Call Me Queen

Call Me Queen
Anak Hasil Selingkuhan


__ADS_3

Chacha dan Levy masih mematung kaget.


"Sayang" Levy langsung memeluk Chacha erat, tanpa sadar air matanya menetes.


Chacha juga tak kalah bahagianya, bagaimana tidak. Secepat ini mereka diberikan kepercayaan, bukan hanya satu, namun tiga sekaligus. Air mata tak henti menetes dari matanya, ucapan syukur terus bergema di hatinya.


"Makasih cinta makasih" Levy terus berbisik terimakasih di telinga Chacha.


Diva melongo melihat Levy yang begitu dingin dan cuek kini meneteskan air mata karena mendengar jika akan memiliki anak kembar tiga. Diva juga tak menyangka jika sahabat sekaligus sepupu dari suaminya ini akan memiliki bayi kembar, tiga pula.


"Ini beneran kan, Mas? " tanya Chacha masih tak percaya.


"Ini nyata sayang. Kita akan punya tiga anak, tiga sayang"


Levy tak henti-hentinya mengecupi wajah Chacha. Diva dan suster yang ada di ruangan itu jadi malu sendiri melihat tingkah Levy. Beruntung suster itu sudah menikah, apa kabar jika belum coba?


"Oke, gue lanjut dulu ya? " tanya Diva setelah keduanya meredakan euforia nya. Keduanya mengangguk mendengar pertanyaan Diva.


"Usia kandungan lo masuk bulan ke tiga. Jangan stres dan kerja yang berat-berat. Tri semester pertama biasanya sangat rentan keguguran, apalagi ini triplet" Chacha mengangguk mendengar penjelasan Diva.


"Lo ada pusing atau mual? " Chacha menggeleng.


"Oke, gue resep kan vitamin sama penguat kandungan ya"


"Oke"


"Jangan lupa di minum. Lo minum susu ibu hamil, nggak? "


"Minum kok, yang lo suruh itu" Diva mengangguk.


"Sejauh ini aman ya, kalo ada apa-apa langsung hubungi gue"


"Oke aman, gue balik ya"


"Sehat terus bumil gemoy ku"


"Apa-ada aja"


Chacha dan Levy berlalu dari ruangan Diva dengan senyum merekah. Hanya Chacha, Levy sudah kembali ke mode datarnya.


"Mau diantar kemana? " tanya Levy setelah mereka masuk ke dalam mobil.


"Main boleh? "


"Mau main kemana, cinta? "


"Sama Audy boleh? "


"Mau dianter kesana? " Chacha mengangguk. "Gak mau telfon Kak Audy dulu? "


"Nggak, aku pengen tau seperti apa perlakuan keluarga Pandey sama Audy, tuh anak kurus banget tau nggak sekarang. Kalau Bunda tau bisa ngomel"


"Mungkin bawaan hamil jadi gak nafsu makan kali, sayang" Levy mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran.


"Nggak loh, kita yang ketemu di rumah Bunda itu dia gak ada keluhan sama kehamilannya, waktu itu juga ada yang aneh sih"


"Apanya aneh sih, sayang. Mas lihat kayaknya gak ada"


"Kamu masih gak lupa cara Audy berpenampilan kan, Mas" Levy mengangguk.


"Tapi sejauh yang Mas lihat Kak Audy jarang pakai pakaian kurang bahan"


"Bukan itu, Mas. Waktu kita nginep di rumah Bunda, Audy itu dari malem sampai ketemu lagi di meja makan dia itu pakai baju panjang. Audy tuh bukan tipe orang yang betah pakai baju begituan"


"Biasanya kamu isengin dia, kenapa gak nanya cinta? "


"Beda, waktu itu dia cerita tentang rumahtangga nya. Tapi setelah aku paksa sih"


"Jadi? "


"Dia itu lagi ada masalah, intinya tuh gini. Kevin tuh gak percaya kalau anak yang dikandung Audy itu anaknya. Nah Audy stres gara-gara itu"


"Terus, Kak Audy nya gimana? "


"Dia kekeh kalau itu anaknya Kevin, dia mau buktikan. Niatnya sih aku mau bantu dia, aku udah bilang kan kalau mau nemenin Audy bikin surprise buat Kevin? "


"Iya sayang"


"Tapi aku lupa, malah kabur-kaburan. Pasti Audy ngambek"


"Gak usah dipikirin, ini kita juga udah mau ke rumahnya kan? Bawa buah tangan sekalian minta maaf ya" Chacha mengangguk.


"Cari mangga muda dulu, bumil yang satu itu lagi doyan makan mangga muda"

__ADS_1


"Tau dari mana? "


"Hehehe, kemarin Bunda telfon pusing cariin Audy mangga muda. Padahal dibelakang rumah kan ada"


Chacha tertawa sendiri jika mengingat bundanya kemarin. Bagaimana tidak, bundanya menghubungi dirinya bertanya soal tempat mangga muda biasanya dijual. Bahkan meminta bantuannya untuk mencarikan, karena Audy sedang ngidam. Setelah dapat dengan usulnya Chacha baru bilang kalau di halaman belakang kediaman Effendy ada pohon mangga, dan berbuah. Bu Ratu hanya bisa menepuk keningnya sendiri.


