
Pagi ini mansion Izhaka lebih ramai dari biasanya. Seluruh anak dan menantu berkumpul bersama keluarga mereka. Tuan besar memanggil mereka untuk berkumpul.
"Kira-kira kenapa papa nyuruh kita kumpul disini, Kak? " tanya Bu Ratu pada sang kakak.
"Kakak juga gak tahu Ratu. Ini Elang juga kemana lagi" Ratih mengomel tak jelas sedari tadi, karena putra bungsunya tak menunjukkan batang hidungnya sejak semalam.
"Loh emang Elang gak tinggal sama kakak? "
"Tinggal bareng, Gun. Cuma biasanya kalau kemaleman pulang dari kantor baru dia balik ke apartemennya"
"Gak coba dihubungi kak? "
"Dari tadi pagi ponselnya gak aktif"
"Erland gimana kak? "
"Erland masih jemput calon istrinya. Bentar lagi sampai"
"Kapan tunangan? Kok Ratu gak tau? "
"Mereka bertunangan secara sederhana, mau langsung nikah katanya"
"Wah garcep banget si Erland"
"Nah itu dia datang"
"Mi Pi" sapa Erland pada kedua orang tuanya.
"Eh om tante, apa kabar? "
"Kabar baik Erland. Kenalin dong calon mantu tante ini" calon istri Erland hanya tersenyum kikuk.
"Diva, tante"
"Cantik. Pantes kebelet nikah" candaan Bu Ratu membuat suasana lebih hangat. Sedangkan yang digoda hanya memerah menahan malu.
"Audy kapan nikah? " tanya Erland tiba-tiba.
"Lima bulan lagi, Kak"
"Bener tante? " Bu Ratu dengan senyum cantiknya.
"Mi, Queen kesini juga kan? " tanya Diva pada calon mertuanya.
"Queen siapa? " tanya Ratih heran.
"Chacha mi. Teman-temannya banyak yang manggil dia Queen" jelas Erland.
"Oh, emang itu anak sudah balik? " Ratih malah bertanya balik.
"Malah Diva lebih dulu dia baliknya, mi"
"Awas aja ketemu. Minta dijewer gadis nakal itu. Tunggu-tunggu kamu kenal dia"
"Teman satu kuliah, mi"
__ADS_1
"Jurusan? "
"Kedokteran. Sayang dia lulus duluan" cerita Diva.
"Kok bisa? "
"Salahkan kenapa otaknya terlalu genius. Bahkan dosennya aja sampai gelagapan kalau sudah debat dengannya"
"Hebat dong anak mami itu ya" Ratih memuji Chacha dengan wajah bangganya.
Bu Ratu dan Ayah Gun hanya terdiam ketika mereka membahas Chacha. Bahkan dirinya hampir saja melupakan anak kandung mereka. Api di hati mereka perlahan menyala kembali. Bagaimana tidak, tiap tahun pasti ada berita mengenai Chacha.
"Tapi nih mi, aku heran"
"Heran kenapa, Land? "
"Berita Chacha disini kok buruk sekali. Padahal setau Erland, itu anak lurus lurus aja. Paling beloknya mukulin orang doang" adu Erland.
"Iya mi, padahal Diva pernah ikut dia pulang. Diva kira dia bakalan santai ternyata dia jarang tidur cuma ngerjakan entah apa Diva juga gak ngerti"
"Dia memang pekerja keras"
"Mudah-mudahan dia datang mi. Diva kangen, terakhir Diva denger kabar dia kena tembak jarak jauh"
Deg...
Bu Ratu dan Ayah Gun tiba-tiba saja membatu. Ini anaknya beberapa kali menghadapi maut, tapi kenapa dirinya tak bisa membuka pintu maaf buat putri kecilnya ini.
"Apa yang terjadi kenapa bisa? " kali ini giliran Richard yang panik.
"Apa yang dia alami lima tahun terakhir ini. Bahkan kabarnya saja kita tak ada yang tahu" Ratih benar-benar sedih mengingat ini. Gadis satu-satunya yang terlahir dalam susunan keturunan nya, gadis yang seharusnya dimanja malah mendapat perlakuan tak baik. Ini yang membuat Ratih geram setengah mati, namun tak bisa melakukan apapun.
