
Tiga helikopter terbang memutar di atas mereka, Levy hanya menatap itu dengan tatapan datar.
"Lev lo yakin bakal nyusul ke bawah? " Tanya Fany.
"Kenapa? "
"Gue bakal coba hubungi Chacha dulu, lo suruh anak buah lo sisir tempat ini"
"Gue harus pastiin sendiri, Fan"
"Gue tau lo panik Lev. Tapi kita tak pernah bertindak tanpa perintah, gue takutnya malah ngerusak rencana yang udah Chacha susun"
"Terus gue harus diem aja gitu disini" Geram Levy frustasi.
Ketenangan Levy mulai menipis berganti dengan kegelisahan yang menghampiri. Levy sungguh tak bisa berdiam diri saat istrinya belum ada kabar.
"Ya? " Fany bersuara membuat yang lain langsung menoleh ke arahnya.
"Kirim helikopter ke bawah. Gue di tebing sebelah barat, gue nyalain lampu kecil nanti buat titik lokasi gue. Jemput gue di sana" Suara Chacha yang terdengar.
"Oke"
Saat Fany hendak meminta Karin untuk menyusul Chacha, Levy memberi kode jika dirinya yang akan turun menjemput Chacha. Fany hanya mengangguk.
"Na, kasih earpiece lo sama Levy, biar gue bisa pantau dari sini" kata Fany.
Tanpa protes Nena langsung membuka earpiece yang dipasang dan memberikannya pada Levy.
Levy langsung menyambar tali yang menggantung disalah satu helikopter yang sedang berputar di udara. Setelah sampai di dalam helikopter, Levy langsung memberi perintah pada bawahannya untuk turun.
Dengan perlahan anak buah Levy membawa helikopter ke dalam jurang. Chacha hanya akan memberi lampu kecil sebagai tanda. Levy mulai memerintahkan anak buahnya untuk ke sisi sebelah barat.
__ADS_1
Levy bisa melihat ada titik putih kecil di tebing. Langsung saja Levy menyuruh anak buahnya untuk mendekat, tampak Chacha terlihat disana.
Chacha masih awas pada sekitar, mata birunya menatap lekat ke arah timur, entah apa yang ia lihat, Levy tak peduli. Yang ia pedulikan hanya istrinya, cukup dia baik-baik saja. Itu sudah cukup.
Mendengar suara helikopter mendekat Chacha langsung menatap tajam helikopter itu. Bukan helikopter miliknya pribadi ataupun organisasi. Chacha mempertajam penglihatannya, berbekal sinar bulan Chacha dapat melihat lambang mawar merah di badan helikopter. Blood Rose. Itu pikirnya.
Chacha mengernyit bingung awalnya, hingga tanpa sadar ia mengarahkan senjatanya ke arah helikopter. Namun tak berapa lama langsung diturunkan. Chacha melihat suaminya sedang menatap tajam ke arahnya. Chacha tau itu bukan tatapan marah, namun memang cara menatap Levy lah yang seperti itu.
Saat helikopter sejajar dengan dirinya, Chacha langsung melompat ke dalam, tepat di pelukan Levy. Namun Levy tak kunjung melepas pelukannya, Chacha menyadari tubuh Levy sedikit gemetar. Entah karena takut akan dirinya celaka atau apa Chacha tak tau.
"Mas" Seru Chacha pelan.
Levy melepaskan pelukannya mendengar panggilan Chacha. Menatap lekat manik mata Chacha. Chacha dapat menangkap gurat khawatir dalam mata suaminya. Chacha hanya menatap mata Levy dengan teduh dan senyum manisnya, menandakan bahwa dia baik-baik saja.
"Rin, kawal bagian timur untuk keluar dari hutan hingga jalan raya seberang sana. Mereka membawa tawanan" Perintah Chacha masih berada dalam pelukan Levy.
"Fany, suruh Nena dan Zeze sisir belokan satu sampai sepuluh, musuh bersembunyi di sana"
Setelah pelukannya terlepas, Chacha mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya. Anak buah Levy yang ikut dalam helikopter itu melotot tak percaya melihat apa yang Chacha pegang. Bom mini. Dalam lingkaran mafia, tersedia hanya satu orang yang bisa membuat bom mini, dan meledakkan sesuai kemauannya. Kini mereka melihat sendiri bagaimana Chacha dengan mudahnya memainkan bom mini ditangannya.
