
Sesampainya di apartemen miliknya, Chacha langsung mengambil kotak obat miliknya.
"Kalian bonyok semua ya" kekeh Chacha melihat para sahabatnya babak belur.
"Sialan lo emang, bukannya bantu obatin malah ngejek" sinis Nena.
"Nyenyenye. Hahahaha" Chacha berlalu menuju dapur guna membuatkan minuman pada para sahabatnya.
Diruang tamu mereka saling mengobati satu sama lain. Karin bergantian dengan Elang. Zeze dengan Kinos. Nena dengan Putra. Fany? mengobati lukanya sendiri, karena dirinya hanya terluka bagian kaki. Berbeda dengan ketiganya yang sedikit banyak terkena di wajah dan punggung.
"Angel obatin Levy" titah Fany.
"Angel gak ngerti Kak" cicit Angel.
"Lo bisanya apa sih. Lo gak liat tunangan lo udah pucet gitu" Karin gemas sendiri dengan Angel.
"Kenapa? " tanya Chacha sekembalinya dari dapur dengan membawa nampan penuh minuman dan kawan-kawannya.
"Si Angel gak bisa obatin Levy. Padahal dia kena tembakan tadi" jelas Zeze.
"Rumah sakit aja yok, gue anter" tawar Putra. Levy hanya menggeleng, dia tau semua sahabatnya dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Bentar. Gue tinggal" Chacha meninggalkan mereka langsung masuk ke kamarnya.
"Lo gak pengap pake hoodie mulu, Cha? " tanya Karin heran, mereka saja rasanya ingin berganti baju. Ya, setelah selesai mengurusi para begal tadi. Chacha langsung memakai hoodie sebelum memimpin mereka menuju apartemennya.
"B aja kali" jawabnya santai.
"Angel di minum, biar lo gak syok terus-terusan" suruh Chacha pada Angel yang masih pucat.
"Buka baju lo" Chacha berucap pada Levy.
"Kakak mau ngapain nyuruh Kak Levy buka baju? " tanya Angel.
"Mau gue mutilasi" Angel melotot mendengar jawaban Chacha.
"Buka sendiri atau gue yang buka" Chacha dengan nada datar, namun tatapan matanya memandang Levy dengan lembut.
"Buka Lev, biar Chacha ngeluarin peluru itu. Lo gak mau kan mati konyol disini" jelas Elang.
"Gue tau lo gak mau gue sentuh, kali ini aja biarin gue obatin lo. Setalah itu gue bakal nyentuh lo lagi. Ini terakhir" pintanya santai. Membuat Levy menatap Chacha dengan pandangan sulit dijelaskan. Tapi, akhirnya Levy membuka pakaian atasnya. Duduk membelakangi Chacha.
Mereka sudah selesai dengan acara obat mengobati. Hanya tinggal Chacha yang belum selesai. Mereka menatap takjub pada kecekatan Chacha dalam mengeluarkan peluru. Bahkan Levy tak meringis sedikitpun. Begitu hati-hati Chacha mengobati Levy.
Levy terdiam saat jemari Chacha melakukan tugasnya. Pikirannya kacau, hingga dia melupakan rasa sakit di punggungnya. Banyak pertimbangan yang ia pikirkan. Hingga satu tekad ia tancapkan lagi. Mencari kebenarannya akan gadis yang terus bergelayut manja dipikirannya itu. Hati kecilnya mengatakan bahwa Chacha masih gadis polos seperti dulu. Melihat tatapan Chacha pada dirinya tadi, membuat dirinya terhenyak kaget. Tatapan nya masih sama lembut, namun kepedihan, kesedihan dan keputusasaan juga Levy tangkap dalam bola mata biru itu. Apa ia salah langkah dengan memutuskan bertunangan karena amarahnya saat itu? Jika itu benar, Apa gadisnya akan memaafkan dirinya? Levy terus tenggelam dalam pikirannya hingga suara Chacha menarik kesadarannya.
"Selesai. Malam ini menginap disini saja dulu. Jika sudah mendingan besok pagi kalian boleh pulang. Kalau mau" ucap Chacha sambil mengemasi barang-barangnya.
"Kalau kita gak mau pulang? " tanya Karin jahil.
"Ya udah disini aja. Toh besok weekend kan" setelah menjawab pertanyaan Karin, Chacha berlalu meletakkan kotak obat dan lainnya pada tempat semula.
Brukh...
__ADS_1
Chacha menghempaskan tubuhnya pada sofa panjang diruang tamu. Sofa yang tadi diduduki oleh si kembar dan lainnya. Kali ini mereka berpindah pada lantai yang dialasi karpet bulu tebal.
"Capek, Cha? " tanya Fany.
"Capek mikirin hidup gue" jawab Chacha sekenanya.
