
Lima tahun kemudian
Seorang gadis tampak menggembungkan pipinya kesal. Dia sudah menunggu sejak tadi tapi yang menjemputnya tak kunjung datang. Ia bahkan menjadi tontonan yang lain, bukan karena sikapnya tapi karena penampilannya. Kaos berwarna hitam menempel apik ditubuhnya. Kaki jenjangnya dibungkus jeans robek berwarna senada. Sneakers putih menjadi pilihannya untuk teman berjalannya. Rambutnya digerai dengan poni layaknya dora. Make-up minimalis mempercantik wajahnya.
Siapa lagi kalau bukan Chacha. Dirinya kembali dengan sejuta pesona. Kembali dari kematian yang berulang kali bermain dengan dirinya. Kembali dari perjuangan panjangnya. Jika dirinya pikir-pikir sudah banyak yang ia lewati. Bahkan merasakan sakit yang begitu sakit sudah biasa ia lewati.
"Kau sudah lama menunggu? "
"Udah lumutan"
"Baru telat sebentar"
"Ku getok mau? sebentar apanya satu jam gue nungguin lo kampret"
"Ya kan gue masih ada kerjaan"
"Gak usah sok sibuk deh"
"Mau pulang apa debat terus ini"
"Iya iya pulang" sungut gadis itu.
"Gue yakin yang lain gak percaya kalo ini lo, Cha" mereka melanjutkan percakapan sambil berjalan.
"Gue masih sama, Elang"
"Sama apaan cantik gini"
"Jangan muji ntar lo naksir bisa berabe, kita masih sodara"
"Bukan gitu juga kali"
"Gimana setelah kepergian gue? "
"Yah mereka mengerti meskipun sempat bingung pada awalnya"
"Gue bahkan gak pamitan sama mereka. Haish kesel sendiri kalo ingat"
"Mereka mengerti, lo gak bakal percaya kalo sekarang mereka jadi orang sukses"
"Lima tahun gue tinggal gak jadi orang sukses mau gue getok hah"
"Kejam amat nona muda satu ini"
Tak lama mereka sampai di mobil. Setelah memasukkan barang bawaan Chacha ke dalam bagasi Elang mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan.
"Bagaimana posisi mu? Cukup memuaskan? " Tanya Chacha pada Elang yang sibuk dengan kemudi mobilnya.
"Gue kira bakalan jadi manager doang. Gak taunya langsung wakil direktur" Chacha terkekeh mendengar protes Elang pada dirinya.
"Mana gak bisa nego lagi"
"Siapa yang jemput lo"
"Kak Shaldon sumpah dia ngajari ketat banget, belum lagi jadwal gue kuliah dengar ceramahan dosen pulangnya langsung disuguhi siraman rohani dari Kak Shaldon"
"Itu yang terbaik buat lo"
"Tapi kenapa gue di QI bukan di Izhaka? "
"Gue gak mau lo jadi incaran, setelah kasus gue lima tahun silam gue pastiin kalian semua tak baik-baik saja bukan"
"Ya teror demi teror berdatangan, bahkan mami sempat drop di rumah"
"Maafin gue ini semua salah gue"
"Bukan salah lo sepenuhnya, gue yakin hidup lo lebih berat dari kita yang disini" Chacha hanya menghela nafas.
__ADS_1
"Ke mansion Elang. Lo lupa gue bukan lagi bagian dari keluarga itu"
"Tapi, Cha... "
"Gue capek Elang biarin gue istirahat"
"Oke kita ke mansion"
"Lo gak ngasih tau kalo gue balik hari ini kan? "
"AS you wish"
"Good"
Suasana di dalam mobil hening. Chacha sibuk dengan ponselnya dan Elang sibuk dengan kemudinya. Perjalanan mereka kurang lebih sekitar lima belas menit lagi akan sampai.
"Cha"
"hmmm" Chacha hanya menggumam masih terfokus pada ponsel.
"Lo udah tau berita belum"
"Gue gak tau lima tahun gue gak pegang HP karena fokus pada tujuan gue. Baru kemarin buat hubungi lo. Jadi gue gak tau berita apapun"
"Ini soal Levy"
"Kenapa? " Chacha masih dalam mode tenangnya sedangkan Elang ketar ketir saat ingin bicara.
