Call Me Queen

Call Me Queen
Mau Apa?


__ADS_3

"Tiara kamu kenapa?"


"Hah? Gak papa kok tante"


"Itu tuan muda Rahardian, kan? " tanya Nyonya Pandey.


"Iya ma, tapi kenapa bisa sama adiknya Audy? "


"Mama yakin kalau mereka ada hubungan, bisa gawat kalau sampai itu terjadi"


"Kenapa gawat, ma? "


"Kamu ini kenapa bodoh sekali si Kevin. Jangankan mereka berdua, lawan salah satunya aja kita gak bakalan bisa"


"Tapi, aku yakin kali ini kita akan menang ma. Bukankah Tiara juga salah satu anggota Rahardian" jawab Kevin dengan enteng.


Kedua orang tua Kevin menoleh ke arah Tiara yang masih pucat pasi menatap ke arah pintu. Tiara melirik ke arah kedua orang gua Kevin yang sedang menatapnya.


"Kenapa om sama tante liatin aku kayak gitu? "


"Kamu anggota keluarga Rahardian kan? " Tiara mengangguk mendengar pertanyaan Tuan Pandey.


"Kenapa kalau saya anggota keluarga Rahardian? "


"Bisa bantu keluarga kami, setidaknya lakukanlah untuk Kevin. Bujuk Levy untuk tak ikut campur masalah Kevin dan istrinya"


"Jangankan bujuk Kak Levy, om. Belum tentu aku sendiri selamat dari kedua orang tua ku dan keluarga besar ku"


"Kita bisa memutar balikkan fakta, Levy keluar dari sini tanpa membawa bukti"


"Tapi, gimana kalau terjadi apa-apa sama aku. Misalnya mereka tak percaya sama aku dan aku diusir gitu"


"Orang tua kamu gak bakalan tega ngusir kamu. Apalagi kamu anak satu-satunya kan, Tiara? "


"Iya sih tante. Tapi apa iya? "


"Percaya deh sama tante"


"Baiklah aku coba"


...****************...


"Cha, kamu mau bawa kakak kemana? "


"Ikut aja, gak usah banyak tanya" Audy terdiam mendengar nada dingin Chacha.


Levy mengelus pelan tangan istrinya, dirinya tau saat ini istrinya tengah emosi. Mungkin di luar dia mampu mengendalikan, tapi percayalah dia bukan orang yang mudah mengendalikan emosi jika sendirian. Beruntung tadi dirinya tak kelepasan saat memberi pelajaran pada Tiara.


Chacha menoleh ke arah suaminya yang fokus menyetir, lalu menghembuskan napas pelan.

__ADS_1


"Kenapa lo gak cerita sana gue? " tanya Chacha pada Audy, bahkan dirinya sudah menghadap ke belakang. "Jawab Audy"


"Gak papa, Cha. Aku cuma gak mau nyusahin kamu"


"Nyusahin apa sih, lo itu kakak gue. Aturan lo cerita sama gue kalo lo malu mau cerita sama bunda atau ayah"


"Jangan kasih tau bunda, pliss" mohon Audy.


"Liat aja nanti. Kali ini lo harus nurut perintah gue. Gak ada penolakan apapun"


"Tapi, Cha"


"Menurut lah Kak, ini demi keselamatan kakak dan calon bayi kakak" akhirnya Levy turun tangan untuk melerai perdebatan kakak beradik ini.


Mendengar Levy yang mulai angkat bicara, Audy memilih diam. Tak mungkin jika dirinya berdebat dengan adik iparnya bukan. Apalagi dirinya sudah kepalang malu pada Levy. Dirinya kira keluarga suaminya sebaik yang ia duga pada awalnya, tapi siapa sangka jika itu hanya kedok luarnya saja. Barulah saat menjadi bagian dari keluarga itu dirinya tau seperti apa kelakuan asli dari mertua dan suaminya itu. Kevin yang terkenal dengan kebaikannya ternyata tak lebih dari seorang playboy cap kadal. Audy benar-benar tertipu, benar kata Chacha. Bahwa dirinya telalu polos untuk seseorang yang licik.


"Dengarkan gue Audy. Lo gak boleh keluar tanpa pengawalan dari anak buah gue" Audy hanya mengangguk saja.


"Jangan pernah respon segala bentuk komunikasi apapun yang berhubungan dengan keluarga Kevin. Dengar? " Audy mengangguk lagi.


"Ingat Audy, jangan pernah pikirin lagi keluarga sialan itu. Biar gue yang urus segalanya, lo terima beres aja"


"Iya"


"Berapa bulan usia kandungan lo? "


"Lo gila apa gimana sih. Besok periksa sama gue" Audy mengangguk saja.


