Call Me Queen

Call Me Queen
Save Chiara


__ADS_3

Selesai dengan masalah Putra kini Chacha dihadapkan dengan masalah baru. Selain Audy, Chacha harus memastikan Chiara baik-baik saja.


Sepuluh menit yang lalu, kode milik Chiara berubah warna menjadi merah, yang berarti bahwa Chiara sedang dalam bahaya. Kini Chacha sudah duduk di depan meja kerjanya dengan dua laptop yang menyala sekaligus. Jemari lentiknya bergerak dengan cepat menekan tuts keyboard, berpindah dari laptop satu ke lainnya. Tak ada keraguan dalam setiap gerakan jemarinya, matanya memancarkan aura dingin yang dapat membekukan.


"Persiapkan seluruh pasukan milik Chiara" kata Chacha.


Di telinganya terpasang earpiece yang terhubung langsung dengan markas DEATH ROSE.


"Blue, kirimkan lokasi Chiara saat ini pada seluruh bawahannya"


"Siap Queen"


"Kita bertemu di persimpangan untuk membahas strategi. Aku sendiri yang akan memimpin kali ini"


Kilat dingin di matanya semakin menakutkan. Chacha paling benci jika orang-orang terdekatnya dijadikan bahan untuk melemahkan dirinya.


"Sudah siap? " tanya Levy saat Chacha memulai otomatis pada laptopnya.


Ya, kali ini Levy akan mendampingi istrinya menyelamatkan Chiara. Karena melarang juga percuma, jadi Levy lebih memilih menemani dan menjaganya.


"Aku ganti baju dulu" Chacha langsung bangkit dan masuk ke dalam walk in closet.


"Siapkan senjata saya" Levy langsung menghubungi bawahannya.


Chacha tampak keluar menggunakan pakaian yang sudah cukup lama ia tinggalkan. Berpakaian serba hitam. Membuat aura misterius dirinya semakin menguar. Levy bahkan sampai mengerjapkan matanya beberapa kali melihat tampilan istrinya.


"Ayo, Mas" Chacha berjalan duluan meninggalkan Levy di kamar.


Levy menyusul Chacha setelah sadar dari keterkejutan nya. Saat sampai di teras depan dirinya bingung, pasalnya Chacha tak ada. Di dalam mobil juga tak ada.


"Kamu cari siapa, Mas? "


Levy langsung menoleh ke arah sumber suara, istrinya yang dicarinya sejak tadi malah keluar dari dalam rumah. Chacha tampak membawa satu kotak makan sedang dan satu botol air mineral. Levy menaikkan sebelah alisnya saat melihat bawaan istrinya itu.


"Buat cemilan di mobil, hehehe" Levy hanya menggelengkan kepalanya. Sejak hamil, Chacha tak pernah jauh dari yang namanya makanan.


"Ya sudah ayo" Chacha langsung masuk ke dalam mobil.


Levy menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedikit tinggi, karena sudah memasuki tengah malam jadi tak khawatir akan lalu lalang kendaraan lain. Di sampingnya Chacha sibuk mengunyah dengan tablet di tangannya. Mulutnya sibuk mengunyah, matanya dengan serius menatap seluruh keadaan lokasi yang akan dirinya hancurkan.


"Sayang? "


"Ya? " Chacha menoleh sebentar ke arah Levy, lalu kembali fokus pada tablet nya lagi.


"Bisa tidak, jika nanti yang lain saja yang menghukum benalu itu? "

__ADS_1


"Aku hanya formalitas ke sana, Mas. Fokus aku bebasin Chiara, bukan melawan mereka. Itu urusan anak buah Chiara"


"Kenapa kamu tadi mengatakan jika kamu yang akan memimpin mereka? "


"Aku mempimpin jarak jauh, kita akan menyelinap saat mereka lengah nanti, aku sudah dapat lokasi spesifik tepat Chiara. Kita berkumpul sebentar untuk membicarakan strateginya, setelah itu kita akan berpencar"


"Lalu siapa yang akan memimpin mereka nanti? "


"Pandu"


Levy mengangguk, dirinya sudah khawatir jika selama masa kehamilan Chacha ada masalah seperti ini. Bagaimana tidak, Levy mengenal baik bagaimana kejamnya Chacha jika ada yang menjebaknya dengan orang terdekatnya. Levy tak ingin tangan istrinya berlumuran darah.


Mobil mereka masuk ke daerah pinggiran kota. Semakin masuk semakin sepi pula tempat itu. Namun, maps di tablet nya belum menunjukkan reaksi jika mereka sudah dekat dengan Chiara. Levy melambatkan laju mobilnya. Jalanan mulai sedikit berlubang, Levy tak ingin terjadi sesuatu pada istri dan anaknya, jadi dirinya lebih memilih memelankan laju kendaraan nya.


"Berhenti disini, Mas"


Dengan patuh Levy langsung menepikan mobilnya di tempat gelap. Mobil sport berwarna hitam gelap ini sangat cocok saat digunakan untuk saat seperti ini. Karena memang benar-benar tak terlihat saat berada di kegelapan.


