
"Papa"
"Bisa kalian jelaskan kenapa kalian menampar cucuku? "
"Chacha salah pa"
"Salah apa sehingga kalian menyakiti fisiknya"
"Dia menjual tubuhnya Tuan" Audy menjawab kali ini.
"Dia kakekmu Audy"
"Kakek Izhaka" Audy melotot tak percaya.
Ya. Tuan Ibra Izhaka atau lebih dikenal dengan tuan besar Izhaka ini datang untuk merayakan ulang tahun cucunya. Meskipun datang terlambat akan tetapi dirinya tetap menepati janjinya cucu kecilnya itu tak akan marah. Itu pikirnya. Tapi setelah sampai ditempat, dirinya malah dibuat terkejut dengan perlakuan menantunya itu. Ia sengaja menepi, bergabung dengan para tamu yang lain agar tak ada yang tau. Hingga King datang dan membawa cucu kecilnya ke lantai atas.
"Dia siapa Ratu? " tanya Tuan Ibra pada anaknya.
"Putriku, Pa" Tuan Ibra hanya menaikkan sebelah alisnya menanggapi jawaban anaknya.
"Kalian ikut Papa ke atas. Ratih bawa keluargamu juga" Ratih mengangguk atas perintah papanya.
"Delon"
"Saya Tuan"
"Bubarkan acara ini"
"Maaf Tuan, Tuan muda menyuruh untuk melanjutkan acaranya"
"Ini perintah ku"
"Baik Tuan"
Tuan besar Izhaka meninggalkan ruangan itu dan melangkahkan kakinya menuju lantai atas diikuti oleh Bu Ratu dan keluarganya. Sedangkan urusan dilantai bawah diurus oleh asisten bernama Delon tadi.
Sesampainya di lantai atas dokter yang memeriksa Chacha hendak berpamitan karena menyelesaikan tugasnya.
"Bagaimana keadaan cucuku, dok? "
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Tuan. Nona kecil hanya kurang istirahat dan makannya kurang teratur. Sudah saya resepkan obat dan sudah diserahkan pada tuan muda" Tuan Ibra mengangguk mendengar penjelasan dokter tersebut.
Setelah kepergian dokter tadi. Kamar Chacha tampak hening tak ada yang membuka suara lebih dulu. Para sahabat Chacha hendak keluar karena tak nyaman dengan situasi ini. Mereka berpikir ini akan ada pembahasan keluarga jadi mereka memilih undur diri.
"Ratu, jelaskan pada papa kejadian tadi"
Bu Ratu mulai menjelaskan apa yang ia lihat dibawah tadi hingga pemutusan hubungan keluarga yang tanpa sadar suaminya ucapkan itu.
"Jelaskan alasan kalian menamparnya? " Tuan Ibra bertanya dengan nada tenang namun dengan sorot mata yang tajam.
Tak ada yang menjawab pertanyaan Tuan Ibra semuanya diam.
"Kalian emosi. Tanpa berpikir kalian akan menyelidiki terlebih dahulu. Menghakimi dia didepan banyak orang, apa itu contoh orang tua yang bijaksana Gunawan? Membentaknya, melukai perasaannya, apa kalian pernah berpikir positif pada cucuku itu" Tuan Ibra menghela napas berat. Niat hati ingin memberi kejutan tapi malah dikejutkan.
"Ratih, apa pendapatmu? "
"Sebagai kakak, Ratih kecewa pada Ratu yang tak bisa meredam emosi suaminya. Sebagai Maminya Ratih kasihan padanya, harusnya empat sampai lima tahun lagi dia akan menjalani tes tapi siapa yang menyangka adik ipar memberikan jalan terlebih dahulu. Dan aku percaya dia gadis baik, tak akan berbuat senista itu dan mencemarkan nama baik keluarganya. Dia menjunjung tinggi kehormatan keluarganya selama ini. Jika kau bertanya dari mana dia mendapatkan barang mewah. Tanyakan padanya ia gunakan untuk apa otak jeniusnya itu"
Mendengar jawaban Ratih membuat Bu Ratu dan Ayah Gun tersentak kaget. Mereka melupakan satu hal, bahwa setiap keturunan Izhaka harus dijaga sebelum menjalani tes. Marga yang disandangnya jangan sampai lepas dan hari ini Chacha kehilangan itu akibat ayahnya yang tak bisa mengontrol emosinya. Hari-hari berat Chacha akan dimulai. Bu Ratu tak henti-hentinya menangis.
