
Mereka sepakat untuk berangkat pagi menuju desa tempat tinggal orang tua angkat Levy. Mereka sepakat menggunakan mobil, meskipun harus seharian penuh mengendarai mobil.
Chacha dan lainnya datang menggunakan mobil pajero milik Chacha. Karena mereka membutuhkan mobil yang kapasitasnya besar, selain barang bawaan, mereka juga dalam satu mobil. Dengan alasan bisa bergantian jika lelah mengemudi. Entah kenapa pemikiran mereka juga sama dengan para jantan yang budiman.
"Ayo berangkat" seru Karin antusias. Kini dirinya benar-benar akan istirahat dari kepenatan pikiran. Bahkan Chacha turun tangan langsung untuk mengurus semua izinnya.
"Nunggu tunangan Levy lah"
"Loh Angel ikut? " entah Karin bertanya atau kaget.
"Ya masa iya udah tunangan mau ke kondangan masih sendiri aja" seloroh Putra.
Mereka melanjutkan obrolan guna mengusir kebosanan karena menunggu. Percayalah menunggu itu membosankan. Tapi tak lama setelahnya mobil sport yang mereka kenali berhenti di samping mereka. Angel turun dengan angkuhnya. Membuat si pengemudi geleng-geleng kepala.
Angel memilih bersikap angkuh, saat melihat Chacha dengan gampangnya membiayai mereka semua. Terlalu banyak omong kosongnya. Pikirnya. Karena dalam pikirannya, para sahabat tunangannya itu hanya dari kalangan biasa. Mungkin kaya tapi tak sekaya Levy. Itu pikirnya. Toh dia juga akan menjadi nyonya muda di keluarga Levy nantinya, jadi bersikap angkuh mulai saat ini tak apa. Andai ia tahu bahwa mereka bahkan hampir setara dengan Levy. Dan jangan lupakan gadis yang masih setia memejamkan matanya didalam mobil, dia bahkan bisa dibilang sultan se sultan sultan nya.
"Angel ikut mobil kalian ya" pinta Levy, tidak, lebih tepatnya perintah.
"Hah? " mereka berempat bengong bersamaan.
"Ya gak mungkin kan dia bareng gue, sedang gue bareng yang lain" Jelas Levy.
"Kita udah berempat, Lev. Bisa sesak, lo bilang ini jauh, bisa pegel kita" dengus Nena tak terima.
"Lah terus Angel gimana, Kak? " rengek Angel pada Levy.
"Kenapa? " orang yang datang bersama Angel mengeluarkan suara.
"Chiara" mereka semua kaget saat tau siapa orang yang dibalik kemudi itu.
"Halo apa kabar kalian semua? " tanya Chiara ramah. Namun mereka hanya memandang sinis, membuat Chiara hanya menyunggingkan senyum tipis.
"Udah lo balik aja sono" Perintah Angel pada Chiara.
"Lo yang sopan. Gak usah nunjuk-nunjuk gue patahin tau rasa lo" Chiara mengeluarkan aura intimidasi nya.
"Bentar deh" Karin menyela.
"Chiara Narendra, Angel Narendra. Kalian bersaudara? " tanya Karin membuat yang lain menyadari sesuatu. Nama belakang mereka sama.
"Sodara tiri, Kak. Dia anak haram" Angel dengan tatapan mencemooh mengatakan itu pada semuanya. Chiara hendak menampar Angel, namun sebuah suara menginterupsi tindakannya.
"Chia" satu suara itu membuat Chiara menoleh dan tersenyum senang.
"Ya Queen" Chiara menunduk pada Chacha. Chacha hanya mengangguk.
"Jangan bersikap formal"
"Baik"
"Masuk mobil sekarang. Kita membuang waktu percuma"
"Ini si Angel jadi gimana ceritanya"
"Angel bareng kalian, Na"
"Terus lo? " tanya Karin yang didengarkan oleh Chacha.
"Kenapa tak bawa yang terbaru, kenapa malah ambil yang ini, Chi? "
"Itu Queen. Bingung mau pilih yang mana" Chiara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"Gue udah datengin yang terbaru. Itu milik lo. Lo malah pake mobil gue" Pertanyaan mereka terjawab satu, pantas mereka merasa familiar dengan mobil tersebut.
"Maaf Queen, saya lancang"
"Jangan bersikap formal, Chia"
"Ah baik Queen"
"Cha" Fany hanya memanggil Chacha. Tatapan mereka bertemu, tanpa kata Chacha tau maksud dari Fany memanggilnya.
"Nanti gue jelasin"
"Gue bareng Chiara. Kalian bisa masuk ke mobil sekarang"
"Tapi Queen... "
"Nyaut lagi gue tampol lo" Chiara hanya pasrah saat Chacha mengancamnya.
Mereka memasuki mobil mereka masing-masing dengan tanda tanya yang sama dalam pikiran mereka masing-masing. Ada hubungan apa Chiara dan Chacha, padahal mereka dulunya adalah musuh bebuyutan.
"Queen, gue gak bawa apa-apa" rengek Chiara pada Chacha.
"Lo lupa, lo bareng sama siapa? "
"Ya tapi kan, masa iya gak bawa persiapan lain"
"Ngomong lagi gue turunin lo disini Chiara"
"Ampun deh ampun"
Mereka terus melajukan mobilnya dalam kecepatan maksimal. Sesekali berhenti untuk bertukar siapa yang mengemudi. Kecuali Chacha yang sejak tadi tak memberikan kemudi pada Chiara meskipun sudah dirayu begitu hebat.