Chacha langsung memberi sinyal pada setiap ketua kelompok untuk mendekat ke arahnya. Tak selang berapa lama, tampak beberapa orang mendekat ke arah mobilnya. Chacha turun dari mobil diikuti Levy.


"Pandu dimana? "


"Dalam perjalanan Queen"


"Iya Queen"


"Siapa bagian perakitan bom? "


"Saya Queen"


"Sudah lihat cetak biru tempat ini? "


"Sudah Queen"


"Bagi dua kelompok. Kelompok pertama, bergerak lebih dulu ke arah timur, cari pintu bawah tanah mereka. Masuk dan periksa, jika ada tahanan langsung basa keluar dan alihkan ke markas kita. Setelah itu pasang bom dengan daya ledak sedang di sana. Kelompok kedua, pasang bom di luar gedung itu. Penyamaran kalian akan diuji saat ini. Pasang tanpa ketahuan sedikitpun. Setelah itu kirim kode bom yang kalian pasang padaku. Aku akan mengontrol nya jarak jauh"


Para ketua kelompok menelan ludahnya kasar, mereka tau bagaimana kejamnya Chacha dalam meledakkan bom. Jika para ahli bom lainnya menggunakan timer untuk meledakkan nya, namun tidak dengan Chacha. Dia akan meledakkan nya jika dia ingin saja.


"Kalian mengerti? "


"Mengerti Queen"


"Kelompok sniper sudah di tempat? "


"Sudah Queen"

__ADS_1


"Siapa yang memimpin"


"Pemimpin tim elit Queen"


"Caesar? "


"Iya Queen"


"Baguslah. Sisanya kalian berada dibawah perintah Pandu. Jangan lupa untuk mengecek setiap saat warna kode di jam yang kalian pakai. Aku tak segan meninggalkan mereka yang tak bisa bergerak cepat"


"Baik Queen"


"Queen" ucap Pandu.


"Pandu, tunggu kode sebelum menyerang. Tugas lo bawah seluruh bawahan Chiara untuk memgacau di depan, kanan dan kiri. Bagian belakang memiliki penjagaan yang ketat, kelompok bom yang akan ke sana. Gue sendiri bareng Levy akan masuk lewat jalur kiri. Pastikan beri kami jalan nanti. Fokuskan penyerangan di depan dan kanan"


"Baik"


"Lo bawa anak buah lo? "


"Bawa"


"Biarkan mereka ikut gue, Chiara ada di lantai dua. Gue bakal kesana. Kalian tangani yang diluar, gue, Levy dan lainnya akan masuk. Caesar yang bertugas di atas" Pandu hanya mengangguk.


Pandu sendiri tak menyangka jika kembarannya akan tertangkap sepeti ini. Chiara, gadis tangguh hasil didikan Chacha itu berhasil diculik? Pandu tak yakin jika ini tak direncanakan dengan baik. Chiara tak lemah dari segi fisik, jika untuk berkelahi Pandu yakin jika adiknya itu akan menang. Tapi jika dihadapkan dengan obat-obatan Pandu tak yakin. Karena hanya Chiara yang belum mengerti dengan jenis-jenis obat-obatan laknat dan terlarang.


"Kirim lima orang untuk memancing keributan dibagian kanan, kelompok bom bersiap untuk menyusup" titah Chacha lagi.


Mereka semua langsung bergerak sesuai intruksi. Selain merasa bangga karena langsung dipimpin oleh Chacha, mereka juga memiliki amarah besar mendengar ketua utama mereka di culik.


Chacha membalik badannya menuju mobil. Membuka bagasi mobilnya. Mengambil dua buah beliati yang langsung dipasang di kanan dan kiri pahanya. Dua buah pistol yang di sembunyikan didalam jaketnya.


Pandu sama halnya dengan Chacha. Mengambil belati, namun dirinya mengambil empat sekaligus. Dua buah pistol dan satu senjata laras panjang. Pandu tak main-main kali ini. Amarahnya sejak tadi dia tahan karena sang mama terus menangis saat menerima kiriman foto Chiara yang sedang di sekap.


Levy sendiri masih santai, karena menunggu senjata miliknya sendiri. Benar saja, tak lama setelahnya, anak buahnya datang membawa pistol kesayangannya. Chacha melirik ke arah pistol Levy. Lalu tersenyum, pistol dengan daya tembak yang menakutkan. Hadiah yang dia kirimkan saat Levy berhasil mengambil alih Blood Rose untuk dipimpinnya.


"Bergerak" perintah tegas Chacha langsung menggerakkan anak buahnya.


...****************...


Maaf karena author akhir-akhir ini gak up. Karena bocil author yang belum sehat betul menjadi salah satu kendala. Kini ditambah pacar dunia akhirat author alias bapak author sendiri, harus opname.


Mohon maklum ya☺


Happy Reading All 💕

__ADS_1


__ADS_2