Call Me Queen

Call Me Queen
Tangan Sialan


__ADS_3

King jengkel setengah mati pada adik iparnya itu. Bagaimana bisa Levy bersikap begitu santai bahkan sampai mengedipkan matanya. King tak habis pikir dengan jalan pikiran adik iparnya itu.


Berbeda dengan King, berbeda pula dengan keempat sahabat Chacha. Mereka menangkap sinyal tak beres dari Levy. Mereka berempat melihat bagaimana raut wajah Levy berubah menjadi datar setelah mengeluarkan sikap tengilnya. Selain Chacha mereka dan para pasangannya cukup tahu bagaimana sosok Levy selama ini.


"Untung adik ipar, minta dipites itu anak" Gerutu King.


"Gak usah pikirin Levy, harusnya lo bisa nangkap hal aneh dari dia" Ujar Rey.


"Maksudnya? " King bingung dengan ucapan yang terlontar dari bibir sepupunya itu.


"Kalau sampai Chacha tahu lo kagak peka sama sinyal yang dibawa Levy, lo bisa ditendang dari kursi kepemimpinan Black Rose, King. Lo kagak liat bagaimana setelah ekspresi Levy setelah bersikap tengil barusan" Ucap Rey, dan mendapat celengan dari King.


"Kagak bakal ngeh Bang, secara Bang Nial sekarang bucin akut sama bininya" Ejek Karin membuat King menoleh ke arahnya.


"Bocil sok tahu" King mendengus mendengar perkataan Karin.


"Bocal bocil bocal bocil, mama muda nih bos, senggol dong" Karin memulai kegilaannya.


Ketegangan yang sedikit mencair karena ulah Karin itu terpaksa terhenti saat rombongan keluarga Rahardian masuk kedalam kediaman Effendy. Bahkan sang tuan rumah masih melongo bingung saat besan mereka bertandang ke rumahnya.


"Kedatangan kesini bermaksud menjemput si kembar" Lenardi membuka pembicaraan karena keadaan tiba-tiba berubah canggung.


"Tumben om, biasanya juga aman-aman aja kalau si kembar main disini" King mengerut heran saat mendengar si kembar akan dijemput.


Brak...


Belum sempat Lenardi menjawab pertanyaan King, dobrakan keras pada pintu utama membuat mereka kaget. Disusul dengan mata mereka terbuka lebar melihat apa yang masuk kedalam rumahnya.


"Bunda" Teriakan kencang memenuhi lantai bawah kediaman Effendy.


Keluarga Rahardian bergidik ngeri melihat kondisi nyonya rumah itu. Bisa dikatakan Bu Ratu dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa dibilang baik-baik saja jika memar dimana saja, bahkan tak urung ada darah yang mulai mengering.

__ADS_1


King dan yang lain mengepalkan tangannya karena sudah berjanji untuk tak bergerak apapun yang terjadi. Karena Chacha selalu memperhitungkan segalanya, dan benar saja. Bebeala detik setelahnya anak buah Karin melaporkan jika pergerakan mereka dipantau oleh beberapa sniper sekaligus. Mereka semakin menahan kekesalannya kali ini. Mereka tak bisa bergerak sembarangan karena takutnya mengancam nyawa Bu Ratu.


"Hohoho Gunawan, bagaimana rasanya melihat istri tercinta mu kayak gini" Orang itu, orang yang membawa Bu Ratu dengan keadaan yang memprihatinkan tampak mengenal Ayah Gun. Namun sebaliknya Ayah Gun malah mengernyit bingung, seolah tak mengenal nya.


"Ini pertemuan pertama kita, kenapa kamu menyerang istri ku? " Tanya Ayah Gun berusaha tenang, sedikit banyak dia mulai tahu bagaimana cara kerja dunia kekerasan yang sering dibuat arena bermain oleh kedua anaknya itu.


"Istri? Hahahaha" Orang itu tertawa begitu keras. "Istri ya? Jika dia istri mu, lalu kenapa bisa ada wanita lain yang mengandung anak mu? " Tanya nya dengan nada yang bermain-main.


Ayah Gun mematung ditempatnya sejenak. Sedangkan Audy sudah menegang ditempatnya. Bukankah berita itu sudah Chacha bersihkan, lalu sekarang apa? Badan Audy sedikit bergetar karena terlalu cemas.


"Itu hanya masa lalu, dan istri ku juga sudah mengetahui hal itu" Jawab Ayah Gun enteng. Padahal dirinya sedang melawan rasa kesal dan takut akan istrinya dicelakai lagi oleh mereka. Namun, kode dari sang putra tak bisa membuatnya bergerak sesuai keinginannya.


