Call Me Queen

Call Me Queen
Pendarahan


__ADS_3

Levy tampak berkali-kali menghela napasnya. Sungguh ini perjuangan pertamanya saat membeli sesuatu. Bagaimana tidak, antrian jus yang diinginkan istrinya begitu panjang. Bahkan Levy harus menunggu di dalam mobil karena tak mendapat tempat untuk antri. Biasanya Chacha akan meminta yang mudah di dapat meskipun waktunya tak wajar.


Setelah keluar dari mobil kini Levy bergegas menuju lobby. Karena seingatnya Levy tadi meminta Chacha untuk menunggunya di lobby. Sambil menenteng jus mangga ditangannya, Levy berjalan dengan sedikit tergesa. Selain tak ingin membuat istrinya menunggu terlalu lama lagi, perasaannya juga tak nyaman sejak tadi meninggalkan istrinya.


Levy mengernyit bingung saat melihat lalu lalang perawat di lobby, semuanya nampak tergesa-gesa. Hingga salah satu dari mereka menghampiri Levy.


"Tuan muda Levy, anda di tunggu dokter Diva di depan ruang operasi" Levy menaikkan sebelah alisnya. Hingga sepersekian detik kemudian, matanya melotot. Ini pasti berkaitan dengan istrinya.


Tanpa membalas perkataan suster yang menghampirinya tadi, Levy langsung melangkahkan kakinya begitu saja. Bahkan dirinya sedikit berlari kali ini.


Levy sampai di ruang operasi milik Chacha, ruang operasi khusus milik anggota keluarga Izhaka. Tampak Diva menunggu di depan ruang operasi dengan tubuh bersandar di pintu.


"Div? " Panggil Levy dengan nafas tersengal.


"Gue butuh persetujuan lo sebagai suaminya, untuk melakukan operasi" Jawab Diva langsung ke intinya.


"Memangnya Chacha kenapa, Div? "


"Dia pendarahan setelah mengalami tabrakan di lobby tadi. Mau tidak mau kita harus segera melakukan tindakan operasi"


"Tapi kandungan Chacha belum sampai 9 bulan Div? "


"Gue tau, Lev. Ini baru 7 bulan, tapi itu tak masalah dan kita tak ada jalan lain selain operasi kali ini. Gue sudah usahakan tadi, namun Chacha terus mengalami pendarahan"


"Lakukan Div, lakukan apapun untuk menyelamatkan mereka" Diva mengangguk mendengar keputusan Levy. Diam-diam Diva mengacungkan jempolnya untuk Levy.


"Lo sterilkan badan lo dulu, lo boleh masuk ke ruang operasi. Temani Chacha, karena sejak tadi dia tidak pingsan, Chacha tetap sadar meskipun kehilangan banyak darah"


Tanpa banyak perintah Levy mengangguk mematuhi semua perintah Diva. Dia meletakkan begitu saja jus mangga yang sejak tadi ditenteng nya.


Diva juga langsung masuk ke dalam ruang operasi untuk menyiapkan semua yang akan digunakan selama operasi berlangsung. Diva menatap takjub saat melihat ruang operasi Chacha. Bukan dekorasi ruangnya, namun orang-orang yang akan menjadi partnernya saat melakukan operasi. Semuanya adalah dokter handal, bahkan Diva merasa tak pantas berada di tengah-tengah mereka. Namun, karena Chacha sendiri yang memintanya untuk melakukan operasi. Disinilah Diva sekarang, memegang penuh kendali operasi cesar yang akan dilakukan oleh Chacha.


Levy juga sudah berada di samping istrinya. Menatap istrinya dengan pandangan sendu. Chacha menghadiahkan senyum manis diwajahnya untuk Levy.


"Sayang" Levy mencium kening Chacha dalam.


"Tak apa cinta, kita bisa melalui semua ini" Ucap Chacha menenangkan. Sedangkan dibawah sana operasi sudah di mulai.

__ADS_1


"Bagaimana bisa, hmm? " Tanya Levy dengan membelai lembut kepala istrinya. Sebisa mungkin Levy akan membuat Chacha terus terjaga kali ini, melihat wajah pucat istrinya membuat Levy serba salah.


"Aku tak sengaja ditabrak oleh mereka" Jawab Chacha dengan senyum manisnya.


"Mereka? "


"Para suster. Mereka sedang terburu-buru untuk melarikan pasien kecelakaan ke UGD. Kita tabrakan saat di belokan dekat lift. Posisi aku yang tak terlihat hingga mereka juga tak sempat menghindar, aku juga kaget" Jawabnya pelan. Sungguh Chacha tak ingin melihat Levy meledak kali ini.


"Kenapa mereka tidak hati-hati. Seburu-buru apapun harusnya tetap hati-hati, ini rumah sakit bukan lapangan bermain"


"Mas" Chacha memegang tangan Levy agar suaminya tak semakin marah.


Levy panik saat Chacha mulai memejamkan matanya setelah memanggil dirinya.


"Dokter, istri saya kenapa? "


Perhatian para dokter teralihkan, kecuali Diva yang masih fokus pada apa yang dikerjakannya.


"Anda bisa mundur sedikit, pak. Kita akan memeriksa nona muda terlebih dahulu" Levy patuh terhadap perintah dokter tersebut.


Levy mundur beberapa langkah, memberikan dokter itu akses untuk mengecek keadaan istrinya. Apalagi saat melihat Chacha yang dipasangi alat bantu pernapasan membuat jantung Levy seakan berhenti berdetak.


