Call Me Queen

Call Me Queen
Kegelisahan Chacha 2


__ADS_3

Chacha masih duduk dengan wajah lelahnya setelah pesta berakhir. Beberapa anggota keluarga nya juga tampak masih berada di lokasi tempat acara gelar mewah tadi. Begitu juga para sahabatnya yang begitu setia mendampingi Chacha dalam setiap acara besar miliknya. Selain hadir sebagai sahabat, mereka juga merangkap sebagai bodyguard bagi Chacha. Meskipun mereka yakin jika Chacha mampu menghadapi musuhnya seorang diri dengan kemenangan di tangannya.


"Capek? " Levy mengelus lembut surai coklat istrinya.


Chacha mengangguk sekilas dengan senyum tipis di wajahnya.


"Mau pulang sekarang? " tawar Levy lagi.


"Anak-anak udah pulang? " tanya Chacha.


"Mereka dibawa oma dan opanya" jawab Levy tenang.


"Geffie mana, Rin? " Tanya Chacha pada Karin yang tengah bersantai itu.


"Diculik Kak Diva" jawab Karin enteng. Chacha hanya mengangguk pelan.


Diva adalah istri dari Erland atau lebih tepatnya kakak dari Elang, jika kalian lupa.


"Pucet amat lo, Cha. Sakit lo? " Tanya Zeze memiringkan kepalanya.


"Kecapekan gue, nyiapin ini acara buat jadwal tidur gue berantakan. Belum lagi kalau si kembar udah berulah" Chacha menggelengkan kepalanya ketika mengingat ulah si kembar.


"Biasalah Cha, namanya mereka juga kembar. Pasti ada aja kelakuannya" ucap Karin.


"Tapi Fany sama Zeze ini anteng banget kok orangnya, wajah mereka doang kembar, sikap kagak" celetuk Nena.


"Ya karena Fany emang pendiem dari kecil, sedangkan gue cukup lasak. Itu kenapa kita jarang adu mulut, karena kalau Fany gak niat ladenin ya gak bakal prahara antara gue sama kembaran gue ini" Jelas Zeze.


"Loh Chi. Yang ngawal anak-anak siapa? " tanya Chacha saat melihat Chiara bergabung bersama mereka.


"Hah? " Chiara membeo dengan wajah cengonya.


"Tenang sayang, mereka kan sama oma dan opa. Jadi mereka bertiga pasti baik-baik aja" Levy mencoba menenangkan sang istri yang mulai panik.


"Semoga saja, Mas"


"Pulang yuk, kamu lemes banget kayaknya"

__ADS_1


"Bentar lagi, aku mau salad buah yang tadi itu gak kebagian. Udah minta dibuatin kok gak selesai-selesai sih" gerutu Chacha dengan bibir mengerucut sebal.


"Mas cek lagi ya, kamu disini aja" Chacha hanya menganggap patuh dengan perintah suaminya.


Chacha menatap kepergian suaminya yang terus menjauh dari jangkauan indera penglihatannya itu. Matanya menatap satu per satu sahabatnya yang tengah asik bersenda gurau itu. Bahkan tak jarang tawa mereka terdengar begitu nyaring.


Chacha masih tidak menyangka jika dirinya akan membawa para sahabatnya hingga ke titik ini. Titik puncak kesuksesan yang sempat menjadi mimpinya dulu. Melihat bagaimana tekunnya keempat sahabatnya demi sebuah beasiswa, siapa yang akan menyangka jika mereka adalah gadis kaya yang dipaksa hidup sederhana oleh keadaan.


Chacha selalu berharap jika dirinya dan yang lain akan selalu seperti ini. Diselimuti bahagia dan canda tawa. Tidak ada pro dan kontra lagi kedepannya. Chacha akan memastikan seluruh musuhnya musnah sebelum dia membuka gerbang dunia baru untuk keluarga kecilnya. Itu adalah mimpinya bersama dengan Levy.


Tidak akan ada yang menyangka, jika ternyata sepasang suami istri yang merupakan pemimpin mafia ini diam-diam membasmi musuhnya tanpa menggerakkan anak buahnya. Banyak kelompok mafia yang ditumbangka Chacha bersama Levy. Chacha hanya tak ingin jika anaknya juga memiliki dendam atau bahkan terlibat dengan dunia bawah. Chacha akan mengupayakan agar anak-anaknya tidak terlibat dengan dunia gelap penuh dendam berselimut darah itu.


