
"Kenapa Mas? " Tanya Chacha saat melihat suaminya malah terlentang diatas kasur.
Pasalnya Chacha meminta Levy untuk mandi terlebih dahulu sebelum bertemu dengan anggota keluarga lainnya yang berada di ruang tamu. Sebelum si montok bangun, karena bisa dipastikan jika Aleta bangun, dia akan menempel layaknya lem pada sang papa.
"Pening Sayang" Levy masih enggan membuka matanya.
"Kamu sih, udah Chacha ingetin, jangan kerja dulu" Chacha memulai omelannya pada sang suami.
"Kerjaan numpuk sayang, kamu tahu sendiri selama hilang ingatan Mas gak ke kantor" Jawab Levy dengan suara pelan.
"Mana penting sih kerjaan sama kesehatan kamu? " Tanya Chacha menatap Levy dengan sinis.
"Mas kan harus nafkahin kamu sama anak-anak" Levy masih mengeluarkan pembelaannya rupanya.
"Gak usah banyak alasan, tanpa kerja kamu masih bisa nafkahin aku sama anak-anak sampek lima tahun kedepan. Gak usah drama" Chacha menatap suaminya sengit.
"Perusahaan bisa tutup kalau Mas gak kerja sayang, kasian mereka yang kerja sama kita"
"Terus kamu anggap aku ini apa? Patung liberty yang gak bisa dimintai tolong. Atau patung sura dan baya yang cuma buat pajangan doang. Setidaknya buat aku berguna jadi istri kamu, Mas"
Levy hanya terdiam dan menunduk. Percuma melawan Chacha saat ini dia tidak akan menang. Chacha dalam mode kesal seperti ini akan lebih meluap-luap dari pada mode emosi.
Chacha menarik dan menghembuskan nafasnya pelan. Kesal pada sang abang malah membuatnya mengomeli suaminya yang jelas-jelas sedang tidak enak badan.
Chacha maju dan duduk di samping Levy dengan ekspresi sendu. Levy tersenyum tipis saat melihat ekspresi istrinya, dia tahu Chacha sedang merasa bersalah kali ini. Levy mengelus pelan rambut Chacha.
"Kenapa, hmm? "
"Maafin Chacha" Lirihnya.
"Gak papa kok sayang. Mas tahu kamu kesel, harusnya Mas juga bisa jaga kesehatan sama atur jadwal kerja Mas biar gak padat"
"Tapi aku daritadi ngomel-ngomel"
"Gak papa loh, kamu lucu kalau lagi ngomel"
"nggak usah mulai deh, Mas. Ayo aku bantu ke kamar mandi"
__ADS_1
"Mau mandi bareng? " Tanya Levy sambil menaik turunkan alisnya.
"Gak usah banyak tingkah, mumpung Aleta belum bangun mandi dulu. Ingat udah punya buntut tiga, tolong bersikap layaknya papa yang membanggakan di depan anak-anak, Mas. Jangan bucin depan mereka" Pinta Chacha.
"Itu pasti sayang, Mas tahu bagaimana cara bersikap didepan anak-anak"
"Mau dibantu ke kamar mandi apa nggak ini? " Tanya Chacha memastikan.
"Siapin baju aku aja, sekalian mandiin anak-anak aja. Pengasuh mereka pasti masih jetlag. Gak papa kan sekarang mandiin mereka sendiri? " Tanya Levy.
"Ini momen yang aku tunggu" Jawab Chacha sambil tersenyum dan mengecup singkat pipi Levy.
Chacha bangkit dari duduknya dan langsung menyiapkannya baju ganti untuk Levy setelah selesai mandi. Setelahnya dirinya langsung keluar dari kamar dan menemui si kembar.
"Aku harap kamu bahagia selalu sayang. Aku pastikan tak ada rintangan lagi untuk kebahagiaan keluarga kecil kita nantinya" Ucap Levy pelan tepat setelah Chacha keluar dari kamarnya.
*
Di ruang tamu suasana sudah berubah, dari yang tadinya begitu mencekam karena amarah kini berganti rasa haru dan bahagia yang dirasakan keluarga itu.
"Weh, dokter cantik udah baikan sama pawang gilanya" Chiara tiba-tiba bersuara entah darimana.
Dokter Nisa hanya tertawa pelan saat melihat interaksi antara dunia dan Chiara itu. Karena adalah bodyguard yang Chacha utus untuk menjaga dirinya tepat setelah dirinya resmi menjadi istri King. Chiara tahu semua cerita rumah tangga King dan Dokter Nisa, namun dengan rapi dia menutup mulutnya, bahkan dia juga tidak berceritalah apapun pada Chacha. Chacha murni tahu sendiri dengan usahanya menyadap ponsel sang Abang dan mengambil alih beberapa rekaman CCTV apartemen sang abang.
"Maaf ya Bang Nial yang emosian tapi sayangnya ganteng. Bos aku itu Queen, bukan Abang. Jadi jangan memerintah" Ejek Chiara.
