
"Chi, lo bujuk pakai apaan tuh anak bisa klarifikasi dengan cepat? " Tanya Fany.
Kali ini mereka kembali berkumpul di rumah megah bak istana milik Chacha dan Levy. Mereka berkumpul karena permintaan sang Queen. Belum lagi kebiasaan mereka setiap weekend memang akan berkumpul dimana saja.
"Dia mah di ancam dikit udah ngibrit, apalagi liat Papi marah besar" Jawab Chiara seadanya.
"Udah gue duga sih, kalau Pak Narendra bakal marah besar. Kok bisa ketahuan gitu si Angel, kayaknya dia main rapi deh? " Nena tampak penasaran.
"Dia jadi kekasih salah satu ketua mafia. Ingat waktu di desa, yang kita di serang. Nah itu suruhan Angel karena kalah popularitas sama Karin. Ujungnya kemarin dia nyekap gue, ya meskipun gue akui kalau dihadapkan dengan obat-obatan gue kalah" Terang Chiara.
"Wah tuh anak minta kenalan sama senjata gue kali" Gerutu Karin.
"Udah, yang penting sekarang hubungan Queen sama Levy aman. Dia juga dikurung sama Papi gak boleh kemana-mana. Lagian kariernya juga hancur kan, setelah konferensi pers yang dia lakukan. Berasa aneh sih, tiba-tiba skandal dia muncul semua gitu"
"Gak usah lo pikirin, Chi. Balasan buat dia" Jelas Fanny yang diangguki oleh Chiara.
"Ini udah kumpul semuanya? " Tanya Chacha sambil menuruni anak tangga.
"Wah, basah tuh rambut, habis gelud bu bos? " Goda Karin saat melihat rambut Chacha tergerai basah.
"Emmm, gelud bareng si kembar di kamar mandi" Jawab Chacha seadanya. "Tumben sendiri-sendiri, jantan kalian kemana? " Tanya Chacha saat melihat hanya kumpulan para wanita ditempat itu.
"Bentar lagi nyusul kita berangkat duluan, si kembar mana? "
"Ada di kamarnya, lagi ganti baju. Ikut gue ke ruang kerja" Chacha berjalan mendahului sahabatnya.
Mereka hanya mengangguk patuh dan mengikuti Chacha dibelakangnya. Jujur awalnya mereka akan berkumpul di rumah pasangan Elang dan Karin. Namun, malamnya Chacha langsung memberi kabar jika berkumpul dirumahnya lagi. Mereka hanya patuh mengikuti perintah sang Queen.
Sesampainya di ruang kerja Chacha, mereka langsung mendudukkan diri mereka di sofa yang ada di sana. Lagi-lagi mereka dibuat takjub dengan interior ruang kerja Chacha. Ini tak kalah dengan ruang kerja di perusahaan, biasanya ruang kerja dirumah itu cukup sederhana. Namun, ini jauh dari kata sederhana.
Setelah selesai mengagumi ruang kerja milik Chacha, kini mereka fokus pada sang pemilik ruangan yang tengah fokus di depan laptop miliknya.
__ADS_1
"1 bulan lagi pengangkut gue sebagai ahli waris dari keluarga Izhaka. Gue mau kalian jaga di pos kalian masing-masing" Chacha dalam mode seriusnya berbicara pada para sahabatnya.
"Rin, kalau lo tugas, Geffie gimana? Karena otomatis Elang juga ada di sana? " Tanya Chacha.
"Gue aja yang ganti posisi Karin, Queen. Kalau Elang di sana tapi Karin tidak di sana akan membuat opini baru Queen. Elang bagian dari Izhaka, sedangkan Karin adalah istrinya" Jelas Chiara panjang lebar.
Karin hanya diam, harusnya dia memang bertugas. Namun, bagaimana dengan anaknya. Lagipula ini bersangkutan dengan keluarga Izhaka, keluarga sang suami. Dia dilema, antara keluarga dan tugas.
"Berarti gue harus pakai caesar sebagai pengendali jarak jauh" Chacha terdiam memikirkan semuanya. "Oke, gak papa" Ucapnya lagi.
