
Malam ini tepat resepsi pernikahan Audy, masih bertempat di mansion Izhaka. Mansion tersebut dihias semewah mungkin, karena dirinya merupakan sosialita jadi jika hanya resepsi yang biasa pamornya akan turun. Itu pikirnya. Apalagi dengan statusnya sebagai salah satu cucu keluarga Izhaka dirinya semakin mengangkat dagunya tinggi.
Namun lain halnya dengan beberapa gadis di satu kamar terluas di mansion itu. Mereka malah sibuk membujuk salah satunya yang enggan beranjak dari tempat tidur, padahal lainnya sudah berpakaian rapi.
"Ayo dong, Cha"
"Molor mulu ini anak dari tadi"
"Heran gue, ini juga pesta kakaknya, ya meskipun dia ogah dateng"
"Tapi setidaknya dia kan setor muka gitu" mereka berempat hanya bisa beradu argumen mereka saat melihat usahanya gagal saat menyadarkan Chacha dari alam mimpinya.
"Minta bantuan siapa kita nih enaknya? " tanya Fany.
"Nenek aja kali ya"
"Yakin? Kalo saran gue sih mending Levy aja panggil kesini. Toh para jantan udah pada dateng semua. Mereka kumpul di bawah"
"Kenapa Levy? "
"Inget gak pas kejadian di resto yang dia molor"
"Gue inget"
"Ya udah gue telfon si gunung es itu dulu"
Tak lama setelah Karin menelfon, pintu diketuk dari luar. Zeze langsung sigap membukanya. Diluar pintu menampilkan dua sosok pemuda dengan ketampanannya masing-masing.
"Kenapa Karin minta Levy dibawa kesini? " tanya Elang pada Zeze. Mereka masih berada di depan pintu.
"Udah masuk aja dulu" mereka masuk sesuai instruksi Zeze.
"Lev, bangunin itu anak satu suruh mandi terus siap-siap" perintah Fany.
"Udah kalian coba bangunin? "
"Udah, bukan bangun malah nyenyak. Dikira kita lagi ngedongeng kali sama ini anak"
"Dari jam berapa dia tidur? "
"Sekitar dua jam yang lalu"
Levy mendekat ke arah kasur yang sedang Chacha tiduri. Dirinya malah melepas jas yang dipakainya, dan menyisakan kaos putih yang mencetak tubuh atletis nya.
__ADS_1
"Lo mau ngapain, Lev? " tanya Elang dengan nada tinggi. Levy hanya menaikkan sebelah alisnya lalu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Masih ada dua jam lagi acara di mulai. Kalian kalau mau bantu diluar silahkan, gue numpang istirahat disini bentar" lalu merebahkan tubuhnya di samping Chacha.
Yang lain melongo tak percaya dengan apa yang dilakukan Levy. Bahkan yang membuat tak percaya lagi, setelah Levy mengelus kepala Chacha yang sedang terlelap. Chacha malah merapatkan tubuhnya untuk menempel ke arah Levy. Lebih tepatnya memeluk Levy. Seakan menemukan kenyamanan yang hilang. Bahkan Levy tanpa memperdulikan keterkejutan para sahabatnya, dengan santainya dirinya memejamkan mata, menyusul sang istri ke alam mimpi.
Setelah beberapa saat mereka tersadar dari rasa terkejut yang menimpa. Jika mereka berdua berlaku mesra itu masih dalam tahap wajar dalam pikiran mereka. Namun ini sudah lebih intim, pikiran mereka malah berkelana kemana-mana.
"Gue rasa kita ketinggalan satu informasi penting" Fany langsung bersuara.
"Emmm gue juga"
"Mau kita pisahin apa gimana ini? "
"Pisahin mereka belum halal buat tidur seranjang berdua" sinis Elang.
"Ya udah lo tarik Levy biar berjarak dengan Chacha, kita bakal letak guling di tengah-tengah mereka" usul Nena.
"Ya udah ayo"
Elang mulai menarik Levy agar sedikit menjauh dari Chacha. Namun bukannya terlepas Chacha malah mempererat pelukannya pada Levy. Itu sukses membuat Elang cemberut. Para sahabatnya yang lain juga terdiam. Pasalnya mereka berdua tidur seakan sadar. Mereka tertidur dan tak terganggu dengan kehadiran orang lain, namun sadar jika mereka akan dipisahkan secara otomatis mereka akan semakin merapat.
