
Di kediaman mewah bak istana milik Chacha juga sedang dilanda kecemasan yang begitu kental. Tak heran mereka tahu jika Chacha belum juga muncul di acara besar tersebut. Karena mereka saat ini sedang berkumpul di ruang tengah dengan menghadap ke arah televisi. Menyaksikan acara yang berlangsung. Keempat balita yang memiliki umur yang sama itu tampak tenang dalam duduknya. Matanya juga melihat televisi dengan polosnya.
Wajah-wajah khawatir tercetak jelas di sana. Adapun Bastian sang ayah angkat, jika tidak dihalangi oleh Caesar dan anak buah Chacha yang lainnya. Mungkin pria yang seumuran dengan Ayah Gun sudah tiba ditempat acara berlangsung.
Kamu dimana Queen. Batin Caesar gelisah.
Babah harap kamu baik-baik saja, nak. Lirih Bastian.
Kakak yakin kamu baik-baik saja. Audy juga tak kalah cemas.
Mereka masih fokus menatap layar besar di depannya, harap-harap cemas karena Chacha juga tak kunjung muncul saat menit kelima. Hingga Caesar kaget saat anak buah Chacha yang notabene nya pemimpin kelompok di luar negeri malah serempak mengangkat senjata.
Roar...
Semuanya terlonjak kaget saat mendengar auman keras menyapa ruang tengah. Tampak dua kucing besar itu menatap semua orang yang ada di ruang tengah dengan tatapan sangarnya. Saat mereka dalam keterkejutan dan ketakutannya. Berbeda dengan si bontot yang langsung merangkak cepat ke arah dua kucing besar itu. Kedua jagoan Chacha juga begitu. Para pengasuh mereka berteriak kaget, ingin mengejar namun mereka takut. Berbeda dengan Caesar yang terlihat mengamati. Caesar juga sudah memberi perintah agar semuanya menurunkan senjata. Bahkan Caesar juga berdiri di belakang si kembar agak jauh. Menghalangi semuanya saat akan mendekat ke arah si kembar.
Audy bahkan sudah memaki Caesar karena menghalanginya mengejar si kembar. Jangan lupakan Bastian yang sudah menempelkan ujung pistolnya dibelakang kepala Caesar. Namun, tampaknya pemuda itu masih dalam ketenangannya.
Kejadian selanjutnya malah membuat mereka terbelalak sempurna. Bagaimana ketika harimau putih itu menjilat si montok dengan lembut, membuat balita cantik itu tertawa lepas. Si montok malah menghampiri singa besar yang sejak tadi hanya duduk anteng ketika melihat si kembar lomba merangkak menghampiri dirinya dan cici.
Tampak koko menidurkan badannya saat melihat Baby Al mendekat ke arahnya. Hingga mereka menjerit saat cici menggigit baju belakang si montok. Lalu harimau putih itu mengangkatnya, membuat Baby Al semakin tertawa lebar. Lalu cici meletakkan Baby Al di samping koko yang sedang tertidur. Baby Al tampak merangkak lalu duduk bersandar di bulu lebat milik koko. Balita mungil itu tampa tertawa sendiri. Seakan menemukan mainan baru.
Sedangkan dua jagoan Chacha dengan kompak memiringkan kepalanya melihat cici dengan mata bulatnya. Melihat itu, cici tampak juga menidurkan dirinya. Lantas kedua bocah tampan itu merangkak mendekat ke arah cici dan duduk bersandar pada tubuh besarnya.
Caesar menampilkan senyum tipis melihat ketiga anak pemimpinnya itu akrab dengan binatang peliharaan sang mama dalam pertemuan pertama. Nampaknya cici dan koko menepati janjinya untuk bersikap baik pada anak-anak Chacha.
"Ya Tuhan, jantung Grandpa hampir copot lihat kelakuan kalian" Gerutu Bastian saat sadar dari rasa terkejutnya dan menurunkan senjatanya dari kepala Caesar.
__ADS_1
"Gak tau lagi harus ngomong apa" Audy menggelengkan kepala.
"Kalian tidak usah khawatir, mereka berdua peliharaan Queen. Dalam tubuh ketiganya mengalir darah sang mama. Jadi cici dan koko tidak akan salah mengenali orang. Mereka berdua dipindahkan beberapa hari yang lalu ke kediaman ini" Jelas Caesar agar mereka semua tidak panik.
Apa sebenarnya tujuan mu Queen, membiarkan dua kucing besar itu berkeliaran di rumah mu?. Batin Caesar bertanya entah pada siapa.
...****************...
Ting...
Tepat di menit keenam pintu lift terbuka. Menampilkan sosok cantik dengan tatapan dinginnya. Melangkah perlahan, hanya ada bunyi hentakan heels yang di kenakan yang bersentuhan dengan lantai. Keadaan otomatis menjadi hening melihat sosok ini. Banyak pasang mata yang melotot tak percaya melihat sosok ini keluar dari dalam lift.
'Bukankah itu pemimpin QI Company? '
'Ah Iya, itu Nona Queen. Ternyata dia penerus keluarga Izhaka'
'Tidak heran selain cantik, otaknya juga encer'
'Aslinya lebih cantik ya dibanding saat rapat dulu'
Bisikan-bisikan menemani setiap langkah yang Chacha ambil. Namun dirinya masih tetap dengan ekspresi datar dan tatapan dinginnya. Tidak ada senyum yang menghiasi wajahnya. Dia terlihat tenang dengan pembawaannya yang anggun.
