
Angel hanya bisa diam menahan amarahnya. Pipinya sakit akibat bekas tamparan yang ia terima. Dia melihat kearah Levy berharap mendapat pembelaan. Namun, apa yang dilihat membuatnya kecewa. Levy memalingkan wajahnya dan bersikap seperti tak terjadi apa-apa.
"Berdebat teros gak ada yang mau nolongin gue"
Teriakan yang sangat familiar di telinga mereka menarik perhatian mereka dari Angel. Mereka saling memandang satu sama lain. Lalu serempak menoleh ke bawah. Tampak di sana seorang gadis yang mereka kenal sedang bergelantungan.
"Bengong teros, tolongin woy" mendengar teriakan kembali menggema, mereka langsung tersadar dan meraih tangan Chacha. Menarik dengan susah payah gadis itu agar sampai di atas.
"Lo baik-baik aja kan? " tanya Karin khawatir sambil membolak-balik Chacha.
"Gue gak papa kok"
"Kenapa gak dari tadi bersuara kalo lo ada di sana? " Elang menyentil kening Chacha membuat dirinya meringis pelan.
"Masih ada yang harus gue selesaikan"
"Apa? "
"Gue kira kalian bakal lanjut, ninggalin ini anak satu disini" Chacha mengalihkan pembicaraan mereka dan menghampiri Chiara yang masih larut dalam kesedihan.
Tanpa perasaan Chacha menyentil kening Chiara. Membuat Chira mendongak seketika.
"Gue belum mati, gak usah begitu" Chacha mengelus kepala Chiara dengan lembut. Lalu ikut duduk bersandar pada mobil mereka yang terparkir.
"Lo kenapa bisa lambat lompatnya? " tanya Chiara setelah berhasil menguasai ketenangannya.
"Seat beltnya macet"
"Tapi lo gak papa kan? "
"Gak papa ya meskipun syok juga sih, nyaris meluncur gue tadi"
"Gimana caranya lo selamat? "
"Lompat kesamping setelah berhasil buka seatbelt. Ya meskipun nyaris kecebur" Jawab Chacha sambil terkekeh.
"Gak lucu tau gak. Lo gak liat Si Karin dia histeris banget tau lo telat lompat" Chacha mengalihkan pandangannya pada Karin. Benar gadis itu terlihat berantakan sekarang.
"Come" Chacha merentangkan tangannya membuat Karin dan yang lainnya langsung memeluknya. Mereka terisak bersamaan.
"Kalian tenang itu udah biasa terjadi sama gue"
"Tapi lo bisa hubungi kita dulu, Cha"
"Gue gak mau kalian dalam bahaya"
"Tapi lo malah buat diri lo dalam bahaya"
"Percayalah ini tak ada apa-apanya dibanding hidup gue lima tahun terakhir"
"Lain kali ada apa-apa hubungi kita dulu"
__ADS_1
"Ya"
"Janji? "
"Gue janji"
"Fan, hubungi anak buah lo. Kirim lokasinya tak usah jelaskan secara rinci mereka sudah dapet sinyal dari gue" Fany hanya mengangguk mendengar perintah Chacha.
"Angel kenapa? " Chacha mengalihkan pandangan dan kebetulan melihat Angel yang paling kacau. Rambut berantakan dan pipi merah kanan dan kiri.
"Gak usah sok peduli"
"Aiik, salah gue dimana? " bukannya tersindir Chacha malah mengkerut heran. Membuat yang lain menahan tawa melihat ekspresi Chacha yang menurut mereka lucu.
"Kalian lanjut aja, gue tunggu mobil dulu"
"Kita tunggu sampai mobil lo dateng lagi" pinta Kinos.
"Kalian duluan, lagian gue disini sama nih bocah cengeng" tunjuk Chacha pada Chiara. Membuat Chiara merengut.
"Tapi, Cha"
"Bawa Angel ke rumah sakit. Itu pasti perih"
"Keadaan lo gimana, masih sempet-sempetnya khawatirin orang lain" sinis Karin.
"Gue baik-baik aja"
"Aiik, luka ya? " Chacha malah bertanya entah pada siapa, membuat yang lain tepuk jidat. Chacha membuka hoodienya.
"Dikit doang" Chacha melihat lengan bagian atasnya tergores sekitar lima sentimeter.
