
Chacha menatap ketiga buah hatinya dengan tatapan yang begitu dalam. Perasaannya campur aduk kali ini. Dia sudah yakin jika perang akan pecah malam ini juga. Chacha juga tidak yakin dia akan baik-baik saja atau tidak. Dia hanya akan berusaha semampunya kali ini. Bukankah dia memiliki alasan untuk kembali dengan selamat.
"Sayang" Panggil Levy lembut sambil menyelipkan tangannya di pinggang ramping sang istri. Memeluknya dari belakang.
"Hmm? " Chacha hanya bergumam menjawab panggilan sang suami.
"Tak usah khawatir, Mas akan memastikan jika perang nanti kamu adalah pemenangnya"
"Aku pun berharap begitu" Chacha hanya menjawab seadanya.
Pasalnya buka itu yang menjadi beban pikirannya kali ini. Persiapan untuk menghadapi lima kelompok mafia terbesar itu sudah dilakukan dengan matang. Namun, semalam saat Levy tak kunjung kembali ke kamar mereka, Chacha iseng menelusuri peta yang ada di dalam kotak kayu kuno itu. Dengan menggunakan alat canggih miliknya, Chacha bisa menemukan tempat itu tanpa harus bersusah payah menjelajahi banyak tempat. Yang menambah beban pikirannya adalah harta keluarga Izhaka sejak dahulu sudah menjadi incaran beberapa keluarga besar. Itu menjadi masalah sampai saat ini. Itu juga alasan kenapa Kakek dan Neneknya memilih mendirikan kelompok mafia. Hanya untuk melindungi seluruh keturunan Izhaka dari balik layar.
Berulang kali Chacha menelusuri hingga menemukan titik dimana semua pengincar harta itu berkumpul. Sialnya jika dulunya mereka bergerak sendiri-sendiri, sekarang mereka terlihat menjadi satu kelompok besar yang siap menyerang kapan saja. Masalah ini malah lolos dari pengamatan sang kakek bertahun-tahun lamanya.
Chacha tampak memejamkan matanya dan bersandar di dada sang suami.
"Ingatlah untuk kembali, apapun dan bagaimana pun caranya cinta. Mas dan anak-anak akan selalu menunggu mu di rumah kita" Bisik Levy di telinga sang istri.
Levy sendiri tak bisa mendampingi Chacha secara terang-terangan. Karena tak ingin menambah beban Chacha karena ditargetkan oleh musuhnya.
__ADS_1
"Kalian alasan terbesar ku untuk kembali apapun dan bagaimanapun keadaan ku nanti" Jawabnya pelan. Levy tampak mengeratkan pelukannya. Memeluk sang istri dengan begitu rakus, karena saat perang pecah kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.
...****************...
Ballroom hotel terbesar sudah dihias begitu mewah, beberapa tamu undangan dan kolega bisnis juga sudah tampak hadir di sana. Seluruh keluarga Izhaka juga sudah berkumpul. Para besan juga tak luput dari sorotan wartawan kali ini.
Empat pasang sesepuh dari empat keluarga besar itu membuat pertanyaan tersendiri dibenak para wartawan dan netizen yang melihat tayangan langsung nya. Jika antara keluarga Izhaka, Effendy dan keluarga Anderson mereka sudah tahu jika ketiganya terikat dengan kata besan. Namun, saat melihat sepasang sesepuh keluarga Rahardian di antara mereka membuat semuanya memasang spekulasi baru. Apalagi seperti yang diketahui, jika Tuan dan nyonya besar Rahardian itu sangat tertutup dan jarang sekali terekspos sejak dulu. Lalu ini apa?
Malam ini bisa dibilang malam bertabur bintang. Banyak public figure yang hadir dalam acara kali ini. Karin juga menjadi sorotan, beritanya yang tiba-tiba pecah karena menikah dengan salah satu cucu Izhaka itu membuat topik hangat tersendiri. Apalagi saat ini dirinya hadir dengan membawa biah cinta bersama Elang. Dira hadir bersama Elang dan Geffie. Dia hadir sebagai keluarga dari suaminya. Bukan sebagai sahabat seperti ketiga kawannya.
Sedangkan sang bintang utama kini berada di lantai teratas hotel tersebut. Lantai yang dibuat hanya untuk dirinya. Chacha terdiam menatap layar monitor di depannya. Hatinya gamang, dia dilema harus berbuat apa saat ini.
