
Chacha kembali ke rumahnya setelah memastikan Bu Ratu dibawa oleh King ke rumah sakit. Dengan berjanji akan kembali bersama sangat suami membuat King membiarkan adiknya pulang terlebih dahulu.
Chacha sampai di rumahnya dengan diantar salah satu mafioso kepercayaan sang abang. Kakinya melangkah pelan saat memasuki rumahnya. Pikirannya berkelana memikirkan semuanya. Melihat Bu Ratu yang terbaring lemah membuat hatinya sakit. Namun, sekuat tenaga dirinya menahan diri untuk tak memperlihatkan rapuhnya di depan abangnya. Bahkan sampai sekarang Chacha melupakan untuk memberi informasi terbaru sang bunda pada semua keluarganya.
"Sayang" Sapaan Levy membuat Chacha tersadar dari alam pikirannya yang melanglang buana.
"Mas" Chacha melihat Levy yang duduk di sofa dengan raut khawatir.
Chacha berlari kecil menghampiri suaminya, dan langsung menubrukkan dirinya pada dada bidang Levy. Menumpahkan segalanya dalam dekapan hangat sang suami.
Levy semakin mengeratkan dekapannya saat merasakan tubuh istrinya bergetar diiringi dengan basahnya kaos bagian depannya. Istrinya menangis. Levy tak menanyakan ada apa ataupun kenapa, karena membiarkan istrinya tenang adalah yang utama saat ini. Levy tau beban pikiran yang dirasakan istrinya. Dia sudah membantu sebisa mungkin untuk memudahkan istrinya menghadapi setiap permasalahannya. Namun Levy akui permasalahan keluarga Chacha begitu rumit hingga membuat dirinya pusing sendiri.
Setelah merasa istrinya sedikit tenang. Levy melonggarkan pelukannya dan menatap wajah istrinya lembut. Chacha cemberut dengan sesegukan membuat Levy gemas sendiri melihatnya. Levy mencium pipi Chacha dengan sedikit menekan.
"Mas" Chacha Merengek kalau Levy tak kunjung melepaskan bibirnya dari pipi chubby miliknya.
"Gimana keadaan Bunda? " Tanya Levy setelah melepaskan istrinya yang terus merengek.
"Observasi di rumah sakit. Aku udah telfon Kak Shiro buat ambil sampel darah Bunda" Levy mengangguk mendengar penuturan sang istri.
"Mandi dulu, kamu sudah makan? " Chacha diam. Dirinya bahkan lupa untuk sekedar memasukkan sesuatu kedalam mulutnya. Chacha menggeleng pelan.
Melihat istrinya menggeleng, Levy hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
"Mandi dulu, Mas masakin sesuatu" Perintahnya. Chacha hanya mengangguk. Dia sudah beruntung Levy tak mengomel karena dia lupa makan.
Setelah melihat Chacha pergi ke arah kamarnya Levy langsung bergegas ke dapur untuk membuat makanan. Levy hanya akan membuat nasi goreng saja. Itu menu paling mudah dibuat dan cepat. Levy mulai berkutat dengan bahan-bahan dapur.
Sedangkan di kamar Chacha langsung bergegas menuju kamar mandi. Tubuhnya butuh diguyur air dingin dengan segera. Kepalanya serasa mau meledak memikirkan semua permasalahan yang datang menimpanya dan keluarga.
Lima belas menit kemudian Chacha keluar dengan handuk yang melilit tubuh montoknya. Chacha segera masuk ke dalam walk in closet. Tak lama setelahnya Chacha keluar menggunakan dress ibu hamil lalu duduk di depan meja rias nya. Chacha hendak mengeringkan rambut nya namun terhenti ketika melihat Levy masuk membawa sepiring nasi goreng porsi jumbo untuk dirinya.
"Pindah sini makan dulu" Panggil Levy setelah meletakkan bawaannya di atas meja. Chacha menurut saja tanpa berbicara.