Audy diam karena tak tau harus bereaksi seperti apa. Tapi satu hal yang ia tahu saingannya sudah ia depak dari keluarga tercintanya. Chacha dikeluarkan dengan cara memalukan cukup puas dia.
"Kalian membuat semuanya sulit"
"Maksud papa? "
"Kau tau Ratih kenapa papa ubah peraturan penerus keluarga Izhaka? " Ratih hanya menggeleng menjawab pertanyaan yang dilontarkan papanya.
"Karena ini. Kejadian Rania terulang kembali. Sia-sia rasanya Papa menyembunyikan identitas kalian jika kalian menampakkan diri lagi"
"Pa bisa jelaskan kenapa kita harus menyembunyikan identitas kita sebagai putri Izhaka"
__ADS_1
"Kalian pasti tau jika mama kalian berkecimpung di dunia bawah bukan. Mama kalian adalah salah satu yang disegani dari tujuh terkuat. Mereka bertujuh membuat aliansi untuk menyimpan harta karun berharga yang diperoleh entah darimana saja. Harta itu diletakkan ditempat khusus dan hanya mama kalian yang mengetahuinya. Karena mereka menganggap mama kalian spesial. Itu mengapa mereka mempercayainya. Hingga satu diantara mereka berkhianat. Ingin menguasai' seluruh harta tersebut. Tapi mama mu enggan mengatakan dimana harta itu disimpan"
"Kenapa mama enggan memberitahu bukankah didalamnya ada haknya juga? " Ratih bertanya pada papanya.
"Karena harta itu akan digunakan untuk kebutuhan penerus dari ketujuhnya. Bisa dibilang harusnya kalian yang menikmati. Tapi melihat catatan setiap harta membuat penghianat itu lupa akan tujuan awalnya. Dia mulai menghasut yang lainnya untuk membuka tempat itu. Mama kalian tetap pada pendirian nya. Hingga suatu hari mereka mengikuti mama kalian ketika ingin menambah tabungan harta itu. Mereka mengetahui letaknya namun gagal masuk karena mama kalian tak membuka tempat itu dengan kunci "
"Lalu? "
"Mama kalian menggunakan darahnya untuk membuka ruangan itu. Ruangan itu bukan berbentuk rumah atau gedung, tapi ruangan itu merupakan ruangan bawah tanah dan untuk memasukinya cukup sulit karena membukanya hanya bisa menggunakan darah mama kalian. Hingga Papa menyembunyikan keberadaan mama kalian. Tapi entah apa yang dipikirkan mereka hingga nekat menculik Rania. Adik kalian. Untuk membuka tempat itu. Karena memang Rania lah yang paling mirip dengan mama bukan. Hingga kejadian dimana Rania dan suaminya harus meregang nyawa. Itu bukan karena kecelakaan "
"Lalu, Rania meninggal karena apa, Pa. Jelas-jelas polisi mengatakan jika itu kecelakaan"
"Chacha sudah menemukan semua buktinya, Ratih"
"Benarkah? "
"Tapi kita tak bisa bertindak, karena hanya dia yang memegang buktinya. Dia ingin menyelesaikan dengan caranya"
"Setelah Rania meninggal Papa meminta kita menyembunyikan identitas kita bukan? "
"Kau benar. Karena kalian berdua jarang tampil di publik layaknya Rania, Papa tak ingin kehilangan lagi. Meninggalnya Rania adalah pukulan berat buat Papa dan mama. Hingga akhirnya kabar keturunan Izhaka sampai ditelinga mereka dan Danial anak kalian yang pertama menjadi korbannya bukan" Bu Ratu dan Ayah Gun mengangguk.