"Levy bertunangan"
"I know"Elang kaget dengan respon Chacha yang santai. Apa dia bilang tadi, dia tahu oh ya Tuhan.
" Darimana lo tau bukannya... "
"Anak buah gue ada di mana-mana jangan lupa. Gue tahu itu gue ikhlas. Gue bukan yang terbaik buat dia" Chacha mulai sendu.
"Makasih. Tapi tak perlu jika dia jodohku tanpa lo berbuat sesuatu pasti ada jalan buat kita balik lagi santai lah gak usah tegang"
"Tapi gue tau lo cinta sama dia, Cha. Maka dari itu... "
"Gue cinta tapi gak bucin, Elang"
"Ya gue kira lo bucin. Sama dia lo manja banget soalnya" Chacha hanya mengerucut kan bibirnya menanggapi Elang.
"Elang"
"Ya? "
"Gimana kalo tanpa sengaja gue malah manja ke lo"
"Maksudnya
"Lo tau sendiri gue sering tiba-tiba manja gak jelas dan... "
"Asal ke gue itu gak masalah. Setidaknya mulai sekarang gue bisa jaga lo. Sepupu kecil"
"Sepupu kecil apaan coba"
"Mereka semua menyebut mu nona kecil bukan? "
"Iya karena gue yang paling kecil saat itu"
"Mereka semua merindukan lo. Percaya deh"
"Gue percaya. Masuk dulu"
Mereka sampai di mansion tempat Chacha terusir dulu. Para pelayan menyambutnya dengan wajah sumringah akan kembalinya nona kecil mereka.
__ADS_1
"Nona kecil" salah satu pelayan menginterupsi langkah Chacha.
"Chacha kangen" berlari memeluk pelayan tersebut dan langsung dikerubungi oleh pelayan lainnya.
"Ini yang buat lo spesial Cha. Lima tahun gak buat lo berubah untuk tak membedakan derajat setiap manusia. Gue harap gak ada air mata lagi untuk kedepannya yang buat lo sedih"
Setelah acara pelukan ala teletubbies itu. Chacha berpamitan untuk mengganti baju terlebih dahulu ke kamarnya. Meninggalkan Elang di ruang tamu yang merebahkan dirinya di sofa.
"Bangun nih gue buatin yang seger-seger"
"Lo gak capek apa, Cha. Masih sempet buat ginian, harusnya lo istirahat di kamar lo"
"Gak tuh"
"Gak jetlag"
"Udah biasa" jawab Chacha terkekeh. "Dalam lima tahun gue sehari semalem bisa naik pesawat sampai tiga kali malahan"
"Gila lo"
"Kalo gue gila lo juga gila"
"Yang lain nanyain lo mulu" Elang mengganti topik pembicaraan sebelum terjadi debat unfaedah antara dirinya dan Chacha.
"Gue rindu mereka. Apalagi si petakilan itu" Chacha tertawa sendiri mengingat salah satu sahabatnya itu.
"Dia tumbuh menjadi gadis anggun setelah kepergian lo"
"Lo suka dia"
"Eh... mana ada"
"Gue dukung jangan disakiti"
"Biar ngalir dulu aja, apalagi dengan profesinya sebagai publik figur gue yakin gak gampang buat dia berhubungan dengan lawan jenis, atau gosip akan menerpa nya"
"I know. Dekati perlahan masalah gosip santai lah. Gue disini jangan lagi usik keluarga gue"
"Gue tau lo emang bisa diandelin dalam keadaan apapun. Gue bangga sepupuan sama lo"
"Ya harus dong"
"Nyesel muji gue. Cha apa kabar abang gue"
"Dua bulan lagi abang balik. Jadwalnya padat bulan ini" Elang hanya manggut-manggut. Jujur dia merindukan abang kandungnya itu.
"Soal nenek... "
"Aman"
"Kenapa gak bawa sekalian"
"Bawa kemana? "
"Pulang lah"
"Pulang kemana? "
"Lo ngeselin ya. Pulang kesini lah Cha"
"Nanti ada waktunya. Dah balek sono kerja yang bener gue gak mau perusahaan gue punya wakil direktur pemalas"
"Sepupu kampret"
"Gue istirahat dulu"
"Jangan lupa kabari yang lain"
__ADS_1
"Gue atur waktu buat ketemu nanti"