
"Aku pacarnya Levy"
Chacha mengerutkan dahinya sebentar, lalu tersenyum manis. Ya Tuhan tak tahukah dia, jika gadis satu ini tak bisa diprovokasi.
"Sudah lama kenal dengan Mas Levy? " Chacha masih saja meladeni nya.
"Cukup lama, saat kita sama-sama kuliah" Jawab Alexsa.
"Emm, ya aku lupa jika Mas Levy kuliah di LA"
"Kakak tantik? "
"Ya sayang? " Jawab Chacha lembut.
"Kakak ini akal"
"No, dia tak nakal. Bersikap lah sopan, kakak ini tamu Abang Levy. Jadi Leon tak boleh berkata sembarangan. Oke" Leon hanya mengangguk saat Chacha menasehati nya dengan lembut.
Sedangkan di ruang tamu, Levy mengajak mamanya untuk masuk ke kamarnya sebentar, meninggalkan teman-temannya di ruang tamu.
"Ada apa Lev? Gak biasanya kami kayak gini"
"Levy mau ngomong sesuatu tapi Levy harap mama mengerti. Tolong beritahu tentang hal ini pada papa secara pelan-pelan"
"Ada apa sebenarnya jangan buat mama khawatir Levy, kamu gak sakit kan nak? "
"Levy sehat kok ma, bahkan sangat sehat"
"Jadi ada hal penting apa sampai kamu bawa mama kesini? "
"Levy cuma mau ngasih tau mama. Kalau Levy udah nikah mah" Lena terdiam. Mencerna apa yang diucapkan putra sulungnya itu.
"Bercanda kamu gak lucu, Lev"
"Sayangnya Levy gak bercanda, ma"
"Kenapa bisa nikah tanpa kasih tau kami Levy, kami ini orang tua kamu"
"Maaf ma. Tapi keadaan yang membuat Levy tak bisa menghubungi mama atau papa" Jawab Levy menunduk penuh penyesalan.
Orang tua mana yang tak kaget jika tiba-tiba mendengar kabar bahwa anaknya telah menikah, bahkan tak memberitahu. Pernikahan macam apa yang sebenarnya dijalani putranya ini.
"Ceritakan Levy. Kamu bisa buat mama mati berdiri lama-lama karena sikap kamu yang sering seenaknya itu" Lena langsung duduk di sofa yang ada di kamar Levy tersebut.
__ADS_1
Levy memulai ceritanya saat dirinya dan para sahabatnya berlibur sekaligus menghadiri pernikahan Mutia. Kejadian apa saja yang terjadi tak luput dari cerita Levy pada Lena. Hingga dirinya bercerita ketika menolong Chacha, bagaimana mereka terjebak dengan situasi yang tak menguntungkan. Membela diri salah, tak membela malah makin salah.
Tapi satu hal yang Levy heran. Dirinya menangkap gurat bahagia di wajah mamanya. Bukan gurat kekecewaan yang Lena tampakkan diawal.
"Jadi Chacha menantu mama? " Levy mengangguk mendengar pertanyaan Lena. "Kamu nikahi dia secara agama saja atau gimana? "
"Paginya aku langsung suruh asisten aku buat daftarkan pernikahan kita ma"
"Bagus, bahagiakan dia nak. Dia anak yang baik, mama yakin kalian akan bahagia"
"Jadi mama gak marah sama aku? "
"Ya nggak lah, mungkin mama hanya kecewa diawal. Tapi saat tau siapa menantu mama, kekecewaan itu menguap dengan sendirinya. Mama yakin papa akan senang mendengar kabar ini" Jawab Lena dengan senyum mengembang.
"Kenapa hanya kamu yang bicara, bukan kalian? "
"Maunya kita berdua langsung akan bicarakan ini pada mama dan papa. Tapi Levy takut mama menampilkan raut kecewa dan sebagainya. Sungguh ma, Levy tak ingin dia kepikiran akan hal ini. Levy tau dia belum siap mengumumkan pernikahan kami"
"Mama tau beban apa yang sedang menjadi pertimbangannya saat ini. Bersabarlah nak, karena kamu menikah dengan wanita sejuta rahasia, kami harus bersabar untuk mengungkap semua rahasia itu"
"Aku bahkan tak bisa marah terlalu lama sama dia ma"
"Mama tak yakin itu. Ego mu itu tinggi nak. Jika suatu hari nanti dia membuatmu kecewa, jangan langsung hakimi dia, tapi selidiki semuanya lebih dulu. Dia wanita mandiri, jadi terbiasa melakukan apapun sendiri"
"Baiklah, ayo turun. Mama rasa kita sudah cukup lama berada disini"
Levy turun sendiri, Lena langsung menuju kamarnya untuk menghubungi suaminya. Dia ingin memberitahukan kabar bahagia ini pada suaminya secepatnya.
