Call Me Queen

Call Me Queen
Keluarga Anggara


__ADS_3

Sesuai perkataannya tadi siang pada sang sahabat, Chacha memanggil Pandu untuk kembali siang itu juga. Tapi tanpa ada yang tahu. Hanya dirinya dan Levy yang tahu akan kembalinya Pandu.


Sekarang disinilah mereka, teras rumah keluarga Effendy. Duduk bertiga ditemani cemilan dan teh hangat. Chacha masih belum buka suara, menunggu lelah Pandu sedikit berkurang. Pasalnya Pandu langsung menemuinya tanpa beristirahat terlebih dahulu.


"Mau bicarain soal Fany? " tanya Pandu langsung.


"Kenapa? "


"Harus gimana lagi, Cha? Gue udah bilang kan, gue bakal selesaikan masalah keluarga gue dulu, baru bakalan lamar Fany"


"Fany butuh kepastian, kalian bisa tunangan terlebih dahulu"


"Lo paling tau keinginan gue, Cha. Lo paling tahu siapa gue dibanding adik gue sendiri"


"Fany bakal dijodohkan sama anak bungsu keluarga Anggara" ucap Levy yang sejak tadi fokus pada ponselnya.


Chacha dan Pandu melotot tak percaya. Mereka saling pandang dan memberi kode mata, Levy bingung dibuatnya


"Kenapa sih? " tanya Levy bingung.


"Kamu kenal mereka, Yang? "


"Rekan kerja papa. Beberapa kali bertamu ke rumah. Ada apa? "


"Gak papa, nanya aja. Sekarang lo maunya gimana, Pan? "


"Gue pasrah lah, Cha. Gak mungkin kan gue tiba-tiba nyerobot acara orang"


"Berarti lo rela liat Fany bersanding dengan yang lain? "


"Ya kagak lah"


"Terus. Apa yang bisa gue bandingin sama tuan muda itu, Cha? "


"Gak usah sok miskin, atau mau gue buat gulung tikar usaha lo? "


"Lo... Lo tau? " tanya Pandu dengan gugup.


"Mata gue di mana-mana kalo lo lupa. Wajar Pan mereka gak kenal lo. Karena perusahaan lo berkembangnya di luar negeri bukan disini"


"Tapi gue masih takut, Cha"


"Soal mami? " Pandu mengangguk.


"Adek mungkin bisa lindungi diri, tapi mami? "


"Biar mami sementara tinggal di apartemen gue selama disini"


"Gue belum siap liat mami terpukul jika gue gagal kali ini. Harga diri mami bakalan benar-benar hancur di mata masyarakat, itu yang gue takutin"


"Percayalah Pan, usaha tak akan mengkhianati hasil (bener gak sih? ), besok jemput gue jam delapan disini. Gue bakal selesaikan masalah lo duluan. Jangan lupa bawa si cengeng" Pandu hanya mengangguk pasrah.

__ADS_1


Chacha menangkap perubahan raut wajah Levy, Chacha tau Levy sedang menekan rasa cemburunya. Ini yang sebenarnya Chacha takutkan. Kecemburuan Levy sudah masuk fase menakutkan jika moodnya sedang buruk.


"Gue balik dulu, istirahat"


"Jangan lupa besok jemput gue"


"Iya" Pandu berlalu setelah berpamitan pada Levy.


Setelah kepergian mereka berdua masuk ke dalam.


...****************...


"Audy katanya lo gak nginep, kok disini? "tanya Chacha setelah mengantarkan suaminya ke depan untuk bekerja.


"Suami gue gak jemput, jadi masa iya gue pulang jalan kaki" jawabnya sendu.


"Dia hubungi lo kalau gak jadi jemput? " Audy menggeleng.


"Lu chat dia nggak? "


"Udah, katanya masih meeting"


"Jangan polos-polos banget jadi istri. Pakai otak licik lo lagi. Lo belum tau sebrengsek apa suami lo"


"Maksud lo? "


"Nanti lo tau sendiri. Sekarang jawab gue jujur, lo ada masalah? " Audy diam. "Jawab gue Audy, atau gue cari tau sendiri? "


"Selamat kakakku, jaga ponakan gue baik-baik. Suami lo tau? " Audy mengangguk. "Kenapa lo sedih, kangen? " Audy menggeleng, air matanya menetes tanpa diperintah membuat Chacha kaget.


"Eh jangan nangis, nanti dikira lu kenapa sama Bunda, gue yang diamuk ntar"


"Di-dia gak percaya ka-kalo gue hamil a-naknya" pernyataan Audy membuat Chacha tercengang.


