Call Me Queen

Call Me Queen
Tim Elit


__ADS_3

"Untuk apa kamu minta Shiro kumpulin tim obat dan racun? " Tanya King setelah Shiro keluar dari ruangan tersebut.


"Ada sedikit urusan"


"Jangan macam-macam Queen, Abang tau persis siapa kamu"


"Ya, lalu kenapa Abang bertanya jika sudah tau"


"Kamu sedang hamil Queen, jangan macam-macam" Peringat King tegas. "Lev larang istri kamu"


"Abang tenang saja, istriku tau apa yang harus dia lakukan" Jawab Levy santai.


"Aku hanya akan membuat perencanaan saja, Bang. Aku akan terjun setelah melahirkan nanti. Kini hanya akan membahas bahan apa saja nanti yang akan aku buat. Abang tau bukan, jika aku selalu membutuhkan bahan-bahan langka untuk setiap obat dan racun yang aku produksi" Jelas Chacha panjang lebar membuat kegelisahan di hati King memudar.


"Tetaplah hati-hati dek. Kau akan bermain ke kandang musuh"


"Masih lama. Nanti aku juga akan memakai anggota Black Rose. Jadi Abang pasti tau bagaimana rencana aku"


"Jadi bagaimana? "


"Belum tahu, aku aja belum mikir mau gimana ke depannya"


"Abang getok juga kamu lama-lama" Chacha hanya nyengir kuda melihat ekspresi kesalahan di wajah sang abang.


Chacha lalu beralih ke kumpulan orang tua di ruangan itu. Mereka masih terdiam, mereka shock terlebih lagi nyonya besar Izhaka. Dirinya tak menyangka jika sang cucu memiliki tim obat dan racun sekaligus. Karena biasanya para mafia hanya memiliki satu kemampuan. Jika tak memiliki tim obat, maka mereka akan memiliki tim racun. Tapi cucunya malah memiliki keduanya. Pantas saja jika banyak yang mengatakan cucu manisnya itu kejam.


Jika bertanya pada pebisnis makan Chacha akan dikenal sebagai Ratu bisnis. Tapi, jika kau bertanya pada musuh. Maka dia akan di kenal sebagai Ratu kematian.


"Kakek, nenek, oma, opa bukan maksud Chacha mengusir atau apa. Tapi lebih baik kalian istirahat di rumah saja. Biarkan kami yang muda-muda yang menjaga Bunda" Ucap Chacha pelan dan lembut.


"Iya, Pa. Mendingan papa istirahat di rumah saja. Nanti kalau ada perkembangan apapun dari Ratu, Gun janji bakal telfon Papa" Tambah Ayah Gun.


"Jangan membantah lagi kakek ku yang tampan. Kakek harus istirahat, ini demi kesehatan kalian juga. Apa kalian mau saat cucu kalian lahir malah tak bisa melihatnya karena sakit? " Tanya Chacha dengan wajah yang dibuat cemberut.


"Baiklah-baiklah, memang susah jika sudah berdebat dengan bocah satu ini" Balas Tuan Ibra.


"Kakek, Chacha bukan bocah lagi ya. Bentar lagi jadi mama loh, masa di panggil bocah mulu" Chacha merajuk dengan mengerucutkan bibirnya. "Mas, aku dikatain bocah sama kakek" Adunya pada Levy.


"Sini" Levy menarik Chacha ke dalam dekapan hangatnya. Chacha menjulurkan lidahnya untuk meledek kakeknya.


"Om sama tante mendingan nginep di rumah oma sama opa deh, daripada pulang ke rumah kalian cukup jauh kan" Usul Levy pada Frans.


"Kita pulang ke rumah aja, Lev. Besok anak-anak sekolah, lagian ini juga belum terlalu malam kan. Jadi kita sampai rumah juga gak bakal larut" Jawab Fitri.


"Ya sudah kalau itu mau tante, nanti aku kirim pengawal buat ngawal tante sama om"

__ADS_1


"Gak usah lah Lev. Ngerepotin aja"


"Gak papa, om. Buat jaga-jaga aja"


"Sudahlah, benar kata Levy Frans. Buat jaga-jaga aja, biar mama pulang sama Lenardi dan Lena saja. Lagian kamu lebih jauh" Putus opa.


"Kami pulang dulu ya, nak"


"Hati-hati dijalan semuanya"


Satu per satu dari mereka memeluk Chacha secara bergantian. Ditambah dengan wejangan-wejangan tentang kehamilannya. Karena bagaimanapun Chacha hamil kembar tiga, bukan perkara mudah.


Sebenarnya Chacha dan Levy akan mengantar keluarga besar Rahardian sampai di lobby rumah sakit, namun mereka menolak melihat Chacha yang seperti kesulitan berjalan karena kandungannya. Jadilah mereka hanya mengantar sampai pintu.


"Kakek sama nenek gak mau istirahat di rumah aja? " Tanya Chacha saat melihat dua pasang generasi pertama itu masih duduk santai di atas sofa.


"Kita nginap disini saja, nak. Nenek gak tenang kalau di rumah nanti"


"Ya sudah, aku minta tambahan bed dulu biar kakek sama nenek bisa istirahat nyaman"


"Biar aku aja, kamu duduk disini aja atau gabung sama mereka aja" Cegah Levy saat melihat istrinya hendak melangkahkan kakinya.


"Ke ruangan Kak Shiro aja, Mas. Biar nanti Kak Shiro yang urus" Levy hanya mengangguk dan meninggalkan ruangan.


"Audy mana? " Tanya Chacha karena sejak dirinya masuk tadi, tak nampak batang hidung kakaknya itu.


