
Pagi ini Chacha sudah rapi dengan setelan casulnya. T-shirt berwarna putih menempel cantik dibadannya yang dipadukan dengan jaket berwarna hitam ditangannya. Celana jeans diatas mata kaki. Flat shoes yang membungkus kakinya menambah kesan manis pada dirinya.
"Cantik sekali anak Bunda, mau kemana? "
"Nganter Levy ke bandara, Bun"
Bu Ratu hanya manggut-manggut mendengar jawaban bungsunya. Chacha tak sarapan hanya meminum susunya lalu berangkat setelah berpamitan pada sang bunda.
Chacha mengendarai mobilnya membelah jalanan pagi ini dengan suasana hati yang tak menentu. Perasaannya tak karuan. Bukan karena ia akan berpisah dengan Levy. Ini tak ada hubungannya. Ia hanya merasa akan ada sesuatu yang besar akan terjadi. Tapi, dirinya enggan menanggapi rasa itu. Semua akan baik-baik saja. Itu pikirnya.
"Cha, lo gak papa kan? " tanya Karin setelah Chacha sampai di rumah Levy.
Ya. Mereka sudah sepakat untuk berkumpul di rumah. Dan Chacha termasuk yang terakhir datang.
"I am okay"
"Kalian pada duduk disini gak dibukain pintu sama tuan rumah? "
"Kita lagi nunggu tuan rumah ini"
"Lah emang Si Lele kemana? "
"Kagak tau, ditelfon dia bilang lagi dijalan katanya"
"Katanya siapa? "
"Cha, Lama-lama lo gue pites ya" jawab Karin dengan gemas.
"Apa salah dan dosaku sayang"
"Ya ampun mimpi apa gue semalem liat Chacha beginian"
Mereka masih saja ribut dengan hal-hal sepele. Tak lama setelahnya Levy datang.
"Lo darimana Sulaiman" tanya Kinos pada Levy.
"Sulaiman siapa, Nos? " tanya Zeze pada Kinos.
"Au ah gelap"
"Gak jelas lu"
"Darimana? " tanya Chacha penuh interogasi.
"Nganter oma dulu ke rumah tante" jawab Levy sambil mengusap rambut Chacha lembut.
"Mesra-mesraan tau tempat dong bos ku" sindir Putra.
Yang disindir hanya cuek bebek menanggapinya.
"Ayo berangkat, Lev. Lo bisa ditinggal pesawat" sering Fany.
"Koper lo mana? " tanya Nena yang sejak tadi lebih banyak diam.
"Di mobil, ayo"
"Lele se mobil bareng Chacha aja ya" pinta Chacha dengan puppy eyes-nya.
Levy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Gemas sendiri dia dengan pujaan hatinya bertingkah seperti itu.
"Aku bareng Elang"
Chacha mencebik. Tatapan matanya memancarkan kesedihan. Tapi ditutup dengan senyum manis dibibirnya. Chacha langsung masuk ke mobilnya dan menutup pintu dengan sedikit kasar.
"Lev, apa tak apa seperti ini? " tanya Elang.
"Gue gak mau liat dia nangis, Lang"
"Gue paham. Ayo ntar lo telat"
Setelah masuk ke mobil masing-masing. Mereka melaju menuju bandara. Hanya Chacha yang sendiri dengan mobilnya. Air matanya jatuh tanpa diminta.
"Rasa kehilangan ini hanya sementara, Cha. Percayalah" monolognya menenangkan diri.
Chacha tak mengerti mengapa batinnya tak tenang. Bukan karena Levy tak ingin semobil dengannya. Bukan. Tapi dirinya tak menampik kalau ia ingin satu mobil dengan Levy agar bisa menenangkan batinnya. Ia ingin menceritakan segalanya. Tapi sayang Levy menolak dan ia tahu apa alasannya.
"Kita antar lo sampai disini" ujar Elang setelah mereka turun dari mobil.
