
Beberapa cuplikan video terus berputar. Bahkan tak ada yang berniat menghentikan. Audy yang melihat potongan demi potongan video itu hanya bisa menggeleng pelan. Wajahnya pias, dirinya masih memikirkan langkah kedepannya. Dia tak siap dengan serangan mendadak dari Chacha.
Hingga lampu kembali menyala dengan terang, Audy mendapatkan tatapan remeh dan jijik dari para tamu. Bahkan sang suami memalingkan muka. Entah karena marah atau malu. Audy yang dirinya kenal sebagai gadis polos dan lemah lembut ini ternyata sangat liar di luar. Kevin benar-benar salah menilai istrinya kali ini. Dirinya selama ini menahan diri untuk tak menyentuh Audy, karena ingin menjaga Audy. Namun siapa sangka Audy bahkan lebih gila dari yang dipikirannya.
Kevin tak bodoh untuk menebak adegan selanjutnya yang sengaja di potong dalam video tadi. Dari awal pemutaran sudah terlihat bahwa itu adalah lobi hotel. Dan bagaimana sikap Audy saat melihat laki-laki yang pantas disebut ayah olehnya menyentuh dirinya membuat Kevin benar-benar tak habis pikir. Bagaimana Audy dengan tak tau malunya bergelayut manja di lengannya, bahkan dengan tak tau malunya Audy mengecup mesra pipi laki-laki tersebut.
Ayah Gun dan Bu Ratu masih mematung di tempatnya, keduanya masih shock dengan apa yang barusan mereka lihat. Anak yang selama ini mereka banggakan melakukan hal yang mencoreng nama baik keluarga besarnya. Itu tak mungkin. Hati dan logika mereka menolak untuk percaya.
Audy yang melihat acaranya mulai tak terkendali, mulai. memutar otaknya agar nama baiknya terselamatkan saat ini. Apalagi saat melihat Kevin yang diam tanpa mengeluarkan suara, bahkan tangannya mengepal seperti sedang menahan amarah. Sungguh Audy tak siap jika harus menghadapi kemurkaan semuanya kali ini.
Disaat suasana mulai memanas karena para tamu mulai membicarakan mempelai wanitanya, sekumpulan muda mudi malah asik dengan dunia mereka sendiri. Bahkan salah satu gadisnya menatap malas ke arah pelaminan.
"Cha kenapa lo lakuin ini? " tanya Karin karena penasaran.
"Ini hanya ucapan selamat datang dari gue"
"Maksud lo? "
"Permainan sebenarnya akan dimulai mengikuti bagaimana tindakan dia kedepannya"
"Gimana kalau dia malah bertingkah? "
"Maka kalian akan lihat bagaimana jika gue mulai bertingkah"
Chacha melihat Audy berjalan menghampiri dirinya dengan mata berkaca-kaca. Melihat itu Chacha hanya menghembuskan napas pelan. Memberi kode pada sahabatnya agar meninggalkan dirinya. Tak lupa senyum smirk menghias wajah cantiknya.
"Kakak gak tau salah apa sama kamu, sampai kamu tega berbuat seperti ini" Chacha menaikkan sebelah alisnya. Para tamu mulai berbisik kembali.
"Jika kamu benci kakak, karena kakak lebih disayang ayah sama bunda, bilang dek. Kamu adek kakak, maaf kalo kembalinya kakak buat kamu ngerasa diacuhkan oleh ayah sama bunda" Chacha masih diam dengan wajah datarnya.
"Kakak gak bermaksud ngambil perhatian ayah sama bunda, tapi kakak gak tau kalau akan seperti ini jadinya" Audy terisak disamping Chacha yang tak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
"Segitu bencinya kamu sama kakak, sampek kamu ngedit wajah kakak seperti itu"
Para tamu yang mendengar penuturan Audy langsung ber bisik-bisik membicarakan Chacha. Bahkan kali ini mengungkap kasus yang tak pernah Chacha lakukan. Bahkan beritanya tetap saja hangat selama kepergiannya.
"Dibagian mana yang gue edit? " akhirnya Chacha buka suara. Audy bingung dengan pertanyaan Chacha.
"Maksudnya? "
"Dibagian mana gue ngedit video itu? "
"Sudahlah, Cha. Kamu dari dulu memang gak suka pada kakak mu, padahal dia selalu mengkhawatirkan dirimu"
Jlebb...