"Hingga mama kalian terjun lagi dalam dunia gelapnya untuk menyelamatkan putra kalian dan tak kembali hingga saat ini. Apa yang kalian pikirkan tentang mama kalian? "
"Mama dan Danial meninggal"
"Aku pergi" dua kata yang mencuri perhatian semua orang dikamar itu.
Menoleh serempak pada si empu yang bersuara.
"Sejak kapan kau sadar nak? " Tuan Ibra bertanya.
"Tak lama setelah kakek bercerita" Chacha mendudukkan dirinya di samping kakeknya. Mengelus lembut tangan yang memberinya kasih sayang dan perlindungan itu.
"Aku akan pergi. Darah Keluarga Izhaka mengalir deras si tubuhku jadi tes ini akan aku Terima. Meskipun ya umurku masih kecil"
"Kau bisa menunggu hingga dewasa"
"Aku akan kembali kek, percayalah"
"Tapi, nak"
"Percayalah Kek. Aku akan membalikkan keadaan, percayalah bahwa aku bisa dan mampu. Kakek guru terhebat yang aku miliki dan sekarang aku akan menemui guru neraka ku yang kakek sarankan itu"
"Jangan sekarang kakek takut kau tak akan kuat nak. Pelatihan nya sangat keras"
"Tak apa. Aku akan kembali dengan membawa kemenangan kakek. Aku akan kembali dengan selamat. Aku akan kembali dengan membawa separuh jiwa kakek. Ini janjiku sebagai cucumu"
Chacha beralih mendekati King. "Maaf kali ini Chacha nakal tak mau dibujuk kakek ataupun Abang. Tapi berjanjilah padaku bang"
"Apa? "
"Prioritaskan Bunda di atas segalanya. Dan jangan keluar dari Izhaka sebelum aku kembali"
"Abang janji. Abang tunggu kepulangan mu"
"Sampaikan salam ku pada Bang Rey"
Chacha beralih lagi mendekati Ratih. "Mami, Papi, restui Chacha kali ini, Chacha tempuh jalan ini agar tak ada lagi permainan petak umpet ini. Agar keturunan selanjutnya tak risau"
Ratih meneteskan air mata saat Chacha duduk dihadapannya meminta restu.
"Tolong jaga Bunda ku, pastikan dia sehat dan tetap cantik saat aku kembali nanti. Marahi dia jika bandel pada Mami ya" Chacha terkekeh sendiri mendengar ucapannya.
"Berjanjilah kau akan kembali nak" Ratih menarik Chacha masuk ke dalam pelukannya.
"Chacha janji" setelahnya ia melepaskan pelukan itu.
"Buat lo, Lang. Kuliah yang benar. Jabatan lo menunggu saatnya tiba" tanpa menunggu jawaban Elang Chacha bersimpuh dihadapan orang tuanya.
"Bunda, maaf jika Chacha bukan putri yang baik. Maaf jika Chacha melukai hati Ayah dan Bunda. Maaf jika Chacha mempermalukan kalian. Maaf sekali lagi maaf"
__ADS_1
"Bunda, terimakasih. Atas segalanya. Jika Chacha tak kembali ketahuilah Chacha sayang kalian sekalipun kalian membenci Chacha. Terimakasih atas kasih sayangnya"
Chacha tak ingin menangis lagi ia segera bangkit. Tatapan matanya berubah dingin dan menakutkan. Lalu berjalan keluar dari kamar itu tanpa sepatah kata pun.
"Puas bukan" King bersuara setelah cukup lama keheningan terjadi setelah kepergian Chacha.
"Maksud Tuan? "
"Aiyo. Gunawan kau memanggil dia dengan sebutan tuan? "
"Apa ada yang salah, Pa? "
"Tunggu dulu pa" Ratih langsung memotong saat papanya hendak menjawab. "Apa maksud Chacha mengatakan akan membawa sepatu jiwa Papa kembali" Tuan Ibra melebarkan senyumnya tapi sorot matanya memancarkan ketakutan.
