Call Me Queen

Call Me Queen
Adyatma Mahavir Pandey


__ADS_3

"Apa itu anak kita? " Tanya Chacha, matanya sedikit berembun kala mendengar tangisan bayinya untuk pertama kalinya.


"Iya itu anak-anak kita. Biar Mas lihat siapa yang menangis" Levy langsung bangkit dari duduknya.


Sedangkan Chacha berusaha bangun untuk duduk. Melihat itu Lena sedikit berlari menghampiri menantunya itu. Membantunya agar duduk dengan nyaman.


"Anak gue nangis bukannya di gendong malah diliatin doang. Dasar om sama aunty kurang akhlak"


"Kita takut yang mau gendong, Lev. Lo mah seenak jidat kalau ngatain orang"


Levy tak menghiraukan tanggapan teman-temannya. Dia lebih memilih untuk mengangkat si montok dengan hati-hati. Rupanya bayi cantik itu sedang menangis. Levy menimangnya sambil membawa berjalan pelan ke arah Chacha.


Chacha menatap takjub pada putri kecilnya itu. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka jika dirinya sudah menjadi orang tua saat ini.


"Ini putri kecil kita, cinta. Dua lainnya jagoan" Jelas Levy.


Dengan hati-hati Levy menyerahkan putrinya ke dalam gendongan istrinya. Dibantu dengan Bu Ratu agar Chacha mendapat tempat terbaiknya untuk menggendong putrinya.


"Cantik sekali anak mama" Ucap Chacha sambil mencium pipi gembil anaknya berkali-kali.


"Kayaknya dia haus, nak. Kamu mau ASI atau pakai susu formula? " Tanya Bu Ratu.


"Chacha ASI aja, Bunda. Biar mereka dapat yang terbaik" Jawab Chacha.


"Iya Bunda, kita udah sepakat kalau si kembar gak bakalan pakai susu formula" Tambah Levy meyakinkan Bu Ratu.


"Berarti kamu puasa ya Lev" Lena nimbrung untuk menggoda Levy.


"Maksudnya Ma? " Tanya Levy bingung.


"Ayo itu disusui dulu anaknya" Titah sang ibu mertua Chacha. Chacha hanya menipiskan senyumnya, dia masih terdiam.


"Kalian para jantan bisa keluar dulu" Pinta Levy.


"Kenapa kita harus keluar? " Tiba-tiba saja Elang menjadi bodoh.


Tanpa persetujuan, Fany, Nena, Karin dan Zeze langsung menyeret pasangannya masing-masing untuk meninggalkan ruangan itu. Elang yang sudah menikah saja bisa ngelag seperti itu, apalagi ketiganya yang masih polos. Anggap saja mereka polos.


Setelah para sahabatnya keluar, Chacha langsung menyusui bayi cantik yang sejak tadi merengek itu. Tanpa canggung dan kaku Chacha seperti sudah begitu mahir melakukannya, padahal dia hanya mengikuti instingnya saja.


"Levy ingat loh kata-kata Mama. Kamu harus puasa" Peringatan Lena tegas.


"40 hari doang kan, Ma" Levy menjawab dengan nada meremehkan.


Plak...


"Auuu. Mama kok geplak tangan Abang sih" Levy meringis karena Lena menepuk tangannya cukup keras.

__ADS_1


"Chacha itu operasi cesar bukan melahirkan normal. Ini anak, percuma kamu belajar kedokteran kalo gitu" Cibir Lena.


"Lah, iya ya"


Chacha hanya tersenyum mendengar perdebatan antara ibu mertua dan suaminya itu. Matanya tak lepas menatap putri kecilnya yang sedang menyusu dengan rakusnya. Bahkan Chacha sampai terkekeh melihat cara menyusu putrinya. Dia bahkan tak menghiraukan rasa ngilu karena pertama kali menyusui.


"Kenapa sayang? " Tanya Levy saat melihat Chacha terkekeh pelan.


"Tak apa Mas. Lihatlah dia lucu sekali saat menyusu seperti ini"


Levy mendekat guna melihat bayi cantiknya itu. Benar saja, bayi mungil itu menyusu dengan rakus seakan takut kehabisan asupan makanannya.


"Pelan saja princess, tak akan ada yang merebutnya dari mu, oke. Papa akan mengalah, membiarkan kalian bertiga menguasai itu"


Plak...


"Mama sakit, seneng banget mukul Abang. Pa, Mama KDRT ini" Adu Levy pada Lenardi. Sang Papa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya, dia sendiri masih menggendong Leon yang terlelap dalam pelukannya.


"Salah kamu sendiri. Ngomong kok gak ada filternya sama anak"


"Iya kan bener"


"Sudah-sudah, kalian ini kalau jauh kangen kalau dekat berantem mulu" Lerai Oma yang mendekat sambil menggendong salah satu jagoan Levy. Sedangkan satunya lagi digendong oleh Nyonya Besar Effendy.


