Call Me Queen

Call Me Queen
Keadaan Chacha...


__ADS_3

Tit tit tit... Tit tit tit...


Jam tangan yang dipakai Chiara berkedip tak beraturan. Bahkan bunyi jam tangan itu mengalihkan fokus beberapa orang. Chiara yang sedang terlelap di ruangan Bu Ratu tak mendengar jika jam tangannya sedang mengeluarkan tanda, karena dia sempat melepas jam tangannya sebelum tidur.


Awalnya beberapa orang di dalam ruangan itu mengabaikan bunyi jam tangan Chiara yang mereka kira alarm, meskipun heran. Jam tangan mewah seperti Chiara seperti jam tangan seorang agen. Namun, mereka tak mempermasalahkan itu semua.


Jam tangan itu berlangsung selama lima menit lamanya. Mereka yang takut bayi Audy terbangun akhirnya membangunkan Chiara. Belum juga sampai membangunkan Chiara, King membuka pintu kamar mandi.


"Kenapa? " Tanyanya bingung saat melihat semuanya menoleh ke arahnya.


"Gak papa kita kaget aja" Jawab Audy.


"Oh" Jawabnya singkat, namun seketika dirinya terdiam tak meneruskan langkahnya. Telinganya mendengar bunyi yang sama seperti yang lain dengarkan. Namun, dia lebih paham jika ini bunyi kode bahaya. Matanya menelisik seluruh ruangan, hingga fokusnya terhenti pada sebuah jam tangan yang tergeletak di meja begitu saja. Sedangkan pemiliknya tertidur pulas.


Dengan langkah tergesa King menghampiri Chiara, berharap gadis itu bangun dengan sekali percobaan.


"Chia, bangun. Berapa kode sandi tanda ini" King langsung menggoyang tubuh Chiara sedikit keras. Bahkan semua yang ada di dalam juga heran. Chiara masih belum membuka matanya.


"Audy kemana Ardan? " Tanya King tak sabaran.


"Pulang, ganti baju" Tanpa sadar Audy juga membalasnya dengan cepat saat melihat raut khawatir di wajah King.


"Sejak kapan jam tangan ini berbunyi? " Tanya King lagi.


"Itu berbunyi sudah sejak tadi, namun makin intens bunyinya kurang lebih lima menit yang lalu" Jawab Bu Ratu masih heran dengan putranya itu.


"Chiara bangun atau Abang kirim balik kamu Manhattan" King berucap dengan tegas.


Chiara mengerjap pelan, seakan dirinya bermimpi jika King sedang mengancamnya. Namun, sedetik kemudian nyawanya segera terkumpul saat mendengar bunyi pada jam tangannya. Chiara langsung terduduk dan mengambil jam tangannya. Semua heran melihat tingkah Chiara, terlebih wajah serius dan khawatir nya.


Chiara langsung mencari ponselnya untuk menyambungkan kode miliknya. Tak lama kemudian ponselnya bergetar.


"Ada masalah dengan Queen? " Tanya Chiara langsung. Bahkan semua di ruangan itu kaget saat mendengar nada dingin Chiara. Hanya King yang merasa biasa saja.


"Queen sedang menjalani operasi" Chiara membeku beberapa saat.


"Siapa yang memimpin penjagaan? "


"Ketua tim elit 1, nona"


"Baiklah, kirim padaku apa yang kalian tahu" Chiara langsung mematikan sambungannya.


Chiara bangkit dan langsung memakai jaketnya. Dia bahkan tak peduli dengan tampilannya yang baru bangun tidur. Belum juga melangkah ponselnya kembali berdering.

__ADS_1


"Nona Chiara? "


"Ada apa? "


"Kakak ada di ruang operasi milik keluarga Izhaka. Kita tak bisa menembus untuk berjaga di sana karena tak memiliki izin"


"Aku akan mengurus semuanya. Aku yang akan menjaganya langsung. Kalian mengetahui keadaannya? "


"Kakak sedang kritis karena pendarahan, namun bayinya sudah dilahirkan dengan selamat"


"Pantau terus keadaan di dalam ruang operasi Chila. Aku akan berjaga diluar"


"Ya, ketua Blood Rose juga sudah di sana"


"Itu harus karena dia suaminya. Baiklah aku tutup" Chiara segera menutup panggilannya.


Kini dia menatap seluruh keluarga Effendy yang sedang memandangnya penuh tanya.


"Abang? "


"Hmm"


"Itu.. " Chiara bingung harus menyampaikannya seperti apa.


"Katakan Chia, Abang tahu itu kode milik princess. Katakan ada apa Chia"


"Queen di ruang operasi, kondisinya kritis"


Duarr...


Semuanya membeku mendengar perkataan Chiara. Bahkan Bu Ratu langsung terduduk dengan air mata yang mulai menetes. Bu Ratu membekap mulutnya kuat agar suara tangisnya tak membangunkan bayi mungil milik Audy yang sedang tertidur.


"Dimana sekarang adikku Chiara? " Audy bahkan sudah turun dari ranjangnya, bayi yang baru dilahirkannya beberapa jam yang lalu sudah beralih berada dalam dekapannya.