"Oh ya, baik sekali wanita mu ini. Bagaimana jika dia jadi wanita ku saja? " Ucapnya sambil mengelus wajah Bu Ratu yang menampilkan ekspresi marah, Bu Ratu tak bisa bersuara karena mulutnya di lakban.


"Jangan sentuh istri ku" Suara besar Ayah Gun menggelegar memenuhi ruangan.


"Kenapa? Kau bahkan menyentuh hingga menghamili wanita ku. Kenapa aku tidak boleh melakukan hal yang sama. Oh, ayolah dude" Bu Ratu tampak memejamkan matanya menahan amarah karena orang itu terus menyentuhnya.


"Atau kau malah ingin melihat wanitamu ini mendesah dibawah ku? " Ucapnya sambil terkekeh pelan.


Ayah Gun hendak maju, namun langsung King tahan. Tidak, ayahnya tidak boleh bergerak sembarangan. Para sniper itu mengarahkan senjatanya pada Bu Ratu. Bisa dipastikan jika Bu Ratu akan langsung tewas saat itu juga.


"Kau marah? Ya kau boleh marah silahkan, tapi apa kau tau, Gun. Aku juga marah"


Plak...


Semua orang memejamkan matanya saat pipi Bu Ratu ditampar begitu keras.


"Kau mengambil wanitaku, menghamilinya dan mengambil anaknya. Kau tahu dia hancur, Gun" Audy menegang ditempatnya, dia tak bodoh jika anak yang dimaksud adalah dirinya.


"Jika aku biarkan putri ku bersamanya, aku takut dia malah menjadi ja*ang seperti dia" Ayah Gun mulai memainkan perannya setelah King menepuk bahunya dua kali.

__ADS_1


Kini para sahabat Chacha mulai mengambil langkah perlahan. Tak apa mereka sekarang bergerak dengan tangan kosong. Bukankah anak buah mereka sedang bersembunyi, dan mereka berharap Levy segera turun atau Chacha segera tiba.


"Dan kau apa kau tau, Gun. Dia juga membawa calon anakku bersama laki-laki lain, sialnya dia menikah dan menjadikan anakku sebagai anaknya"


"Lalu hubungannya dengan aku dan istri ku apa? Dia yang membawa kabur anak mu, kenapa istriku yang jadi sasaran kemarahan mu itu? "


"Karena dia trauma, dia takut aku juga membawa kabur anaknya seperti yang kau lakukan, brengsek"


Ayah Gun mendapat kode lagi dari King untuk memainkan emosi lawan. Menarik nafas sebentar sebelum kembali bersuara. Sedangkan yang lain hanya bisa tutup mulut. Apalagi anggota keluarga Rahardian yang melihat Levy dari lantai dua memberi kode agar diam dan tak ikut campur.


"Harusnya kamu meyakinkan dia, kalau kamu tak brengsek seperti ku. Atau kau malah lebih brengsek dari ku? " Ayah Gun terkekeh setelah mengatakan itu.


"Ya aku akui aku lebih brengsek dari mu, tapi anak mu juga tak kalah brengseknya dari mu. Dia bahkan membawa ja*ang favorit ku dan membakar club milikku"


"Lalu urusannya dengan ku? Sekalipun dia anakku, aku tak pernah tahu sepak terjang dia seperti apa"


"Kau memang ayah yang buruk atau jangan-jangan kau juga suami yang buruk. Bagaimana kalau kita buktikan? " Orang itu tersenyum miring.


"Buktikan? " Beo Ayah Gun.


"Dilihat-lihat istrimu ini cantik juga. Wanitaku kalah cantik darinya, tak dipungkiri kulitnya juga halus" Orang itu kembali mengelus pipi Bu Ratu.


"Jauhkan tangan kotor mu itu dari istri ku" Teriak Ayah Gun sambil melangkah maju.


"Majulah Gun, atau kau akan melihat istrimu mati tepat di depan matamu" Orang itu tampak mendekap Bu Ratu, namun tangannya meletakkan sebilah pisau di leher Bu Ratu.


Ayah Gun langsung menghentikan langkahnya saat melihat pisau yang menempel di leher istrinya. Nafasnya tercekat saat melihat berkaca-kaca.


King dan Rey menghentikan pergerakannya saat melihat sang bunda ditodong. Namun mereka juga sedikit menghela napas lega saat Karin sampai dibelakang musuh. Karin tak menyadari jika saat ini seluruh moncong senjata mengarah kepadanya.


"Tolong jauhkan tangan sialan mu itu dari malaikat ku"

__ADS_1


__ADS_2