"Jadi sekarang kita cari mangga muda dulu ya? " Chacha mengangguk semangat.


"Oh ya Mas? "


"Hmm? "


"Masalah yang Tiara udah kamu cabut laporannya? " Levy menoleh ke arah Chacha sebentar.


"Tiara siapa? "


"Ya ampun, sayang. Tiara sepupu kamu, yang udah nabrak kamu"


"Oh" Levy yang menanggapi dengan ber-oh ria membuat Chacha gemas sambil mencubit pipi Levy.


"Bukan oh sayang, aku mau denger 'iya sudah diurus gitu' masa jawab pertanyaan aku cuek gitu"


"Udah sayang udah, malam mama bilang kalau suruh cabut laporannya, paginya aku langsung telfon asisten aku buat cabut laporannya"


"Aku kira belum dicabut, kasian"


"Biar jadi pelajaran, itu jalan bukan punya dia pribadi"


"Tapi kok aku gak pernah liat Tiara sih, Mas? "


"Dia kalo gak salah tinggal sama neneknya di luar kota, baru balik lagi mau kuliah di sini"


"Jadi dia baru lulus SMA? "


"Melanjutkan S2 cinta"


"Berarti seumuran kita dong? "


"Iya, sekarang kita turun cari yang kamu mau" Levy memberhentikan mobilnya di salah satu supermarket besar yang ada di jalan menuju rumah Audy.


Chacha keluar dari mobil dan langsung menggandeng lengan Levy. Tak lupa memasang masker di wajah keduanya, menjaga privasi menurut mereka penting. Apalagi dengan hubungan mereka yang belum terekspos.


"Sekalian belanja ya, di rumah juga udah mulai abis bahan makanan" Levy hanya mengangguk saat istrinya mengajaknya belanja.


"Aku kebagian daging, kamu beli snack ya, Mas"


"No, sekarang gak ada ngemil snack kamu ngemil buah aja ya? " Chacha tampak terdiam sejenak lalu mengangguk.


"Oke kamu pilih buahnya, aku pilih daging bentar"


"Belikan aku cumi, lagi pengen seafood"


"Oke, aku pilihin nanti"


Mereka berpisah, Levy memilih buah dan Chacha memilih ke tempat daging dan seafood. Menurut Chacha berpencar seperti ini lebih menghemat waktu daripada terus berbelanja berdua. Karena dirinya sadar, mereka berdua bukan orang yang memiliki waktu santai begitu banyak.


Setelah selesai mereka langsung menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Tak banyak belanjaan mereka kali ini, karena tak ada persiapan. Levy langsung menghubungi anak buahnya untuk membawa belanjaannya ke rumahnya, sedangkan belanjaan yang akan dibawa ke rumah Audy sudah di masukkan ke dalam mobil.


"Yuk berangkat"


"Ayuk"


Levy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena dirinya sadar tak hanya dirinya dan Chacha yang ada di dalam mobil, tapi ada tiga nyawa lagi yang berada di dalam perut sang istri.


Tak membutuhkan waktu lama untuk sampai di kediaman keluarga Pandey. Setelah sampai Chacha turun terlebih dahulu meninggalkan Levy yang mengambil barang belanjaan untuk Audy.


Levy yang selesai mengambil barang hanya mengerutkan keningnya saat melihat Chacha masih berdiri mematung di depan pintu yang tak tertutup rapat.


"Sayang? "


Chacha mengangkat tangannya, tanda Levy untuk diam. Levy pun menurut. Tampaknya dari dalam terdengar suara isak tangis diiringi bentakan yang mampu ditangkap oleh indera pendengar mereka berdua.


"Dasar ja*ang, kamu sudah ditampung disini saja sudah bagus. Kalau bukan gara-gara kamu, nama keluarga kita tak akan tercemar"


"Pantas saja kelakuan kamu murah*n, ternyata kamu anak seorang ja*ang"


"Wanita seperti kamu tak pantas ada di keluarga Pandey yang terhormat ini" Chacha mengerutkan keningnya mendengar suara ini. Suara baru yang ada di kediaman Pandey.


"Pasti kamu cuma mau mengeruk harta keluarga Pandey kan? "


Chacha menampilkan senyum smirk saat mendengar suara yang terus menerus menghardik dari dalam.


"Jangan-jangan itu juga anak hasil selingkuhan yang kamu akui sebagai anak Kevin"

__ADS_1


"Cukup Tiara, cukup kamu menghina aku sejak tadi. Kamu boleh ngehina aku tapi tidak dengan anak aku"


"Apa sekarang kamu bertindak seolah menjadi ibu yang baik. Ingat Audy, sekalinya ja*ang tetap ja*ang"


"Benar sakit nona, sekalinya ja*ang tetap ja*ang. Sekalinya pelakor ya tetap pelakor"


Chacha langsung masuk begitu saja. Chacha langsung membantu Audy untuk berdiri, menatap intens wajah Audy. Tampak bekas merah pudar di pipi sebelah kanannya, dan disebelah kirinya sedikit memerah. Oke ini baru.


