Call Me Queen

Call Me Queen
King


__ADS_3

Chacha memasuki kelas dengan santai seperti biasanya.


"Duh duh kalo gue diusir dari rumah malu dong mau nunjukin muka gue di sekolah" sindir Chiara yg tiba-tiba.


Jangan tanyakan respon Chacha, dirinya hanya diam dengan sikap acuhnya.


"Kalian tau gak sih kalo dia diusir gara-gara ngatain kakaknya murahan" timpal Chiara memanaskan suasana.


"Masak sih Chi? baik gitu orangnya si Chacha" sanggah salah satu temannya.


"Aduh lo kudet amat sih, beritanya udah trending kali" dengus Chiara kesal karena masih ada yang membela Chacha


"Bisa aja berita itu bohong kan Chi, buktinya si Chacha santai-santai aja orangnya" tambah satunya.


"Hello berita itu langsung di konfirmasi langsung sama kakaknya dia"


"Bisa aja itu hoax kan Chi, lo tau kan kalo perusahaan Effendy mulai naik daun"


"Lo dibilangi gak percaya amat sih sama gue, ya ampun"


Chacha dan yang lainnya hanya bisa menahan tawa ketika Chiara dengan ngotot ingin menjatuhkan nama baiknya.


"Queen"


Chacha menegang ketika mendengar suara yang sangat familiar di telinganya memanggil namanya.


Dirinya memberanikan diri melihat kearah pintu untuk memastikan bahwa dirinya tak salah menebak orang. Saat dirinya menoleh, berdiri seorang pemuda tampan dengan balutan jas hitam formal dengan wajah datar namun menatapnya hangat.


Chacha berlari menuju pemuda itu membuat ke-empat sahabatnya keheranan. Tanpa memikirkan apa yang dipikirkan oleh teman sekelasnya Chacha langsung menghambur kedalam pelukan pemuda tersebut.


"Queen rindu" ucap Chacha dengan suara serak karena dirinya langsung menangis saat memeluk pemuda tersebut.Pemuda tersebut tersenyum sambil memeluk Chacha sesekali mengelus kepalanya.


"Abang juga sayang" balasnya sambil berbisik ditelinga Chacha. Chacha semakin mempererat pelukannya pada pemuda tersebut.


"Ceritakan semuanya, kita cari ruangan lain yang lebih tenang ya" Chacha hanya mengangguk dan mulai melepaskan pelukannya.

__ADS_1


Pemuda tersebut tersenyum sekali lagi sambil mengahpus sisa air mata dipipi Chacha membuat para siswa didalam kelas ingin berteriak tak luput juga dengan Chiara yang terpesona oleh ketampanan pemuda tersebut.


Ketika hendak keluar dari kelasnya Chacha berpapasan dengan Levy dan lainnya.


"King" ucap Levy spontan.


"Pangeran kecil kau sekolah disini juga?" balas pemuda tersebut yang disebut King oleh Levy.


"Ya dan sekelas sama princess" jawabnya santai.


Semua yang ada mulai menahan nafas ketika Levy menyebut nama tersebut. Siapa yang tak kenal nama King. Direktur pengganti perusahaan Izhaka yang ditakuti para pengusaha karena keterlibatannya dalam dunia bawah.


"Kami akan mencari ruangan untuk berbicara kau ikutlah dengan kami" ucap King.


"Baiklah. Kalian bisa ke kelas kalian masing-masing jam istirahat kita ketemu di balkon" seru pada ketiga cecunguk itu.


Lalu Chacha, King dan Levy menuju ruang kepala sekolah karena hanya ruangan itu yang tenang dan jarang ada siswa masuk. Setelah meminta izin Chacha duduk di sofa dengan menghempaskan dirinya dengan kasar.


"Ceritakan semuanya pada Abang kenapa princess bisa diusir dari rumah" King memulai pembicaraan. Lalu Chacha menceritakan semuanya lengkap tanpa dikurangi pada King.


"Huft... Kita gerak sekarang aja princess"


"Nama baikmu dipertaruhkan princess" sambung Levy.


"Betul kata pangeran kecil. Lalu bagaimana dengan perusahaan mu nantinya"


"Perusahaan Chacha akan baik-baik saja karena Chacha belum membuka identitas Chacha sepenuhnya bang"


"Lalu kepala sekolah tadi?"


"Itu pengecualian" jawabnya singkat.


"Besok malam temani Abang ke acara pertunangan itu"


"Kenapa harus princess sih" jawabnya cemberut.

__ADS_1


"Karena Abang maunya kamu"


"Tambah aneh-aneh pikiran orang nanti bang"


"Haish, princess gak kasian sama Bunda?"


"Bunda kenapa?" ucapnya khawatir.


"Bunda drop, kemarin Abang dapat laporan Bunda dibawa ke rumah sakit kita"


"Haish, kenapa gak ada laporan masuk ke Chacha sih"


"Mungkin itu permintaan Bunda"


"Abang gak sampe nemuin Bunda karena khawatir kan?"


"Nggak princess, kalo Abang muncul bisa berantakan rencana kamu"


"Gimana kalo nanti pulang sekolah kita jenguk bunda mu, princess" timpal Levy yang sedari tadi terabaikan.


"Ya ampun Abang lupa kalo ngajak kamu pangeran kecil" ucapan King membuat Chacha tertawa melihat muka masam Levy.


"Abang aku udah besar masak masih dipanggil pangeran kecil sih"


"Hahahaha" tawa keduanya pecah.


King memang memanggil Chacha dan Levy dengan sebutan pangeran dan Princess. Karena sejak mereka masih sering latihan bersama King selalu dibuat cemburu dengan sikap polos mereka yang terlihat mesra.


"Princess gimana?" tanya Levy sekali lagi ketika tawa keduanya telah reda.


"Boleh ajak lainnya juga. Bunda pasti seneng"


"Lalu gimana kedepannya dengan hubungan kamu dengan keluarga Effendy?" tanya King.


"Ayah belum mencabut marga Bang, princess juga masih membutuhkan marga itu"

__ADS_1


"Baiklah. Abang pergi dulu jangan lupa kabari abang nanti"


"Siap boss" jawab Chacha dengan posisi hormat.


__ADS_2