Perkataan Ayah Gun langsung menikam titik terlemah Chacha. Dirinya memalingkan wajahnya menatap tepat di manik mata sayang ayah, berharap melihat tatapan rindu darinya. Namun, harapan tinggal harapan.
"Andai anda tahu yang sebenarnya, masihkah anda membelanya? "
"Alasan apa untuk aku tak membelanya, dia putriku" satu lagi kalimat yang membuat Chacha harus menekan rasa sakitnya.
"Dia putriku yang membanggakan, apa salahnya jika aku melindunginya. Aku yakin video itu hanya akal-akalan mu untuk menjatuhkannya"
Chacha memejamkan matanya dengan rapat. Rindu yang bertahun-tahun dirinya pendam harus menelan pil pahit.
"Berikan aku alasan yang kuat kenapa aku harus menjatuhkannya? "
"Karena dia lebih baik darimu, dia membanggakan, bukan seperti dirimu yang membuat onar dan mencoreng nama baik keluarga"
"Cukup Gunawan" Ratih berteriak marah. "Jika kau tak menginginkan dirinya lagi, serahkan dia menjadi putriku. Kau tau dia berlian yang kami jaga selama ini, dia berlian yang kami lindungi selama ini. Dia berlian yang kami pantau dari jarak jauh selama ini"
"Apa hak kamu menghakimi dia, kamu boleh membela Audy tapi jangan lupakan dia juga anakmu"
__ADS_1
"Jangan menghakimi seolah-olah kamu mengenal dekat dirinya, dimana kamu saat dirinya sakit bahkan sampai opname berbulan-bulan. Dimana kamu saat dirinya membutuhkan sosok ayah dihidupnya. Dimana kamu" teriak Ratih marah. Dirinya sudah tak memperdulikan lagi akan tamu yang datang. Sudah cukup selama ini dirinya melihat Chacha yang diam-diam menangis karena merindukan orang tuanya.
Padahal mereka dekat, namun terasa sangat jauh untuk Chacha gapai.
"Mami Chacha tak apa" Chacha menghampiri Ratih dan memeluknya, untuk menenangkan amarah yang sedang berkobar.
"Mami tau Chacha bersyukur mami dan papi hadir saat Chacha membutuhkan sosok ayah dan bunda. Chacha bersyukur memiliki kalian sebagai orang tua Chacha" bisiknya lembut.
"Karena Chacha adalah putri mami dan papi, tolong biarkan Chacha menyelesaikan masalah ini sendiri. Jangan biarkan pikiran mami terbebani dengan ini" Chacha masih berusaha menenangkan amarah Ratih.
"Chacha gak mau mami sakit, kalau mami sakit Chacha sedih. Bukannya Elang mau nikah, kalau mami drop gara-gara mikirin Chacha. Chacha bisa diamuk Elang. Tolonglah mi" Chacha masih memeluk Ratih, dengan lembut mengelus punggung wanita paruh baya itu. Hingga mendapat anggukan pasrah baru Chacha melepaskan pelukannya. Berdiri tegak menghadap Ke arah Audy.
"Kau mengatakan jika video itu editan kan? " tanya Chacha pada Audy yang dibalas anggukan.
"Oke, sekarang kita balik, bagaimana kau bisa mengedit wajahku lima tahun lalu, ah tidak, hampir enam tahun yang lalu" ucapan Chacha membuat semua orang langsung teringat kejadian tentang nona bungsu keluarga Effendy.
"Maksud kamu apa? "
"Ayolah Audy jangan berlagak bodoh di depan gue"
"Lo dengan semangat ngedit wajah gue dengan tujuan menjatuhkan gue. Tapi dengan bodohnya lo melupakan detail kecil dari gue" Audy menatap Chacha dengan tatapan bingung.
"Bola mata gue berwarna biru. Jika lo berkilah gue pakai softlens, gue cuma satu warna softlens gak lebih. Gue lebih suka menampilkan mata biru gue ketika gue diluar. Bahkan lo gak sadar kalau warna mata gue sama bunda sama-sama biru"
"Selama ini gue diam bukan karena gue bodoh Audy"
"Tapi itu bukan kakak, dek"
Plak...
"Ayah" teriak Bu Ratu.
__ADS_1
"Diam bunda. Kamu memang anak tidak tau di untung. Kebencian membuat kamu salah arah. Hingga dengan tega memfitnah kakak kamu sendiri" Chacha hanya tersenyum smirk, menatap sang ayah dengan tajam.
"Aku akan membuktikan hari ini juga, bahwa aku tak bersalah"