"Chila mengawasi dua tempat? " Tanya Chila memastikan.
"Tidak, fokuskan pada kediaman ku saja. Jangan sampai putus komunikasi dengan Caesar"
"Baik, Kak" Dari pada bertanya lagi, Chila memilih melaksanakan perintah Chacha. Didengar dari nada suara yang tidak ingin dibantah membuat Chila enggan bertanya lebih lanjut.
Chacha menggerakkan jemarinya di atas keyboard. Dirinya mengambil alih seluruh rekaman CCTV QI Hotel. Matanya menatap awas pada setiap sudut.
__ADS_1
"Chiara on position" Suara Chiara terdengar dibalik earpiece yang menghiasi telinganya.
"Tim A on position" Kini suara tim A yang terdengar.
"Tim B on position" Seluruh tim sniper sudah berada di tempatnya, Chacha tampak menghirup napas panjang.
Chacha kembali memainkan jemarinya di atas keyboard, memindai dan menandai seluruh tempat yang harus dipasangi bom oleh anak buahnya. Dia akan mengorbankan satu hotel miliknya demi dendam yang harus tuntas malam ini juga. Ini akan menjadi pembunuhan terkejam.
"Caesar, bawa Babah kembali ke rumah. Kamu tidak diijinkan keluar dari kediaman ku jika bukan ada penyerangan di depan" Chacha memberi perintah langsung, membuat Caesar diujung sana membatu karena perintah dadakan sang Queen.
Anak-anaknya adalah prioritas utamanya kali ini. Dengan meninggalkan Caesar dan sang ayah angkat membuat Chacha lebih tenang. Karena bagaimana pun keduanya tidak bisa dianggap remeh. Bastian sebagai salah satu pemimpin dari tujuh mafia terbesar sudah tidak diragukan lagi kemampuannya. Sedangkan Caesar, bisa dibilang dia sudah melewati hidup dan mati bersama Chacha. Pelatihan yang Chacha jalani, maka Caesar juga akan jalani. Mereka berdua bersama-sama menempa fisik mereka untuk semakin kuat.
Chacha menyambungkan kode-kode yang dibutuhkan menjadi beberapa warna lampu yang dia hubungkan pada jam tangannya. Dia akan mengetahui dari arah mana saja musuh akan mengepungnya nanti. Setelah dirasa cukup, Chacha bangkit dan melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan tersebut menuju ballroom tempat acara berlangsung.
Sedangkan di ballroom, acara sudah di mulai. Tampak di depan sana Tuan Ibra sedang memberikan pidato singkatnya sebagai pembuka acara. Dilanjutkan dengan seluruh keluarga Izhaka yang menaiki podium untuk menyaksikan penyerahan kekuasaan besar yang akan dilimpahkan pada penerus barunya.
Semua orang dibuat tegang saat dalam lima menit Chacha belum menunjukkan batang hidungnya. Bukankah seharusnya Chacha sudah standby di depan lift. Para tamu tampak berbisik-bisik menebak siapa yang akan menjadi pemimpin keluarga Izhaka selanjutnya. Karena mereka melihat King ada di tengah-tengah anggota keluarga nya dengan wajah santainya. Padahal selama ini dirinya yang memimpin perusahaan Izhaka membantu sang kakek.
Jika para tamu sibuk menebak siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya. Berbeda dengan anggota keluarga yang heran kenapa Chacha belum muncul juga. Sedangkan Levy dan para sahabat Chacha yang lain sudah mulai tegang. Mereka saling melirik satu sama lain. Namun, kemudian menggeleng pelan saat tak menerima kode apapun dari Chacha.
__ADS_1
Fany tampak menekan anting yang dipakainya. Itu adalah kode khusus yang dikirim untuk bertanya keadaan yang terjadi. Namun, tidak ada balasan yang berarti keadaan masih kondusif. Karin yang berdiri di atas podium mendampingi Elang dapat melihat kode dari sahabatnya itu. Dengan gaya anggunnya Karin menyentuh telinganya dan menekan tombol yang berupa berlian pada antingnya. Namun, Karin mendapatkan hal yang serupa dengan yang didapatkan Fany. Kini semua orang bingung kemana perginya Chacha. Chacha bukan orang yang ceroboh, jika terjadi sesuatu pasti ada kode khusus yang akan sampai pada bawahannya.