Call Me Queen

Call Me Queen
Sirkuit Pribadi


__ADS_3

"Mau balapan apa? "


"Kalo Alexsa biasanya dia balapan mobil" Ucap salah satu dari mereka. Dari nadanya sudah terlihat jika dia meremehkan Chacha.


"Nggak usah, lo mau buat dia dalam bahaya? " Geram Alexsa, dia kaget saat gadis yang tak lain adalah sahabatnya mengajukan pertarungan dengan taruhan konyol.


"No problem" Jawab Chacha santai.


"Lev, lo punya mobil sport kan, kasih pinjam si Alexsa. Kalo dia gue yakin dia punya sendiri" Gadis itu masih tetap pada pendiriannya.


"Mendingan gak usah, gak usah dengerin dia" Alexsa berniat menengahi, karena dirinya takut membuat istri Levy terluka. Dia yang akan disalahkan nanti jika terjadi apa-apa.


"Gue terserah istri gue" Jawab Levy dengan tatapan tajam pada gadis yang sejak tadi seperti meremehkan Chacha.


"Deal. Alexsa kau terbiasa dengan balap liar atau...? "


"Alexsa terbiasa dengan balapan di sirkuit balap" Jawab gadis itu memotong perkataan Chacha.


Chacha hanya bisa menghela napas pelan. Apa sebenarnya maunya gadis satu ini. Rencana apa yang dibuat oleh gadis ini.


"Tapi disini ada sirkuit untuk balapan kah? " Tanya pria yang sejak tadi diam.


Hening seketika.


Chacha langsung berdiri setelah menekan tombol panggil pada ponselnya.


"Malam ini. Aku akan langsung test drive di sirkuit itu"


"... "


"Kalian boleh buka setelah aku memastikan semuanya. Buka jalur maut khusus untuk nanti malam. Setelah itu jangan pernah buka lagi kecuali seijin ku"


"... "


"Masalah sirkuit sudah beres kan? Ada lagi? " Tanya Chacha dengan wajah datarnya.


"Hah? "


Mereka masih dalam mode terkejut, sedangkan Chacha langsung menghubungi para sahabatnya sekaligus.


"Rin, buka garasi basecamp. Tekan tombol otomatis pada bluewy, sebelumnya cocokkan lokasi dengan sistem yang ada didalamnya"


"Kalian jangan lupa datang, nanti malam gue mau nyoba sirkuit baru, setelah itu kita tanding balap lagi"


"Baiklah, see you guys"


"Kau akan menggunakan si biru itu? " Tanya Levy setelah Chacha duduk disampingnya.

__ADS_1


"Bukankah dia akan menggunakan mobilmu? Jadi tak salah bila aku memilih mobilku sendiri kan? "


"Bukan masalahnya, tapi mobil itu kamu program ulang, Sayang. Sedang mobil ku tidak" Jelas Levy.


"Ah aku melupakan itu" Chacha menepuk dahinya.


"Baiklah, kamu akan meminjamkan dia mobil yang mana, Mas? " Tanya Chacha setelah diam sebentar.


"Aku gak tau dia mau pakai yang mana"


"Begini saja, mobil disiapkan oleh ku. Tenang ini mobil baru, baru juga datang kemarin. Kebetulan aku membeli merk dengan sering yang sama dengan sahabatku. Jadi kita pakai mobil itu saja"


Chacha melihat Alexsa mengangguk lemah.


"Kau tak keberatan bukan? "


"Tidak" Jawab Alexsa sekenanya. Sungguh dirinya takut dengan tatapan penuh intimidasi yang Levy keluarkan.


"Baiklah, nanti sore jam empat kita berangkat bersama. Kita akan menuju sirkuit balap milik ku" Ucap Chacha.


"Kau memiliki sirkuit balap? " Tanya teman Levy dengan nada terkejut.


"Ada satu, baru selesai pembaruan rute satu minggu yang lalu" Jelas Chacha. Mereka malah tambah kaget mendengar penjelasan Chacha.


"Bukan maksud mengusir. Tapi lebih baik kalian kembali dulu setelah itu kembali lagi kemari. Kalau masih mau disini juga tak masalah, tapi apa kalian tak akan ganti baju. Dan kamu Alexsa, apa kau akan menggunakan dress saat balapan? " Ucap Chacha panjang lebar.


"Ah iya, mari kita kembali dulu" Ajak Alexsa pada teman-temannya.


"Michelle lo apaan sih, kenapa ngajakin dia balapan? " Tanya Alexsa ketika mereka berada di perjalanan pulang.