"Ya kali lo anter ke dalam pesawat" Levy menanggapi dengan candaan. Yang lain tertawa melihat ekspresi kesal Elang.
Chacha maju langsung memeluk Levy. Tak ada kata, Chacha hanya diam. Levy membalas pelukan Chacha.
__ADS_1
"I love you, my queen" bisiknya ditelinga Chacha.
"Sukses disana my lord" balas Chacha dengan berbisik pula.
"Jiwa jomblo ku meronta-ronta" Kinos dengan gaya lebaynya.
"Alay kampret" Putra menggeplak Kinos.
"Mimpi apa gue temenan sama lo, Nos" timpal Nena.
"Masuk gih ntar telat" ucap Chacha setelah melepaskan pelukannya.
"Ngusir nih ceritanya, entar kangen loh" goda Levy.
"Dah lah jadian woy jadian" provokasi Kinos.
Chacha hanya memutar bola matanya malas menanggapi candaan Kinos dan Levy. Andai Kinos tau kalau dirinya dan Levy sepasang kekasih pasti lain lagi ceritanya.
"Gue berangkat. See you on top, guys" pamit Levy
"Jangan nangis gembul"
"Levy" teriak Chacha ketika Levy lagi-lagi menggodanya.
"Levy tertawa sambil memeluk Chacha untuk terakhir kalinya. Benarkah ini terakhir. Batinnya menolak. Ia akan kembali dengan sejuta kejutan untuk gadis yang satu ini.
" Jangan lupa kabari kita, Lev" Elang mengingatkan saat Levy berpamitan dengan memeluk satu per satu sahabatnya.
"Chacha membuang nafas kasar saat tubuh Levy tak terjangkau penglihatannya.
" Cha... " Fany dengan lembut menyentuh pundak Chacha.
"Gue gak papa"
"Lo yakin? "
"Gue yakin. Ke rumah gue bantu gue hias rumah buat ultah Bunda besok"
"Yok lah, kita bantuin asal kita diundang"
cekrek...
"Ape lo foto-foto gue, ngefans ya? " Kinos memainkan alisnya.
"Ribut mulu. Gue kawinin tau rasa lo bedua" Lerai Chacha sambil berlalu masuk ke dalam mobilnya.
Zeze mendelik pada Kinos. Sedangkan Kinos hanya bengong menatap Chacha yang masuk mobilnya.
"Nos, lo mau balik apa kagak? " tanya Putra.
Kinos yang tersadar langsung menyusul masuk ke dalam mobil. Mereka menuju pusat perbelanjaan untuk membeli kebutuhan ulang tahun Bu Ratu.
...****************...
"Cha, lo gak kenapa-napa kan? " tanya Fany untuk kesekian kalinya.
"Gue gak papa, Fany" jawab Chacha seraya tersenyum.
Mereka tiba di rumah Keluarga Effendy menjelang makan siang.
"Kalian istirahat dulu disini, gue keatas bentar" ucap Chacha meninggalkan para sahabatnya.
"Fan, lo kenapa sih?" tanya Karin penasaran.
"Emang gue kanapa? "
"Dari tadi lo nanya Chacha dengan pertanyaan yang sama" yang lain hanya menyimak karena mereka juga penasaran.
"Entah, tapi gue rasa Chacha gak lagi baik-baik aja. Tatapan matanya tak seceria biasanya, senyumnya pun tak semanis biasanya"
"Gue rasa juga gitu. Tapi, kita bukan Levy yang dengan mudah menebak Chacha. Dia terlalu misterius buat kita pahami" tambah Elang. yang lain mengangguk setuju.
"Gosipin gue bayar limapuluh juta" seru Chacha sambil menuruni anak tangga dengan pakaian yang berbeda. baju tidur bergambar doraemon. Chacha terlihat seperti anak kecil, bukan remaja yang sebentar lagi akan berusia delapan belas tahun.