"Duduk di bawah bisa kan, Yang? "
"Hah? " Chacha kaget saat Levy meminta dirinya untuk duduk dibawah. Bukannya tak bisa, nanti dirinya hanya kesusahan saat akan bangun.
"Kamu makan biar mas keringin rambut kamu" Chacha hanya manggut-manggut mendengar jawaban Levy.
"Mas"
"Hmm" Levy sibuk mengambil hair dryer Chacha yang terletak di meja rias nya.
"Mau es jeruk"
"Hah? "
"Mau es jeruk"
__ADS_1
"Sekarang? "
"Iya"
"Habis makan aja ya? "
"Buat minum pas habis makan nanti" Chacha mulai mengerucutkan bibirnya, Levy meletakkan kembali apa yang telah diambilnya.
"Tunggu disini Mas buat dulu di dapur" Chacha mengangguk dengan mata berbinar. Levy hanya tersenyum sambil mengacak rambut basah istrinya.
Tak lama setelah kepergian Levy ponsel Chacha bergetar. Chacha melirik sekilas ke arah ponselnya. Tampak nama Chila yang tertera sebagai ID caller.
"Hmm? "
"Ada yang aneh dengan asisten pribadi Tuan Gunawan, Kak"
"Selidiki lebih lanjut"
"Baik, Kak"
Chacha langsung mematikan sambungannya. Kini benang kusut permasalahan keluarga nya mulai terurai perlahan. Chacha benar-benar akan menumpas tuntas setelah melahirkan. Dirinya hanya perlu bersabar dua bulan lagi.
"Ini es jeruknya tuan Puteri"
"Maaciw papa tampan" Balas Chacha dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Aku gak goda loh"
"Kedip-kedip gitu ngapain kalo gak goda aku namanya? "
"Tapi goda suami sendiri kan gak papa, Yang"
"Iya gak papa, yang kenapa-napa itu kamu. Jangan cari perkara badan kamu capek, gak mungkin aku garap kamu sekarang. Bisa gak balik ke rumah sakit buat liat bunda nanti" Chacha hanya mencebikkan bibirnya. "Kode minta dicium? " Levy menaikkan sebelah alisnya.
"Apa sih? "
"Makan mumpung masih hangat, Yang. Sekalian aku keringin rambut kamu. Setelah ini kita langsung ke rumah sakit atau kamu mau istirahat dulu? " Levy mengambil kembali hair dryer yang sempat ia letakkan tadi.
"Langsung aja ya, Mas. Dikamar bunda juga ada bed lain buat istirahat kan. Jadi aku istirahat di sana aja" Jawabnya sambil duduk dan menyuap nasi goreng buatan Levy ke dalam mulutnya.
"Iya, tapi sampai sana beneran istirahat loh. Gak ada tuh namanya ikut kunjungan bangsal dan lain sebagainya"
"Iya Mas iya. Tapi kalau meriksa bunda boleh kan? "
"Kalo itu gak ada larangan. Kan kita nanti di ruangan yang sama" Chacha hanya manggut-manggut menanggapi perkataan Levy. "Keluarga yang lain udah di kasih tau, sayang? "
"Biar jadi urusan Abang lah. Tapi aku yakin mereka sudah di rumah sakit sekarang"
"Ya udah habisin makannya. Mas mandi dulu, ini rambut kamu juga udah kering kok"
__ADS_1
"Maaciw ganteng ku" Levy hanya mengangguk, jika Chacha dalam mode genit seperti ini. Tak akan ada habisnya dia menggoda suaminya itu. Pasalnya jika benar-benar digempur di atas ranjang, setelahnya Chacha akan teriak-teriak karena badannya sakit ini itulah. Chacha sering khilaf saat hamil.
"Gak usah dibawa ke dapur, biar Mas nanti yang beresin. Selesai makan kamu siapin aja yang mau dibawa ke rumah sakit" Chacha mengangguk patuh, mulutnya penuh dengan nasi goreng.
Levy meletakkan dan merapikan kembali hair dryer sang istri di tempatnya. Setelah semuanya selesai barulah dirinya melangkah ke arah kamar mandi.
