan mu, Narendra" Tiba-tiba suara dingin menyapa semua orang yang ada di ruang tamu dengan situasi yang memanas itu.
__ADS_1