"Berarti gue ubah cara kerjanya. Chiara pantau dari ketinggian. Karin ada di dalam gedung, hadir di acara sekaligus mantau keadaan dengan kalian bertiga. Pandu akan memimpin pasukan buat pengamanan. Anak buah Chiara akan bekerja dibalik layar. Anak buah Fany dan Zeze akan dibawah pimpinan Pandu. Anak buah Nena akan berjaga di dalam"
"Jangan lupa untuk menggunakan gaun yang tidak menghambat pergerakan kalian nantinya. Jangan lupakan juga senjata kalian. Fany dan Zeze masih tetap menjadi penyerang depan kita. Nena, amankan seluruh keluarga gue termasuk anak-anak. Nanti gue kirim rute pelariannya"
"Nena akan melindungi dari jarak aman, Karin tugas lo adalah mengamankan mereka dari jarak dekat. Jadilah petarung jarak dekat kita sementara waktu, lo sama Elang dapat bagian itu"
"Kalian tenang saja, kalian hanya akan bergerak ketika Black Rose mulai kewalahan"
"Itu akan susah Queen. Karena rencana penyerangan tidak hanya satu kelompok, kemungkinan ada kelompok lima yang cukup beberapa kelompok kecil yang telah berlian dengan kelompok besar tersebut" Chiara mulai angkat bicara.
Chacha tampak diam, pikirannya merangkai rencana baru. Perang bisa jadi pecah saat malam itu tiba. Mungkin dia siap, lalu bagaimana dengan keluarga nya. Karena Chacha bertekad akan menuntaskan ini sendirian.
"Hubungi Babah, minta seluruh ketua dari setiap kelompok mafia di sana berangkat dua minggu lagi. Mereka yang akan bertugas disini" Perintah Chacha pada Chiara.
Lainnya melotot tak percaya, Chacha menurunkan seluruh anggota terbaiknya untuk mengamankan acara tersebut.
"Mereka akan mengamankan acara? " Tanya Fany dengan nada tak percaya.
"Tidak" Jawab Chacha cepat.
"Lalu? "
__ADS_1
"Mereka akan menjaga keluarga ku. Effendy, Izhaka dan Rahardian akan berkumpul menjadi satu di rumah ini. Mungkin keluarga Anderson juga, mereka akan mendapat pengamanan dari anak buahku"
"Berarti Karin dan Nena akan mengarahkan keluarga ku langsung melesat ke rumah ini ketika penyerangan itu terjadi"
"Jaga diri kalian baik-baik ketika perang pecah nantinya. Karena Caesar tidak akan memantau kita dari jarak jauh, dia akan menjaga si kembar. Chiara kemungkinan akan turun juga dari posnya" Jelas Chacha.
"Lalu siapa yang akan berdiri sebagai sniper kita? " Tanya Karin.
"Mungkin sniper dari Blood Rose bisa kita andalkan"
"Kenapa tidak biarkan mereka bertarung saja, Chiara tetap di posisi sniper" Tawar Fany.
"Tidak, Chia partner gue nantinya"
"Suami lo jadi pajangan? " Tampak Chacha menghela napas panjang.
"Gue yakin dia bakal turun tangan. Gue bakal pakai gedung QI Hotel buat acara itu. Ballroom di sana luas jadi kita bisa leluasa menghadapi mereka. Soal Levy dia sudah dapat bagiannya sendiri"
Mereka menarik dan membuang napas secara bersamaan. Jantung mereka cukup berdebar. Bukan satu atau dua kelompok yang akan mereka hadapi. Namun, kurang lebih sepuluh kelompok yang akan menyerang mereka secara langsung. Belum lagi mereka harus mengamankan para tamu yang kemungkinan juga akan banyak.
Jika saja Chacha menurunkan seluruh anak buahnya, mungkin para musuhnya akan cepat ditumbangkan. Namun, Chacha malah memilih pertumpahan darah karena mengingat perlakuan mereka pada neneknya. Chacha pernah meminta jalur damai, bahkan dirinya merelakan apa yang mereka cari. Namun, dasarnya para mafia itu licik, mereka tidak percaya pada Chacha yang notabene nya masih muda dan menurut mereka masih terlalu dini berkecimpung dalam dunia bawah itu. Padahal, Chacha bahkan telah bergabung dan memimpin organisasi saat masih dalam usia anak-anak dulu.
"Bagaimana jika mereka datang di saat tamu masih banyak? " Tanya Nena.
"Kalian bisa mengalihkan perhatian mereka terlebih dahulu, pasangan kalian bisa mengkoordinir itu semua nantinya. Gue yakin, jika Kinos dan Putra bisa gue andelin"
"Jadi gue sama Nena menetap di rumah ini? " Chacha mengangguk.
"Karena gue yakin, mereka akan menyerang ke sini juga. Selain ada kalian gue merasa disini akan aman karena Caesar dan anak buah gue yang lain ada disini. Utamain keselamatan anak-anak terlebih dahulu" Karin mengangguk mendengar ucapan Chacha.
"Lebih jelasnya lagi gue bakal kasih instruksi pagi sebelum acara di mulai"
__ADS_1
"Baik Queen"