"Ini yang mana yang kakak, Lev? "


"Punya anak kamu makin sableng ya, Lev"


"Opa mah gitu" Levy merajuk.


"Sudah sayang? Gantian Abang sama Kakak ya" Chacha berucap pelan pada putrinya yang sudah terlelap namun enggan melepas pu*ing miliknya.


Chacha hanya terkekeh saat melihat putrinya tak kunjung melepaskan pu*ingnya.


"Cantiknya Papa, lepas ya sayang. Sekarang giliran Abang sama Kakak. Kan adik sudah dapet jatah duluan" Levy membujuk sang putri seakan-akan bayi mungil itu mengerti apa yang diucapkan nya.


Benar saja, ketika Levy yang membujuknya. Bayi cantik itu langsung melepaskan tautan bibirnya dari pu*ing sang mama. Hanya saja bibirnya masih bergerak seolah-olah dia tengah menyusu.


"Gemes banget sih cicit Oma ini. Levy banget, tapi ini versi cewek ya" Ucap Oma pada Lena.


"Bener loh, Ma. Lena kira yang bakalan mirip sama Levy itu yang cowok malah ini plek ketiplek Levy banget" Lena menimpali ucapan ibu mertuanya.


"Bawa sini si cantik itu Oma, Opa mau lihat juga" Seru Opa yang diangguki Oma.


Perlahan Oma menyerahkan salah satu bayi yang tengah dirinya gendong ke arah Lena. Lalu mengambil si montok dari Chacha, guna membawanya ke arah para Kakek dan Buyut nya.


Kini giliran dua jagoan Chacha yang akan menerima asupan makanan dari sang mama. Tampak keduanya begitu tenang saat Chacha menyusui secara bergantian. Bahkan Levy begitu takjub saat melihat istrinya menyusui anak-anaknya dengan begitu lembutnya. Bahkan tatapan mata Chacha tak berpindah sedikitpun dari bayi yang sedang disusui nya.

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, bayi-bayi itu sudah berpindah berada di gendongan kakek, nenek dan para buyut nya. Mereka bergilir menggendong salah satu dari mereka.


"Audy" Panggil Chacha saat melihat Audy tengah memperhatikan si montok.


"Panggil kakak dong, nak" Tegur Bu Ratu.


"Nggak ah, Audy masih cengeng. Nanti kalau sudah gak cengeng lagi baru aku panggil kakak" Jawab Chacha santai. Yang lain hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkah hot mama yang satu ini.


"Kenapa? " Tanya Audy saat Chacha menatapnya.


"Anak lo udah di kasih nama? " Tanya Chacha.


"Belum, tau sendiri jangankan mikir nama, mikir hidup aja gue susah"


"Ada ya emak kayak lo. Kalo gue yang kasih nama, lo keberatan gak? " Tanya Chacha memastikan.


Mendengar itu Audy mengangguk dengan antusias. Sebenarnya dia sudah memiliki nama untuk putranya, namun Audy begitu menginginkan jika Chacha yang memberikan nama untuk jagoan kecilnya itu.


"Tapi dengan syarat, anak lo wajib manggil gue Mama" Perkataan Chacha membuat air mata Audy lolos begitu saja. Bukan karena apa, Audy hanya terharu kalau Chacha begitu menyayangi dirinya bahkan putranya.


"Boleh" Hanya satu kata saja yang mampu Audy ucapkan. Bahkan sekarang dirinya sudah berada dalam pelukan Ayah Gun. Semenjak kata-kata pedas dan sarkas yang Chacha lontarkan, Ayah Gun kembali menyadari jika Audy tidak salah disini.


"Anak lo cowok kan? " Tanya Chacha memastikan.


Audy mengangguk mantap.


"Jadi kalau gue pasang nama Pandey di belakangnya lo gak ada masalah kan? Karena bagaimanapun dia adalah keturunan dari keluarga Pandey. Gue bakal buktiin semua ucapan gue waktu itu. Tes DNA akan dilakukan saat sidang pertama kalian dilangsungkan. Lo gak perlu hadir biar semuanya cepet selesai" Jelas Chacha panjang lebar.


"Kakak yakin apapun keputusan yang kamu ambil, itu adalah yang terbaik buat kita" Tambah Audy.


"Good, hentikan air mata untuk laki-laki bren*sek itu. Aku pastikan dia akan tidur di jalanan"


"Jadi siapa nama cucu pertama Bunda? " Tanya Bu Ratu penasaran.


"Adyatma Mahavir Pandey"


...****************...


Author ucapkan terimakasih buat Kak Ningsih Gustia, dikasih amunisi perang biar semangat up akunya 😌


Buat yang lain si neng montok di sawer kembang dong biar makin gemoy gitu loh... 🤣


Jempol jangan lupa tekan tombol like abis baca ya😊


Yuk ah, Likenya kencengin, Komentar nya banyakin dan Votenya sempetin juga ya😍


Happy Reading All 💙

__ADS_1


__ADS_2