Call Me Queen

Call Me Queen
Rata dengan Tanah


__ADS_3

Gencatan senjata tak dapat hindari lagi. Korban terus berjatuhan, baik pihak musuh ataupun anggota sendiri. Tuan Ibra bergetar melihat pemandangan di depannya. Mereka akan terus saling menekan sebelum pemimpin sesungguhnya keluar.


Sedangkan mereka sudah dalam posisi terdesak. Anggota Chacha yang terluka sudah di tarik mundur. Itu adalah peraturan penting yang Death Rose miliki. Anggota yang sudah terluka tidak boleh berada dalam medan tempur lagi. Mereka harus mendapatkan perawatan medis sesegera mungkin.


Tuan Ibra memberi kode pada istrinya untuk turun ke medan tempur, dia dan sang istri bertekad untuk berkorban kali ini. Melihat cucu laki-lakinya dan sahabat cucu perempuannya bertarung demi kedamaian keluarga besarnya membuat dia merasa tidak berguna. Tidak ada pilihan lain selain dirinya dan sang istri ikut turun ke medan tempur untuk memancing pemimpin musuh keluar dari sarangnya.


Namun, langkahnya terhenti saat mereka melihat banyak orang bersenjata lengkap ikut mengepung musuh yang mulai mengendalikan anak buah Chacha. Tuan Ibra mematung sejenak untuk mengenali tamu yang baru datang ini. Mereka ada di pihaknya, namun mafia mana yang membantu dirinya.


Hingga tak lama kemudian. Tampak Levy berjalan dengan santai ke tengah-tengah kerumunan yang sedang beradu senjata. Melihat itu Tuan Ibra melotot tak percaya, cucu menantunya benar-benar terjun ke dunia mafia. Apakah cucu nakalnya itu alasan dibaliknya Levy memimpin Blood Rose. Sebagai senior dalam dunia mafia, tentu saja Tuan Ibra tahu bagaimana perkembangan juniornya di dunia bawah. Selain sang cucu yang menjadi pemimpin terkejam dan cukup misterius. Pemimpin Blood Rose juga tak kalah sadis dan sangat tertutup, namun siapa yang akan menyangka jika Levy lah pemimpin Blood Rose yang selama ini membuat dirinya penasaran.


Melihat anak buah Levy yang dipimpin langsung oleh sang pemimpin ikut mengepung musuh, membuat Tuan Ibra mengurungkan niatnya untuk turun ke medan perang. Pasukan Levy cukup membuat musuh dalam keadaan terdesak. Namun, pihak musuh tampak santai saja sekalipun dalam keadaan terdesak. Hal itu membuat Nyonya Besar Izhaka memiliki kekhawatiran tersendiri.


Anggota Death Rose hanya tinggal beberapa yang mampu berdiri dan masih setia memegang senjata apinya. Sungguh tanpa komando langsung dari Chacha mereka kelabakan. Selama ini gerakan dan tindakan mereka dilakukan sesuai perintah. Kini mereka bergerak tanpa perintah, sama saja mengantarkan nyawa pada musuh sebenarnya. Apalagi ketiga ketua tim elit tidak berada ditempat. Caesar, Chiara dan Pandu harusnya bisa menggerakkan setengah anggotanya. Karena akses keseluruhan memang dipegang oleh Chacha, setidaknya separuh anggota mereka bisa membantu. Karena anggota tim elit memiliki jiwa kepemimpinan tersendiri dalam diri mereka, didikan Chacha yang begitu keras membuat tim elit susah untuk ditaklukkan.


Tuan Ibra menunduk saat lagi-lagi banyak korban yang berjatuhan. Cucu laki-lakinya memiliki beberapa tembakan, begitu juga dengan cucu menantunya. Para sahabat Chacha cukup aman, karena hanya memiliki beberapa goresan ditubuhnya.


"Sebelum banyak korban yang berjatuhan lagi, kita harus turun tangan, Mas"


"Ya kau benar. Kita harus turun tangan kali ini"

__ADS_1


Namun lagi-lagi mereka gagal turun ke medan tempur saat melihat tiga ketua tim kebanggaan sang cucu datang bersama pasukannya. Caesar dengan pasukannya langsung menyerang dengan gesit. Disusul Pandu dan timnya sebagai penyerang di balik punggung Caesar. Sedangkan Chiara, dirinya sudah membawa anak buahnya untuk lomba naik pohon atau semacamnya. Chiara, sang sniper kesayangan nona muda Izhaka ini membawa pasukan khusus miliknya.


