
Setelah memberi instruksi pada King. Chacha langsung bergegas menuju markas Black Rose untuk memberikan pertolongan secepatnya pada Bu Ratu. Karena dapat dipastikan berita ini sudah menjadi trending topik di luaran sana. Chacha hanya mengantisipasi untuk kemungkinan terburuk yang bisa dimanfaatkan oleh musuhnya.
Chacha dijemput oleh anak buahnya untuk menuju markas Black Rose. Di usia kehamilannya yang bertambah membuat perutnya lebih besar dari orang hamil biasanya, mungkin karena efek hamil kembar tiga.
Sering kali para sahabatnya meringis ngilu melihat Chacha yang masih lincah bergerak ke sana kemari. Usia kandungannya memasuki 7 bulan, Chacha semakin aktif bergerak. Dirinya juga sibuk menyiapkan persalinan Audy, karena jika menurut HPL tak lama lagi Audy akan melahirkan.
Setelah sampai di mansion yang merupakan markas Black Rose, Chacha langsung turun. Tampak mobil King terparkir sembarangan di depan mansion.
"Selamat datang kembali, Queen" sapa para mafioso yang berjaga di depan pintu.
"Dimana Bunda? " setelah menjawab sapaan anak buahnya dengan anggukan Chacha langsung menanyakan keberadaan malaikat tak bersayap nya.
"Nyonya ada di kamar King, Queen"
Chacha langsung berlalu begitu saja saat tahu keberadaan sang Bunda. Chacha menaiki lift menuju lantai tiga, wilayah pribadi dirinya dan sang King. Setelah sampai Chacha bisa melihat penjagaan disini. Karena bagaimanapun, musuh bisa menyerang dari sudut manapun.
"Ada siapa saja di dalam? " tanya Chacha saat keluar dari lift membuat bawahannya kaget, namun langsung menunduk hormat.
"Hanya King seorang, Queen" Chacha mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju kamar tempat bundanya berada.
Cklek..
King langsung menoleh ke arah pintu saat mendengar handle pintu yang terbuka. Tampak sang adik dengan perut buncit nya masuk ke dalam tak lupa menutup pintu kembali.
"Abang bisa keluar terlebih dahulu" Chacha mengatakan itu tanpa melihat ke arah King. Dia menatap tajam ke arah bundanya yang terbaring lemah dengan wajah pucat nya. Matanya tertutup rapat, wajahnya begitu damai. Namun, percayalah tak sedamai hati Chacha, pasalnya amarahnya kali ini sedang meluap.
"Baiklah, Abang di depan. Panggil jika butuh sesuatu" King bangkit dan menepuk kepala adiknya pelan. Chacha hanya mengangguk menanggapi perkataan sang Abang.
Setelah memastikan pintu kembali tertutup dengan sempurna Chacha langsung mendekat ke arah Bu Ratu. Menatap sendu ke arah bundanya. Menghela napas sejenak lalu dirinya bangkit. Masuk ke dalam kamarnya melalui pintu yang menjadi penghubung antara kamarnya dan kamar King. Chacha mengambil jarum akupuntur nya lalu kembali lagi ke tempat Bu Ratu.
Chacha membuka baju Bu Ratu bagian atas. Dengan hati-hati dia menancapkan beberapa jarum akupuntur nya di beberapa titik tertentu. Setelah selesai menancapkan beberapa jarumnya, Chacha menghela napas pelan. Menyeka peluh di dahinya. Bukan perkara mudah jika berurusan tentang akupuntur. Chacha saja butuh waktu cukup lama untuk mempelajarinya, beruntung salah satu orang yang pernah ditolongnya adalah master akupuntur. Menambah nilai plus tersendiri untuk Chacha.
Setelah di rasa cukup untuk menenangkan diri, Chacha bangkit dan duduk di tepi ranjang. Perutnya sedikit tak nyaman karena terlalu banyak menunduk. Dirinya mengelus pelan perut buncit nya.
"Doakan Mama berhasil ya, nak. Biar nenek lekas sembuh" monolog Chacha.
Chacha melihat kondisi Bu Ratu yang berangsur membaik, terlihat dari wajahnya yang tak se pucat tadi. Senyum tipis tersungging di wajahnya.
"Caesar? " panggil Chacha setelah mengutak-atik ponselnya.
__ADS_1
"Caesar siap menerima perintah" jawab Caesar di seberang sana.
"Ambil obat di laboratorium pribadi ku"
"Baik Queen"
Chacha langsung mengakhiri sambungannya dengan Caesar. Kini dirinya beralih pada Chila.