"Chi"
"Familiar dengan jalan ini" Chacha menyunggingkan senyum diwajahnya.
"Ah jalan ke rumah Tuan Ibra" Chacha mengangguk senang.
"Kita lihat saja nanti. Apa satu desa atau hanya lewat saja"
"Lo berharap apa? "
"Gue harap, kita beneran menuju rumah kakek. Gue rindu suasana di sana"
"Jadi kangen masakan siapa itu namanya"
"Nilam"
"Ya Nilam, padahal masih SMP tapi udah jago masak. Keren"
"Meskipun nanti tak di sana, kita singgah sebentar"
"Pulangnya saja"
"Tidak hanya sebentar, gue denger Mak Nem sakit jadi gue jenguk bentar"
"Emaknya Nilam sakit? " Chacha mengangguk mengiyakan Pertanyaan Chiara.
"Ya ampun kasian"
Chacha memang pernah mengajak Chiara ke tempat sang kakek. Tepatnya tahun lali. Sekedar menenangkan pikiran dari kemelut yang terjadi saat ini. Hingga Chiara cukup akrab dengan beberapa warga di sana. Bahkan warga di sana sangat menghormati Chacha, bukan karena keturunan Tuan Ibra tapi karena kepribadian Chacha yang menolong tanpa pamrih. Membuatnya disegani dan dihormati. Chacha yang begitu mudah mengulurkan tangan untuk membantu membuat mereka mengingat Chacha sebagai gadis baik hati. Setiap kali Chacha kembali ke tempat itu, ada saja hal menyenangkan yang terjadi.
__ADS_1
"Chia"
"Ya Queen"
"Ada yang tak beres dengan mobil ini"
"Maksud anda Queen? "
"Pindah kebelakang dan cek segala sisinya. Gunakan indera dengan benar kali ini, Chia"
"Baik Queen"
Chiara langsung memeriksa setiap sisi mobil itu. Mobil tetap melaju sebagaimana mestinya, tapi ketika Chacha merasakan keanehan Chiara langsung mengiyakan. Karena selama bersamanya, firasat Chacha terlalu kuat untuk disangkal.
"Oh... ****" Chiara tanpa sadar mengumpat.
"Ada apa? "
"Sepertinya mobil ini sengaja agar bisa dipakai oleh ku, Queen"
"Maksudnya? "
"Ada bom yang terpasang. Lima menit lagi itu akan meledak"
"Disini terlalu ramai jika mobil ini harus meledak"
"Aku akan menggangu rugi, Queen"
"Chi"
"Ya" kali ini Chacha memanggilnya untuk tak bersikap formal, disaat mobil hampir meledak. Chiara terkadang memang tak memahami jalan pikiran Chacha.
"Gue bakal melaju dengan cepat. Didepan sana ada jembatan dibawahnya mengalir sungai yang cukup deras dibawahnya. Jarak jembatan dan sungai cukup tinggi. Lo siap misal gue suruh lompat dari sini dengan kecepatan yang gue tambah nanti"
"Jelaskan secara rinci"
"Ketika gue bilang lompat, saat itu juga lo harus lompat. Setelah itu gue bakal nabrakin mobil ini ke pembatas jalan hingga masuk ke sungai itu. Perkiraan gue bom itu meledak setelah menyentuh sungai paling lambat tepat setelah menabrak pembatas jalan"
"Jangan nekat, kita lompat berdua"
"Itu akan membuat kecelakaan lebih parah dengan melibatkan orang tak bersalah"
"Dan lo ngorbanin diri"
"Gue baik-baik aja. Percayalah, gue bakal kembali, seperti biasanya"
"Tapi.. "
"Waktu kita tak banyak" Chacha langsung menekan pedal gas melaju begitu kencang membuat para sahabatnya mengernyit keheranan. Tapi tak urung mereka mengejar Chacha dengan kecepatan maksimal mobil yang mereka kendarai.
Chacha terus menekan pedal gas, selain berkonsentrasi pada kemudi Chacha juga sedang menghitung mundur detik-detik bom itu akan meledak. Hingga jembatan yang dimaksud telah nampak didepan matanya dia bisa bersorak dalam hati.
"Queen"
"Gue bakal lompat tepat di pembatas jalan, sebelum mobil itu masuk sungai" mendengar itu Chiara bernafas lega.
Sedangkan dibelakang mereka, para sahabatnya kebingungan dengan Chacha yang tiba-tiba melaju dengan sangat cepat. Hingga mereka melihat seseorang melompat keluar dari mobil yang Chacha kendarai. Mereka yakin itu Chiara, karena Chacha menggunakan hoodie sedang yang melompat hanya menggunakan kaos. Mereka terpaksa mengerem mendadak, jika tidak pasti Chiara akan tertabrak. Beruntung kondisi jalanan saat ini sedang sepi.
Mereka buru-buru turun menghampiri Chiara dengan berbagai spekulasi dipikiran mereka. Membantu Chiara berdiri. Cukup lecet sana sini, sebelum mereka bertanya apa yang terjadi mereka dikagetkan dengan bunyi ledakan yang sangat keras. Seketika mereka menoleh bersamaan dan mereka mematung seketika.
"No. Jangan bilang Queen telat lompat gak gak ini gak mungkin" teriak Chiara frustasi saat netranya tak menangkap siluet Chacha yang melompat. Meskipun dia melompat dan berguling diaspal tapi matanya masih awas menatap mobil yang Chacha kendarai.
__ADS_1