Call Me Queen

Call Me Queen
Firasat


__ADS_3

Chacha sedang dilanda penyakit mager. Malas gerak. Padahal lusa adalah ulang tahunnya yang kedelapan belas. Tak seperti remaja pada umumnya yang heboh dengan pesta ulang tahun, Chacha seperti tak ada semangat untuk membuat pesta itu lagi. Akhir-akhir ini dirinya lebih banyak melamun. Satu hal yang tak pernah Chacha lakukan.


Seperti malam ini contohnya. Levy dengan ekstra keras membujuk Chacha agar mau makan. Pasalnya Chacha tak makan apapun dari siang tadi.


"Sweety, makan dulu ya" bujuk Levy untuk kesekian kalinya diujung telepon. Mereka sedang melepas rindu melalui panggilan video.


Seperti biasa sejak tadi Chacha tak banyak bicara. Hanya diam. Kadang mengangguk atau menggeleng. Hanya Levy yang mengoceh tanpa henti sejak tadi.


"Sayang"


Levy terpenjak diseberang sana. Satu kata. Levy menatap Chacha beberapa detik. Levy melihat ombak bergulung-gulung di mata kekasihnya. Levy menaikkan satu alisnya.


"Bagaimana kalau aku tidak bisa selalu bersamamu? "


Ombak dimata Chacha menjadi gelombang yang menerjang pantai kesadaran Levy.


"Maksudku, mungkin ada sesuatu yang memisahkan kita" lanjut Chacha. "Misalnya... " Levy menggeleng. Levy memandang Chacha dalam-dalam dan menggeleng lagi. Maksudnya, jangan dilanjutkan.


"Tidur terlalu malam tidak baik untuk kesehatan. Di sana sudah cukup malam bukan? " tanya Levy. Chacha hanya mengedipkan matanya.


"Good night My Queen. Have a nice dream and I love you"


Tut...


Levy mengakhiri panggilannya. Membiarkan Chacha termangu sendiri.


...****************...


"Cha.. "


Chacha mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menoleh pada Nena yang memanggilnya..


"Gak jadi outdoor? "


"Kagak disini aja" jawabnya kembali memainkan ponselnya.


Siang ini Chacha sengaja mengumpulkan para sahabatnya di Mansion Izhaka guna membantunya untuk menghias mansion itu untuk ulang tahunnya. Bukannya tak mampu menyewa jasa EO tapi dirinya ingin ini menjadi kenangan indah.


"Cha... Sorry nih ya, gue gak bisa hadir di acara ulang tahun lo" Elang membuka percakapan.


"Kenapa? " Chacha mendongak lagi menatap lawan bicaranya.


"Sepupu gue juga ulang tahun. Gue sekeluarga diundang sama tante"


"Yah, padahal ini ngerayain ulang tahun Chacha yang terakhir, kan" tambah karin.


"Kok yang terakhir? "


"Jadi gini Put, biar lo gak bingung. Si Chacha ini bakal lanjut kuliah di luar negeri" jelas Nena.

__ADS_1


"Bareng Si Levy? " tanya Putra penasaran.


Chacha menggeleng.


"Sorry banget, Cha. Gue gak bisa hadir. Soalnya gue gak pernah ketemu sepupu gue dari kecil" ucap Elang.


"Wah parah lo, Langsung"


"Soalnya dia itu tinggal di luar negeri sejak kecil, Nos"


"Terus? "


"Terus. Katanya dia udah balik beberapa tahun yang lalu dan kebetulan acara ulang tahunnya dirayain. Karena gue penasaran gue mau ikut Dia sebaya kita. " jelas Elang.


"Cewek apa cowok, Langsung? " tanya Kinos.


"Cewek"


"Kenalin gue, sapa tau jodoh"


"Yakin banget dia mau sama lo, cumi" cibir Zeze.


"Ze lo kenapa sih? Cemburu ya? " Zeze hanya memasang wajah datar mendengar godaan Kinos.


"Gak papa sebelum gue berangkat, kita liburan dulu" sela Chacha.


"Serius nih? " tanya Putra.


"Aseek liburan gratis"


"Jangan kayak orang susah" ucap Kinos sambil menepuk jidat Putra.


Yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Putra. Di tengah-tengah senda gurau mereka Ayah Gun, Bu Ratu, dan Audy tiba di mansion. Mereka diminta Chacha untuk menginap di sana..


"Kalian udah pada disini rupanya" sapa Bu Ratu pada mereka yang sedang asik bercanda.


"Eh, Bunda. Nih anak gemoy yang satu rusuh nyuruh kita cepet-cepet" Chacha mendelik sinis pada Fanny.


"Ayah sama Bunda istirahat aja dulu" ucap Chacha pada bundanya.


