Call Me Queen

Call Me Queen
Obrolan Malam Pertama (Revisi)


__ADS_3

"Rin? "


"Apa sih, Cha" Karin masih sibuk memilih dan memilah pakaian yang akan di beli.


"Kenapa gak bilang sih"


"Bilang apa sih, Cha? "


"Kalo bakalan beli lingerie"


"Lingerie doang loh ini. Katanya lo udah nikah, masa liat beginian doang mukanya merah" goda Karin.


"Sialan, lo emang"


Seumur hidup Chacha tak pernah memakai pakaian tipis kurang bahan seperti yang terpampang di depan matanya kini. Konon katanya setiap laki-laki akan senang jika melihat perempuan memakai pakaian ini. Ketika laki-laki melihat perempuan memakai pakaian ini, mereka bisa menjadi layaknya binatang buas.


Terdengar sakti dan mengerikan sekali bukan?


"Mumpung badan udah kece gini, kita itu harus kreatif sendiri lah" Ucap Karin membuat Chacha menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Kreatif buat apaan? "


"Kreatif buat adegan ranjang makin seru lah. Ah lo kayak yang gak tau aja.. "


Ucapan Karin begitu mendadak menyapa telinga Chacha. Dirinya belum siap mendengar kalimat-kalimat lanjutannya. Keadaan hening sejenak diantara mereka.


"LO BENERAN GAK TAU? " ucap Karin dengan berterik.


Plak...


Chacha menepuk tangan Karin dengan sedikit keras.


"Berisik, bego" Chacha melotot ke arah Karin.


"Wah gila, tadi sok nakal ngomongnya. Jadi beneran gak tau? " Chacha menggeleng pelan. "Kacau lo, Cha. Kacau"


"Lo yang kacau, isi otak lo kacau"


"Dih kenapa jadi gue. Sekarang gue tanya, berapa lo bareng dia? "


"Maksud lo yang gimana dulu? "


"Tinggal bareng"


"Kurang lebih sebulanan lah gue tinggal satu atap sama dia"


"Emang biasanya gimana? "


"Ya kan gue masih sering balik ke rumah gue, kadang ke mansion, kadang juga di apartemen. Levy sih kalo gue di rumah atau di mansion baru dia balik ke rumahnya. Kalo gue di apartemen baru kita tinggal bareng. Itupun kucing-kucingan"


"Takut ketemu paparazzi? " Chacha mengangguk saja.


"Kacau lo kacau. Selama sebulan lo biarin Levy puasa, padahal di sampingnya ada santapan segede ini? "


"Maksudnya gimana sih? "


"Haduh, lo dokter masa polos banget sih"


"Gue dokter bedah sialan"

__ADS_1


"Lo juga pemimpin mafia, masa hal beginian kagak tau"


"Emang lo pernah liat gue terjun langsung dalam masalah kecuali perang besar? "


"Ya enggak sih, kalo masalah biasa lo juga serahin ke bawahan lo"


"Nah itu lo tau kenapa masih nanya, kampret emang lo" Karin menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Gini deh gue tanya dulu biar lo kagak bingung"


"Mulai tadi lo juga nanya, oncom"


"Ish. Selama lo serumah atau tinggal bareng, kalian pisah kamar gak? "


"Nggak lah, ngapain"


"Pisah ranjang gak? "


"Nggak juga"


"Wah parah lu, Cha. Tiap malem lu biarin Pak Bos puasa, padahal ada santapan segede gini di sampingnya"


"Gue.. Dia... Itu" saking pusingnya, Chacha tak menemukan jawaban untuk mendebat sahabat petakilan nya ini.


"Kacau" Karin mengetuk dahi Chacha dengan telunjuknya, kapan lagi coba?


"Ish" Chacha menepis tangan Karin.


"Gue kasih tau nih ya. Laki-laki itu beda sama kita"


"Ya beda lah dia laki-laki kalau kita perempuan" celetuk Chacha.


"Kok jadi ngomongin barang cowok sih, Rin? "


"Lagian, pak bos tuh pernah gituan belum sih? "


"Setau gue belum kayaknya, meskipun dia di luar negeri tapi gak sebebas itu pergaulannya"


"Kasian bener ya. Dia beneran seumuran kita kan? " pertanyaan Karin kali ini langsung menyadarkan Chacha tentang kesalahannya selama ini. Kini dia berpikir baik-baik tentang Levy, benar kata Karin. Levy itu kasihan sekali.


Layaknya flashback yang berputar di otaknya. Selama mereka tidur dalam satu ranjang yang sama, bahkan dengan selimut yang sama pun. Tak sedikitpun Levy memaksanya melayaninya, meskipun sekujur tubuhnya meronta agar Chacha menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.


Tak pernah sedikit pun Levy melanggar peraturan yang dia buat secara tak tertulis, dimana Levy hanya akan meminta hak nya ketika Chacha benar-benar siap.


Karin yang melihat Chacha terdiam mematung hanya bisa tersenyum simpul. Dirinya tak menyangka, dibalik sosok sempurna Chacha, ternyata pengetahuan nya tentang berhubungan masih nol besar. Karin tak habis pikir, bagaimana Chacha bisa takut dengan kata 'malam pertama' sedangkan menembak dan tertembak adalah mainannya. Jika membayangkan sakitnya, kenapa dirinya tak ingat ketika tangannya pernah diretakkan musuhnya. Chacha ini memang spesies unik menurut Karin.


