Call Me Queen

Call Me Queen
Hah?


__ADS_3

"Sayang" Levy langsung menerobos masuk ke kamar tamu melihat rumahnya cukup ramai.


Para sahabatnya berkumpul dengan formasi lengkap di rumahnya. Menatapnya dengan tatapan marah dan kecewa. Setelah masuk ke dalam kamar tamu Levy langsung disuguhkan dengan istrinya yang terbaring dengan mata tertutup dan tangan kirinya di padang infus.


"Gue butuh bicara sama lo, Lev" ucap Diva dengan ekspresi datar.


"Mbak Ida, tolong tinggalkan kami" pinta Levy langsung diangguki oleh kepala pelayan itu.


Setelah dipastikan Mbak Ida keluar dan menutup pintu, Diva langsung menatap Levy tajam.


"Ada masalah apa lo sama Chacha? "


"Ini salah gue"


"Gue tau pasti lo yang salah, secara perempuan itu makhluk maha benar"


Levy memutar bola matanya malas mendengar ucapan Diva. Mencium kening istrinya lama, setelah duduk di sampingnya.


"Gue lagi banyak masalah, cabang perusahaan gue di korupsi besar-besaran. Gue pening mikir itu, gue gak mau cerita ke dia bukan karena gue gak percaya dia. Gue gak mau dia kepikiran sampai turun tangan, dia lagi hamil. Dia harus happy, gue yakin gue bisa selesai kan ini dengan cepat"


"Lalu? " Diva menaikkan sebelah alisnya.


"Gue sebenernya gak niat diemin dia, cuma entah kenapa ketika dia tanya pasal Putra, emosi gue langsung naik"


"Lo ada masalah sama Putra? Putra itu sahabat kalian kan? " Levy mengangguk.


"Salah satu sahabat kita. Awalnya kita gak ada masalah, cuma gue gak bisa ambil kesimpulan disini. Salah satu rekan bisnis Putra nekan dia"


"Maksudnya gimana? "


"Bisnis Putra di tekan, sampai sekarang sahamnya perlahan turun"


"Hubungannya? "


"Rekan bisnisnya minta ONS bareng Chacha, yang dia ketahui sahabat Putra. Gue marah, siapa yang gak marah liat istrinya akan dilecehkan seperti itu"


"Putra setuju? "

__ADS_1


"Gue gak bisa pastikan, tapi diliat dari gerak-geriknya sepertinya iya"


"Lo udah omongin baik-baik? "


"Rencananya pulang dari luar kota gue mau temuin Putra"


"Lain kali kontrol emosi lo, liat dampaknya"


"Gue pening Diva, gue sebenarnya mau cerita ke dia. Tapi liat dia masih ngurusin kasusnya Kak Audy, gue gak tega nambahin beban dia lagi. Dia lagi hamil, masalah perusahaan belum kelar, ditambah masalah keluarga gue. Belum lagi perusahaan papa yang sepertinya mulai bergejolak. Emosi gue dihajar habis-habisan Div"


"Gue ngerti, tapi lebih kontrol emosi lo, Lev. Dampaknya bukan cuma buat Chacha tapi buat calon anak-anak lo juga"


"Gue ngerti Div" jawab Levy lemah.


"Jam berapa lo balik dari sana? "


"Jam 7 gue udah cabut sari sana" Diva melirik ke arah jam dinding, matanya melotot horor menatap Levy yang masih setia memandang wajah Chacha.


"Lo gak bohong kan? "


"Buat apa gue bohong? "


"Gue ke kamar atas dulu, jagain bini gue bentar. Mau mandi sama ganti baju" Diva hanya mengangguk.


Levy keluar dari kamar tamu, namun tak langsung menuju kamarnya melainkan berjalan ke arah para sahabatnya.


"Put, ikut gue bentar" Levy langsung mendahului berbicara ketika para sahabatnya siap menumpahkan kemarahannya.


Putra hanya mengikuti Levy dari belakang yang berjalan lebih dulu ke arah teras rumahnya. Levy tampak duduk di kursi yang ada di depan. Menatap lurus ke depan. Putra duduk di sampingnya.