Chacha juga telah menyelesaikan makannya. Dirinya bangkit dan merapikan meja tempatnya makan. Menumpuk semuanya dalam satu nampan, agar Levy nanti mudah saat membawanya.
Setelahnya Chacha duduk di depan meja rias nya. Hanya memoleskan make-up tipis di wajah mulusnya. Bibirnya hanya dia bubuhkan liptint agar terlihat lebih segar. Karena memang sejak remaja Chacha jarang menggunakan lipstik. Dirinya lebih nyaman menggunakan liptint sebagai pewarna bibirnya. Meskipun tanpa liptint pun bibirnya sudah berwarna pink cherry.
Selesai dirinya berhias, indera penciuman nya menangkap wangi maskulin yang familiar. Dirinya menoleh, tampak Levy baru saja keluar dari kamar mandi. Masih menggunakan handuk yang melilit di bagian pinggangnya. Tangannya sibuk dengan handuk kecil yang ada di kepalanya. Chacha tersenyum usil saat melihat Levy yang masih menunduk.
Dengan gerakan pelan, Chacha mendekati Levy. Chacha sengaja bergerak tanpa suara. Lalu mendekap Levy dari belakang. Meskipun terhalang perut buncit nya, tak membuat Chacha kesusahan untuk mendekap tubuh kekar sang suami.
"Baju kamu basah nanti, sayang. Badan aku masih basah ini loh"
"Gak papa, tinggal ganti baju lagi aja kan. Kamu wangi"
"Namanya juga habis mandi, cinta"
"Sayang" Levy mulai memperingati Chacha saat tangan mungil itu mulai bergerak meresahkan di dada Levy.
"Apa hmm? " Suaranya begitu menggoda di telinga Levy.
"Yang emhh" Levy memejamkan matanya saat tangan istrinya meloloskan handuk yang melilit pinggangnya dan tangan nakalnya menggoda sesuatu yang tak seharusnya Chacha goda.
Dengan tubuh polos akibat ulah istrinya, Levy langsung membalik badannya dan menggendong Chacha menuju ranjang mereka.
"Akh" Chacha memekik kaget saat Levy mengangkatnya dan meletakkannya di ranjang.
"Bakal sih, tanggung jawab" Levy langsung mengurung Chacha di bawahnya. Chacha hanya tersenyum nakal menanggapi ucapan sang suami.
Dengan sekali sentak Levy menarik dress yang digunakan oleh istrinya membuat tubuh montok itu polos seketika. Levy menyeringai mesum ke arah istrinya. Alih-alih pasrah Chacha malah mengedipkan sebelah matanya untuk menggoda Levy.
Levy langsung melakukan pemanasan pada istrinya sebelum kegiatan inti dimulai. Chacha hanya pasrah saat Levy melakukan foreplay di atas tubuhnya.
Namun Levy tak menduga saat istrinya membalik tubuhnya. Kini tubuh montok itu duduk di atas perut sixpack nya. Levy hanya tersenyum menggoda saat melihat tatapan genit yang Chacha layangkan padanya.
"Kau siap, sayang? "
"As you wish, baby" Jawab Levy yang dipenuhi kabut gairah.
Chacha menaikkan sedikit tubuhnya dan menurunkan tubuhnya secara perlahan. Keduanya sama-sama memejamkan mata, menikmati apa yang mereka lakukan. Hingga erangan Levy memenuhi kamar mereka saat Chacha mulai menggerakkan badannya.
Hingga pelepasan pertama Chacha dapatkan dengan posisi dirinya di atas, tak membuang kesempatan Levy langsung membalik pelan tubuh sang istri. Levy kembali membenamkan istrinya di kasur empuk miliknya.
Entah berapa lama mereka melakukan penyatuan, hingga hasil akhir berakhir dengan Chacha yang tertidur pulas karena kelelahan. Levy hanya terkekeh mendapati istrinya tidur dengan polosnya.
"Nantangin sih" Levy mencium pucuk kepala istrinya lalu menyusulnya ke alam mimpi.
__ADS_1