"Gue masak dulu buat makan siang, setelah itu kita kerja"
"Gue ikut"
"Ikut semua la, biar cepet kelar. Kalian para jantan tunggu disini aja ya"
"Dikira kita ayam kali" timpal Kinos pada Chacha.
__ADS_1
"Cha rumah sepi, tumben? " tanya Nena setelah mereka sampai di dapur.
"Bunda gak tau kemana, tadi pas berangkat masih ada. Ayah jam segini masih di kantor. Audy ntah ngelayap kemana tuh manusia"
"Si Mbok mana? "
"Si Mbok udah gak kerja lagi, udah tua kasian gue"
"Terus gak ada ART sekarang? " giliran Fany.
"Ada Mbak Marni, yang menurut kalender sekarang seharusnya Mbak Marni belanja bulanan" jawab Chacha santai.
Mereka meneruskan acara memasak untuk makan siang.
...****************...
Ruang Keluarga Effendy
"Yah besok kakak beli gaun buat pesta ulang tahun ya" pinta Audy pada Ayah Gun.
"Bunda beli juga sekalian ya" pinta Ayah Gun setelah mengiyakan permintaan Audy.
"Gak usah Yah, gaun Bunda banyak"
Tapi Bun... "
"Maaf Tuan Nyonya ada paket" Mbak Marni memotong pembicaraan Ayah Gun.
"Buat siapa? " tanya Ayah Gun.
"Punya Chacha kan Mbak? " tanya Chacha.
"Iya non"
"Siniin Mbak" pinta Chacha pada Mbak Marni.
"Abang bangun ih, mau buka paket" rengek Chacha pada Rey yang asik tiduran dengan paha Chacha sebagai bantalnya.
"Kan kan kalah, Adek sih" Rey bangun sambil menggerutu karena kalah bermain game.
"Bodoh amat ya, noob" ejeknya.
Chacha membuka paketnya dengan tergesa-gesa. Bukan karena penasaran tapi hal lain.
"Pelan-pelan aja dek" seru Bu Ratu.
"Kebelet pipis Bunda"
Tuk...
"Sana ke kamar mandi dulu" Rey menyentil jidat sang adik.
Chacha langsung lari ke kamar mandi tanpa memperdulikan teriakan sang Bunda yang menyuruhnya hati-hati.
Sedang di ruang keluarga Rey penasaran dengan isi paket langsung melancarkan aksinya.
"Rey tunggu yang punya paket dulu" tegur Bu Ratu.
"Penasaran Bunda" cengirnya.
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya Chacha kembali. Dirinya langsung membuka paket berbentuk kotak tersebut.
"Ini buat Bunda" Chacha menyerahkan isi paket pada Bu Ratu.
"Hadiah? "
"No, hadiah esok. Ini dipakai besok pada pesta ultah Bunda"
Bu Ratu membuka isi kotak yang disodorkan oleh Chacha. Setelah melihat isinya, matanya melotot tak percaya. Perasaannya campur aduk. "Bunda sudah tiga bulan yang lalu pesan gaun ini. Tapi sayang kehabisan stok"
Ya. Chacha memberikan sebuah gaun rancangan desainer terkenal yang dikenal dengan baju-bajunya yang selalu dibuat limited edition. Yang pasti dengan harga yang tak murah.
"Berapa Chacha beli Bunda ganti, nak"
"Chacha belikan itu buat Bunda tanpa minta ganti, sepatu dan lainnya besok dibawa sama orang butiknya kesini."
"Buat gue ada gak? " tanya Audy.
"Siapa lo minta-minta gue"
"Cha, sopan dikit sama kakaknya dong" tegur Ayah Gun.
__ADS_1
"Chacha ke kamar duluan. Goodnight Bunda, goodnight Abang" Chacha berlalu setelah mencium pipi Bu Ratu dan Rey. Ayah Gun hanya menatap bungsunya dengan tatapan tak percaya.