"Ayo Lev antar kita ke dapur. Aku ingin tahu apa Al benar-benar memasak? " Ucap salah satu gadis yang hadir disana.
Levy hanya mengangguk dan melangkahkan kakinya ke arah dapur diikuti oleh teman-temannya di belakang. Sesampainya di dapur mereka kaget. Bukan Alexsa yang memasak. Namun, gadis yang tadi menuruni tangga.
Terlihat dari caranya memotong bawang layaknya seorang chef, bagaimana cara dia memasak benar-benar mengagumkan. Bahkan teman-teman Levy yang berjenis kelamin laki-laki terpesona dibuatnya.
Sedangkan dua orang yang berada di dapur tak sadar jika mereka sedang di perhatikan oleh beberapa pasang mata.
"Jadi berapa lama kamu kenal dengan pacar aku? " Tanya Alexsa membuat Levy dan teman-temannya kaget. Bagaimana mungkin Alexsa mengaku sebagai pacar Levy, padahal mereka tak mempunyai hubungan apapun selain pertemanan.
Levy juga kaget, namun dirinya tetap diam. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan istri kecilnya itu. Bahkan bisa Levy lihat jika Chacha tersenyum saat mendengar pertanyaan Levy.
"Kayaknya kita belum berkenalan secara benar ya"
"Maksud kamu? "
__ADS_1
Chacha menjulurkan tangannya layaknya orang baru pertama kali bertemu dan akan berkenalan. Dan dengan patuhnya Alexsa menyambut tangan itu.
"Kenalin gue Queen. Istrinya Mas Levy. He is my husband, not your boyfriend" Chacha menekan setiap kalimat yang ia ucapkan.
Alexsa hanya diam mematung, mencerna semua yang Chacha ucapkan. Lalu tak lama setelahnya matanya melotot kaget.
"Jangan berbohong padaku"
"Untuk apa aku berbohong padamu. Tak ada untungnya untukku nona. He is mine"
Chacha mulai terganggu dengan rambutnya yang ia gerai, dirinya ingin meminta tolong pada Alexsa awalnya untuk mengikat rambutnya. Karena kedua tangannya kotor dengan bumbu dapur. Hingga netra birunya menangkap gambaran Levy.
"Kau mau bukti jika dia suamiku? "
"Hah? " Sungguh Alexsa bersikap layaknya orang bodoh kali ini.
"Mas? " Chacha memanggil Levy dengan mengedipkan satu matanya. Levy hanya bisa menggeleng melihat tingkah istri nakalnya ini.
"Kenapa, hmm? " Tanya Levy lembut sambil merapikan rambut Chacha.
"Tolong ikat rambut aku. Tangan aku kotor"
"Baiklah, dimana ikat rambutnya? " Chacha langsung berbalik menunjuk dengan mata kearah saku belakang celana jeans yang ia pakai.
Levy melotot kaget saat tahu dimana Chacha meletakkan ikat rambutnya. Chacha ini benar-benar menguji imannya.
Levy mendekat, dan berbisik ditelinga Chacha.
"Menggodaku, hmm? "
"Eh, maksudnya? "
Levy tak menjawab melainkan membenamkan wajahnya di ceruk leher Chacha. Menghirup dalam aroma istrinya, sungguh Levy bisa gila kali ini.
"Mas geli ih"
"Salah kamu sendiri, Sayang"
"Udah ih. Ayo diiket dulu rambutnya"
Yang lain hanya melongo, terutama Alexsa. Mereka dibuat tak percaya dengan apa yang dilakukan Levy. Pria dingin itu bucin pada gadis mungil yang tengah ia dekap dan goda itu.
Alexsa masih diam membatu, benarkah wanita ini istri dari pria yang selama ini ia incar?
__ADS_1