"Lo bilang ini dikit. Ajaib emang" Putra sampai geleng-geleng kepala.
"Mau kemana? " Levy yang sejak tadi diam tiba-tiba menarik tangan Chacha membuat yang lain keheranan. Apalagi Angel yang mulai menahan amarahnya.
"Ke rumah sakit"
"Kagak usah, Le. Gue gak bakal mati cuma gara-gara luka beginian"
"Ish sakit tau gak" Chacha mendesis saat Levy menyentil keningnya tanpa perasaan.
"Bandel banget kalo dibilangin"
"Dih dih menghakimi"
"Apa? "
"Lo yang apa" Chacha dan Levy malah berdebat, membuat yang lainnya geleng-geleng kepala. Namun tak urung mereka mengulum senyum melihat Levy yang mulai menghangat pada Chacha.
"Sini gue obatin" Zeze langsung menyela perdebatan itu sambil meletakkan kotak obat yang biasa dia bawa.
__ADS_1
"Gue aja" rebut Levy membuat Zeze menghela napas.
Jangan tanyakan Angel, dirinya sudah memerah menahan amarah. Melihat tunangannya malah lebih peduli pada yang lain. Sedangkan dirinya jelas-jelas sedang menahan perih karena mendapat tamparan bertubi-tubi dari para sahabatnya. Jangankan memberi perhatian bertanya saja tidak.
"Kalau ada apa-apa itu ngomong. Bukan ambil keputusan sendiri. Jangan bikin orang khawatir terus. Untung ini jantung bukan buatan manusia" Levy mulai mengomel serata mengobati luka Chacha.
Yang lain hanya melongo tak percaya melihat kelakuan Levy. Berubah secepat ini. Pikir mereka. Atau Levy habis terbentur sesuatu. Tolong beritahu mereka.
Berbeda dengan sahabatnya yang melongo tak percaya. Chacha hanya menyunggingkan senyum tipis saat Levy mengomel. Dirinya yakin sudah membuat pemuda ini syok berat tadi. Buktinya begitu kembali, dia menumpahkan rasa khawatirnya.
"Gak sakit? " tanya Levy menolehkan pandangannya dari luka Chacha menghadap langsung pada netra Chacha yang sejak tadi memandangnya. Chacha tersenyum manis sambil menggelengkan kepala.
"Gak sakit kan Lele yang obatin" Chacha menaik turunkan alisnya.
"Ditanya bener malah gak serius jawabannya" Levy lagi-lagi menyentil dahi Chacha.
"Sakit tau, seenak jidat aja" Chacha cemberut akan kelakuan Levy padanya.
"Makanya ditanya bener jawabnya juga yang bener" Levy meneruskan pekerjaannya.
"Iya iya. Gak sakit kok"
"Yakin? "
"Iya ih. Cuma beginian doang. Kena peluru aja kemarin biasa aja kan" Levy memandang Chacha dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa nyesel khawatir? Gue gak papa kok kalo lo gak khawatir"
"Sakit Lele" lagi-lagi Levy tanpa perasaan menyentil kening Chacha membuat matanya berkaca-kaca.
"Eh" Levy kaget saat menatap Chacha yang sudah berkaca-kaca, dengan spontan dirinya mengelus pelan kening Chacha. Yang lain hanya tertawa geli melihat adegan tersebut tanpa berniat menghentikan. Hanya melirik sekilas pada Angel yang sudah memerah.
"Maaf" Chacha hanya mencebik saat Levy meminta maaf padanya.
"Maaf ya" ulangnya lagi. Chacha hanya mengangguk tak tega melihat Levy yang memelas. Levy kembali membungkus luka Chacha.
"Selesai" Levy membereskan peralatan yang sejak tadi ia gunakan.
"Lain kali jangan ceroboh" Chacha hanya mencebik merespon ucapan Levy.
Cup...
"Thank you" Levy mematung seketika saat Chacha mendaratkan ciuman di pipinya. Chacha langsung beranjak meninggalkan Levy yang masih mematung di tempat.
"Lev ayo" Seru Kinos menyadarkan Levy. Levy hanya mengangguk.
"Nakal" Levy menyunggingkan senyum sambil menggelengkan kepalanya.
Angel yang melihat itu semua, kini amarahnya semakin membuncah tanpa bisa ditahan lagi. Hingga dirinya maju.
Plak...
__ADS_1