
Levy masih asik menarik tangan Chacha tanpa suara sedikitpun membuat Chacha sedikit kesal.
Hingga akhirnya Chacha mengerutkan keningnya setelah tiba ditempat yang Levy tuju.
"Ngapain kesini?"
"Mandi" jawabnya sambil terkekeh.
Chacha menggembungkan pipinya tanda kesal. Jelas-jelas didepannya adalah toko perhiasan.
Levy meninggalkan Chacha didepan toko perhiasan tersebut lalu masuk sendiri kedalam. Chacha yang kesal hanya menunggu di luar sambil bergumam tak jelas.
Hingga ditengah-tengah gumamannya Chacha merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya. Tentu dirinya kaget tapi hanya sesaat, ketika Levy muncul didepannya dengan senyum terbaiknya.
"Ini keputusan yang aku ambil tapi akan dilaksanakan di masa depan" ucapnya.
Chacha meraba lehernya sebuah kalung berbandul huruf RH mengihias cantik dilehernya.
"Levy Rahardian" ucap Chacha sambil tersenyum.
Levy mengangguk membalas ucapan Chacha.
"Tapi kenapa?"
"Biar jadi tanda kalo kamu milik aku" ucap Levy lalu memeluk Chacha didepan keramaian seraya membisikkan "I Love You Queen Izhaka"
Chacha yang mendapat bisikan seperti itu merasa linglung sebentar dan membalas pelukan Levy dengan erat.
"I Love You Too My King" Levy hanya tersenyum mendengar balasan Chacha.
"Kita rahasiakan hubungan kita dulu hingga waktu yang tepat" ucap Levy setelah melepaskan pelukannya.
Chacha hanya mengangguk menanggapi perkataan Levy karena dirinya juga masih akan disibukkan dengan berbagai tugas yang menantinya.
Mereka berdua berjalan meninggalkan toko perhiasan tersebut untuk kembali berkumpul dengan para sahabatnya.
Hingga akhirnya Chacha bersuara "Baru jadian udah LDR-an aja mana lama lagi" membuat Levy terkekeh.
"Zaman udah canggih sweety"
Chacha hanya mengehembuskan napas kasar membuat Levy gemas sendiri melihat kelakuan Chacha.
"Yakin gak mau beli sesuatu?" tanya Levy.
"Marshmallow" jawabnya dengan puppy esyesnya.
"Ntar malem aku antar ke mansion kamu"
"Beli sekarang ih"
__ADS_1
"Dirumah banyak loh sweety tadi sebelum pulang sekolah oma ngabarin kalo tante main kerumah bawa marshmallow sekalian aku bawa ponakan aku kesana biar gak sepi kamunya" jelas Levy panjang lebar.
"Seriusan ya"
"Iya sweety"
"Asik ya yang beduaan mulu kitanya ditinggal" sindir Karin pada mereka berdua setelah sampai awal mereka berpisah.
"Bentar doang. Udah bayarnya?" tanya Chacha tanpa rasa bersalah.
Fany hanya mengangguk seraya mengembalikan kartu yang Chacha berikan tadi.
"Cha emang lo gak rugi bandarin kita. Ini semua lebih 10 juta loh Cha?" tanya Elang.
"Sekali-kali manjain kalian" jawabnya santai membuat yang lainnya melongo tak percaya kecuali Levy yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
"Gak ada yang beli sepatu?" tanya Chacha lagi. Mereka kompak menggeleng.
"Gue mau cari sepatu ada yang mau?" mereka hanya mengangkat bahu.
Chacha berjalan duluan menuju tempat sepatu disusul Levy lalu yang lainnya.
"Tumben gak beli online?" tanya Levy.
"Sekali-kali lah. Biasanya juga gak pernah beli sendiri kan" jawabnya sambil terkekeh.
"Masih sering malakin abang sama kakek buat beli sepatu?" Chacha hanya mengangguk menjawab pertanyaan Levy.
Hingga mereka bersembilan tiba di depan toko sepatu. Tapi, Chacha menghentikan langkahnya karena keributan didalamnya.
"Pindah toko ajalah Cha. Ada yang gelut tuh" saran Karin tapi Chacha hanya diam memperhatikan kedalam toko.