Ketiganya hanya mampu menggerakkan setengah anggotanya saja, sedangkan anggota utama mereka masih berdiam di markas. Percuma saja mereka datang, karena senjata mereka belum terakses jika sang Queen tidak memberi ijin. Meskipun datang dengan setengah pasukan saja, namun jangan ditanyakan soal bertarung. Chacha tidak pernah salah memberi nama mereka tim elit. Di dukung peralatan canggih dari sang ratu mereka dengan cepat membuat musuh terpukul mundur.


Karin dan yang lainnya langsung bernapas lega. Mereka langsung menghampiri King dan Levy yang sudah pucat karena kehabisan banyak darah. Dengan cepat mereka membawa kedua pemimpin besar itu ke ruang tindakan. Sedangkan Karin dan lainnya menghampiri pasangan Izhaka itu.


Ditengah medan pertempuran masih berdiri anggota tim elit beserta ketua tim mereka. Caesar mendadak aneh saat musuh dengan mudah dikalahkan. Menurut Chila, mereka akan susah ditaklukkan karena selama ini telah memasukkan penyusup ke dalam anggota Death Rose. Namun, Chila tidak bisa melacak siapa itu.


"Kenapa mereka masih berdiri di sana? " Heran Nena sesekali menekan lukanya.


"Entahlah, bukankah pertempuran ini sudah berakhir? Buktinya Chiara turun dari atas pohon" Tambah Zeze.


"Wajar jika Chiara terlihat begitu menakutkan, bukankah Chacha meminta nyawanya sebagai tameng dirinya dulu. Jadi menurut gue, Chiara berusaha keras untuk melindungi nyawa dia sendiri" Tambah Fany.


"Akh" Teriak Karin begitu keras membuat semuanya menoleh ke arahnya.


Caesar, Chiara dan Pandu melotot tak percaya saat melihat kakek, nenek dan sahabat Chacha sudah dalam genggaman musuh. Pantas saja musuh begitu mudah dikalahkan, rupanya mereka sedang mengalah. Mereka sudah berhasil menyusup dalam pertahanan yang dibangun oleh Death Rose.


Ketiganya saling pandang. Seakan mereka sedang berbicara hanya lewat pandangan mata. Chiara tampak menghela napas berkali-kali, sebisa mungkin semuanya harus selamat. Tapi, bukankah mereka berhasil mengamankan Levy dan King. Beban mereka berkurang, sekarang tinggal bagaimana cara mereka bertiga menyelamatkan sahabat Chacha.

__ADS_1


Ketiganya memberi perintah pada masing-masing anak buahnya untuk melepaskan seluruh senjata mereka dan mengangkat tangan mereka tanda menyerah. Begitu juga dengan ketiganya. Para sahabat Chacha melotot tak percaya, bagaimana tidak? Mereka akan menjadi tawanan musuh. Belum lagi kondisi Chacha yang belum sadarkan diri.


"Hahahaha" Suara tawa terdengar begitu menjengkelkan di telinga mereka semua.


"Ibra, ku kira menaklukkan mu sesusah dulu. Ternyata semakin bertambah usia mu, semakin mudah kau ditaklukkan. Harusnya sejak dulu saja aku menyerang mu" Ucap seorang pria yang umurnya tak jauh beda dengan Tuan Ibra.


"Apa mau mu sebenarnya, Riko? Aku rasa dendam bukan diantara kita, itu hanya sebatas masa lalu orang tua kita"


"Masa lalu kata mu? Jika bukan karena ayah mu yang mendapatkan warisan keluarga Izhaka seluruhnya, aku dan ayah ku tidak akan hidup kekurangan"


"Bukankah Papa ku sudah membaginya secara adil. Ingat Riko, jika kau dan ayah mu tidak menghentikan sikap boros dan suka berjudi itu, mana mungkin kalian akan hidup miskin, hah? "


"Kau hanya tahu berkata saja, apa kau lupa jika ayah ku meninggal karena ulah ayah mu" Teriaknya.


"Hei jaga ucapan mu. Justru papa ku yang membawa paman Riki ke rumah sakit saat itu. Papa mu sempat tertolong, namun karena kebodohan mu yang tidak ingin mendonorkan darah membuat paman meninggal. Dengan mudahnya kau mengatakan papa ku dibalik kematian ayah mu. Apa kau tidak sadar, jika darah keturunan Izhaka itu langka, hah? " Bentak Tuan Ibra tak kalah keras.


"Cukup meneror seluruh keturunan ku Riko. Jika ada masalah dengan ku, maka selesaikan dengan ku" Tambahnya.


"Tidak, dendam ini akan terus berlanjut sebelum Izhaka rata dengan tanah" Ucapnya berapi-api.

__ADS_1


"Ingin meratakan Izhaka dengan tanah? Apakah kau sudah bangun dari mimpi indah mu itu, Kakek? " Mereka semua terdiam saat mendengar suara namun tidak ada wujudnya.


__ADS_2