Call Me Queen

Call Me Queen
Queen Izhaka


__ADS_3

Seorang gadis melajukan motornya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan malam. Dirinya bukan tak mementingkan keselamatannya namun berkendara dengan kecepatan tinggi adalah kebiasaannya sejak dirinya tinggal diluar negeri.


Gadis itu mulai melambatkan laju motornya ketika melihat kerumunan sedang berkelahi, ia menghentikan motornya dan berjalan dengan anggun ke arah kerumunan tersebut.


Awalnya dia hanya memperhatikan saja hingga dia menemukan target empuknya. Dia menyunggingkan senyum tipis diwajahnya lalu berjalan mendekat. Tanpa aba-aba sebuah belati menempel secara manis dileher musuh yang ia yakini sebagai ketua penyerangan kali ini.


"Cukup" teriaknya.


Ucapannya mampu membuat perkelahian berhenti dan menoleh ke arahnya. Dirinya membuat kode mata yang hanya dimengerti oleh bawahannya tanpa basa-basi bawahannya memanfaatkan ketidaksadaran musuh untuk membekuknya.


"Katakan atas dasar apa lo nyegat dia?" tanya gadis itu masih menempelkan belati dileher sang musuh.


"Bukan urusan lo" jawabnya sedikit meringis karena belati tersebut mulai menggores lehernya perlahan.


"Gue punya penawaran bagus buat lo. Lo katakan siapa yang nyuruh lo, dari mana asal lo, setelah itu lo gabung sama gue" ucap gadis tersebut dengan sekali lagi menggores belati di lehernya.


"Lo cuma anak kecil. Emang siapa lo berhak tau siapa gue dan alasan gue"


"Lo yang maksa, gue udah kasih penawaran. Gini aja gue gak suka buang-buang waktu, kita duel kalo gue kalah lo bebas mau apain gue tapi kalo lo kalah nyawa lo dan anak buah lo ada ditangan gue. Gimana?" ucap gadis tersebut langsung menendang musuhnya ke depan.


"Hehehe ternyata lo cantik juga ya" ucap pria tersebut setalah melihat secara keseluruhan.


Tanpa aba-aba pria tersebut menyerang gadis itu. Sedangkan gadis tersebut hanya menahannya dengan mudah setiap serangan yang diterima. Dirinya berniat bermain-main dengan pria dihadapannya ini namun dia harus menuntaskan dengan cepat. Dengan cepat dia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya langsung menembaknya tepat di lutut sang lawan.


"Gue buru-buru jadi gak ada waktu buat ngeladenin lo lebih lama"


"Sialan lo. Lo curang" geramnya.


"Bodo amat lo mau bilang gue apa bukannya gak ada peraturan apapun. Sekarang lo bawahan gue"


"Periksa dia dari kelompok mana?"


"Baik Queen" ucap salah satu bodyguardnya.


Bodyguard tersebut maju dan memeriksa tubuh pria yang menjadi musuh gadis tersebut karena setiap kelompok mafia pasti memiliki tanda pengenal.

__ADS_1


"Dia dari Gang Dark Devil Queen"


"Hoo persaingan bisnis rupanya tapi sayang salah sasaran" ucapnya sambil menyunggingkan smirknya.


Lalu dirinya menekan beberapa nomor diponselnya. "Kita bertamu ke markas Dark Devil. Kalian berangkat tunggu saya di jarak aman"


"Siapa sebenarnya lo?" tanya pria tadi.


"Gue Queen of Black Rose" ucapnya santai.


"Hahaha maka gue dari Death Rose lo tahu kan kalo Death Rose itu nomor satu"


"Lo gila apa gimana sejak kapan Death Rose punya tanda dibelakang telinga hah. Jelas-jelas lo dari Dark Devil dan lo ngaku dari Death Rose lo cari mati sama gue hah" bentaknya. Pria tadi berubah gugup.


"Lo penghianat" Ucap gadis itu lagi setelah memeriksa pergelangan tangan pria tersebut.


"Gue Queen Izhaka pendiri sekaligus pemimpin Death Rose dan gue dinobatkan jadi Queen di Black Rose dan lo berkhianat sama gue"


Dorr...


"Bawa mayatnya ke markas identifikasi identitas pastikan dia tak membocorkan informasi penting kita. Bawa juga mereka, jika mereka tak mau jadi anggota Black Rose maka kalian tau apa yang harus kalian lakukan"


"Baik Queen"


Setelah memastikan para bawahannya pergi meninggalkan lokasi tersebut dirinya sendiri berjalan mendekati mobil yang menjadi target.


Tok... Tok... Tok...


Dirinya mengetuk kaca mobil tak lama kemudian keluar sosok gadis langsung memeluk dirinya erat.


"Cha gue takut. Gue bener-bener takut" tangisnya.


Ya gadis yang sejak tadi mengaku dirinya Queen adalah Chacha.


"Tenang lo udah aman kok ayo gue antar pulang"

__ADS_1


"Tapi tadi lo..."


"Lo ngeliat gue?" Karin hanya mengangguk sebagai jawaban dirinya masih shock melihat sahabatnya membunuh dengan mudah.


"Jangan cerita apapun kesiapapun. Jaga rahasia ini ada saatnya gue cerita ke kalian semua" Karin hanya mengangguk lagi sebagai jawabannya.


"Gue bakal nempatin pengawal bayangan gue buat kalian. Jadi sekarang tenang lo gue antar pulang. Masih bisa nyetir kan?"


"Gue bisa"


"Gue dibelakang lo naik motor"


Setelah itu Karin masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya diikuti Chacha dibelakangnya. Cukup 30 menit hingga sampai didepan rumah Karin.


"Gue langsung balik. Inget jangan cerita apapun" Karin hanya mengangguk.


Chacha langsung melajukan motornya lagi dengan kecepatan tinggi menuju markas Black Rose.


Ya siapa yang akan menyangka gadis belia seperti dirinya akan menjadi pemimpin 2 mafia terkuat di dunia dengan kepemimpinan nomor satu adalah mafianya sendiri yaitu Death Rose. Dirinya berkecimpung langsung di dunia bawah sejak memutuskan untuk membangun perusahaannya sendiri, awalnya memang sulit mengingat umurnya yang masih belia namun jangan salahkan otak cantiknya yang licik yang membuat beberapa mafia takluk dibawah kepemimpinannya. Tak lama kemudian dirinya sampai di markas Black Rose.


"Selamat datang Queen" ucap para mafioso serempak.


"Dimana mayat yang dibawa tadi?"


"Diruang pemeriksaan Queen" jawab salah satu mafioso.


Chacha hanya mengangguk dan berjalan menuju ruang pemeriksaan.


"Bagaimana?" ucapnya langsung setelah masuk keruang pemeriksaan.


"Beberapa informasi kita bocor ke Dark Devil Queen"


Chacha mengangguk dan menekan beberapa nomor di ponselnya. "Ratakan Dark Devil tanpa sisa kecuali sang pemimpin pastikan bawa dengan selamat. Selamat bersenang-senang" perintahnya mutlak.


"Ahh aku capek kak. Aku istirahat dulu" sikapnya kembali lagi ke sifat remaja.

__ADS_1


Meskipun dirinya pemimpin dia akan tetap memperlakukan bawahannya layaknya kakak laki-lakinya sendiri itu mengapa dia sangat dihormati berbanding terbalik bukan dengan kebiasaan para pemimpin mafia yang biasanya kejam dan sadis. Chacha tak seperti itu menurutnya ada waktunya kapan dia harus bersikap layaknya singa di hutan dan hiu dilautan.


__ADS_2