"Cha?" sentuh Fany pada pundak Chacha membuatnya menoleh.
"Kalian pilih kalo ada yang suka bawa ke kasir tunggu gue disana, gue urus mereka dulu" ucapnya lalu meninggalkan mereka berdelapan.
Chacha mendekat kearah keributan yang sedang terjadi. Yang dapat dirinya tangkap adalah dua orang pembeli yang sedang di bully oleh pembeli lain dan pegawainya juga ikut-ikutan hingga mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung toko.
Chacha yang kala itu hanya memakai jeans robek dipadukan dengan t-shirt serta sepatu kets kesayangannya menghampiri kerumunan dan langsung menangkap tangan yang akan menampar salah satu pembeli yang sedang di bully itu.
"Siapa kamu berani-beraninya mencampuri urusan saya" ucap wanita paruh baya namun masih terlihat elegan dengan semua barang yang dikenakannya.
Chacha masih memegang tangan wanita paruh baya tersebut dengan pandangan datar.
"Wanita terhormat namun kelakuannya tak terhormat" kalimat singkat yang Chacha lontarkan mampu membuat wanita itu marah dan menarik paksa tangannya dari cengkaraman Chacha.
"Heh anak kecil kamu mau jadi pahlawan dengan membela dua orang miskin ini" tanya wanita paruh baya tersebut.
Chacha menoleh kearah dua orang yang sejak tadi menunduk menerima setiap cacian yang wanita itu lontarkan. Dirinya sempat kaget melihat siapa mereka berdua namun tertutupi dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
"Mereka miskin materi tapi tidak miskin harga diri" sarkas Chacha.
"Udahlah ma. Kita pergi aja yuk" ajak wanita muda disampingnya, kemungkinan anaknya.
"Gak bisa dong, dia berani-beraninya mau mengambil sepatu yang kamu mau" jawab ibu itu masih tak mau kalah sambil menunjuk salah satunya.
"Maaf mbak siapa yang lebih dulu memilih sepatu itu?" tanya Chacha pada pegawai disana.
Pegawai itu melirik sebentar kearah wanita angkuh tadi lalu menjawab "Nyonya ini yang lebih dulu memilih dek" jawabnya dengan tatapan merendahkan pada dua orang tadi.
"Kau yakin?" tanya Chacha menyelidik.
Dengan mantap dirinya mengangguk. Lalu Chacha menoleh pada pegawai yang lainnya.
"Panggil manager kalian kemari"
"Tapi..."
"Panggilkan" dengan nada dingin kali Chacha memerintah pegawai tersebut.
Semua pengunjung yang menyaksikan kejadian tersebut dibuat heran dengan kelakuan Chacha. Seorang gadis muda bisa membuat pegawai tersebut tak berkutik.
Setelah mereka menunggu beberapa saat seorang pria paruh baya berjalan dengan tenang menuju kerumunan yang ada.
"Ada apa ini?" tanyanya dengan nada dingin melirik pegawainya.
Chacha memutar badannya yang memunggungi pria paruh baya yang dia yakini sang manager yang datang langsung.
Sang manager terkejut saat melihat Chacha secara langsung.
"Nona muda" dirinya langsung membungkuk dengan hormat.
"Didik kembali pegawai mu. Seleksi ulang mana yang layak dan tidak layak"
"Maaf sebelumnya nona muda kalau keadaan ini membuat anda tak nyaman" sang manager lalu menoleh ke arah pegawainya. "Bisa kau jelaskan?"
Dengan gugup pegawai itu menjelaskan apa yang terjadi. Namun, penjelasannya membuat Chacha menaikkan sebelah alisnya.
"Cek CCTV sekarang" perintah Chacha. Sang manager hanya mengangguk lalu pergi meninggalkan kerumunan itu.
Chacha hanya menunduk menatap lantai sambil memainkan kakinya mengusir kebosanan karena menunggu.
"Cha" suara tak asing menyapa telinganya membuat dirinya mendongak. Sahabatnya telah kembali.
Namun yang membuat mereka heran Chacha menatap Karin dengan lekat.
"Ada apa?" tanya Karin.
Chacha hanya bergeser dari tempatnya berdiri. Membuat Karin terbelalak karena kaget.
__ADS_1
"Mama… tante…"