Tidak ada yang tahu apa yang sedang hot mama itu pikirkan. Namun, seseorang menangkap hal yang berbeda dari tatapannya. Berbeda dari biasanya sang Queen yang penuh percaya diri dan ketegasannya.
Kamu kenapa cinta? . Batin Levy bertanya entah pada siapa.
Levy mampu melihat ketidakberesan yang tercetak di tatapan wanita pujaannya itu, sang ratu hatinya, ibu dari anak-anaknya. Levy tahu, jika tatapan sang istri menyiratkan kegelisahan yang amat ketara. Gerak gerik tubuh nya juga tidak seperti biasa sang istri lakukan. Levy menyadari jika ada yang tidak beres di sini.
__ADS_1
"Maaf tadi ada sedikit masalah dengan liftnya" Ucap Chacha beralasan saat tiba di atas podium. Sedangkan anggota keluarga Izhaka menatapnya dengan intens.
"I am okay" Chacha menampilkan senyum manisnya ke arah keluarganya.
Banyak yang terpesona melihat senyum manis hot mama yang satu ini. Membuat sang suami memutar bola matanya malas sekaligus menahan kecemburuan di hatinya. Karena sampai sekarang pun mereka masih tidak mengumumkan soal status keduanya.
"Anda nona muda Izhaka? " Tanya pembawa acara tersebut, sedikit familiar dengan wajah Chacha.
Chacha memang terasa asing bagi anggota keluarga Izhaka. Bagaimana tidak, selama ini dirinya tidak pernah menampakkan diri sebagai salah satu keluarga Izhaka, berbeda dengan anggota keluarga yang lainnya. Sudah di kenal publik dengan baik. Namun, saat melihat Chacha kali ini mereka langsung percaya jika Chacha ada keturunan murni keluarga Izhaka. Sekilas wajahnya mirip putri bungsu keluarga Izhaka yang sudah meninggal, Rania Putri Izhaka. Ada yang menyebutnya sebagai Nyonya Besar Izhaka kala muda. Karena Chacha begitu komplek menuruni anggota keluarga nya.
"Iya saya salah satu nona muda Izhaka" Jawabnya tegas, Chacha kembali dalam mode flat dan dinginnya.
"Baiklah, karena sang pewaris utama sudah ada di sini kita mulai saja acara inti malam ini. Penyerahan sekaligus pengangkatan ahli waris keluarga Izhaka. Silahkan Tuan Ibra" Sang pembawa acara langsung mempersilahkan sang pemimpin keluarga untuk berbicara.
"Selamat malam semuanya. Saya langsung ke intinya saja, karena di awal saya sudah banyak berbicara. Untuk seluruh rekam bisnis saya, saya harap kalian bisa membimbing cucu saya dalam menjalankan bisnis dengan baik dan jujur. Saya harap kalian bisa berlaku adil karena mengingat usianya yang masih begitu muda" Tuan Ibra masih merendah, dia masih menutupi jati diri sang cucu karena kemauannya.
"Dengan ini, seluruh aset dan kekuasaan keluarga Izhaka akan jatuh pada cucu saya. Saya Ibrahim Izhaka melepaskan kedudukan saya dan saya titipkan beban berat ini dalam pundak cucu saya yang bernama, Queen Danisha Izhaka. Cucu bungsu dalam silsilah keluarga inti Izhaka"
Tepuk tangan bergemuruh di dalam ballroom hotel tersebut. Chacha maju untuk menandatangani semua berkas yang dibutuhkan. Dengan disaksikan seluruh anggota keluarga Izhaka, Chacha mengemban tugas baru sebagai kepala keluarga itu.
"Saya Queen Danisha Izhaka dengan ini menerima kepemimpinan keluarga besar Izhaka dibawah kendali saya" Chacha menerima dengan tegas.
"Silahkan Nyonya Muda untuk memberi sepatah dua kata untuk salam pembuka sebagai pemimpin baru" Ucap sang MC kepada Chacha yang telah selesai menandatangani semua berkas-berkas yang dibutuhkan.
"Selamat malam semuanya. Saya yakin sebagian dari kalian sudah mengenal saya. Kalian tentu tahu bagaimana cara kerja saya dalam dunia bisnis. Cara itu juga akan saya terapkan pada kepemimpinan saya di perusahaan Izhaka selanjutnya. Jadi jika kalian ingin menyeleweng, memberontak, menipu, atau berkhianat pada perusahaan Izhaka. Jangan lupa berpikir ulang, jangan dikira umur saya begitu muda saya tidak bisa bertindak tegas untuk mengatasi kecurangan dalam dunia bisnis. Selamat bekerjasama sama kedepannya dam berbisnis lah dengan cara yang sehat. Saya mohon bimbingan dari para senior" Chacha mengakhiri pidato singkatnya dengan menundukkan sedikit kepalanya, hanya sebagai bentuk kehormatan.
Para tamu banyak yang menahan nafas saat mendengar pidato Chacha yang berisi dengan ancaman di dalamnya.
__ADS_1
Seluruh anggota keluarga Izhaka turun dari podium secara bergantian. Namun berbeda dengan Chacha yang masih berdiri di atas podium dengan menatap kumpulan sahabatnya. Melirik ke arah jam tangannya, tampak kode-kode muncul tak beraturan di sana. Chacha mengangkat pandangannya lalu mengangguk. Dengan cepat sahabatnya bergerak, saat itu pula Chacha mengangkat pistolnya dan menembakkannya ke arah lampu besar yang ada di tengah ruangan.