"Sampai tahap apa rencana lo buat jebak istri gue? "


"Hah? Ma-maksud lo apaan? "


"Gak usah ngeles, Put. Lo tau Chacha gini gara-gara gue nahan amarah berimbas pada dia yang gue diemin"


"Maksud lo apaan sih gue gak ngerti"

__ADS_1


"Lo ngerti cuma pura-pura bego aja. Gue sengaja bungkam karena lo masih gue anggep sahabat gue, Put. Kalo ada masalah ngomong sama kita-kita Put. Bukan lo diem aja ketika usaha lo di tekan. Lo sungkan minta tolong sama gue, ada Kinos sama Elang. Jangan sahabat lo sendiri lo jadikan tumbal buat usaha lo bangkit lagi"


"Gue tau semua rencana lo, Put. Gue mati-matian nahan diri buat gak ngehajar lo. Gue mati-matian nahan buat gak beberin ini ke yang lainnya, karena apa? Gue takut yang lain kecewa sama lo. Andai, Chacha gak pingsan mungkin gue belum balik dari luar kota. Andai kejadian ini gak ada, dan gue gak tahu. Mungkin kali ini lo tinggal nama, Put. Lo tak sepenuhnya tau siapa gue sama Chacha. Jangan macam-macam apalagi coba-coba buat nyentuh istri gue. Ini peringatan pertama dan terakhir buat lo, Put. Gue bukan orang baik" Levy bangkit dari duduknya.


"Lev"


Levy diam ditempatnya. Tak menjawab Putra.


"Gue minta maaf, gue kalut selain usaha gue ditekan, mama gue juga di sandera sama mereka. Papa gue malah tak peduli" Putra menunduk dalam.


Levy terlihat menghembus napas pelan.


"Masalah mama lo, lo bisa ngomong sama Nena buat pembebasannya. Masalah perusahaan lo bisa ngomong sama Elang. Buang gengsi lo, jangan gengsi di gedein" Levy langsung berlalu begitu saja tanpa memperdulikan Putra.


Levy langsung menuju ke kamarnya tanpa menghiraukan para sahabatnya yang menatap dirinya dengan penuh tanya.


"Kenapa? " usap Nena di punggung Putra.


Putra hanya menggeleng.


"Aku kenal kamu bukan setahun dua tahun, aku tau kamu lagi ada masalah. Aku sengaja diam, nunggu kamu buat cerita sendiri. Aku menahan diri untuk tak mencari tau, karena aku menghargai kamu"


"Levy marah" ucap Putra pelan, setelah cukup lama diam.


"Aku tak melihat kemarahan di matanya, hanya ada sorot kecewa di sana. Aku tak tau salah apa yang kamu buat hingga buat Levy seperti itu. Tapi, dia tak marah, itu caranya menasehati dan menegurmu. Caranya mengingatkan mu, kamu tak sendirian. Ada aku dan lainnya, sama seperti lainnya. Tolong berbagilah masalah mu"


Putra menatap Nena intens, menjatuhkan kepalanya dipangkuan Nena. Putra sedikit terisak sambil menjelaskan kronologi yang sebenarnya. Nena tetap dengan ketenangannya membelai lembut kepala Putra.


"Jika yang lain tahu, bukan hanya Levy. Elang akan jadi orang pertama yang ngejahar kamu. Aku akui kamu hebat berani mengakui kalau kamu salah, aku kagum kamu mau menurunkan gengsi mu. Caramu bertindak memang salah. Kamu kenal kita selama ini selalu bertindak dengan jalur benar ketika membangun bisnis. Meskipun ada campur tangan dunia hitam, tapi itu berlaku hanya ketika usaha kita mendapatkan gangguan telak"


"Putra, lain kali cobalah jujur jika sedang ada masalah. Jika kamu berniat menjadikan ku pendamping mu, cobalah terbuka dan berbagi padaku. Agar aku tau dan membantu mu memikirkan jalan keluarnya. Agar kamu tak salah langkah seperti ini. Untung itu belum terjadi, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika itu sampai terjadi. Sekalipun Chacha wanita tangguh, namun semua tak berdaya jika dihadapkan dengan obat laknat itu"


Nena menasehati Putra dengan begitu lembut, ciri khas si kalem dalam menasehati. Nena akan diam mendengarkan dan berbicara seperlunya jika mengahadapi suatu permasalahan. Bersahabat dengan Chacha mengajarkan banyak hal pada dirinya, kedewasaan, pengorbanan, kasih sayang, kebencian, jebakan, pengkhianatan, semua masalah persoalan hidup sangat kompleks dalam hidup sahabatnya itu.


"Besok kamu minta maaf dan akui semua kesalahan kamu sama Chacha, jangan biarkan kamu dihantui rasa bersalah. Kalau kamu diam, yang aku takutkan bukan Chacha. Tapi Levy"


"Baiklah besok aku akan menemui Chacha dan mengatakan semuanya"

__ADS_1


"Aku selalu di sampingmu"


"Teima kasih" Nena hanya tersenyum.


__ADS_2