"Gue iket lama-lama ini anak" kesal Elang.
"Justru karena dewasa, Ay. Apalagi Levy masih tunangan orang"
"Makanya Lang, kalo kita lagi ngumpul lo ikutan, paling nggak hadir secara virtual"
"Lo kira rapat, pake virtual segala" sarkas Elang pada Nena.
"Bener kata Nena loh, Ay. Kamu itu ketinggalan berita"
"Berita apa? "
"Si gunung es ini udah bubaran sama ulet keket macam Angel itu" jelas Karin.
"Kok aku gak tau, Ay? "
"Makanya lo kalau kita ngajakin kumpul, luangin waktu. Apa gunanya asisten sama sekertaris lo, kalo gak bisa lo tinggal barang sejam doang"
"Bukan gitu, Ze. Lo tau sendiri gue kerja sama Chacha. Bukan perusahaan gue sendiri, gue gak mau dibilang ini itu karena gue sepupu pemilik perusahaan"
"Udah Ay kok malah curhat sih. Wajar kalau kamu gak tau, karena si ulet keket itu gak mau ngumumin kalau dia itu batal tunangan sama Levy"
__ADS_1
"Kenapa? "
"Karier dia bisa merosot goblok. Katanya wakil CEO kok lelet"
"Ini kenapa jadi ajang ngejek gue sih"
"Lo lelet Elang"
"Sekarang kita mau apa ini? Mau keluar apa nunggu dua anak itu bangun buat kasih penjelasan ke kita? " tanya Elang.
"Jangan menuntut mereka berdua untuk menjelaskan sesuatu" jawab Fany.
"Kenapa? "
"Gini loh Ay. Chacha pasti memiliki pemikiran dan pertimbangan tertentu dalam mengambil sebuah keputusan, jadi kita lebih memilih untuk bersabar menunggu Chacha memberitahu kita sendiri apa yang selama ini dia sembunyikan. Dia juga udah janji dimalam pernikahan kita nanti, dia akan memberi tahu apa yang kita ingin ketahui"
"Uhh, gadis petakilan ku sudah mulai bijak ya" goda Nena. Mereka tertawa dengan keras melihat Karin yang mendelik sinis pada Nena.
Tanpa mereka sadari tawa mereka membangunkan salah satu manusia yang tertidur di kasur. Dia terduduk mengumpulkan semua nyawanya yang belum kembali. Saat melihat kesamping tempat tidurnya, dirinya cemberut. Pantas saja tadi dirinya merasa mendapat kenyamanan saat tidur namun tak lama, saat tiba-tiba kehangatan yang sering ia rasakan menjauh, ternyata ada guling yang memonopoli.
"Kurang keras kalian tertawa" sinis Chacha sambil menyandarkan bahunya pada sandaran kasur dibelakangnya.
"Eh, lo udah bangun, Cha? " tanya Karin.
"Kalian ketawa terlalu kenceng, gue kebangun"
"Ya udah mending lo sekarang mandi terus siap-siap" Chacha malah mengambil ponselnya dan mengetik dengan cepat.
"Dia kapan tidur disini? " Chacha malah mengabaikan ucapan Zeze.
"Kurang lebih empat puluh lima menit yang lalu" Chacha mengangguk lalu berjalan ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian dirinya keluar dengan baju santainya membuat yang lain melongo tak percaya.
"Cha, lo gak bakal gabung kali ini? " tanya Elang hati-hati.
"Gabung, waktunya masih lama juga, gue gak harus dandan cantik-cantik, ntar malah dikira gue pengantinnya lagi" Chacha malah menjawab Elang dengan candaannya.
Chacha berjalan kesamping Levy yang masih terlelap dengan memeluk guling. Satu kata yang terlintas di pikiran Chacha. Menggemaskan. Levy terlihat sangat lembut dan terkesan imut saat terlelap menurutnya. Berbeda ketika dirinya membuka matanya, tatapan yang dingin dan tajam selalu membuat siapa yang melihatnya membeku. Wajah datar dan flat itu membuat dirinya seakan tak tersentuh.
"Mas" Chacha dengan lembut menepuk pipi Levy agar terbangun dari tidurnya.
"Mas? " kompak ketiga gadis saat melihat cara Chacha memanggil Levy.
__ADS_1