"Ya Kak? "
"Buka akses laboratorium pribadi ku untuk Caesar. Arahkan dia pada lantai dua, ruang nomor dua sebelah kiri. Ramuan berwarna hijau mint"
"Baik, Kak"
"Ada yang kalian temukan dalam penculikan bunda ku? "
"Akan segera Chila kirimkan ke email kakak"
"Hmm"
Chacha langsung mengakhiri sambungannya dengan Chila. Kepalanya sedikit berdenyut. Memikirkan semuanya, haruskah dirinya muncul kepermukaan sekarang, dalam keadaan hamil. Bukankah itu akan semakin membahayakan dirinya. Mungkin dirinya tak apa, namun dunia mafia itu kejam, mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Yang Chacha takutkan adalah keberadaan anak-anaknya yang belum lahir. Bukankah itu akan menjadi sasaran empuk bagi para musuhnya.
Tok... Tok... Tok...
Chacha menoleh ke arah pintu, tak lama setelahnya handle pintu bergerak dengan seiring terbukanya pintu yang terbuat dari kayu jati itu. Tampak dua pemuda tampan beda usia itu masuk dengan satu kesamaan yaitu wajah dinginnya.
Chacha bangkit dari duduknya. Dirinya mulai mencabut satu per satu jarum yang tertancap ditubuh Bu Ratu. Setelah menyelesaikan semuanya, dia langsung beralih pada botol ramuan yang diberikan oleh Caesar. King hanya menjadi penonton setia apa yang dilakukan sang adik.
Chacha bergerak tanpa suara dan bicara, dia masih asik dengan kebungkamannya. Seakan-akan dia hanya seorang diri di kamar itu.
"Bawa Bunda ke rumah sakit" ucapnya setelah meminumkan ramuan yang dibawa Caesar.
"Kenapa? Apa fasilitas disini kurang lengkap? " tanya King.
"Tidak"
"Jadi kenapa bunda harus dipindahkan, jika dirawat disini bisa. Disini lebih aman"
"Aman untuk bunda tidak dengan kita" King terdiam memikirkan perkataan sang adik.
__ADS_1
Chacha diam tak bersuara lagi. Dirinya masih mengamati hasil dari ramuan yang diberikan pada Bu Ratu. Karena racun yang ditelan bukan main-main. Salah penanganan Bu Ratu bisa lumpuh permanen. Chacha benar-benar mengutuk orang yang memberi racun pada bundanya.
"Siapkan kondisi bunda. Abang siapkan mobil" setelah mengatakan itu, King langsung beranjak keluar dari kamar. Chacha hanya mengangguk kecil menanggapi permintaan King.
"Caesar, selidiki data yang dikirimkan Chila"
"Mencurigai sesuatu? "
"Penculikan bunda tak sesederhana kelihatannya. Meskipun tak resmi hampir seluruh kalangan pebisnis tau jika perusahaan pusat Effendy tak lagi dipegang oleh ayah ku. Jika ini disangkutkan dengan persaingan bisnis sudah sangat tak mungkin"
"Baik. Ada lagi? "
"Aku yakin kau menemukan sesuatu dari pengamatan jarak jauh mu" ucapnya tenang.
"Mereka bukan kelompok mafia"
"Aku tau, mereka hanya dibantu oleh beberapa mafioso dari kelompok rendah"
"Tapi tentang pengawal bayangan... "
"Itu yang harus kau selidiki, lakukan dengan rapi dan senyap. Aku ingin informasi nya dalam dua hari"
"Siap Queen"
"Mobil sudah siap, dek" ucap King yang baru masuk ke dalam kamar kembali.
"Abang sendiri yang akan membawa bunda atau bagaimana? "
"Biar Abang yang gendong bunda. Kamu ikut ke rumah sakit? "
"Tidak, nanti aku akan kesana bareng Levy. Aku akan menyuruh Kak Shiro untuk menunggu di lobby"
"Kamu yakin? " Chacha mengangguk.
"Racun dalam tubuh bunda sudah netral. Bunda hanya perlu observasi dari Kak Shiro agar cepat sadar dan pulih. Berita di luar sana membuat kita harus menyadarkan bunda dengan segera. Kita tak bisa bergerak gegabah. Musuh ada di mana-mana" ucapnya dengan nada yang tenang.
Queen, kau begitu mengerikan dengan sikap tenang mu. Batin Caesar.
Entah mengapa aku lebih suka Chacha yang meledak-ledak daripada seperti ini, dia terlihat sangat kejam dibalik ketenangannya. Batin King.
__ADS_1