"Chi? " Chacha tiba-tiba memanggil Chiara yang tengah asik dengan ponselnya.


"Ya? " Chiara dengan sigap meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah Chacha.


"Caesar dimana? " Tanya Chacha. Entahlah tiba-tiba Chacha merindukan pria tampan berwajah dingin yang siap mempertaruhkan nyawanya itu.


Chacha mungkin dekat dengan anak buah yang lainnya. Namun, Caesar adalah orang yang paling memanjakan dirinya di circle C. Chacha, Chiara, Caesar, Charles dan Chila. Lima orang yang tidak boleh di singgung di dunia bawah. Chacha sang ketua dengan segala kemisteriusan yang dimiliki. Chiara sang sniper tanpa hati. Caesar tameng hidup Chacha yang sesungguhnya. Charles dokter hebat sedikit gila. Chila, hacker kecil didikan Chacha langsung yang sangat menakutkan.


"Lagi diperjalanan kesini" jawab Chiara heran, biasanya Chacha akan langsung menghubungi Caesar tanpa harus bertanya padanya.


"Chi? "


"Lacak si kembar dong, perasaan gue gak enak"


Deg


...****************...


"Oma, kelinci Kakak sudah besar loh" pamer Athaya memulai celotehannya di dalam mobil yang dikendarai Ayah Gun.


"Oh ya. Kakak hebat" puji Bu Ratu pada cucunya itu.


"Tapi kelincinya lebih suka sama Al daripada Kakak" ujar Athaya dengan raut sedihnya.


"Kalena Al itu lucu, makana kelinci Kakak mau sama Al" si montok memulai serangan dengan nada cadelnya. Mungkin dia memang cadel ketika berbicara menggunakan bahasa Indonesia, namun ketika menggunakan bahasa asing maka Aleta adalah juaranya.

__ADS_1


"Lucu, kelinci Kakak lebih lucu" Athaya tak segan lagi untuk menoleh pada kembarannya itu.


Bu Ratu dan Ayah Gun mulai menghela napas pelan. Jika keduanya sudah mengibarkan bendera perang, maka harus segera dilerai sebelum perang itu meledak.


"Lucu Al, makana kelinci Kakak suka Al. Al itu cantik, imut, lucu makana kelinci Kakak suka Al. Al juga yang seling kasih kelinci Kakak makan, main sama kelinci. Kakak gak pelnah main sama kelinci, jadi Kakak gak diakui" oceh Aleta dengan kalimat yang cukup panjang.


"Tapi itu punya Kakak, kamu main sama cici aja jangan dekat-dekat kelinci Kakak lagi" Aleta mengerucutkan bibirnya sebal.


"Cici lagi pacalan, Al dicuekin telus" keluhnya pada Athaya.


"Hahaha, kasian" Athaya malah tertawa keras mendengar keluhan sang adik.


"Ih jahatna sama Al"


Puk..


Aleta terpantau memulai perang dengan saudara kembarnya. Bahkan gadis cilik itu tak segan untuk memukul kepala sang kakak.


"Aleta, gak boleh cantik. Itu Kakak kamu, gak boleh asal pukul, gak sopan sayang" peringat Bu Ratu lembut.


"Kakak nakal, Oma. Al itu lagi sedih, Kakak malah teltawa" Jelas Aleta yang tak mau dituduh bersalah.


"Baperan" ejek Athaya.


Paringi kuat liat kelakuan si kembar gusti. Batin Bu Ratu melihat tingkah cucu kembarnya. Diam-diam Bu Ratu melirik ke arah Akmal yang tampak diam melihat interaksi kedua kembarannya itu.


Kalian memang lucu, tapi kelakuan kalian sering bikin Opa sakit kepala. Batin Ayah Gun.


Puk...


"Abang, Athaya pukul Ale" Aleta merengek pada Akmal yang tengah menoleh ke jendela itu.


"Kakak" peringat Akmal ketika Aleta menyebut Athaya tanpa embel-embel kakak, membuat gadis kecil itu mengerucut sebal. Sedangkan Athaya tersenyum mengejek pada Aleta.


"Apa liat-liat, Al tau Al itu cantik... "


Brughh..

__ADS_1


"Kalian gak papa? " tanya Bu Ratu pada ketiga cucunya saat mobil yang mereka tumpangi seperti sengaja ditabrak dari belakang.


__ADS_2