
"Hai girls" sapa Chacha pada keempat sahabatnya yang berwajah masam.
"Lama amat sih Cha" ucap Karin sambil memajukan bibirnya.
"Mau apa, hmm?" tanya Chacha.
"Itu" tunjuknya pada lantai dansa.
Chacha nampak berpikir sebentar melihat binar penuh harap dari sahabatnya. Mengambil nafas sejenak "udah sana aku tunggu disini" putusnya.
"Ish kenapa gak ikut sih kan gak asik" timpal Nena.
"Pergi atau kita pulang"
Mereka berempat langsung beranjak dari tempat duduknya sedangkan Chacha duduk manis didepan bartender sambil menopang dagunya.
"Ada apa?" tanya sang bartender santai. Kenapa bisa santai? Karena dia salah satu bawahan Chacha yang ikut mengurus club ini.
"Berikan aku wine" jawabnya.
"No, aku tak akan memberikanmu itu Queen" ucap sang bartender tegas.
"Ish kau ini sama saja dengan yang lain" ucapnya cemberut membuat bartender itu terkekeh.
"Ada masalah apa hmm?" tanyanya lembut.
"Dia akan kembali kak. Ah, aku lelah seperti ini terus" adunya
"Seperti ini? Maksudnya?" tanyanya bingung.
"Ish, aku lelah jadi anak patuh tapi tetap tak dianggap oleh Ayah"
"Kembalilah ke jati dirimu Queen, aku lebih suka melihatmu yang dingin diluar tapi begitu manja saat bersama kami dan kau tau apa yang paling dirindukan bawahan mu"
"Apa?"
"Mereka merindukan sosok pemimpin mereka yang barbar saat menghadapi musuhnya" jawabnya sambil terkekeh saat membayangkan gadis mungil didepannya dengan sikap angkuhnya saat mengahadapi musuh.
"Aku ini gadis anggun tau" ucapnya mengundang gelak tawa sang bartender.
"Ck darimana nya kau terlihat anggun. Saat kau menyandang gelar Effendy saja kau terlihat anggun tapi saat kembali lagi pada gelar aslimu kau akan menjadi gadis bebas lagi, tapi itu lebih menarik daripada kau yang sekarang" jelasnya panjang lebar.
"Kakak ini, kau memuji atau mencibirku" ucapnya sambil memajukan bibirnya.
"Kami rindu sifat mu yang seperti ini Queen" gumamnya
"Ayolah berikan aku wine atau ku hancurkan tempat ini"
"Ini milikmu hancur pun kau yang rugi"
__ADS_1
"Eh iya ya" bartender itu tertawa melihat tingkah Chacha didepannya.
"Hanya satu gelas ini tak ada bantahan" tak urung dia menyodorkan segelas wine kepada Chacha.
"Ck kau tak asik. Tapi tak apalah, tapi ini tak terasa sama sekali" rengeknya setelah menandaskan minumannya itu.
"Kau ini masih remaja tapi kau sudah mampu minum melebihi orang dewasa"
"Kau lupa siapa aku?"
"Kau penerus utama dan satu-satunya tuan besar"
"Yaps karena tanda lahir dipunggung ku yang berbentuk mahkota itu membuatku jadi penerus utama"
"Lalu kenapa kau menutup rapat identitas mu?"
"Belum saatnya mereka tau siapa aku" ucapnya menatap lurus kedepan.
Chacha menoleh ketempat dimana sahabatnya bertempur dengan kegilaannya dilantai dansa. Dirinya hanya tersenyum melihat keempatnya tertawa namun senyumnya hilang saat melihat ada laki-laki mendekati salah satu sahabatnya.
"Oh ya Queen besok.... Ehh kemana dia?" tanya bartender entah kepada siapa dia bingung dengan Chacha yang seenaknya bisa menghilang dari pandangannya itu.
Chacha menghampiri keempat sahabatnya tentunya tanpa sepengetahuan mereka dengan sigap Chacha menarik laki-laki yang hendak menyentuh Karin tadi dan memberikan kode pada bawahannya yang sedang menyamar untuk melindungi keempatnya.
Chacha menyeret pria itu menjauh dan menyerahkan pada bagian keamanan lalu dia pergi begitu saja.