"Ini sekarang kita mau kemana? "


"Pulang ke rumah gue, samping rumah gue bakal jadi milik lo. Ini sebenarnya hadiah anniversary pernikahan lo, tapi sekarang ini jadi tempat lo buat sembunyi dari Kevin sampai lo lahiran. Tenang tetangga disana baik-baik kok. Gak usah mikir yang aneh-aneh, lo kalo males jawab cukup ngangguk doang, gue lagi males jawab. Jadi biarin aja gue bicara"


Levy tersenyum melihat istrinya yang terus berbicara tanpa henti. Ini yang unik dari Chacha, jika tak menemukan pelampiasan emosinya, Chacha akan mengomel tanpa henti.


"Sayang udah, ya" bujuk Levy pada istrinya yang tak berhenti mengomel.


"Haus" rengeknya membuat Levy terkekeh.


"Bentar lagi kita sampai rumah, di mobil gak ada persediaan air sayang"


"Ya udah deh, aku tahan sampai rumah"


Levy menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai. Dia tak mau bumil yang lagi dalam mode emosi ini mengomel lagi.


"Yuk turun" ajak Chacha pada Audy.


Mereka masuk kedalam rumah yang Chacha dan Levy tempati. Rumah berlantai dua dengan desain minimalis adalah pilihan Chacha. Rumah Chacha menjadi rumah yang cukup mewah diantara lainnya. Pemilihan warna yang manly membuat rumah ini berbeda dengan yang lain.


"Itu bakalan jadi rumah lo" tunjuk nya pada rumah di sebelah kanan rumahnya.

__ADS_1


Audy menengok ke arah yang Chacha tunjuk. Dirinya cukup terkejut, rumah yang ditunjuk Chacha lebih besar dari milik Chacha.


"Jangan nanya kenapa lebih besar, karena ini hanya rumah sementara gue. Gue lagi bangun rumah gue sendiri, gue bakal pindah dari rumah ini setelah gue buka siapa identitas gue yang sebenarnya. Lo pasti tau alasan gue pindah kan? " Audy hanya mengangguk mendengar penjelasan Chacha.


"Ayo masuk, katanya haus tadi"


"Ayo, sementara lo bisa tinggal di kamar tamu dulu. Besok gue suruh orang buat bersihin"


"Makasih"


"Gak usah bilang makasih, gimanapun lo anak ayah gue. Setelah USG kita ke rumah bunda besok, ceritakan semuanya. Jangan malu, setidaknya lo ada penguat" Audy hanya mengangguk.


Chacha mengajak Audy ke dalam, langsung menunjukkan kamar tamu. Dirinya tahu bahwa Audy masih butuh waktu buat sendiri.


"Gue udah pesen makan, nanti kalo udah dateng gue panggil. Mendingan lo istirahat dulu" Audy hanya mengangguk.


Setelah melihat Audy masuk dan menutup pintu kamarnya, Chacha langsung membaringkan tubuhnha di atas sofa setelah meminum segelas air putih hingga tandas. Dirinya tak melihat Levy sejak masuk bersama Audy, mungkin ke kamar pikirnya.


"Loh, kok tiduran disini. Ayo pindah ke kamar"


Benar saja, Levy sudah berganti dengan pakaian santainya.


"Kamu gak balik ke kantor lagi? "


"Nggak, lagi males. Maunya sama kamu terus" Levy mengangkat kepala istrinya, dan diletakkan dipangkuan nya.


"Ah kan gombal"


"Kok gombal sih sayang, bener ini loh"


"Iya iya percaya kok"


"Nanti malem kita kan mau ke rumah mama, emang Kak Audy gak papa di tinggal sendiri? Atau kita ajak aja"


"Nanti aku telfon Kak Ardan buat temenin dia disini. Kita kan gak nginep"


"Iya sudah gimana enaknya saja"


Keduanya tampak diam. Chacha yang terpejam menikmati usapan lembut dikepalanya, Levy memang selalu memanjakan dirinya.


"Papa" Chacha bersuara setelah cukup lama hening.


"Mau apa? " Levy langsung mengerti, istrinya tengah memberi kode dengan panggilan papa.


"Pengen rujak, tapi papa yang buat"


"Ayo, papa buatkan rujak spesial buat mama dan anak-anak papa"


Chacha tersenyum langsung bangun dari rebahannya. Dengan semangat dirinya melangkah ke dapur. Levy hanya bisa tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2