
Chacha menggeliat kan tubuhnya, namun dirinya merasa sesuatu yg cukup berat menimpa perutnya. Belum lagi hembusan nafas teratur yang terasa di leher bagian belakangnya. Chacha tak ingin menduga-duga, perlahan tapi pasti dirinya mengangkat tangan yang melingkar di perutnya, lalu meletakkannya di kasur secara perlahan pula.
Chacha duduk di tepi kasur untuk melihat siapa yang menemaninya tidur. Saat menoleh dirinya menghembuskan napas lega, ternyata suaminya sendiri. Dipandangnya wajah lelaki yang beberapa hari lalu menyandang status sebagai suaminya itu. Terlihat guratan lelah di wajahnya, perlahan Chacha menyentuh kepala Levy. Mengelus lembut rambutnya, namun siapa sangka jika kegiatan Chacha membuat si empu terbangun.
"Sudah bangun? " tanya Levy dengan suara seraknya, khas orang bangun tidur.
"Emm" Chacha hanya bergumam menjawab pertanyaan Levy.
Levy mengangkat kepalanya dari bantal, berpindah ke pangkuan Chacha. Membiarkan sang istri mengelus kepalanya. Levy malah asik menggesekkan wajahnya pada perut rata milik Chacha.
"Geli, By"
"Maaf, Yang"
"Kenapa? "
"Gak papa, aku janji bakal selesaikan masalah ini secepatnya"
"Itu terserah padamu, By. Aku hanya minta ketika aku kembali dari Manhattan, pastikan aku mendapat kabar baik"
"Setelah kamu kembali dari Manhattan kita umumkan pernikahan kita" Chacha hanya mengangguk menanggapi perkataan Levy.
"Ambilkan ponsel aku, Yang" Chacha meraih ponsel Levy yang tergeletak di samping bantalnya.
"Mau ngapain? "
"Ngecek kerjaan bentar, Yang. Aku gak mungkin ninggalin perusahaan gitu aja Aku harus tetap pantau meskipun dari jauh" Chacha mengangguk lagi, dirinya pun sama dengan Levy.
"Aku udah transfer ke rekening kamu, Yang"
"Transfer apa? Buat apa? "
"Uang belanja kamu, Sayang"
"Kayak aku gak ada uang aja, By"
"Itu nafkah dari aku, Sayang. Jangan ditolak ya"
__ADS_1
"Iya iya"
"Kalau kurang bilang, Yang" Chacha hanya terkekeh mendengar perkataan Levy. Ayolah bahkan dirinya juga kebingungan bagaimana cara menghabiskan uangnya, kali ini ditambah dengan bulanan dari Levy.
"Berapapun yang kamu kasih itu udah aku anggap rejeki aku, By. Aku gak bakal minta harus berapa uang belanja aku tiap bulan, rejeki kamu berapa ya itu rejeki aku sebagai istri kamu" ucap Chacha lembut.
"Kalau misal aku gak bisa kasih uang bulanan ke kamu gimana? "
"Berarti belum rejeki kita, By. Dalam rumah tangga bukan cuma menyatukan dua rasa, By. Tapi menyatukan dua perbedaan, dua kekurangan, dan dua kelebihan. Bagaimana cara kita menyikapi setiap masalah yang kita hadapi nanti, itu tergantung pada diri kita masing-masing, By. Aku sebagai istrimu, hanya bisa mengikuti apa yang kamu perintahkan, karena kamu pemimpin ku sekarang, kamu yang bertanggung jawab atas ku sekarang, lahir dan batinku adalah tanggung jawab mu, By"
"Aku janji akan jaga kamu dengan jiwa raga aku, Yang. Kamu boleh kasih hukuman apapun pada ku, jika aku lalai menjaga perasaan dan ragamu. Tapi satu ku pinta, Yang. Jangan pernah hukum aku dengan pergi menjauh, karena mungkin aku bisa... " Chacha meletakkan telunjuknya didepan bibir Levy, menggeleng pelan.
"Aku tak akan menjauh, kecuali dirimu yang meminta ku untuk menjauh, By. Terbuka lah padaku, By. Agar aku dapat melihat semua keluh kesah mu, agar aku memahami setiap kemauan mu, By" Levy mengangguk mendengar penuturan sang istri.