Bu Ratu diam menatap sekelilingnya. Tak ada yang berubah. Pikirnya. Dirinya merindukan rumah ini dengan segala isi dan kenangannya. Di tempat ini dirinya terkadang bertengkar dengan sang kakak. Berkomplot menggoda si bungsu. Rania. Kenangan-kenangan ketika dirinya remaja hingga dewasa kembali didepan matanya.


"Bunda... " seru Ayah Gun membuyarkan lamunan masa lalunya.


"Bunda istirahat dikamar bunda" tambah Chacha. "Lo istirahat di kamar tamu" ucapnya pada Audy.


"Kenapa gue di kamar tamu? "


"Sejatinya lo disini gak punya kamar"

__ADS_1


"Tapi... "


"Di kamar tamu atau nggak sama sekali, Kakak" Chacha memelankan kata terakhirnya dengan nada mengejek.


Audy menatap Chacha dengan kilatan api terpancar di matanya. Tapi tak disangka Chacha membalas tatapannya dengan tajam. Dia terperanjat kaget. Ingatannya dipaksa terseret mundur. Ia ingat Chacha kecil jika dirinya marah dan menatap dengan tatapan kesal saja ia akan menunduk takut.


"Mbak Ida" teriak Chacha.


"Iya non cantik, butuh apa? "


"Anterin dia ke kamar tamu" Chacha berbicara sambil menunjuk Audy.


Mbak Ida menatap Audy sebentar. Lalu mengajaknya sesuai perintah Chacha. Sedangkan Bu Ratu dan Ayah Gun sudah terlebih dulu masuk ke kamarnya.


"Tega banget sih sama kakak lo sendiri" Fany tergelak setelah Audy hilang ditelan pintu kamar.


"Bodoh amat gue"


"Ayo mulai. Ini rumah beda sama punya Keluarga Effendy. Ini mansion asal kalian tau" seu Elang pada lainnya agar memulai pekerjaan mereka.


"Gue kira bakalan dibuat garden party" tambah Kinos.


"Awal rencananya emang dibuat gitu. Tapi, tiba-tiba Chacha merubah rencana" jelas Fany.


Mereka memulai pekerjaan dengan diselingi canda tawa. Tingkah Kinos sering kali membuat lainnya tertawa. Apalagi ketika dirinya berdebat dengan Zeze. Putra adalah salah satu yang paling canggih mengejek keduanya. Sedangkan Fany hanya menggelengkan kepalanya melihat saudara kembarnya menjadi bahan candaan para sahabatnya. Lain lagi dengan Chacha, diam memandang sahabatnya yang tertawa riang lalu menggeleng dan menunduk.


"Kenapa? " sentuh Fany pada pundak Chacha. Pekerjaan mereka terhenti. Bergabung dengan Fany dan Chacha duduk di lantai tanpa alas.


"Kalian percaya firasat? "


"Bagi yang pernah merasakannya bisa jadi mereka percaya suatu firasat, tapi gue... " Fany terdiam sesaat. "Setidaknya dalam beberapa peristiwa penting dalam hidupku, aku tidak pernah mendapatkan satu firasat pun" Chacha menaikkan sebelah alisnya.


Lainnya hanya menyimak. Mereka akan diam jika Chacha dan Fany terlibat suatu pembicaraan. Gaya bahasa dan ekspresi mereka berdua membuat lainnya selalu tertarik untuk mendengarkannya.


Fany melirik Chacha sekilas. "Aku tak ber firasat bakal punya sahabat Sultan, bahkan ini sesultan-sultannya sultan. Emaknya sultan gue rasa." yang lain tertawa dengan kelakar yang dihadirkan Fany.


"Emaknya sultan pala lu petak, Fan" tukas Chacha. Yang lain malah semakin keras tertawa.


"Lo punya firasat apa, Cha? " tanya Putra setelah berhasil mengendalikan tawanya.


"Beberapa hari ini gue rasa ada yang berbeda. Entah apa itu. Bukan karena ini perayaan terakhir kita sebelum kita pisah mengejar mimpi dan impian kita masing-masing. Sama sekali tak ada sangkut pautnya"


"Lalu? "


"Gue merasa sesuatu yang besar akan terjadi, namun juga sangat dekat. Kalo boleh gue bilang titik balik kehidupan gue"


"Mungkin perasaan lo aja kali, Cha" respon Elang.


"Akhir-akhir ini lo kurang istirahat Jadi pikiran lo kemana-mana, buat lo gak tenang. Gue yakin semuanya baik-baik aja" Nena menenangkan.

__ADS_1


"Semoga" balas Chacha menanggapi Nena. Chacha membuang nafas kasar. Lalu bangkit menyambung pekerjaan yang tertunda bersama para sahabatnya.


Tanpa mereka sadari Audy memperhatikan mereka dengan bersandar pada pintu kamar tamu dengan senyum sinis. Entah ditujukan pada siapa senyumannya itu.


__ADS_2