Sedangkan wanita yang Audy sebut sebagai Tiara tadi mematung kaget saat melihat Chacha, terlebih lagi melihat Levy dibelakangnya. Levy dengan ekspresi dinginnya membuat tubuh Tiara bergetar.


"Maaf aku terlambat, Kakak"


Tiara kaget saat Chacha memanggil Audy dengan sebutan kakak. Berarti Audy ini kakak ipar sepupunya. Tiara melirik ke arah Levy yang memasang ekspresi dingin, tampak ada sedikit kilat kemarahan di tatapan matanya.


"Siapa? " Chacha mengelus pelan pipi Audy yang memerah. Audy hanya menggeleng.


"Bicaralah jangan takut, ada aku disini. Aku pastikan mereka yang menyakiti tubuhmu akan mendapat balasan di depan matamu saat ini juga" ucap Chacha dingin. Audy masih menggeleng dengan air mata yang sejak tadi mengalir di wajahnya.


Chacha menyapu pandangannya ke sekitar. Tuan dan nyonya Pandey tampak terdiam melihat kedatangan kedua orang penting ini ke rumahnya, ditambah dengan adegan kacau yang baru saja terjadi. Chacha yang notabenenya adik Audy adalah orang yang paling mereka waspadai sekarang.


Tiara tampak pucat pasi dalam dekapan Kevin yang juga memasang ekspresi kaget. Tak menyangka jika Chacha akan melihat perlakuan tak baik keluarga nya pada kakaknya ini.


Chacha maju ke depan, menarik Tiara dari pelukan Kevin.


Plak...


Chacha langsung menampar pipi Tiara telak, langsung memerah dan sedikit bengkak.


"Siapa lo yang berani bermain tangan pada anggota keluarga gue? "


"Siapa lo yang berani ngehina anggota keluarga gue? "


"Jangan kira berbekal nama keluarga Rahardian di belakang nama lo, gue bakal takut bertindak"


"Sekalipun lo kerahin seluruh keluarga Rahardian lo, gue mampu ngelawan seorang diri. Tapi gue gak yakin lo bisa memohon belas kasihan setelah ini. Ingat suami gue juga keturunan Rahardian, lo berulah dia sendiri yang akan turun tangan"


Chacha menggandeng tangan Audy, untuk menenangkan nya.


"Sekarang katakan apa mau kalian? "


Mereka masih terdiam, enggan menjawab pertanyaan Chacha.


"Kevin, anak yang di dalam kandungan kakak gue anak lo apa bukan? " tanya Chacha langsung.


"Bukan" jawabnya spontan.


"Bagus kalo lo menolak anak ini. Urus perceraian kalian setelah anak ini lahir, surat cerai keluar kita lakukan tes DNA. Jika terbukti anak ini anak lo, jangankan cuma lo. Seluruh keluarga lo yang akan nanggung akibatnya"


Chacha merogoh saku bajunya untuk mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Setelah terhubung Chacha langsung berbicara singkat.


"Balik saham atas nama Wijaya di perusahaan Pandey menjadi atas namaku, tunggu instruksi selanjutnya bari bertindak"


Setelah panggilan terputus, Chacha melihat wajah kaget semuanya.


"Wijaya adalah orang ku, nikmati waktu kalian hidup mewah. Karena jika terbukti anak ini adalah cucu kalian, aku pastikan atas nama anak ini aku menendang kalian dari keluarga Pandey"


"Ayo pulang"


"Kemana, Cha. Aku masih istrinya"


"Cukup Audy, buang pikiran itu dari otak mu. Buang itu jauh-jauh. Ingat Audy, prioritaskan anak yang di dalam kandungan lo sekarang. Kalo lo disini terus gue pastikan lo keguguran karena banyak pikiran"


Audy terdiam memikirkan perkataan Chacha. Kesempatan itu Chacha ambil dengan menarik Audy keluar dari rumah itu.


"Tiara temui saya di rumah utama keluarga Rahardian" ucap Levy lalu pergi meninggalkan kediaman Pandey.


Tiara hanya mematung di tempat mendengar perintah Levy.


...****************...


Maafkan semalam tak up karena di rumah author kena pemadaman listrik. Cukup lama sampai tengah malem baru idup, jadi author juga gak bisa up


Sebelumnya author ucapkan terimakasih buat kalian yang masih stay sama cerita ini.


Terimakasih juga buat Kak Nimgsih Gustia, matur sembah nuwun kak koinnya



Jangan lupa like, coment and vote ya.


mampir juga di karya author yang lain, jangan lupa tekan Favorit 💙 dan tinggalkan jejak setelah membaca 🥰


Happy Reading All 💕

__ADS_1


__ADS_2