"Gue.. Gue cari daster dulu deh, kebagian sana"


"Dasar emak-emak berdaster"


"Bodoamat" Chacha berlalu menuju tempat daster yang di maksud.


Toko ini cukup besar, barang-barang yang dijual pun termasuk kwalitas premium. Untuk Chacha memang tak ada apa-apanya, namun jika untuk kalangan atas lainnya mungkin harganya cukup menguras kantong.


Chacha menyentuh setiap bahan daster yang ada di depannya. Terasa lembut dan nyaman ketika di pakai. Chacha memang pecinta daster, apalagi jika daster bercorak batik, dan disini Chacha menemukan surganya daster batik.


Pilihannya jatuh pada daster polos berwarna merah maroon. Namun, matanya masih melirik ke arah jejeran daster batik yang menurutnya menggoda jiwa belanjanya. Sepertinya kali ini Chacha akan memborong daster dari toko ini. Tak apa pikirnya. Hitung-hitung menggantikan piyama karakternya yang berada di lemari rumahnya. Terlalu kekanakan sekali bukan, jika sudah menikah masih memakai piyama bergambar kartun.


Chacha baru memilih dua daster saat merasakan ponselnya bergetar di sakunya. Dia melihat ternyata ada notifikasi, saat membukanya Chacha terdiam dengan wajah cengonya.

__ADS_1


Karin yang melihat Chacha terdiam langsung menghampirinya. Dia menepuk pundak Chacha pelan. Chacha langsung menoleh ke arah Karin.


"Kenapa? " tanya Karin.


"Gak papa, cuma baru dapet uang bulanan"


"Coba liat" Chacha menunjukkan bukti notifikasi yang baru saja ia terima.


"Gila belum 'diberi' aja udah loyal begini. Gimana kalau udah lo servis Cha"


"Susah ngomong sama otak mesum modelan lo gini. Ujung-ujungnya ke situ lagi ke situ lagi. Udah ah, ngomong yang lain aja deh! Gue gak nyaman ngomong personal sama orang lain, lagian kalau ngomong itu di filter. Ini tempat umum kampret" menepuk kepala Karin, tanda dirinya sudah tak nyaman dengan topik pembahasan kali ini.


"Gak tau enaknya sih lo, kalau tau lo pasti ketagihan ngomong ginian" kata Karin sambil berlalu kembali ke tempat lingerie.


Tanpa sadar Chacha malah mengikuti langkah Karin ke tempat tumpukan lingerie.


"Eh Rin.. " Tiba-tiba satu pertanyaan terlintas dibenak Chacha saat tempat lingerie itu sepi.


"Apaan" Karin menjawab tanpa melihat Chacha, dirinya masih asik memilih lingerie. Chacha melotot kaget saat melihat Karin sudah menenteng empat buah lingerie. Sedangkan dia masih memilih lagi. Chacha enggan bertanya, dirinya takut menghadapi jawaban 'ya tujuh lah, tiap hari ganti'. Membayangkan saja sudah membuatnya ngeri.


"Sakit nggak sih? "


"Apanya yang sakit? "


"Ya malam pertama" jawab Chacha dengan suara pelan. Akhirnya dirinya kalah juga, harus membuka diri dengan bertanya tentang hubungan di atas ranjang. Karin tertawa terbahak-bahak melihat wajah Chacha yang memerah.


"Ya tergantung"kata Karin setelah meredakan tawanya. Karin jadi membayangkan malam pertamanya bersama Elang.


" Apanya yang digantung? "


"Karena gue sama Elang itu sama-sama pertama kali. Jadi rasanya tuh, uh. Gak nembus dalam sekali percobaan tau nggak. Sakit banget"


"Hah? " Chacha jadi ngilu mendengarnya.


"Jadi setelah gagal dalam percobaan pertama kita langsung nyari ilmu" cengirnya.


"Emang ada buku panduan begitu? " tanya Chacha polos.


"Bukan di buku. Ceilah, makanya jangan cuma main angka sama senjata doang"


"Bodoamat"


"Jadi gue tuh langsung cari ilmu lewat film biru, kita nonton bareng-bareng. Terus kita praktekin deh"


"Emang gila kalian. Gak nyangka gue kalo sepupu gue yang polos itu bisa ikutan gila kayak lo"


"Tapi emang banyak banget ilmunya"


"Such as? "


"Such as. Kalau ceweknya rileks dan kerangsang, rasanya bisa gak sesakit itu. Setelah itu kita coba dan enjoyable akhirnya. Malah bagi hihihi" Karin masih terlena dengan pikirannya hingga tak menyadari bahwa sahabatnya berwajah kecut.


"Tau ah, gue mau ke toilet dulu"


"Basah ya, Cha? "


"KEBELET GILA" Karin tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Chacha.


"Kasian juga si Levy ya"

__ADS_1


Tiba-tiba ide hantu melintas di otak Karin. Dirinya tersenyum simpul dengan ide yang akan diusungnya kali ini. Jika Chacha tak bisa memberanikan diri, mungkin dia butuh sedikit 'dorongan' dari sahabat yang mengerti hal ini.


__ADS_2