"Ruang operasi khusus anggota keluarga Izhaka"


Mendengar itu King langsung melesat pergi begitu saja. Pikirannya kacau, dia bahkan tak peduli apapun. Pintu saja dibuka dengan kasar olehnya. Setelah sadar dari keterkejutan nya, mereka menyusul langkah King dengan tergesa. Bahkan Audy juga tak memperdulikan rasa ngilu jahitan nya itu. Dia berjalan cepat sambil menggendong anaknya, meskipun dia dipapah oleh Ayah Gun. Namun, langkahnya masih sama cepatnya dengan yang lain.


Sesampainya di ruang operasi. Mereka disuguhkan dengan Levy dan King yang duduk dengan kepala menunduk. Mereka duduk dalam diam, Levy juga tampak mengusap pelan matanya.


"Lev" Seru Bu Ratu pada menantunya itu.


Levy mengangkat kepalanya saat melihat ibu mertuanya berdiri di depannya. Bahkan wanita paruh baya yang sudah resmi menjadi seorang nenek itu mengelus pelan kepalanya. Bu Ratu sudah menguatkan hatinya, dia harus menjadi tegar untuk anak dan menantunya. Melihat Levy yang begitu terpukul seperti ini, Bu Ratu yakin jika keadaan putrinya tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Bunda" Levy memeluk Bu Ratu. Kini air matanya benar-benar tumpah. Levy tidak tahu harus mengadu kepada siapa. Bahkan dirinya lupa untuk mengabari semua keluarganya. Dia terlalu panik sendirian sejak tadi.


"Maafin Levy, Bunda. Levy gak bisa jagain Chacha" Ucap Levy membuat Bu Ratu dan lainnya bingung. Karena mereka masih tak tahu kenapa Chacha bisa berakhir di ruang operasi.


"Kamu gak salah, Lev. Tidak ada yang salah. Ini sudah jalannya" King menepuk pelan punggung adik iparnya itu. King tahu ketakutan yang dihadapi Levy.


"Tapi, Bang. Kalau saja aku tak meninggalkan dia sendiri tak akan seperti ini"


"Tidak, kamu sudah ingin mengantarkan. Ini sudah jalannya, adikku memang selalu dikelilingi bahaya. Kamu hanya harus kuat, tegar Lev, bangkit. Yakinkan jika princess mampu berjuang di dalam sana. Ingat ada bayi kalian yang butuh kamu, jika kemungkinan terburuk terjadi pada princess" Ucap King panjang lebar, dia berharap berhasil menarik sisi sadar Levy agar tak terus menerus menyalahkan dirinya sejak tadi.


"Ada apa ini sebenarnya? " Tanya Bu Ratu masih mengelus pelan punggung menantunya itu.


King mengambil alih cerita, dia sudah mengetahuinya dari penuturan Levy tadi. Semua orang shock mendengar itu semua.


"Aku akan ke TKP, Chila sedang menyelidiki semuanya" Pamit Chiara langsung melesat begitu saja.


"Bagaimana keadaan anak-anak mu? " Tanya Bu Ratu setelah melihat Levy sedikit tenang.


"Mereka sehat Bunda. Tak kekurangan satu apapun, dua jagoan dan satu tuan putri"


Mereka tak menyembunyikan rasa bahagia mereka mendengar kelahiran Chacha, namun sedetik kemudian mereka kembali merubah raut wajah saat mengingat kondisi Chacha.


"Bagaimana kondisi terakhir Chacha? " Tanya Ayah Gun.


"Chacha kehilangan banyak darah, bahkan kesadarannya kian menurun" Jawab Levy dengan lirih, air matanya kembali turun.


"Ayah, hubungi besan. Katakan apa yang terjadi saat ini" Pinta Bu Ratu yang langsung diangguki oleh Ayah Gun.


"Papa dan Mama tak usah khawatir, Ratu yakin putriku adalah wanita kuat" Hibur Bu Ratu pada kedua mertuanya.


"Khawatir itu pasti, nak. Tapi kami seakan terbiasa merasakan olahraga jantung seperti ini. Berulang kali dia berakhir di meja operasi, berulang kali juga dia selamat. Kini Papa hanya berharap dia akan mengulang keselamatannya lagi" Ucap Gunadya Effendy yang sudah sering dibuat shock oleh cucunya itu.


"Aku akan menghubungi keluarga ku dulu" Pamit Bu Ratu.


Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pintu ruang operasi terbuka. Menampakkan Diva yang keluar dari sana, mereka semua langsung berdiri menghampiri Diva.


"Bagaimana keadaan princess? " King langsung menyela ucapan semua orang.


"Keadaan Chacha... "


...****************...


Skip Ah biar penasaran 🤣🤣🤣

__ADS_1


Sebelumnya makasih Buat Kak Ningsih Gustia amunisi perangnya 😊 (jangan bosen-bosen loh ya kirim amunisi buat Chacha😅)


Happy Reading All💙


__ADS_2