"Satu hal, By. Tegur aku jika aku salah menurut mu, By. Jangan kau berpikir takut menyakiti perasaanku, karena jika kau biarkan, aku akan tetap ada pada kesalahan. Itu adalah langkah awal menghilangkan keharmonisan rumah tangga, By"
"Sebaliknya, Yang. Jangan ragu untuk menasehati dan menegurku jika aku melakukan kesalahan. Karena aku tak ingin menyakitimu, jangan pendam semuanya sendiri. Kini aku adalah suamimu, temanmu, sahabatmu atau aku bisa berperan sebagai kakak mu. Aku akan menempatkan diri sebaik mungkin disisi mu"
"Rumah tangga yang sehat itu karena ada kesadaran dari kedua belah pihak, By. Dimana kita saling terbuka, memecahkan setiap masalah yang datang bersama, mengahadapi segala rintangan bersama. Bertengkar itu wajar, By. Karena itu bumbu dalam berumah tangga, tapi kembali lagi, bagaimana cara kita menyikapi itu semua. Aku bisa jadi air juga bisa jadi api, By"
"Ketika kamu menjadi air maka padamkan api emosiku, begitupun sebaliknya ketika kamu marah biarkan aku yang memadamkan api amarahmu dengan air kasih sayangku. Mulai saat ini aku akan lebih terbuka padamu, Yang"
"Aku selalu bersabar, Sayang"
"Orang sabar gak bakal ninggalin pacarnya tunangan" sindir Chacha membuat Levy gelagapan sendiri.
"Jangan dibahas atuh, Yang" mohon Levy dengan wajah memelas.
"Selesaikan dengan cepat, By. Gak ada istri yang rela suaminya disentuh wanita lain. Percayalah By, jika kamu melihat istrimu tampak lembut ketika di rumah, coba hadapkan dia pada sesuatu yang bisa membuat dirinya terancam dia akan menjadi singa betina, bahkan bisa lebih ganas"
"Satu contoh? "
"Cobalah kamu berciuman dengan Angel dihadapan ku, By. Jika kau ingin tau siapa aku, By" Levy dibuat merinding dengan permintaan Chacha yang satu ini.
"Aku masih sayang nyawa, Nyonya Muda Rahardian" Chacha tersipu malu saat Levy memanggilnya nyonya muda.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Ketikan pintu membuat mereka berdua mengalihkan pandangannya. Sedangkan Levy hanya menautkan alisnya tanda tak suka.
"Siapa pula yang ganggu ini, gak tau orang lagi uwu-uwuan apa didalam" gerutu Levy sambil bangkit dari pangkuan Chacha.
"Uwu-uwuan apaan sih, By. Perasaan kita cuma ngobrol doang deh"
"Tapi posisi kita kan romantis, Yang"
"Terserah kamu deh, By. Udah sana bukain pintunya, keburu di dobrak entar"
"Nanti kita sambung keuwuan yang sesungguhnya ya, Sayang" goda Levy pada Chacha.
Chacha hanya memutar bola matanya malas menanggapi godaan suaminya itu. Dirinya tak habis pikir, bagaimana sikapnya berbanding terbalik dengan biasanya. Biasanya dia selalu berlaku dingin, arogan dan tak tersentuh, kecuali dengan orang-orang terdekatnya saja. Tapi ini apa, ketika bersamanya Levy menjadi manja dan banyak bicara.
Levy yang membuka pintu kaget mendapati Umi nya dan Pandu yang berada didepan kamarnya.
"Ada apa Umi? "
"Chacha di dalam? " Pandu langsung bertanya. Levy hanya mengangguk saja. Karena Pandu sudah tahu status mereka saat ini.
"Ayo keluar, bulan madunya dilanjut nanti saja. Sekarang kalian butuh asupan" ejek Pandu.
"Bulan madu gundul mu"
"Sudah-sudah kalau lanjut kalian bisa debat ini. Ayo, Le, ajak Chacha keluar ini hampir jam makan siang. Kamu sama Chacha juga melewatkan sarapan kalian kan" Levy menepuk jidatnya.
"Levy lupa kalau belum sarapan, Umi" akibat kantuk dirinya bahkan melewatkan sarapan paginya.
"Ya sudah ayo ajak Chacha keluar, makanannya udah kita tata di ruang tamu. Ajak sekalian yang lain, Le. Umi ke belakang dulu" Levy hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar lagi guna memanggil sang istri, meninggalkan Pandu di depan pintu kamar.
...****************...
Jangan lupa Like, coment dan vote ya readers tersayang. Like kalian sama saja menghargai karya author, komentar kalian itu layaknya pil penyemangat buat author.
Jangan lupa kritik dan saran, author akan Terima apapun kritik dan saran dari kalian, tapi author harap dengan bahasa yang nyaman digunakan ya.
Jangan jadi ghost reader sayang.
__ADS_1
See you next chapter all ❤