"Dokter Diva, kesadaran pasien semakin menurun" Teriak salah satunya.


Deg...


Air mata lolos begitu saja dari mata Levy. Ingin rasanya dia keluar saat ini juga, namun itu tak mungkin. Chacha membutuhkan dirinya saat ini. Levy memejamkan matanya rapat, hatinya melambungkan doa keselamatan untuk anak istrinya.


Levy terduduk di lantai, dia merasa tak berguna sekarang. Dia tak bisa melakukan apapun disaat istrinya sedang berjuang hidup dengan buah hatinya. Hingga suara melengking tangisan bayi mengalihkan fokusnya.


Levy menatap Diva yang mengangkat seorang bayi, dari sorot matanya Diva begitu serius, bahkan dia tak bersuara untuk mengatakan apa jenis kelamin bayi pada Levy.


Diva dikejar oleh waktu untuk segera menyelesaikan operasi ini sebelum Chacha benar-benar tak sadarkan diri. Diva dibantu dengan para dokter senior melakukan tugasnya dengan cekatan, meskipun jantung mereka sedang berdetak begitu cepat karena kondisi Chacha. Namun, fokus mereka tak boleh terpecahkan.


Setelah suara tangisan bayi pertama, kini disusul oleh tangisan bayi kedua yang berhasil mereka eksekusi. Satu bayi lagi yang harus mereka keluarkan.


Levy mendekat ke arah Chacha setelah mendapat instruksi dari dokter. Levy diminta untuk tetap berkomunikasi dengan Chacha meskipun Chacha sedang dalam keadaan terpejam.

__ADS_1


Levy membisikkan kata-kata cinta dan ungkapan terimakasih nya pada Chacha. Menceritakan apapun yang sekiranya menarik untuk diceritakan agar sang istri mau membuka matanya. Hingga suara tangisan yang ketiga terdengar, tangis Levy benar-benar pecah.


"Bangunlah cinta. Buah hati kita sudah lahir, ketiganya sehat. Bukankah itu yang selalu kamu inginkan. Bangunlah sayang, kamu tak ingin melihat bayi kita untuk pertama kalinya? " Levy menciumi seluruh wajah Chacha dengan derai air mata. Air mata bahagia dan air mata kekhawatiran.


"Siapkan kantong darah untuk nona muda. Kita akan melakukan transfusi darah" Ucap salah satu dokter disana dengan suara keras. Tampak dua orang suster berlari keluar dari ruang operasi dengan sangat cepat.


Jantung Levy kembali berdetak hebat. Dia tak sanggup untuk kemungkinan terburuknya.


Apalagi ini Tuhan, tak bisakah kami bahagia sebentar saja. Selamatkan istriku, Tuhan. Levy memejamkan matanya.


Dia mencium lama kening Chacha sebelum meninggalkan ruang operasi. Karena para dokter akan melakukan tindakan lanjutan pada Chacha. Levy digiring untuk melihat bayi-bayi mungilnya yang baru saja Chacha lahirkan.


Levy menatap ketiga bayinya dengan takjub, mereka seolah mengerti jika sang mama dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mereka tak menangis, mereka bertiga dengan kompak menghisap jempol masing-masing.


Dua jagoan dan satu tuan putri, dua jagoan tampan yang begitu mirip dengan Chacha, bahkan salah satunya seperti duplikat istrinya. Satunya lagi memiliki perpaduan antara Levy dan Chacha. Sedangkan si cantik yang begitu montok ini begitu mirip Levy. Bisa dibilang Levy versi wanita.


Bangun lah cinta. Anak-anak kita begitu menggemaskan. Batinnya.


"Tuan muda, anda bisa mengadzani di mulai dari kakaknya" Ucap suster tersebut sambil memandu Levy untuk menuju anak pertamanya.


Rupanya sang Abang adalah jagoan yang memiliki wajah perpaduan antara Chacha dan Levy. Bahkan matanya berwarna biru seperti milik Chacha.


Dilanjutkan dengan bayinya yang kedua, yang juga laki-laki. Duplikat Chacha versi mini ini menggeliat saat Levy mengumandangkan adzan ditelinga nya.


Terakhir dilanjutkan dengan si cantik montok ini. Levy sedikit takjub saat melihat putrinya begitu berisi dibandingkan dengan kedua saudaranya. Bahkan selama Levy mengumandangkan adzan di telinganya, bayi cantik itu tak berhenti memegang jari Levy dengan tangan mungilnya.


"Tuan muda anda bisa menggendong putri anda untuk dibawa pada nona muda. Biarkan nona kecil ini yang mendapatkan IMD pertama, karena itu bisa membantu menghentikan pendarahan dengan cepat"


Levy langsung bergegas membawa bayi cantiknya mendekat ke arah istrinya. Dokter langsung mengambil alih bayi tersebut untuk diletakkan di atas tubuh Chacha.


Levy terkekeh pelan saat melihat wajah lucu putrinya ketika mencari pu*ing sang mama. Bahkan bayi cantik itu selalu mengerucutkan bibirnya ketika gagal menyusu.


Lihatlah cinta. Bahkan putri kita begitu pintar sejak dilahirkan, dia menggemaskan sama seperti mu. Batin Levy.


...****************...


Hayo siapa yang ketar ketir liat judulnya doang 🤣...

__ADS_1


yuk yang mau kasih nama buat triple tercinta boleh diajukan.


jangan lupa anaknya Audy juga ya😅


__ADS_2