Call Me Queen

Call Me Queen
Petunjuk Semesta (Revisi)


__ADS_3

Setelah puas dengan acara belanjanya, Karin melajukan mobilnya menuju rumah yang Levy belikan untuk Chacha. Rumah berlantai dua dengan desain minimalis. Bernuansa gelap, seperti kegemaran Chacha.


Chacha memang tak membawa mobil karena tadi dia diantar oleh Levy. Setelah meet up bersama empat sahabatnya, Chacha dan Karin memisahkan diri untuk berbelanja. Sedangkan yang lainnya langsung kembali ke tempat mereka bekerja masing-masing.


Karin melirik ke arah barang belanjaan yang menggunung di jok belakang. Itu adalah barang Chacha hasil menjarah toko tadi. Bagaimana tidak, Chacha hampir memborong seluruh daster yang ada di sana. Karin memang pecinta shopping, namun jika melihat cara Chacha berbelanja dia hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar. Sultan emang beda.


"Lo perlu gue bantuin buat nurunin belanjaan sebanyak ini gak? " tanya Katin, pasalnya dia sedang malas turun karena capek mengikuti berputar-putar tadi.


"Tenang gue udah panggil bala bantuan" ucap Chacha dengan menaik turunkan alisnya.


Tampak disana Levy sedang membuka pintu pagar rumah mereka. Levy terlihat segar dengan polo shirt berwarna navy ditambah celana selutut nya. Dengan senyum langkanya dia menyambut sang istri yang baru turun dari mobil Karin.


Tanpa malu, Levy langsung menghadiahi Chacha ciuman mesra sambil memeluk posesif pinggang rampung itu. Chacha ikutan terhanyut dengan permainan suaminya hingga melupakan Karin sejenak.


Karin sendiri tampak biasa saja melihat keromantisan dua orang ini. Menurutnya tak ada yang salah dari mereka, mereka pasangan suami istri yang sah. Tempatnya juga sepi. Jadi Karin hanya pura-pura sibuk bermain ponsel.


Apa yang lo raguin dari Levy, Cha. Batinnya bertanya.


Karin merasa prihatin melihat Levy yang acapkali mencuri ciuman dari Chacha. Karin membuka kaca mobilnya ketika dua manusia lupa diri itu malah terus mengabaikan dirinya.


"Duh ile, berasa dunia milik berdua kali. Yang lain mah ngontrak sama lo pada" sindir Karin dengan nada menggoda.


Mereka melepas pagutannya. Wajah Chacha tampak memerah karena malu, sedangkan Levy sendiri menanggapinya dengan acuh. Bukan hal yang mengagendakan jika melihat tanggapan Levy.


"Gimana hari ini? Had fun? " tanya Levy saat mengintip ke dalam, dan melihat tas belanjaan yang menggunung disana.


"Oh, we have a lot of fun, you might get some too.. " ucap Karin sambil mengangguk-angguk kepalanya berlebihan. Mereka berdua mengernyitkan kening melihat keanehan Karin kali ini. Tapi mereka memilih mengabaikannya.


"Hampir semua tas belanjaan itu punya aku" cicit Chacha. Dia menunggu respon Levy seperti apa.


Levy hanya menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. Lalu tersenyum mengejek kemudian.


"Jiwa shopping nya lagi kumat ya, Yang? "


Chacha melongo dibuatnya. Sedangkan Karin sudah terkikik geli melihat ekspresi di wajah Chacha.


Levy langsung mengambil barang belanjaan Chacha dibantu Karin. Setelah semuanya diturunkan oleh Levy. Mereka mengobrol sebentar.


Tatapan mata Karin mengatakan bahwa dirinya kasihan pada Levy, dapat dilihat saat mereka berbicara Levy sering mencuri kecup pada Chacha.


Hingga akhirnya Karin berpamitan pulang tanpa menerima ajakan Levy untuk sekedar mampir.


"Mau nyobain baju baru, hehehe" Alasan Karin menolak ajakan Levy untuk mampir. Pikiran Chacha langsung tertuju pada tumpukan lingerie yang Karin beli tadi.


Sedangkan di dalam mobil, Karin senyum-senyum sendiri. Dirinya melirik satu tas pakaian dalam yang berisikan semua daster milik Chacha, karena Karin sudah menukar isinya. Sejauh ini rencananya aman bukan.


"Best of luck bro.. "

__ADS_1


...****************...


Levy meletakkan tas belanjaan Chacha di atas kasur. Levy melihat Chacha menghempaskan tubuhnya ke sofa yang ada di dalam kamar mereka.


"Mau aku pijitin, sayang? " tawar Levy bak angin segar di telinga Chacha. Namun, kesadarannya masih terjaga sepenuhnya jadi dirinya lebih memilih menolak.


"Aku mau langsung mandi aja deh, biar seger. Lengket juga seharian main sama Karin" Chacha berdiri di tempatnya. "Kamu udah makan belum, Mas. Kalau belum mau aku masakin dulu? "


"Makan kamu aja boleh nggak? "


"Mulai deh"


"Nggak deh. Udah kok, tadi mampir kesini bawa makanan dari oma. Itu masih ada mau aku panasin? "


"Nggak, aku mandi aja dulu"


"Aku disini, kalau butuh apa-apa tinggal teriak aja" Chacha mendelik sinis menatap Levy yang tersenyum menggoda.