Yang lain hanya bisa menahan senyum melihat interaksi Chiara dengan King. Chiara yang dulu menjadi rival Chacha disekolah, siapa yang akan menyangka jika gadis ini akan dekat dengan keluarganya.
"Chiara? " Panggil Bastian.
"Bah" Chiara menoleh ke arah Bastian, tampak Bastian menganggukkan kepalanya sedikit. "Aman. Udah kirim kode ke Queen kalau berkas itu sudah di kirim ke markas utama" Jawab Chiara.
"Kalian ada masalah lagi? " Tanya Tuan Ibra.
"Tidak ada, Pa. Hanya pengumpulan berkas kasus lama, bagaimanapun itu harus tersimpan dengan rapi, jika suatu saat ada yang berani bermain dengan penerus muda, mereka gak berani mengelak" Jelas Bastian lancar.
Padahal sebenarnya bukan itu yang dirinya tanyakan pada Chiara lewat kodenya. Namun berkas lain yang saat ini penting untuk misi Chacha selanjutnya. Ini masih menjadi salah satu batu sandungan kebahagiaan Chacha, jika bisa menumpas habis kenapa harus tersisa.
__ADS_1
"Cha? " Panggil Bu Ratu saat melihat putrinya berjalan ke arah dapur.
"Iya, bunda panggil Chacha? " Tanya Chacha mendekat ke arah bundanya.
"Abang kamu memutuskan untuk memulai lagi rumah tangganya" Jelas Bu Ratu karena si bungsu tadi tidak ada saat King dan Dokter Nisa mengambil keputusan.
"Udah tau, Kak Nisa kan bucin dari lama sama Abang. Abang juga diem-diem stalking Kak Nisa, cuma bejatnya aja lagi keluar. Otak dan hatinya gak sinkron jadi gitu. Pengen ngatain takut kualat" Ucap Chacha lalu berlalu dari ruang tamu, melanjutkan langkahnya ke arah dapur
Yang lain hanya bisa tertawa mendengar perkataan Chacha, Chiara adalah orang yang tertawa paling keras.
"Kamu bisa persiapkan pernikahan kamu dan calon istri mu, Rey" Perintah Ayah Gun.
"Kita tinggal urus berkas aja, Yah. Chacha udah handle semuanya" Jawab Rey mantap.
"Bajunya gimana? Masa adik kamu juga yang urusin, adik kamu gak pegang usaha desain loh" Ucap Bu Ratu.
"Bunda kemana aja, Chacha udah lama punya butik" Jawaban Rey sukses membuat yang lain melongo tak percaya. Sedetik kemudian berubah menjadi tatapan ngeri pada Chacha. Anak itu benar-benar menguasai bisnis dunia. Usianya masih begitu muda, tapi dengan mudahnya dia melebarkan sayapnya di dunia bisnis yang begitu kejam.
"Se-serius? " Kali bukan Bu Ratu yang bertanya namun Ratih. Reyhan dan Shaldon kompak mengangguk.
"Bukannya Mami sama Bunda juga jadi member VIP butiknha Chacha ya, Queen Boutique" Jawab Rey semakin membuat Bu Ratu dan lainnya melotot tak percaya.
Queen Boutique milik Chacha mampu bersaing dan menjadi butik besar dalam waktu singkat. Bahkan mampu menempatkan namanya bersanding dengan butik kelas atas lainnya. Hasil karya yang selalu fresh dan unik selalu menjadi ciri khas tersendiri dari Chacha. Belum lagi pakaian yang dibuat selalu limited edition, membuat banyak sosialita dari berbagai kalangan rela memesan jauh-jauh hari dengan harga fantastis.
"Chia" Panggilan Chacha pada Chiara langsung membuat fokus mereka menatap Chacha dengan pandangan yang berbeda-beda.
"Ya Queen" Chiara langsung berdiri dengan tegak.
"Ke ruang tengah, ada yang mau dibahas bareng yang lain" Chiara langsung mengebor Chacha dibelakangnya.
Sesampai di ruang tengah Chacha langsung duduk di sofa tunggal yang tersedia. Sambil menatap para anak-anak yang bermain pikirannya berpikir kemana-mana.
"Ada apa Queen? " Tanya Chiara.
"Perketat penjagaan Bunda. Turunkan anak buah Pandu untuk itu, ingat hanya menjaga. Tidak melakukan apapun, hanya memangau saja. Apapun yang terjadi sama Bunda biarkan saja. Musuh mulai nampak ke permukaan, sepertinya mereka mengincar Bunda. Dan kita gunakan Bunda sebagi umpan"
"Bagaimana dengan keselamatan Bunda? " Tanya Karin.
__ADS_1
"Anak buah Pandu tau apa yang harus dilakukan. Tambah anak buah lo untuk memantau jalanan yang sekiranya bakal Bunda lewati, bekerjasama dengan Chika untuk hal ini"
"Baik Queen"