"Mama kalian masih hidup"
"Itu gak mungkin" Bu yang sejak tadi hanya menangis akhirnya bersuara.
"Mungkin. Dan kenapa aku memiliki anak tak pintar seperti mu, Ratu"
"Maksud Papa? "
"Kau tatap orang yang kau panggil tuan tadi dengan seksama. Tak mirip kah dia dengan seseorang"
Bu Ratu menatap King dengan intens. Tak lama kemudian matanya membulat sempurna. Ini tak mungkin pikirnya.
"Dia Danial Effendy. Anak sulung kalian yang dikabarkan meninggal bersama neneknya"
"Papa berbohong" Bu Ratu memastikan.
"Tidak. Saat penyelamatan nya Papa ikut dalam tim yang sama dengan mama kalian. Dia selamat dengan luka di sekujur tubuhnya hingga menyebabkan dia koma beberapa tahun"
"Kenapa Papa tak memberitahu kami" Ayah Gun mengeluarkan protesnya.
"Papa langsung mengirimnya ke luar negeri untuk pengobatan dan fokus mencari mama kamu yang tiba-tiba menghilang. Saat Papa ingin memberitahu kalian tentang kondisinya. Ratu drop bukan. Papa tak tega jadi Papa biarkan beberapa waktu sambil mencari informasi tentang mam kalian. Hingga Papa terlalu fokus pada pencarian Mama kalian dan mempercayakan Danial pada asisten Papa. Saat kalian berkunjung ke rumah sakit tempat Danial dirawat kalian tak mengenalinya bukan. Itu yang membuat Papa kecewa dan enggan memberitahu kalian. Apalagi kalian seakan melupakan keberadaannya sejak kehadiran Audy"
"Itu kesalahan Ratu. Sekarang soal Mama" Ratih tak sabar.
"Mama kalian belum meninggal tapi menjadi tawanan yang berpindah-pindah. Anak buah terus Papa kerahkan tapi hasilnya nihil. Kita tak pernah menemukan dimana tempat Mama kalian disekap"
"Kenapa Papa yakin Mama masih hidup"
"Papa sering mendapat video mama kalian dengan kondisi memprihatinkan. Hingga suatu ketika Chacha yang menemukan video itu dan bertanya. Papa menjelaskan bahwa itu neneknya"
"Itu membuat semangatnya membara dia ingin latihan segalanya. Dengan senang hati Papa mengajarinya hingga Papa tau tujuannya belajar berbagai senjata dan bela diri"
"Apa tujuan gadis kecilku itu kek? "
"Dia ingin menumpas habis musuh Izhaka dan menjemput neneknya. Sekarang dia akan menjalani pelatihan sangat berat Do'akan dia berhasil"
"Pelatihan apa kek"
"Tanyakan padanya ketika dia kembali nanti"
"Danial" lirih Bu Ratu.
"Bunda. Nial rindu tapi sayang kita tak bisa bersama"
"Maksud kamu apa nak? "
"Tidak sebelum luka Chacha mengering. Dan untukmu jaga batasan mu pada keluarga ku, setidaknya sebelum gadis kecilku kembali. Jangan macam-macam atau saya good bye pada hari esok" Danial sengaja membisikkan kalimat terakhirnya pada Audy yang mana membuat Audy mematung seketika.
"Kau mau kemana bocah tengil"
"Ke apartemen ku, Kek. Kosongkan mansion ini setelahnya. Kakek masih harus stay di rumah kita untuk mengawasi kucing liar kita itu" lalu beranjak meninggalkan ruangan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Part ini cukup panjang dan membosankan. Maapkeun ya. Maunya lebih panjang lagi takut kalian bosan jadi segini dulu. Disambung lagi kalau bocil author anteng ya.
Maaf jika Author jarang up karena ya karena jarang ada waktu buat ngetik tapi kedepannya diusahakan akan up setiap hari.
__ADS_1
jangan lupa dukungannya