Chacha masuk ke dalam kamar mandi dengan keadaan cemberut. Levy terus menerus menggoda nya. Sembari membuka bajunya, Chacha memikirkan Levy yang selama ini dengan sabar tak menuntut dirinya untuk memenuhi kewajiban nya di atas ranjang.


Chacha memilih mandi langsung dibawah guyuran shower daripada harus berendam. Itu akan semakin lama pikirnya. Di tengah-tengah guyuran air, pikiran Chacha kembali lagi pada Levy. Bagaimana jika Levy tak sabar menunggu dirinya siap dan malah mencari kepuasan di luaran sana. Membayangkan ini saja sudah membuat darah Chacha mendidih.


Namun, Chacha sendiri masih takut akan sakitnya berhubungan untuk pertama kalinya. Tapi logikanya mengatakan, jika memang melakukan hubungan itu menyakitkan. Mengapa banyak yang melakukannya hampir setiap hari, bahkan ada yang sampai berselingkuh?


Chacha segera menyelesaikan mandinya, jika berlama-lama di kamar mandi pikirannya akan semakin kemana-mana. Kegiatan mandi adalah salah satu kegiatan yang membuat otak kita travelling kemana-mana.


"Bego banget sih lo, sekarang gimana coba keluarnya. Mana disini cuma ada handuk kecil lagi"


Chacha masih terus mondar-mandir di dalam kamar mandi, memikirkan bagaimana caranya dirinya keluar. Baju yang tadi dia pakai sudah di masukkan ke keranjang kotor.


Levy yang diluar mengernyit bingung. Hampir satu jam Chacha di dalam. Dia heran, karena Chacha tak biasanya mandi selama ini. Karena khawatir Levy memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang" panggilnya.


Didalam Chacha terlonjak kaget mendengar suara Levy.


"Aduh gimana ini"


"Sayang? "


"Iya Mas? "


"Kamu gak papa kan, kok lama banget sih? "


Chacha hanya diam bagaimana cara menjawabnya. Namun memang dasarnya otaknya pintar maka ada saja ide yang terlintas di pikirannya.


"Sayang? "

__ADS_1


"Emmm, Mas. Boleh minta tolong gak? "


"Minta tolong apa? Beli pembalut atau apa? "


"Ambilin baju aku, dong. Aku lupa bawa baju ganti hehehe"


"Di dalam lemari? "


Pertanyaan Levy langsung membuat Chacha berpikir untuk menolak. Tidak, bisa berantakan jika Levy yang mengambil didalam lemari.


"Ambilin yang baru aja, Mas"


"Gak usah di cuci dulu ini? "


"Kata tokonya udah di cuci kok, Mas. Jadi bisa langsung di pake"


"Sebentar ya"


Levy langsung meraih satu tas belanjaan Chacha dan mengambil isinya. Saat mengeluarkan isinya Levy melotot kaget melihat apa yang dipegang.


Ini kan lingerie. Batinnya bermonolog.


Pikirannya berkecamuk sekarang, gak mungkin kan Chacha memberikan sinyal dengan menyuruh mengambil baju gantinya yang ternyata sebuah lingerie. Levy ingat jelas ekspresi kesal Chacha saat masuk ke dalam kamar mandi.


"Mas cepet dong, aku dingin ini"


Levy menelan ludahnya kasar, nafasnya naik turun. Dia menggelengkan kepalanya saat bayangan Chacha menggunakan kain tipis itu hinggap di pikirannya.


"Mas"


"Bentar" Chacha menangkap ada yang aneh dengan suara Levy. Makin dia memilih mengabaikan.


Levy masih terus mencari dan membuka seluruh isi tas belanjaan Chacha. Namun hasilnya semunya adalah lingerie, tidak ada daster ataupun piyama yang seperti Chacha gunakan.


"Mas? " Teriak Chacha tak sabar, karena dirinya sudah benar-benar kedinginan.


"Yang warna maroon bukan, Yang? "


"Iya iya yang yang itu"


"Yakin yang ini, Yang? "


"Iya Mas. Udah siniin. Aku dingin ini" Chacha mengeluarkan sedikit tangannya melalui pintu.


Levy memejamkan matanya sambil memberikan lingerie itu pada Chacha. Levy mondar-mandir di dalam kamar guna menenangkan dirinya yang terus memberontak untuk merengkuh Chacha dibawah tubuhnya. Belum lagi pikirannya tentang Chacha yang menggunakan lain tipis itu terus hadir. Kepalanya terasa pening saat ini.


Di dalam kamar mandi Chacha melongo sambil melebarkan apa yang Levy berikan kepadanya. Tak mungkin jika Levy sengaja memberikan ini padanya. Karena Chacha tak memiliki koleksi lingerie barang satu buah pun. Ini pasti ulah Karin, pikirnya.

__ADS_1


Karin sialan. Batinnya mengumpat.


__ADS_2