Call Me Queen

Call Me Queen
Mimpi Apa


__ADS_3

"Keadaan Chacha sudah mulai stabil, dia sudah melewati masa kritisnya"


Ucapan Diva bagaikan air es yang menyiram kepala Levy. Lega langsung menghampiri semuanya.


Levy tampak duduk bersandar sambil memejamkan matanya. Syukur tak henti-hentinya bergema di hatinya.


"Chacha akan segera dipindahkan ke ruangannya" Ucap Diva.


"Bayinya diaman, Div? " Tanya Bu Ratu.


"Akan diantar ke ruangan Chacha juga setelah ini, Bunda" Jawab Diva pada Bu Ratu yang notabenenya juga mertuanya.


"Baiklah kita akan menunggu di ruangan Chacha" Diva hanya mengangguk mendengar ucapan Bu Ratu, dia langsung masuk lagi ke dalam ruang operasi.


"Lev, bersihkan dirimu dulu. Bunda akan mengambilkan baju Abang kamu yang ada di kamar Bunda"


"Tidak bunda, biar asisten ku saja yang mengantar bajuku" Levy merasa tak nyaman jika ibu mertuanya melayaninya.


"Baiklah, ayo kita ke ruangan milik Chacha" Ucap Bu Ratu dengan semangat. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat suara mendesis di sebelah.


"Sshh" Audy tampak memejamkan matanya saat jahitan pasca melahirkan kembali terasa ngilu.


"Ya ampun Audy, kamu ngapain disini. Bunda kira kamu nunggu di kamar" Ucap Bu Ratu langsung mengambil alih bayi Audy.


Audy menyerahkan bayinya, tampak wajahnya sedikit lega. Kini dia memperbaiki posisi duduknya agar tidak terasa ngilu.


"Sudah-sudah, Nial cari kursi roda. Kita langsung ke ruangan Chacha saja. Biar Bunda yang gendong anak Audy" Sela Ayah Gun.


King langsung mencari kursi roda seperti yang diperintahkan oleh Ayah Gun. Setelah mendapatkannya dirinya langsung kembali ke tempat semua orang menunggu. Ayah Gun langsung memapah Audy untuk duduk di kursi roda.


Bu Ratu langsung melangkahkan kakinya untuk menuju ke ruangan Chacha. Dibelakang tampak Ayah Gun yang mendorong kursi roda yang di duduki Audy. Sedangkan Levy dan King sama-sama menuntun kedua orang tua Effendy itu.


Sesampainya di sana mereka dibuat takjub saat melihat box bayi besar yang ada di dalam ruangan itu. Rupanya Chacha sudah menyiapkan semuanya, bahkan ruangan ini terkesan lebih besar karena penataan ruangnya.


Sedangkan Levy, pria yang sudah mempunyai julukan hot papa itu sudah masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak harus segera membersihkan dirinya sebelum sang istri dipindahkan ke kamarnya. Anak buah Levy yang ditugaskan untuk mengantar baju juga sudah sampai. Kini Levy sudah keluar dengan wajah segarnya.


"Kak Audy, babynya tidurkan di box bayi aja dulu. Itu muat buat lima bayi kok" Ucap Levy saat melihat Audy kembali menggendong bayi yang baru dilahirkan beberapa jam yang lalu itu.


"Sini nak, biar Bunda aja yang tidurkan anak kamu, kamu duduk aja yang tenang" Bu Ratu langsung mengambil alih anak Audy untuk diletakkan di box bayi.


Levy duduk bersandar di sofa. Matanya terpejam, dirinya merasa begitu lelah setelah panik berlebih sejak tadi. Siapa yang tak panik ketika melihat orang yang kita cintai kritis didepan mata kita, pikiran buruk pasti akan menghampiri tanpa dipanggil.


Baru saja Levy memejamkan matanya, dari arah luar tampak keributan kecil terjadi. Ternyata suara gaduh tersebut berasal dari para sahabat yang memiliki kadar otak kurang jika sedang berkumpul. Apalagi ditambah suara Karin yang membahana, membuat suasana riuh seketika.


"Loh, Chacha mana? " Tanya Karin setelah selesai menyalami tangan semuanya, diikuti juga yang lainnya.

__ADS_1


"Bentar lagi dipindahkan ke sini" Jawab Levy.


"Itu anak siapa? Katanya anak lo 3, Lev? " Tanya Zeze saat melihat bayi yang tertidur di box bayi.


"Anaknya Kak Audy" Mereka semua menoleh ke arah Audy yang kebetulan sedang minum.


"Kenapa? " Tanya Audy bingung saat melihat seluruh sahabat Chacha menatap ke arahnya.


"Gak papa Kak. Berarti anak Kak Audy sama anak Chacha lahirnya barengan dong" Ucap Elang.


"Iya nanti kalau ulang tahun sekalian jadikan satu" Ucap Levy tanpa beban.


"Bulan depan, kita tinggal tunggu si Karin brojol nih ya" Celetuk Kinos.


"Iya betul. Tapi Lev, ini gimana ceritanya kok Chacha bisa lahiran sebelum waktunya? " Tanya Fany.


"Gue lagi balikin mood, jangan bahas itu dulu deh" Levy menoleh ke samping, membuang wajahnya. Tampak Levy berkali-kali membuang nafasnya. Rasa kesal dan marahnya belum reda ketika mengingat hal itu. Levy masih tak menyangka jika ini kelalaian suster, otak pintarnya menolak alasan itu. Levy hanya berharap Chiara mendapatkan hal yang memuaskan setelah olah TKP ala Death Rose.


"Levy" Panggil Bu Ratu.