"Iya Mi. Kalau cuma periksa harusnya gak selama ini"


"Atau jangan-jangan dia malah melahirkan? "


"Gak mungkin, Mi. Kalau melahirkan pasti menantu pertama Mami bakal hubungi Chacha, ini gak ada tuh. Palingan juga ngemil tuh anak" Jelas Chacha.


"Semoga aja"


"Chacha ke temen-temen dulu ya" Chacha langsung melangkahkan kalinya ke sofa sebelah, tempat para sahabatnya berkumpul.


"Bang pindah dari sana, Abang ngapain duduk terus di sana. Kasian noh Ayah, mulai tadi cuma liatin doang karena ada Abang di samping Bunda" Tegur Chacha pada King.


King hanya menoleh ke arah Chacha, kemudian ke arah sang ayah. Barulah dia bangkit dan bergabung dengan kakek dan neneknya.


"Rin bagi salad buahnya dong" Pinta Chacha saat mendudukkan pantatnya di samping Karin.


"Tuh ambil, yang itu belum tersentuh" Tunjuk Karin pada sekotak sedang salad buah yang ada di meja. Dengan sigap Chacha langsung membuka dan memakan isinya.


"Di tim kalian ada tim obat atau tim racun? " Tanya Chacha pada para sahabatnya.

__ADS_1


"Gue tim racun" Jawab Fany.


"Gue juga" Jawab Zeze.


"Gue tim obat" Jawab Nena.


Kenapa Karin tak menjawab, karena Karin seorang sniper. Jadi dia tersembunyi jarang sekali dia dalam bahaya.


"Siapkan tim kalian, besok gue adakan rapat besar di markas. Kalian boleh ikut" Mereka mengangguk setuju.


"Gue ngapain? " Tanya Karin.


"Makan aja deh lo, bumil diem deh" Ujar Zeze.


"Lo lupa, nih anak malah mendung tiga bocil dalem perutnya, gue cuma satu. Kenapa malah khawatir sama gue kalian pada" Seru Karin.


"Chacha apa yang harus di khawatirkan. Keselamatan dia? Gue yakin tim elit miliknya stand by 24 jam buat jagain dia. Meskipun kita gak tau siapa aja tim elit Chacha, tapi gue pastikan kalau kita gelud bareng mereka. Sekali pukul kita kalah" Terang Nena.


"Ya nggak gitu juga lah. Terus kalau kalian sekali pukul kalah, buat apa kalian dilatih gue secara langsung? " Tanya Chacha sambil memasukkan satu sendok salad buah ke mulutnya.


"Kita insecure aja, Cha. Kita niatnya mau ngelindungin lo, tapi kok malah kita yang sering di lindungi" Ucap Fany.


"Kenapa kalian gak dapet tugas buat jaga gue? Karena kalau jaga gue itu lebih bahaya. Mereka yang jaga gue gak bisa gerak dari tempatnya secara leluasa. Mereka tim elit milik gue, hanya gue dunia mereka. Mereka akan terbebas dari tugas ketika memastikan semua musuh gue ada dibawah kendali gue. Bahkan ketika gue istirahat pun, mereka akan tetap berjaga"


"Serius? " Chacha mengangguk.


"Kedengeran nya emang wow jika masuk tim elit. Namun tahukan kalian jika masuk tim elit, kalian hilang tak akan dicari, mati pun tak akan dihiraukan ataupun ditangisi. Kejam memang, tapi itulah sebenarnya dunia kita, dunia yang kalian masuki. Kenapa kalian dan mereka berbeda. Karena kalian masih memiliki keluarga dan tujuan hidup. Sedangkan mereka memilih fokus dan menjadikan gue dunia mereka. Permata mereka. Berlian mereka"


"Latihan mereka juga lebih berat dari kalian. Mereka berlatih layaknya anggota militer tersembunyi milik negara kita. Mereka gue didik buat bisa bertempur dalam keadaan apapun. Karena apa? Kalian tahu sendiri kadang tugas datang tanpa melihat waktu. Kadang hujan badai pun jika tugas sudah datang kita harus tetap menjalankannya"


"Kenapa gue tugas kan kalian cuma buat nanganin penangkapan koruptor, napi dan lainnya. Bahaya itu sudah cukup buat kalian jantungan bukan? " Mereka mengangguk serempak.


"Itu saja sudah buat kalian jantungan, apalagi ikut terjun ke tim elit. Gue jamin kalian akan mati berdiri. Mereka hanya kenal dua kata, terbunuh atau membunuh. Jika kalian memilih terbunuh ditangan musuh, tak akan ada yang membalas dendam. Karena itu murni perang"


"Mafia disini dengan mafia yang gue pimpin di luar negeri beda. Disini kita main kucing dan tikus, petak umpet istilahnya. Di luar negeri sekali adu tembak, bom yang kita lempar bukan lagi main senapan. Itu kenapa gue santai meskipun ada yang di sandera. Kalau di luar negeri negosiasi tergolong baik, tapi sekalinya kalian berbuat curang makan balas dendam akan lebih mengerikan dari yang kalian bayangkan"


"Suatu saat kalian akan bertemu dengan tim elit milik gue"


"Kapan? " Tanya mereka kompak, membuat Chacha terkekeh.


"Tunggu gue diculik dulu"


"Itu mustahil, ditambah tim elit selalu mantau lo" Ucap Fany diangguki yang lainnya.


"Meskipun mereka tau gue diculik, mereka akan diam di tempat tanpa pergerakan. Mereka akan bergerak setelah dapat kode dari gue"

__ADS_1


"Hah? " Mereka melongo. Segila ini sahabatnya.


__ADS_2