"Dia baik-baik saja Ratih, kamu tak perlu khawatir" suara bariton penuh wibawa menyentuh indra pendengar mereka. Membuat mereka menoleh serempak ke asal suara.
Dari arah depan tampak tiga orang lanjut usia berjalan bersama. Mereka tak lain Tuan Ibra Putra Izhaka, Tuan dan Nyonya besar Effendy. Meskipun umur tak muda lagi, namun penampilan mereka tetap mempesona.
"Papa, disini juga? " tanya Ayah Gun.
"Kakek nenek" teriak Audy girang, lalu berlari memeluk mereka satu per satu. Kecuali Tuan Ibra, karena dirinya merasa asing.
"Dia kakek dari pihak bunda mu, Audy" beritahu Ayah Gun.
Audy sudah tersenyum sopan untuk menyapa kakek dari pihak bundanya ini. Namun, apa yang terjadi tak sesuai dengan bayangannya. Laki-laki tua itu malah melewati dirinya sebelum mengeluarkan satu patah kata pun. Audy geram namun ia tahan sebisa mungkin.
"Papa, kenapa papa meminta kita berkumpul disini? " tanya Ratih saat sang ayah sudah duduk di sofa.
"Sebentar lagi kalian akan tahu"
...****************...
Di bandara Chacha sudah siap memberi instruksi akhir pada bawahannya. Mengecek segala sesuatunya, memperkecil kemungkinan hal yang tak diinginkan terjadi. Karena setelah ini dirinya harus langsung terbang ke tempat tujuannya.
"Karin posisi? " tanya Chacha melalui earphone yang menghias telinga sebelah kiri.
"Siap terima perintah" jawab Karin diujung sana.
__ADS_1
"Good, dengar arahan Chiara. Dia yang memegang kendali kemana kalian harus menghindar jika terjadi sesuatu yang tak memungkinkan" Chacha memberi instruksi nya.
"Dimana Chiara? " tanya Nena.
"Aku disini" suara Chiara terdengar di telinga mereka yang mengenakan earphone.
"Chia posisi? "
"Atap gedung tertinggi"
"Good, siapa partner mu kali ini? "
"Pangeran tampan, Caesar"
"Oke, nanti kalian berdua langsung dijemput Karin"
"Siap"
"Kalian periksa sekitar sini dulu. Gue masuk bareng Elang, jemput nenek langsung"
"Baik"
Chacha beriringan bersama Elang masuk kedalam untuk menjemput orang yang mereka tunggu. Ditengah perjalanan ponsel Chacha bergetar tanda pesan masuk. Saat membukanya dirinya hanya menggelengkan kepala. Suaminya ini ada-ada saja. Itu pikirnya.
Awalnya Levy ingin ikut ke bandara, namun asistennya menghubungi dan mengingatkan Levy akan meeting penting pagi ini. Levy sudah menolak hadir, namun bukan Chacha namanya jika tak bisa membuat Levy memimpin rapat pagi ini. Dengan berdalih ingin uang belanja lagi, Levy langsung bersiap mencari nafkah untuk istrinya.
"Disebelah sana" beritahu Chacha pada Elang.
"Dia nenek? "
"Ya"
"Lalu dibelakangnya? " Elang heran dengan bodyguard yang menjaga neneknya.
"Anak buah gue, gak usah hiraukan mereka. Mereka akan ikut gue bentar lagi"
"Samperin sana"
"Kok nyuruh gue, kita bareng lah"
"Kalo gue yang jemput, bakal ada drama nanti"
"Maksud lo? "
"Bisa-bisa gue gak berangkat yang ada. Percayalah nenek kita itu licik" bisik Chacha membuat bola mata Elang membola seketika.
"Jangan bohong"
"Gue serius. Kalau nenek gak licik dia gak bakal selamat dari maut"
"Nih turunannya juga sama liciknya"
"Gak usah samain gue sama nenek" ucap Chacha sambil menggembungkan pipinya.
"Gue samperin sekarang, terus lo gimana? "
__ADS_1
"Selama kalian belum keluar dari area bandara, kalian masih bisa gue awasi. Setelah itu gue baru berangkat" Elang mengangguk dan berjalan meninggalkan Chacha.