"Ya Bunda? "


"Orang tua kamu sudah di lobby, jemput sana. Mereka gak bakalan tahu ruangan ini"


"Tadi Ayah menelfonnya ketika masih di ruang operasi, kita belum mengabari jika sudah pindah ke sini" Jelas Bu Ratu.


"Biar Nial aja yang jemput, Bun. Levy masih lemes habis dihajar habis-habisan emosinya sama keadaan Chacha" King langsung beranjak begitu saja.


Bertepatan dengan keluarnya King dari ruangan Chacha. Kini para suster juga masuk dengan mendorong tubuh Chacha yang terpejam damai. Dibelakangnya juga ada tiga suster yang sedang menggendong tiga bayi mungil dalam dekapannya.


Setelah Chacha dipindahkan ke tempatnya, dan bayi-bayinya juga sudah diletakkan di box bayi. Berdampingan dengan bayi Audy. Bu Ratu dengan tak sabarnya mendekat ke arah box bayi, bahkan Ayah Gun juga terlihat begitu antusias untuk melihat cucunya.


"Ah ya Tuhan, tampan sekali" Seru Bu Ratu.


Levy hanya menyunggingkan senyum tipis saat mendengar seruan ibu mertuanya.


"Lihat, si cantik ini montok banget, Bun" Ayah Gun terkekeh saat melihat cucu perempuannya itu.


Sahabat Chacha juga mendekat untuk melihat the junior sultan itu. Mereka pastikan, jika tiga bayi tersebut akan menjadi sultan sejak kecil. Bagaimana tidak, kedua orang tuanya memiliki kekayaan diluar nalar. Mereka pastikan jika ketiganya akan dididik keras untuk belajar bisnis.


Mereka menatap satu per satu bayi-bayi mungil yang sedang tertidur pulas itu.


"Lihat-lihat, gue yakin yang memiliki perpaduan antara Chacha dan Levy ini bakalan jadi es balok" Ujar Putra.


"Lo kira anak gue kulkas" Sinis Levy masih dengan mata terpejam. Putra tak menghiraukan perkataan sang papa dari bayi tersebut.

__ADS_1


"Ya ampun, yang ini Chacha banget. Ini cowok apa cewek sih? " Gemas Nena.


"Gue rasa ini cowok, liat yang satu ini. Yang paling montok diantara ketiganya, dia duplikat Levy. Tapi dia lebih cantik" Ujar Kinos.


"Gila, kalau dari atasnya gennya udah pro kayak mereka mah, gak usah diragukan lagi hasil cetakannya" Seperti biasa, si petakilan memang beda dari yang lain pembahasannya.


"Ini anaknya Kak Audy kenapa jadi mirip Kevin banget" Ujar Elang membuat Audy langsung menoleh ke arahnya.


"Udah mirip gini bapak nya gak ngakuin lagi. Pengen gue tembak langsung deh tuh orang" Seru Karin dengan berapi-api, dia tahu kejadian yang menimpa Audy.


"Gue jadi pengen lihat gimana reaksi mereka. Tapi setahu gue surat gugatan cerai Kak Audy udah naik ke pengadilan deh kayaknya"


"Iya, waktu itu ditangguhkan karena Kak Audy hamil kan, jadi setelah sekarang lahir kayaknya langsung deh"


"Memang bisa? "


"Gak tau, tapi kayaknya masih diusahakan. Sementara selama proses perceraian berlangsung, maka bayi ini akan dijaga ketat. Sidang pertama dilangsungkan, maka saat itu juga tes DNA juga akan dilakukan" Jawab Pandu.


"Lo tau banyak, Pan? " Tanya Fany.


"Kebetulan gue yang jaga nih bayi selama Kak Ardan ke luar kota" Ucapan Pandu membuat Audy menatap ke arahnya.


"Ardan ke luar kota? " Tanya Audy memastikan. Pandu hanya mengangguk sebagai jawabannya.


"Gak sempet pamitan ke siapapun. Queen saja dikabari lewat chat. Biasa perusahaannya kena sleding" Jawab Pandu enteng.


Audy hanya mengangguk mengerti, pantas saja sejak tadi pria tampan itu tak nampak-nampak setelah berpamitan.


"Lev? "


Atensi mereka teralihkan pada suara yang memanggil Levy. Lena dan keluarga besarnya datang dengan tergesa saat menerima kabar dari Ayah Gun. Hingga mereka merasa tenang saat King menjelaskan sambil menuntun mereka ke ruangan Chacha sejak tadi.


"Mama" Levy membuka matanya dan bangkit. Dia langsung memeluk sang mama. Untung saja Leon sedang berada dalam gendongan papanya.


"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak kamu? " Tanya Lena, meskipun sudah mendengar dari King. Namun Lena masih ingin mendengar dari mulut anaknya sendiri.


"Baik Ma. Itu mereka masih dikelilingi sama para om dan aunty nya" Tunjuk Levy pada box bayi yang dikelilingi para sahabatnya. "Kalau Chacha sendiri masih tidur, pengaruh obat kali"


Lena tak menanggapi ucapan Levy, dia langsung menuju kearah box bayi untuk melihat cucu-cucu pertamanya.


Sedangkan Levy sendiri langsung menuju tempat istrinya. Dia mendudukkan dirinya di kursi. Menggenggam tangan istrinya yang terbebas dari jarum infus.


"Kalau cuma pengaruh obat harusnya kamu sudah sadar loh, sayang. Kamu betah banget meremnya, lagi mimpi apa sih cinta? " Levy gemas sendiri melihat istrinya yang tak kunjung bangun itu.


Levy tahu betul bagaimana reaksi tubuh Chacha pada obat-obatan. Tubuh Chacha hanya akan bereaksi dengan obat-obatan dosis tinggi. Jika diberikan dengan disisi rendah tau normal, itu tak akan berefek apapun pada Queen Mafia ini.

__ADS_1


__ADS_2