"Lo boleh berbagi sama kita, Cha. Kita bakal selalu ada buat lo, kalo lo lupa" tambah Nena.
"Tar lagi Kak Shiro kesini. Bukain pintu kalo ada bel bunyi"
"Ngapain Kak Shiro kesini? Lo ada yang luka? " tanya Elang khawatir.
"Buat ngecek luka kalian" jawabnya lalu menutup matanya.
Benar tak lama kemudian bel berbunyi. Karin langsung bangun dari duduknya dan bergegas membuka pintu.
"Dimana Queen? " tanya Shiro khawatir membuat Karin heran.
"Di dalam" Shiro langsung menerobos masuk tanpa memperdulikan Karin yang cengo dihadapannya.
"Queen. Eh... " Shiro kaget melihat sahabat Chacha berkumpul ditambah lagi mereka babak belur.
"Habis jadi samsak hidup kalian? " ejek Shiro.
"Ngejek lagi. Kakak yang kami buat samsak hidup" sinis Nena pada Shiro.
"Dimana Queen? " Shiro langsung mengubah topik, keempat sahabat Chacha cukup menyeramkan jika marah.
"Ya ampun Queen" Shiro berteriak tertahan melihat Chacha dengan mata tertutup.
"Dia capek kali, jadi kita biarin tidur"
"Dia kena tembakan, dan kalian biarin dia tertidur ya ampun" ucapan Shiro membuat yang lain kaget bukan main.
"Chacha masih sadar loh. Cuma merem aja mata gak kuat melek" Chacha menginterupsi Shiro yang sedang mengomel pada lainnya.
"Bagian mana yang kena tembakan? " Shiro bertanya pada Chacha. Cha langsung menyingkap hoodie beserta kaosnya. Membuat Shiro langsung membelalak kaget.
"Kebiasaan. Kau bisa mengeluarkan pelurunya dulu bukan" Shiro mulai mengobati Chacha dengan mengomel.
"Bisa saja. Tapi nanti gak bisa bebas gerak, Kak"
"Kau ini ada saja jawabannya"
"Obati saja, Kak"
"Bisa kau telfon dr. Nisa"
"Untuk apa? Kau membuat geger rumah sakit"
"Kau kehabisan banyak darah, Queen. Lihatlah kau bahkan terlihat seperti mayat hidup" ucapan Shiro membuat yang lain menatap Chacha. Benar Chacha sejak tadi sudah pucat, namun mereka berpikir kalau dirinya kelelahan.
"Pintar sekali kau mengelabui sahabatmu. Memakai hoodie berwarna gelap. Agar mereka tak tau kau terluka"
__ADS_1
"Bisa kau membuat yang lain tak was-was memikirkanmu? "
"Jika mereka mencemaskan ku, berarti mereka sayang padaku bukan"
"Ya semua bawahan mu mencemaskan mu lima tahun terakhir"
"Sudah kuduga"
"Ya mereka menganggap dirimu adik bukan atasan"
"Itu permintaan ku"
"Kau sudah menghubungi dr. Nisa? "
"Ini akan pulih tanpa transfusi darah, Kak"
"Kau keras kepala"
"Percayalah"
"Ya"
"Sudah selesai? "
"Hmmm"
"Aku akan mengganti baju terlebih dahulu" Chacha bangkit dan menuju kamarnya.
"Kalian benar tak menyadari jika Queen terluka? " Shiro hanya mendapat gelengan kepala atas pertanyaannya.
"Inget gak, tadi doa sempet oleng" seru Karin.
"Bisa jadi tadi dia kena tembakan. Karena kaget membuatnya oleng"
"Bisa jadi sih" mereka terus berasumsi.
"Terus gimana sama penyerang kalian tadi? "
"Kita tinggalin gitu aja. Setelah Chacha buat ketuanya KO"
"Sudah diurus" ucap Fany.
"Sama? "
"Kalian pikir sendiri deh" Fany malas menjelaskan dengan rinci.
"Kalian ganti baju sana. Angel juga gih. Baju nya di atas kasur" ucap setelah berganti baju dan mencuci muka. Fany dan lainnya langsung menuju kamar Chacha guna mengganti baju.
"Kakak balik. Ingat rawat dengan betul luka kamu. Memang tak dalam, Kakak yakin kamu tau kalau ada tembakan" Chacha mengangguk menanggapi Shiro.
"Mereka mengarahkan ke Levy. Dia sudah dapat satu. Jadi Chacha kira kalo Chacha halangin gak bakal kena, eh malah keserempet pelurunya"
"Jangan main-main lain kali" pesan Shiro.
__ADS_1
"Makasih" Chacha mengangguk pada Shiro.
"Di kamar tamu ada beberapa baju abang, pake gih" mereka berempat langsung bergegas meninggalkan Chacha seorang diri diruang tamu.