Kebetulan mereka menyewa dua mobil, yang satu untuk para pria dan satunya lagi khusus para wanita. Mereka menyewa mobil yang bisa dinaiki empat orang, karena masing-masing dari mereka terdiri dari empat wanita dan empat laki-laki.


"Gue cuma bantuin lo aja, Al"


"Bantuin apaan, lo gak liat tatapan Levy tadi? " Geram Alexsa.


"Iya Al. Gue aja takut tadi liatnya" Imbuh Chloe.


"Levy biasanya juga dingin, tapi tadi gue lihat ada jejak kemarahan di tatapannya. Sumpah bikin ngeri" Tambah Jenie.


"Kalian aja yang penakut. Menurut gue, Al lebih cocok sama Levy ketimbang wanita itu"


"Lo kenapa sih? "


"Maksud lo apa sih, Al? " Tanya Michelle.


"Kenapa lo ngotot banget buat gue tanding balap sama istri Levy? "

__ADS_1


"Gue cuma mau buktiin kalo Levy salah pilih cewek. Sebelum balik ke sini, gue udah kasih tau dia kalo lo suka sama Levy. Tapi dia malah jawab, dia balik karena ada yang nunggu buat dikasih kepastian"


"Jadi, lo bilang sama Levy? "


"Iya, baik kan gue"


Michelle gadis polos, ceroboh, dan sedikit bodoh ini selalu membenarkan apa yang dirinya kira benar. Bahkan kadang dirinya seringkali terjebak masalah karena kebodohannya. Beruntung nya dia memiliki sahabat semacam Alexsa, Chloe dan Jenie. Jika tidak dia akan terus-terusan dipermalukan karena kebodohannya.


"Bodoh" Umpat ketiganya kompak.


"Kalian kenapa sih? " Michelle kembali ke mode polosnya.


"Ngapain juga lo ngasih tau Levy kalo Alexsa suka sama dia" Semprot Chloe.


"Niat gue kan baik"


"Lo bikin harga diri Alexsa turun di depan Levy tau nggak. Kesannya tuh jadi kayak lo lagi nawarin Alexsa ke Levy. Pikir perasaan Alexsa dong" Ucap Jenie panjang lebar.


"Pantas saja" Lirih Alexsa.


"Pantas kenapa, Al? "


"Levy lebih dingin dari biasanya, bukankah sebelum kembali ke negara ini, dia sudah lebih hangat. Pantas saja sekarang tiba-tiba berubah dingin lagi, gue kira karena canggung ternyata ada alasan dibalik itu"


Keadaan didalam mobil hening seketika. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Maafin gue, Al" Michelle memecah keheningan. "Niat gue mau bantuin lo, tapi ternyata gue salah"


Alexsa hanya bisa menghela napas pelan.


"Sudahlah, sudah terjadi. Apa mau dikata"


"Sekarang lo fokus sama pertandingan lo sama istri Levy aja, Al. Lumayan kalo lo menang bisa kencan sehari full sama Levy"


"Iya kalo gue menang"


"Kok pesimis gitu sih? "


"Kalian belum sadar juga. Dia punya sirkuit pribadi, yang berarti dia juga bisa balapan atau malah lebih dari gue"


"Tapi lo itu ratunya balapan di sirkuit, gue juga yakin lo pasti menang. Jangan pesimis gini dong, Al"


"Iya Al. Tunjukkin kalo lo lebih unggul dari wanita itu"


"Gue gak ada niatan buat saingan sama dia"


"Tumben lo gak ambisius. Ini bukan lo, Al. Seorang Alexsa yang gue kenal gak pernah rela jika sesuatu yang akan jadi miliknya direbut orang lain"

__ADS_1


Alexsa terdiam. Memang sisi lain dari tubuhnya memberontak untuk merebut Levy dari istrinya. Namun, peringatan ayahnya kembali terngiang di telinganya. Dimana dia harus berhati-hati dengan gadis seumuran nya. Jika ciri-ciri yang dikasih sang ayah sangat mirip dengan istri Levy. Awalnya Alexsa ragu, namun saat melihat anting yang dipakai dia baru percaya. Bahwa istri Levy bukan lawannya. Tapi, siapa sangka sahabat bodohnya malah menabuh genderang perang dengan gadis yang harusnya ia hindari.


Sekarang dirinya dalam dilema besar. Haruskah dirinya sungguh-sungguh melawan gadis itu nanti? Tapi jika ia mengalah, dirinya takut mereka berpikir bahwa dia telah meremehkan gadis itu. Alexsa tak bisa berpikir baik. Mungkin dirinya akan istirahat sebentar sebelum waktu pemberangkatan tiba.


__ADS_2