Dirinya juga kaget melihat Chacha menarik pria yang badannya lebih besar darinya dari lantai dansa. Keningnya berkerut heran. Dia terlalu lelah untuk berpikir, dirinya pun tak bisa pulang karena ketiga temannya itu masih asik dilantai dansa. Dia memilih memejamkan matanya dan bersandar.
"Disini bukan tempat untuk tidur" suara yang terdengar manis di telinganya membuat Levy membuka matanya perlahan.
"Queen" dirinya kaget saat melihat Chacha didepannya bahkan duduk disampingnya.
"Lo sendirian? Bukannya sama Kevin?" tanya Chacha
"Gu... gue..." Levy bingung harus menjawab apa.
Chacha mengedarkan pandangannya matanya tak sengaja menangkap dua manusia beda jenis kelamin berjoget sangat intim di lantai dansa hingga membuatnya menyunggingkan senyum sinis di wajahnya.
"Lo sendiri ngapain disini?" tanya Levy mengalihkan topik saat dia mengikuti arah pandang Chacha.
"Gue udah biasa disini, Lev. Tadi juga ada urusan dikit" jawabnya santai. Levy hanya mengangguk dirinya enggan untuk bertanya lebih lanjut karena tak ingin mencampuri urusannya.
"Quenn"
"Emm" ucapnya menoleh ke arah Levy.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo"
"Lev napa sih duduk sini gabung lah" ajak Kinos yang tak menyadari kehadiran Chacha.
__ADS_1
"Lo disini juga, Nos?" tanya Chacha.
"Eh, Queen" Kinos kaget sedangkan Chacha hanya menampilkan senyumnya.
Tak lama Putra dan Elang juga menyusul Levy tak kalah kagetnya dengan Kinos saat melihat Chacha disana.
Chacha melirik jam tangan yang melingkar ditangannya. "Kalian akan pulang atau masih disini?" tanya Chacha langsung.
"Entah" jawab Putra sambil mengangkat bahu.
"Kenapa Queen?" tanya Levy.
"Tolong anterin sahabat gue balik mereka bawa mobil cuma tolong pantau aja gue takut kenapa-napa dijalan"
"Lo sendiri?" Tanya Elang.
"Gue gampang tinggal pesen taksi online" jawabnya santai. "Bentar gue panggil mereka dulu"
Setelah memanggil keempat gadis itu Chacha mengkonfirmasi lagi pada ketiga teman Levy "gimana mau nggak?"
"Oke lah"
"Lo balik bareng gue, gue anterin" ucapan namun terdengar seperti perintah membuat yang lain tercengang. Pasalnya Levy tak pernah mengijinkan wanita manapun menaiki mobilnya. Putra, Kinos, dan Elang masih ingat saat Levy menyeret Chiara yang memaksa masuk kedalam mobilnya.
"Lo yakin Lev" tanya Putra ragu.
"Yakin, dah ayok pulang anterin noh empat gadis sampek rumahnya" ucap Levy lalu menarik tangan Chacha keluar dari club tersebut membuat mereka yang melihat hal tersebut kaget dengan sikap Levy pada Chacha.
Tak berpikir lama akhirnya mereka meninggalkan parkiran club tersebut mereka berpisah karena Chacha akan pulang ke apartemennya.
Namun, ditengah perjalanan Levy menghentikan mobilnya ditepi jalan membuat Chacha mengerutkan kening. Levy menyuruhnya turun dari mobilnya membuat Chacha kaget tapi dia heran kenapa Levy juga ikut turun.
Lalu Levy duduk di atas kap mobilnya diikuti oleh Chacha.
"Ada apa Lev?" tanya Chacha bingung.
"Sebenernya gue gak ada hak buat ngomong gini ke lo gue takut dibilang perusak hubungan orang"
"Maksud lo?" Chacha mengernyit heran.
"Kevin" Levy mengambil jeda sejenak "Dia tak sebaik yang lo kira"
Chacha tersenyum saat Levy mengatakan hal itu dia tak menyangka bahwa Levy sangat peduli padanya.
"Kenapa lo malah senyum?" tanya Levy heran.
"Gue udah tau semuanya, Lev?" Chacha langsung memeluk Levy membuat Levy kaget dengan tingkah Chacha.
"Thank's Lev"
__ADS_1