Tanpa belas kasihan Chacha melemparkan dua bom mini kebawah, mereka hanya menghitung dalam hati. Helikopter terus terbang untuk keluar dari jurang secara perlahan. Saat ledakan terjadi, mereka sontak melihat kebawah, kecuali Chacha dan Levy. Mereka bahkan bergidik ngeri melihat besarnya api yang dihasilkan oleh ledakan tersebut.
Di permukaan, mereka yang menunggu titik terang tentang Chacha dikagetkan dengan bunyi ledakan yang berturut-turut. Perasaan mereka langsung kacau saat mendengar ledakan tersebut. Pikiran negatif langsung menyapa pikiran mereka. Tapi kekhawatiran mereka sedikit hilang saat melihat Fany, sahabat Chacha. Masih santai dengan laptop di pangkuannya. Bahkan seperti tak terpengaruh dengan bunyi ledakan yang terdengar.
"Fan, tahan teman-teman Levy di rumah tadi. Jangan biarkan satu orang pun keluar sebelum gue sampai"
"Kenapa? " Tanya Levy setelah Chacha selesai memberikan instruksi.
"Nanti kamu juga tahu sendiri" Levy menangkap ada sesuatu yang masih Chacha sembunyikan.
Levy hanay diam menyaksikan Chacha yang asik dengan ponselnya, entah apa yang dia lakukan. Namun, kali ini Chacha terlihat serius, itu kenapa Levy memilih diam tak menganggu.
__ADS_1
"Kalian bisa pakai helipad disebelah selatan untuk mendaratkan helikopter ini" Kata Chacha setelah selesai dengan ponselnya.
"Kenapa gak pakai yang di utara, bukankah itu lebih dekat dari rumah yang ada di sana? " Tanya Levy, karena tadi dirinya sempat melihat ada helipad juga disebelah utara.
"Itu khusus helikopter yang Karin bawa. Memang di sana tempatnya" Levy hanay mengangguk mendengar ucapan Chacha.
Setelah mendarat dengan selamat, Chacha langsung turun dengan di gendong oleh Levy. Entahlah dirinya sedang malas melangkah. Chacha bahkan mulai memejamkan matanya dan merebahkan kepalanya dipundak Levy.
Saat sampai di samping mobil yang menjemputnya, Levy bingung kenapa Chacha masih menempel padanya. Namun melihat kode dari bawahan Chacha, senyumnya mengembang. Dengan sabar dan hati-hati Levy meletakkan Chacha di kursi penumpang. Setelah selesai dirinya juga masuk menemani Chacha disampingnya.
Mobil yang membawa keduanya sampai didepan rumah yang sejak tadi dijaga oleh Fany, disusul dengan Zeze dan Nena. Jangan lupakan Kinos dan Putra yang memasang wajah malas sejak tadi.
Melihat mobil memasuki halaman rumah, mereka langsung berdiri serempak, namun sebelum kata terucap Levy sudah memberi kode agar diam. Tapi siapa sangka saat memutar dan membuka pintu mobil, Levy disambut dengan senyum manis istrinya itu. Ekspresi wajah Levy langsung berubah datar seketika saat sadar dirinya sedang dijahili oleh istrinya itu.
Melihat wajah Levy yang berubah masam, Chacha hanya bisa terkikik geli. Dirinya keluar dari mobil, langsung mencium pipi Levy sekilas dan berlari ke dalam rumah.
Levy yang mendapat serangan mendadak hanya bisa mematung sambil mengumpulkan seluruh kesadarannya.
Chacha dengan cepat merubah ekspresi wajahnya saat sampai di ruang tamu. Tempat semuanya berkumpul.
"Nona Michelle Andrea ada yang ingin kau jelaskan? "
...****************...
untuk info up atau tidak bisa dilihat di grup chat author ya sayang💕
maaf baru up, karena ada sedikit masalah jadi baru bisa up sekarang.
jangan bosan menunggu😘
jangan lupa juga mampir di janda kembang author ya❤
__ADS_1