"Gila kali tuh orang ya, seenaknya aja kalo ngomong. Lupa kali dia sebrengsek apa dirinya" emosi Chacha hadir tanpa bisa dikendalikan.


"Kenapa anak-anak Bunda ini? "


Chacha melirik Audy, Audy menggeleng pelan. Namun Chacha tak peduli langsung memberi tahu Bu Ratu. Bu Ratu kaget menatap Audy dengan mata berkaca-kaca.


"Sini nak" Audy ditarik ke dalam pelukannya, tangisnya pecah.


Selama ini dirinya bertahan meskipun dicaci atau dihina di keluarga suaminya, tak memberi tahu keluarganya karena tak ingin merepotkan lagi. Tapi, kehadiran Chacha membuat dirinya lemah, dirinya sadar jika butuh teman untuk membagi cerita, memikirkan solusi bersama.


"Kenapa kamu gak telfon Bunda? Bunda ini Bunda kamu, jangan takut di repotkan" Audy semakin terisak.


"Tenangin diri lo dulu, habis itu gue mau bicara sama lo" Chacha menyodorkan segelas air pada Audy.


Bu Ratu tak bicara banyak hanya mengelus punggung Audy. Dirinya merasa kasihan pada anak ini, kebahagiaan tak kunjung menyapanya, dirinya kira dengan menikah Audy akan bahagia. Namun, siapa sangka setelah terbongkarnya identitas aslinya, keluarga mertuanya malah menganggap remeh dirinya. Bu Ratu juga tak menyangka jika nyonya Pandey memiliki sifat seperti itu. Bu Ratu sakit melihat anak yang dibesarkannya sejak bayi ini menangis tersedu-sedu di depannya.


"Sekarang mau lo gimana? " tanya Chacha setelah merasa Audy cukup tenang. Audy hanya menggeleng.

__ADS_1


"Bunda tau kamu bingung, nak. Tapi, didalam sini ada kehidupan yang harus kamu pikirkan" ucap Bu Ratu sambil menyentuh perut Audy yang sedikit membuncit.


"Lo pikirkan baik-baik. Hadapi dengan kedewasaan lo, bukan keegoisan lo"


Keadaan kembali hening, membiarkan Audy menenangkan dirinya.


"Minggu depan ulang tahun Kevin, aku mau buat surprise sekaligus meyakinkan dia, jika ini anaknya" ucap Audy setelah cukup lama bungkam.


"Gue bantu"


"Gue bisa sendiri"


"Gue bantu, gak ada penolakan kali ini Audy"


"Kamu kenapa, nak? "


"Gak papa Bunda, cuma firasat aku gak enak kalau biarin dia melangkah sendirian"


"Biarkan adikmu mendampingi, firasat Bunda juga kurang enak, nak. Biarkan dia jadi penguat atau pelindungmu jika sesuatu yang tak diinginkan terjadi"


Setelah memikirkan matang-matang Audy mengangguk.


"Bunda, Chacha siap-siap dulu mau keluar, udah ijin kok sama Mamas" Bu Ratu hanya mengangguk saja melihat kepergian anak bungsunya.


Setelah cukup bersiap Chacha langsung menghubungi Pandu bahwa dirinya siap agar Pandu segera menjemputnya. Karena waktu mereka tak banyak, hari ini dan esok. Karena dihari ketiga Chacha harus membawa Pandu ke hadapan orang tua Fany.


"Na? "


"Baru bangun tidur gue, apaan" jawab Nena dengan suara khas bangun tidur.


"Bisa tolong belikan hantaran buat Fany"


"Siapa yang lamaran? "


"Fany sama Pandu, rahasiakan ini jangan bilang siapapun dulu. Pakai uang lo dulu, nanti biar Pandu yang transfer ke lo"


"Oke siap, gue ajak bumil ya. Ya kali belanja sendirian"


"Terserah lo. Gue tutup"


Chacha menghubungi Nena agar membantu membelikan hantaran untuk keluarga Pandu saat bertamu ke keluarga Fany nantinya. Karena Chacha yakin jika kali ini mereka akan berhasil.


Chacha menggelengkan kepalanya ketika kepalanya terasa berputar. Memejamkan matanya sebentar.


"Gue kenapa sih? Sakit banget nih kepala. Haish, apa gara-gara diajak begadang mulu sama Mamas ini ya, awas aja tak suruh puasa ntar" dengus Chacha.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa Like, coment and vote cintaaa,


Hello guys, jangan lupa mampir di Janda Kembang author ya,

__ADS_1


__ADS_2